Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
256 - Gerel Khan


*BAAAMMM…!!!


Theo baru melangkah turun dari lantai enam, sampai tiba-tiba ia mendengar sebuah suara benturan yang sangat keras.


"Hmmmm….!"


Dan begitu ia melihat apa yang sebenarnya terjadi, Theo segera mendengus dingin, menatap tajam orang-orang di hadapannya.


Saat ini, di ruangan lantai lima, tampak beberapa Bandit telah mati dengan tubuh tak utuh, hanya 3 orang dari mereka yang tersisa. Sementara suara benturan yang tadi sempat Theo dengar begitu menuruni tangga, ternyata berasal dari Thomas yang baru saja mendapat pukulan dahsyat, membuat tubuhnya membentur keras dinding batu ruangan.


"Uhuukkk…!!!"


Thomas terbatuk darah. Meskipun sudah dalam Mode Meridian Knightnya. Tapi tetap saja, orang yang baru memukulnya adalah tetua berkelas King tahap Surga. Sementara Thomas sendiri hanyalah Meridian Knight dengan kelas General langit. Perbedaan kelas yang cukup jauh ini, menyebabkan Thomas menderita luka berat dalam sekali pukul.


"Siapa sebenarnya kalian? Kenapa terus mengganggu! Seperti lalat saja!" Dengus Theo dingin. Menatap tajam kelompok orang yang sempat di jebaknya pada lantai pertama. Dan kini telah berhasil menyusul sampai lantai lima.


"Siapa kami? Kenapa tak menanyakan itu dari awal sebelum dengan berani cari masalah dengan kami? Terlebih kau telah melakukan tindakan tak termaafkan dengan memukul Nona mudaku!" Kata sang tetua, dengan ekspresi menyeramkan.


"Tindakanmu itu, hanya bisa di bayar dengan kematian!" Lanjut sang tetua. Bersamaan dengan kata-kata terakhirnya tersebut, aura intens mulai menyebar dari dalam tubuhnya.


"Uhukkk… Kakak! Kita dalam masalah besar! Ternyata mereka adalah kelompok dari Barbarian Tribe! Terlebih lagi, wanita yang sebelumnya kau pukul, adalah Gerel Khan! Anak pertama dari Sanghis Khan yang kejam! Khan dari Barbarian Tribe!" Kata Thomas, dengan ekspresi wajah nanar. Tampak benar-benar menyesal telah terlibat masalah dengan kelompok di hadapannya.


"Barbarian Tribe? Satu dari 10 Biggest Knight Group?" Gumam Theo. Sedikit tak menyangka bahwa dirinya yang baru saja beberapa hari menginjakkan kaki di East Region, sudah harus berurusan dengan salah satu kelompok terkuat di wilayah ini.


Jika di North Region kelompok Knight disebut sebagai House, dimana pemimpin nya dipanggil Lord. Itu berbeda dengan East Region, kelompok Knight disini di sebut Tribe, dengan pemimpin tertinggi bergelar Khan.


Di East Region sendiri, terdapat dua kelompok yang termasuk 10 Biggest Knight Group, mereka adalah Barbarian Tribe, Tribe terkuat yang memimpin seluruh Tribe di wilayah Gurun East Region. Kemudian Elaenor Tribe, Tribe yang memimpin seluruh Tribe lain di wilayah kepulauan East Region. Dimana disebut Thousand Island.


"Hmmmm… Ini tidak baik!" Gumam Theo, begitu menyadari lawannya berasal dari kelompok yang tak sembarangan.


"Tetua kedelapan, bukankah sudah kubilang, bahwa pemuda ini adalah milikku? Jadi kau urus saja si Gendut dan Bandit yang tersisa! Jangan ikut campur!"


Saat Theo masih tampak berpikir, mencari jalan keluar terbaik dari situasi buruk yang tengah ia hadapi, wanita cantik nan eksotis yang di pertemuan pertama mendapat dua pukulan keras dari Theo, Gerel Khan, kini tiba-tiba angkat bicara setelah dari tadi hanya diam memperhatikan.


"Hmmmm… Jika saja aku tak ingin mengulang kejadian sebelumnya, berdebat denganmu, yang mana membuat kita jatuh pada perangkap konyol pemuda kurang ajar itu, tentu aku tak akan membiarkanmu terus bertindak sesukanya seperti ini!" Dengus sang tetua, setelah mendengar kalimat memerintah Gerel.


"Adalah sebuah tindakan tercela bagi anggota Tribe bila berperilaku tak hormat pada tetuanya seperti yang sedang kau lakukan saat ini!"


"Sekali ini aku akan tutup mata karena kau memang pantas mendapat kesempatan membalas dua pukulan yang sebelumnya kau terima!"


"Tapi, bila kedepan kau masih terus bertindak tak hormat padaku! Tak peduli kau anak dari Khan, aku akan tetap memberimu hukuman!"


"Aku yakin, sebagai Khan yang terhormat, dimana selalu menjunjung tinggi aturan Tribe, ayahmu tak akan berkeberatan bila aku menegakkan aturan Tribe dengan menghukum mu!" Tutup sang tetua, dengan nada dingin yang mencekam.


"Hmmm….!"


"Ohhh… Gadis ini cukup cantik! Kalau aku jadi kau, tak perlu pikir panjang, bagaimana pun caranya, aku akan melakukan apapun untuk memaksanya menjadi budakku!"


"Bisa kau bayangkan ditemani wanita cantik nan eksotis dengan bentuk tubuh sempurna seperti itu tiap malam! Itu benar-benar sebuah definisi kenikmatan yang nyata! Gelora masa muda yang nyata!"


Saat suasana sedang di puncak ketegangan, suara Ernesto tiba-tiba terdengar di dalam kepala Theo. Mengatakan sesuatu yang benar-benar tak pernah di bayangkan oleh Theo. Si Ernesto ini, ternyata dalam beberapa sisi tertentu, memiliki pemikiran yang lebih parah dari pada Masternya Tiankong.


"Gough…!!!"


Kata-kata setengah cabul Ernesto, membuat Theo seketika tersedak udara yang sedang di hirupnya.


"B3debah sialan! Diam! Jangan utarakan pemikiran cabulmu itu padaku! Aku sama sekali tak peduli!" Dengus Theo dalam hati. Memaki Ernesto.


"Hahahhahaha….!!! Memang apa yang salah? Itu normal sebagai lelaki untuk memiliki hasrat! Jangan sia-siakan hidupmu hanya untuk berlatih! Bersenang-senanglah setiap kau punya kesempatan! Lampiaskan masa mudamu dengan yang seharusnya!" Jawab Ernesto.


"Diam! Aku tak akan terpengaruh oleh otak cabulmu itu! Benar-benar menyesal aku pernah membayangkan kau adalah sosok yang sangat keren saat Masterku bercerita tentang kisahmu!" Bentak Theo.


"Hahahha… Sudahlah! Sekarang lebih baik kau tak meremehkan wanita itu! Dari dalam tubuhnya, aku merasakan aura yang tampaknya adalah salah satu dari Ancient Thing!" Kata Ernesto, tiba-tiba berubah memasang ekspresi serius.


"Ancient Thing? Bagaimana kau bisa tau?" Tanya Theo kaget.


"Hmmm… Kan sudah kubilang aku merasakan auranya! Bukankah kau bilang sudah pernah mendengar kisahku? Jadi kau seharusnya tau aku hidup di jaman keemasan Ancient Thing. Terobsesi membuat item yang sejajar dengan Ancient Thing, bahkan akhirnya aku mati karena harus bertarung melawan beberapa pengguna Ancient Thing di saat bersamaan!"


"Oleh karena itu, aku masih sangat hafal dengan aura dari Ancient Thing! Dan secara kebetulan, Ancient Thing yang dimiliki gadis ini, adalah salah satu yang di gunakan oleh lawanku dalam pertempuran hidup mati waktu itu!" Jawab Ernesto.


"Ahhh… Jadi seperti itu!" Saru Theo, kini paham.


"Yah, seperti itu! Aku sekarang juga bisa merasakan, kau memiliki tiga jenis berbeda Ancient Thing di dalam tubuhmu! Benar-benar luar biasa! Bahkan di jamanku, tak ada yang seperti mu! Memiliki tiga sekaligus! Hahhaha…!" Lanjut Ernesto, diakhiri dengan tawa lantang.


Bersamaan dengan tawa lantang Ernesto, aura liar gelombang Mana beratribut Lumpur, tiba-tiba menyeruak keluar. Membuat Theo yang merasakannya, kini langsung memasang sikap waspada.


Aura ini, tak lain berasal dari Gerel Khan, gadis cantik nan eksotis tapi memiliki perilaku liar berdarah panas yang ada di hadapan Theo.


"Atribut lumpur yang benar-benar ganas!" Gumam Theo. Kini mulai ikut menghimpun aliran Mana di dalam tubuhnya. Bersiap melakukan pertarungan kapanpun.


"Nagini, aku memanggilmu!" Gumam Gerel lirih.


Dengan gumaman Gerel, tatto segel pada punggung tangan kanannya kini mulai menyala terang. Sebelum akhirnya seekor makhluk raksasa melompat keluar dari dalammya.


"Sssstttaaaaaaahhhhhh…..!!!!"


Makhluk yang baru saja keluar, segera mendesis liar, menatap kearah Theo dengan tatapan penuh niat membunuh, sambil mulai melilitkan tubuhnya pada Gerel. Bersikap seolah melindunginya.


"Guardian Beast! Grey Snake!" Kata Theo.