Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
329 - Mahakarya Besar


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


"Tidak mungkin! Teknik kedua Segel kehidupan! Boneka bernyawa?" Gumam Sasi, dengan ekspresi wajah dan tatapan mata bergetar saat melihat teknik yang telah dieksekusi Theo.


Selesai bergumam, kepala sang Goblin digerakkan dengan refleks cepat menyapu seluruh patung buatan Theo.


"Boneka bernyawa dengan Logam Surgawi sebagai bahan dasar! Sungguh sinting!" Kata Sasi lirih. Nada bicaranya terdengar bergetar saat mengucap kalimat tersebut.


Sasi tampak masih tertegun melihat seluruh patung buatan Theo sampai tatapan matanya jatuh pada patung terakhir. Dimana membuat ekspresi wajah Sasi seketika menjadi ngeri saat melihatnya.


'Jangan bilang patung raksasa itu juga akan di jadikan boneka bernyawa!' Ucap Sasi dalam hati, kini ganti kembali melihat kearah Theo.


'Bocah ini benar-benar berbahaya! Segel Kontrak Tuan-hamba dan Boneka Bernyawa? Terlalu mengerikan!' Lanjut Sasi. Tak tahu lagi bagaimana harus mendeskripsikan kata yang tepat selain -Mengerikan- begitu menyadari potensi yang dimiliki Theo.


*Klang…!!!


Sasi masih menatap Theo dengan pandangan bergetar ketika tiba-tiba bunyi mekanis aneh terdengar dari patung logam Serigala yang sebelumnya dijadikan Theo sebagai target pertama percobaan eksekusi teknik segel boneka bernyawanya.


Bersamaan dengan bunyi mekanis aneh, dua mata hitam patung Serigala kini mulai menyala terang untuk sementara waktu, sebelum akhirnya kembali seperti semula.


"Grrrrr….!!!!"


Dan saat cahaya terang dari kedua matanya menghilang, patung Serigala mulai mengerang. Memamerkan gigi-gigi tajamnya yang tampak sangat mengerikan.


"Auuuuuhhhh….!!!!"


Diakhiri dengan sang patung melolong keras. Terlihat begitu hidup. Ia melihat sekeliling untuk beberapa saat, sebelum kemudian berlari cepat ke satu arah begitu menangkap keberadaan Theo.


"Hahhaha….!!! Berhasil! Boneka bernyawanya pertamaku!" Seru Theo antusias. Seraya menepuk kepala patung Serigala yang kini sudah duduk patuh di hadapannya.


"Kedepan, aku akan mengganti Roh buatan yang kutanam padamu dengan Roh asli dari makhluk yang kuat! Dengan begitu, kau akan terus berkembang menjadi lebih kuat lagi!"


"Teknik Segel Boneka Bernyawa ini benar-benar sesuatu!" Ucap Theo.


Kini setelah sukses mengeksekusi teknik Boneka Bernyawa untuk pertama kali, Theo menjadi paham betul dengan bagaimana cara main teknik tersebut.


Menjadikan patung Serigala pertama sebagai obyek observasi, ia mendapat beberapa informasi tambahan bahwa ternyata setiap Boneka Bernyawa yang ia ciptakan, dapat terus berkembang lebih kuat dengan sistem mengganti Roh yang tertanam di dalamnya.


Roh buatan yang merupakan kunci dari aktifnya teknik Boneka Bernyawa, dimana hanya bisa diciptakan oleh mereka yang memiliki atribut Cahaya dalam tubuhnya, ternyata cuma langkah awal untuk menghidupkan Boneka Bernyawa.


Untuk kedepan, sang pemilik dari Boneka Bernyawa, bisa terus mengganti Roh buatan yang tak stabil tersebut, dengan Roh makhluk lain, dimana semakin kuat Roh yang dimasukkan kedalam Boneka, maka kekuatan Boneka Bernyawa juga akan semakin meningkat.


Menyadari hal tersebut, Theo yang kini tahu bahwa potensi Boneka Bernyawa sangatlah menjanjikan, karena bisa terus berkembang seperti tanpa batas, tentu saja saat ini tidak bisa untuk tak merasa begitu antusias.


Dia sekarang paham kenapa Tiankong menyebut setiap dari teknik segel kehidupan merupakan teknik yang bisa membuat seseorang menjadi penguasa tunggal, seseorang yang mampu membuat sebuah dinasti hanya dengan mengandalkan teknik tersebut.


Dua teknik Segel kehidupan yang di kuasai Theo saat ini, telah membuktikan kebenaran dari apa yang sempat disampaikan Tiankong tersebut.


Segel Kontrak Tuan-hamba, tak perlu ditanyakan lagi, membuat seorang Knight menjadi budak yang 100% patuh. Benar-benar teknik yang luar biasa sekaligus mengerikan disaat bersamaan.


Sementara Boneka Bernyawa, memungkinkan penggunanya untuk memiliki pasukan yang bisa berkembang tanpa batas. Baik dalam jumlah, maupun kekuatan.


Menguasai satu dari dua teknik tersebut saja sudah sangat luar biasa, apalagi menguasai keduanya seperti Theo saat ini.


"Baiklah! Karena alurnya sudah dapat kupahami, maka mari lanjutkan!" Ucap Theo.


Tanpa menunda ia mulai melakukan proses yang sama seperti sebelumnya. Mengeksekusi Teknik Boneka Bernyawa, membuat satu Roh buatan dengan aliran Mana Cahaya, kemudian memasukkan Roh yang telah selesai di buat kedalam patung Serigala lainnya.


Proses tersebut berlangsung untuk waktu yang relatif lama, Theo terus membuat Boneka Bernyawa, hanya beristirahat saat simpanan Mananya habis. Mengisi ulang simpanan Mana sekaligus memakan simpanan makanannya, sebelum kemudian melanjutkan membuat Boneka Bernyawa.


***


(Satu Minggu kemudian)


"Auuuuuuuhhhh….!!!!"


Patung Serigala kelima puluh melolong keras saat Theo selesai dalam proses menjadikannya Boneka Bernyawa.


"Akhirnya selesai juga!" Ucap Theo, sembari menyeka keringat di keningnya.


Kini disekitar lokasi ia berdiri, puluhan Boneka Bernyawa berbentuk Serigala sedang duduk diam menatap kearahnya.


"Hehehe…!!! Baiklah! Sekarang tinggal yang terakhir! Aku sengaja menyimpan yang terbaik di akhir!" Ucap Theo, seraya melihat patung Raksasa tak jauh di hadapannya.


Meskipun sebenarnya tubuh dan mentalnya saat ini sedang sangat letih, karena proses membuat roh buatan menggunakan atribut Cahaya memang sangat membutuhkan ketelitian sehingga melelahkan mental, tapi didorong rasa antusias tinggi saat membayangkan patung raksasa tersebut nantinya akan hidup, Theo melupakan semua rasa letih yang mendera tubuhnya. Tanpa menunda sekali lagi melakukan proses membuat roh buatan.


***


(Dua hari kemudian)


"Hahhh…! Hahh…! Hahhh…! Akhirnya selesai!" Ucap Theo. Wajahnya saat ini tampak sedikit pucat.


Tanpa di duga olehnya, proses pembuatan roh untuk patung ketiga ternyata membutuhkan waktu yang sangat lama. Hal tersebut di sebabkan karena patung ketiga yang di buat Theo, memiliki ukuran yang relatif besar, dengan detail yang cukup rumit juga.


Menyebabkan ia harus bersusah payah dengan konsentrasi penuh dalam proses menggambar Roh buatan untuk patung tersebut. Karena sekali saja ia kehilangan konsentrasi dan membuat sedikit kesalahan pada gambar yang dibuatnya, maka Theo harus mengulang dari awal.


Hal tersebutlah yang membuat wajah Theo saat ini tampak sedikit memucat. Karena dalam 3 hari ini, ia sepenuhnya menghabiskan kegiatan untuk menggambar. Tanpa beristirahat sama sekali.


"Sekarang, masuk!" Ucap Theo, memberi perintah pada Roh buatan untuk memasuki patung raksasa.


*Woooshhhh…!!!


Mendengar intruksi Theo, Roh buatan yang sebelumnya tampak masih melayang ringan dihadapannya, kini terbang cepat menuju patung raksasa. Dalam sekejap melebur secara sempurna kedalam tubuh patung tersebut.


"Grrrrrrrrr……!!!!!"


Patung raksasa mengerang dengan suara menyeramkan untuk beberapa saat ketika semua proses telah selesai.


"GROOOOOAAAAHHH….!!!"


*Wussssshhhh….!!!


Diakhiri dengan ia berteriak keras begitu liar sembari merentangkan sayap berdurinya. Kemudian mengibaskan sayap tersebut, dalam satu loncatan terbang kearah penciptanya, Theo.


"Hahhahha….!!! Sungguh teriakan liar yang begitu mendominasi! Kau benar-benar sebuah mahakarya besar!" Seru Theo. Sambil menatap tajam kearah Boneka Bernyawa raksasa yang kini sudah mengambil posisi dukuk dengan kepala tertunduk di hadapannya.


Melihat ciptaannya tersebut, semua kelelahan yang ia rasakan dalam dua hari terakhir seperti lenyap.


"Hmmm… Mulai sekarang, aku akan menyebutmu sebagai Raja Naga Hitam!" Gumam Theo. Masih memandang dengan tatapan tajam penuh kebanggan kearah Boneka bernyawa yang ia beri nama Raja Naga Hitam.


"Kau akan menjadi pemimpin para Boneka Bernyawa!" Lanjut Theo.


Setelah mengatakan hal tersebut, secara tiba-tiba semua rasa lelah yang sebelumnya sempat menghilang, kini mulai mendera tubuhnya sekali lagi.


"Ahhh… Aku ngantuk!" Gumam Theo. Kemudian jatuh terlentang kebelakang. Tertidur dengan senyum puas terpahat di wajahnya.