
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
(Aula Transportasi Kota Gurun Zordan)
*Woooshhhh…!!!
*Woooshhhh…!!!
*Woooshhhh…!!!
Seperti yang terjadi di aula transportasi Frozen Stone City, Theo beserta Hella dan Gerel kembali melompat keluar dengan cara tak biasa dari dalam portal ruang aula transportasi. Membuat para penjaga yang melihatnya, segera bersikap waspada.
"Siapa kalian!" Teriak salah satu penjaga.
"Hmmm… Itu akan lebih bagus bila kau bisa mengatur portal ruang Istana Emas untuk keluar di tempat yang tak mencolok! Kenapa harus selalu menggunakan portal ruang aula transportasi sebagai jalan keluar!" Dengus Gerel.
"Jika bisa begitu, tanpa kau minta sekalipun aku pasti akan melakukannya! Istana Emas hanya bisa membuat portal ruang satu arah. Sementara untuk jalan keluarnya, harus terhubung dengan portal ruang lain yang telah terbentuk aktif! Dan itu hanya akan ada di aula transportasi!" Jawab Theo.
"Hmmmm… Jadi begitu!" Ucap Gerel, sebelum melangkah kedepan mendekati para penjaga.
"Aku adalah Gerel Khan! Putri dari Sanghis Khan! Pemimpin tertinggi Barbarian Tribe!" Seru Gerel dengan ekspresi wajah congkak. Menatap rendah para penjaga aula transportasi sembari menunjukkan token identitasnya.
"Sekarang menyingkir! Aku ingin segera keluar dari tempat pengap ini! Terlalu lama disini membuatku tak nyaman!" Lanjut Gerel.
Mendengar nama Barbarian Tribe disebut, para penjaga yang secara sekilas melihat token identitas Gerel, tanpa banyak bicara segera membuka jalan. Mereka bahkan tak melakukan pemeriksaan apapun pada token yang ditunjukkan Gerel.
Nama Barbarian Tribe tampaknya benar-benar disegani di East Region, khususnya wilayah Gurun. Bagaimana tidak, mereka adalah pemimpin tunggal seluruh Tribe yang ada di wilayah Gurun East Region.
Hal ini membuat para penjaga menjadi sepenuhnya takut saat Gerel mengatakan bahwa ia adalah nona muda Barbarian Tribe. Meskipun tak mengetahui apakah yang dikatakan Gerel itu benar atau tidak, karena para penjaga belum melakukan pemeriksaan pada token identitasnya, namun mereka sama sekali tak mau mengambil resiko.
Tak mau mengambil resiko dengan memeriksa token Gerel. Karena bila ternyata Gerel benar-benar nona muda Barbarian Tribe, maka tindakan mereka yang tak mempercayai ucapannya dan tetap melakukan pemeriksaan identitas, bisa di sebut sebagai penghinaan bagi wanita tersebut. Dan muara dari menghina seorang nona muda Barbarian Tribe, bisa berakibat sangat fatal.
Kini, dengan adanya Gerel yang memimpin di depan, kelompok Theo bisa berjalan keluar dari aula transportasi tanpa kendala sama sekali. Tak ada seorangpun penjaga yang berani menghentikan mereka.
***
(Diluar aula transportasi)
"Bagaimana rencana selanjutnya? Kita langsung menuju markas Bandit Serigala?" Tanya Hella.
"Hmmmm… Tidak perlu terburu-buru!" Jawab Theo.
"Karena dalam perjalanan sebelumnya kita harus mengaktifkan dua kali portal ruang Istana emas, dimana menghabiskan banyak sekali simpanan Mutiara Mana, aku punya satu rencana yang bisa digunakan untuk mengisi ulang kehilangan tersebut!" Lanjut Theo.
Mendengar jawaban Theo, baik Hella dan Gerel segera mengerutkan kening. Mereka tahu bahwa dua kali lompatan menggunakan portal ruang Istana Emas yang kelompok mereka lakukan, telah menghabisi puluhan juta Mutiara Mana Perunggu. Oleh karena itu, ketika mendengar Theo punya rencana untuk mengisi ulang puluhan juta Mutiara Mana yang hilang, mau tak mau keduanya menjadi penasaran dengan rencananya tersebut.
"Akan kujelaskan nanti! Sebaiknya sekarang kita beristirahat dulu di Gaia Inn!" Ucap Theo, saat melihat wajah heran Gerel dan Hella.
***
(Malam harinya)
"Death Arena! Jadi ini rencana yang kau maksud!" Ucap Hella saat Theo membawa dirinya serta Gerel menuju Death Arena.
"Yah, kurang lebih seperti itu!" Jawab Theo, kini mulai melangkah masuk.
"Hmmmm… Kurasa itu tak akan berjalan sesuai dengan apa yang kau rencanakan! Ada beberapa aturan tertentu di dalam Death Arena!" Ucap Hella, sebelum mengikuti Theo masuk kedalam.
***
(Tempat registrasi)
"Selamat datang! Ohh… Sang Godfather! Sekaligus juga sang Kaisar Tongkat! Pria tua ini memberi hormat!" Ucap Delario Dark, ketua dari Dark Guild cabang kota Zordan begitu melihat Theo memasuki ruangan.
Pria tua ini masih saja berpenampilan seperti layaknya anggota biasa. Duduk diatas meja aula penyambutan Death Arena, berperan sebagai petugas yang melakukan proses registrasi.
"Salam tetua Delario!" Kata Theo, sambil menangkupkan tangan. Memberi hormat pada Delario.
"Tak perlu sungkan! Lagipula kedudukan anda secara organisasi, sebenarnya lebih tinggi dariku!" Jawab Delario.
"Ngomong-ngomong, ada urusan apa anda datang kembali kesini?" Tanya Delario.
"Aku ingin kembali mendaftar sebagai peserta Death Arena!" Jawab Theo, langsung menyampaikan tujuannya tanpa basa-basi.
Mendengar jawaban Theo, Delario segera memasang ekspresi wajah rumit. Tampak kesulitan untuk memberi tanggapan atas apa yang diminta Theo.
"Tetua, apa ada yang salah?" Tanya Theo begitu melihat ekspresi sulit yang ditunjukkan Delario.
"Tuan muda! Aku tau anda adalah seorang Godfather, dimana intruksi yang anda berikan, harus segera saya laksanakan!"
"Namun, ada satu aturan kuno yang selalu di terapkan di Death Arena ini! Aturan itu, berfungsi sebagai penjaga agar pertarungan Death Arena selalu meriah dan berimbang." Ucap Delario.
"Ohh... Aturan seperti apa?" Tanya Theo.
"Tuan muda, sebenarnya aturan tersebut cukuplah sederhana! Yakni, para peserta yang telah berhasil menyandang status sebagai Kaisar, tak boleh lagi ikut di pertandingan Death Arena yang sama!"
"Jadi, anda yang merupakan Kaisar Tongkat, tak boleh lagi berpartisipasi dalam Arena Tongkat!" Tutup Delario.
"Ahhh… Jadi seperti itu!" Gumam Theo.
"Itu benar! Jadi mohon maaf, sepertinya anda tidak bisa ikut berpartisipasi dalam pertandingan Death Arena lagi!"
"Aku sungguh menyesal, kuharap anda mengerti! sebenarnya…"
Delario hendak menyampaikan rasa menyesalnya karena harus membuat Theo kecewa, tapi bagaimanapun juga, aturan tetaplah aturan. Bila pihak Death Arena memberi pengecualian untuk Theo, meskipun status yang ia miliki adalah seorang Godfather, namun itu akan tak bagus untuk nama baik Death Arena.
Kepercayaan para penonton dan juga para peserta petarung Arena yang selama ini telah terbangun baik, akan rusak ketika mereka menganggap Death Arena tak lagi teguh dengan aturan yang mereka buat.
Namun, saat Delario belum sempat menyelesaikan kalimat menyesalnya. Theo yang tadi sempat diam, tiba-tiba memotong.
"Tetua, setelah mendengar penjelasanmu, aku dapat memahami bahwa Death Arena berusaha menjaga nama naiknya. Namun, aku tak pernah bilang akan kembali mendaftar sebagai peserta Arena Tongkat!" Ucap Theo.
"Maksud anda?" Tanya Delario.
"Maksudku, aku saat ini ingin mendaftar sebagai peserta di Arena lain. Apa itu termasuk melanggar peraturan?" Tanya Theo balik.
"Ahhh… Itu, tentu saja tidak!" Jawab Delario, sedikit terkejut dan benar-benar tak menduga Theo ternyata ingin mendaftar di Arena lain.
"Baiklah! Kalau begitu, kali ini aku mendaftar di Arena Tangan Kosong!" Ucap Theo, seraya menaruh biaya pendaftaran diatas meja.
"Tuan muda! Selain seorang ahli dalam senjata Tongkat, anda juga menguasai teknik pertempuran tangan kosong?" Tanya Delario.
"Hmmmm… Kurang lebih seperti itu, aku mungkin tak terlalu ahli, namun aku cukup percaya diri dengan kemampuan bertarung tangan kosongku!" Jawab Theo. Kemudian kembali menaruh dua Spacial Ring yang berisi tumpukan Mutiara Mana Perunggu diatas meja pendaftaran.
"Itu adalah modal awal dari dua wanita ini! Daftarkan mereka sebagai penonton Arena!" Ucap Theo.
"Hella, Gerel, aku ingin kalian menaruh semua uang taruhan kalian untukku!" Tambah Theo kemudian, ganti melihat kearah Hella dan Gerel.
Mendengar kata-kata Theo, baik Hella maupun Gerel, hanya mengangguk singkat, memberi isyarat bahwa keduanya mengerti.
Melihat anggukan keduanya, Theo tanpa menunda meraih nomer peserta diatas meja pendaftaran, kemudian berjalan kearah ruang tunggu peserta Arena Tangan Kosong.
Dengan perginya kelompok Theo, kini hanya menyisahkan Delario Dark yang sedang memandang dengan tatapan cemas kearah ruang tunggu Arena Tangan Kosong. Melihat kepercayaan diri Theo, entah kenapa pria tua ini merasa Death Arena akan kembali kehilangan Mutiara Mana dalam jumlah banyak malam ini.