
(Satu hari kemudian. Ice Lotus City, Ibukota Glaire Empire)
"Wahhh…!!! Pintu gerbangnya saja sudah sebesar ini?" Kata Arthur. Seraya membuka mulutnya dengan lebar ketika melihat kemegahan pintu gerbang ibukota.
Selayaknya ibukota sebuah kekaisaran besar, pintu gerbang Ice Lotus City sangatlah megah, pintu gerbang ini tersambung dengan benteng batu yang mengelilingi seluruh kota, sangking besar dan luasnya ukuran dari Ice Lotus City, orang bahkan tak bisa melihat sudut-sudut ujung dari benteng batu ini.
Saat ini, di depan pintu gerbang, terdapat antrian panjang para pengunjung yang akan memasuki ibukota, para pengunjung ini rata-rata adalah rombongan pedagang, lengkap dengan kereta dagang mereka masing-masing.
"Antriannya juga panjang sekali!" Seru Arthur kemudian, setelah puas memandangi pintu gerbang.
"Dasar udik! Bukankah itu sudah jelas! Ini adalah ibukota!" Dengus Aria, mulai tak tahan mendengar ocehan Arthur.
"Hmm… kau ini kenapa selalu saja menyebalkan! Apa memang sudah hobimu untuk mencibir orang lain! Dasar gadis aneh!" Dengus Arthur balik.
"Terus kenapa kalau aku suka mencibir? Kau tak suka? Apa kau pikir aku peduli?" Balas Aria dengan cepat.
"Aku sih bodoh amat! Lagian juga bukan aku yang akan menikahimu besok! Aku cuma merasa kasihan dengan orang yang akan menjadi suamimu!" Jawab Arthur.
"Kau…!! Apa katamu! Coba ulangi lagi?" Aria mulai tampak emosi.
"Kau tuli atau apa? Aku bilang, aku kasihan kepada calon suamimu!" Kata Arthur, dengan nada agak keras.
"Kau….!!" Aria hendak membalas kata-kata Arthur, namun Arthur dengan cepat menambahi lagi kalimatnya.
"Oh… kalau tak salah, aku pernah dengar tentang kau ingin Boss menikahimu!" Kata Arthur, sambil melihat kearah Theo yang tampak sibuk dikejauhan, menanyakan informasi tentang keberadaan rombongan House Braveheart.
"Kau tahu, aku meragukan itu akan terjadi! Tidak ada lelaki yang akan tahan dengan sikapmu itu! Meskipun Boss orangnya terlihat cuek, tetap saja, dia sering mengeluh tentang sikapmu itu bukan?"
"Dan bisa kubilang, Boss adalah orang yang cukup menawan, dengan wajah tampan serta semua bakatnya, akan mudah bagi setiap wanita jatuh hati padanya."
"Tunggu saja, suatu saat, pasti akan ada gadis muda berparas tak kalah cantik denganmu! Namun memiliki sikap yang jauh lebih baik! Ketika saat itu tiba, kita lihat, apa boss akan tetap memilihmu!" Kata Arthur, kini tampak melirik kearah Aria dengan lirikan tajam penuh makna.
"Kau… " Aria yang mendengar kata-kata Arthur, tak bisa meneruskan kalimatnya. Dia kini ikut melihat kearah Theo. Sejurus kemudian mulai menunduk, terlihat memikirkan sesuatu.
'Hahaha… rasakan itu! Akhirnya aku bisa membungkam mulut sialanmu itu!' Gumam Arthur dalam hati, memandang Aria dengan tatapan penuh kemenangan.
Beberapa saat kemudian, Theo yang telah selesai mencari informasi, kembali menemui kelompoknya.
"Aku sudah menemukan lokasi keberadaan rombonganmu! Mereka telah sampai di ibukota beberapa hari yang lalu, dan kini sedang menginap di salah satu penginapan besar yang berada di tengah ibukota." Kata Theo.
"Ohh.. bagus! Ayo segera mengantri untuk masuk ibukota! Aku sudah tak sabar melihat bagian dalam kota!" Kata Arthur sangat antusias.
Sementara Aria, masih diam termenung, sambil terus menatap tanah dibawah kakinya, hawa disekitarnya tampak sangat suram.
"Ada apa denganmu?" Tanya Theo ketika melihat sikap aneh Aria.
"Bukan apa-apa." Jawab Aria singkat, sedikit kaget ketika Theo bertanya padanya.
"Hmmm… yasudah! Biar aku dan Arthur saja yang mengantri, kau tampak tak sehat!" Kata Theo. kemudian mulai memegang dahi Aria, mencoba memeriksa suhu tubuhnya.
Merasa Theo memegang dahinya, Aria kembali sedikit kaget. "Apa yang kau lakukan? Singkirkan tanganmu!" Dengus Aria. Menampik tangan Theo, kemudian berjalan menjauh.
"Boss…! Lupakan saja penyihir wanita itu! Sebaiknya kita segera mengantri!" Kata Arthur, dengan nada riang gembira, suasana hatinya tampak sedang sangat bagus.
"Ohh…" Melihat hal itu, Theo yang merasa ada perubahan sikap drastis antara dua orang ini, sebelum dan sekembalinya dia dari mencari informasi, segera merasa sedikit curiga.
"Apa yang kau lakukan padanya?" Tanya Theo kepada Arthur. Sambil mengerutkan dahi.
"Apanya yang kulakukan? Memangnya ada apa?" Tanya Arthur, sambil memasang ekspresi polos.
"Hmmm… lupakan!" Kata Theo singkat, memilih tak mau repot mengurusi hal ini. Dia kemudian mulai berjalan mengambil antrian.
Sementara Arthur, kini tampak kembali memasang ekspresi riang penuh kemenangan, dia memandang kearah Aria yang masih terlihat suram. Kemudian segera mengikuti Theo mengambil antrian.
***
(Bagian tengah ibukota, Gaia Inn)
Gaia Inn adalah penginapan terbesar di Ice Lotus City, penginapan ini adalah salah satu aset milik Gaia Son Paviliun. Salah satu dari dua Netral Group Knight yang terkenal. Mereka adalah organisasi saingan dari Dark Guild.
Berbeda dengan Dark Guild yang berspesialisasi dalam hal pembunuh bayaran dan juga pasar gelap, Gaia Son Paviliun merupakan organisasi yang lebih mengedepankan pada perdagangan terbuka, mereka memiliki penginapan dan juga Bandar dagang di hampir seluruh Gaia Land. Membuat pengaruh mereka di Gaia Land, tak kalah dengan Dark Guild.
Selain itu, mereka juga berspesialisasi dalam hal menyediakan tentara bayaran, yang biasanya akan di sewa orang-orang untuk menjadi pengawal pelindung mereka.
Hal inilah yang menjadi salah satu alasan kenapa Dark Guild dan Gaia Son Paviliun terlibat persaingan ketat. Spesialisasi masing-masing dari kedua organisasi tersebut, mau tak mau menyebabkan kedua organisasi ini sering saling bentrok. Karena tak jarang, target pembunuhan dari Dark Guild, akan memiliki pengawal bayaran yang disewa dari Gaia Son Paviliun.
Saat ini, di depan Gaia Inn, kelompok Theo yang baru saja sampai, terlihat akan memasuki penginapan.
"Wow…! Sungguh besar! Jadi apakah tempat ini penginapan? atau restoran?" Kata Arthur, kembali terpana dengan hal baru yang ada di depannya.
Berbeda dengan sebelum-sebelumnya, kini tak terdengar cibiran dari Aria yang biasanya akan langsung mengatai Arthur dengan kata udik begitu dia mulai terpana dengan hal baru.
Aria masih tampak berwajah suram, terlihat sedang dalam mood tidak baik, malas melakukan apapun. Dia lebih sering termenung sendiri, seperti sedang memikirkan dan terbebani oleh sesuatu.
"Gaia Inn memang penginapan yang dijadikan satu dengan restoran!" Jawab Theo. Mulai menjelaskan. Mengabaikan sikap aneh Aria.
"Tiga lantai terbawah adalah restoran! Sementara 3 lantai lain diatasnya adalah penginapan!"
"Setiap lantai di tiap restoran dan penginapan, juga memiliki kelas yang berbeda, lantai pertama adalah kelas umum, lantai kedua adalah kelas atas, dan lantai ketiga adalah kelas istimewa."
"Dan seperti namanya, tiap kelas akan memiliki menu makanan dan fasilitas penginapan yang lebih baik untuk setiap lantai yang lebih tinggi!" Kata Theo, menutup penjelasannya.
Dia tahu semua informasi ini karena mendapat brosur tentang Gaia Inn, dari penjaga yang sebelumnya ia tanyai, untuk mendapat informasi tentang keberadaan rombongan House Braveheart.
Selain Gaia Inn, Theo juga tak lupa menanyakan keberadaan markas dari Dark Guild, dan dari itu, Theo mendapat brosur informasi lengkap tentang lokasi markas Dark Guild, yang disebut sebagai Nameless Market. Sebuah Bar besar yang juga merupakan penyedia pasar gelap. Untuk memenuhi amanat dari Alejandro, dia berencana akan mengunjungi tempat itu beberapa hari kedepan.
"Boss…! Bagaimana wawasanmu bisa begitu luas? Bukankah ini juga pertama kalinya kau datang ke ibukota?" Tanya Arthur penuh kekagumam.
"Hahhaha… itu mudah! Kau tinggal memberi sedikit sogokan pada para penjaga gerbang!" Kata Theo sambil tertawa.
Prinsip dunia memang tak berubah dimanapun itu, sama halnya dengan siapa yang kuat, dia yang berkuasa, hal ini juga berlaku dengan siapa yang punya sumberdaya, dia akan mendapatkan segalanya.