
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
*Booommmm….!!!
*Booommmmm…!!!
*Booommmmmm…!!!
Pertempuran antara pasukan House Alknight, melawan kelompok pasukan elite House Estrabat, menjadi yang pertama dalam pembuka perang besar di wilayah Hutan Pinus Beku.
Pasukan elite House Estrabat yang sebenarnya kalah jumlah 3 banding 1, tetap bisa memberikan perlawanan berarti, dan bahkan terlihat mulai diatas angin, karena meskipun mereka kalah dalam hal jumlah, tingkat kultivasi dari pasukan ini yang seluruhnya berada di kelas General, memberi dampak yang sangat signifikan.
Sementara di pihak House Alknight, hanya para tetua serta Jasia yang telah mencapai kelas General.
"Hmmm… dimana bocah yang bernama Theo itu?" Seru Bethany dengan suara lantang. Sambil mengarahkan pandangannya menyapu medan pertempuran.
"Aku belum melihatnya kak! Apa mungkin dia tak ikut terjun ke dalam pertempuran ini?" Jawab Legalus.
Mendengar jawaban dari adiknya, Bethany langsung memasang wajah masam.
"Bantai semua! Habisi sampah-sampah ini! Kita lihat apa dia masih tak akan muncul saat anggota housenya dibantai habis!" Seru Bethany.
*Woooshhhh…..!!!
*Booommmmm….!!!
Saat Bethany masih sibuk mengatur pasukannya membentuk formasi menyerang yang agresif, sebuah semburan Mana api raksasa diiringi dengan benturan keras dari pendaratan suatu makhluk, menggoncang area yang berada tak jauh di hadapannya. Memporak-porandakan formasi yang tengah ia susun.
"Hmmm… kudengar kau tadi mencari tuan muda?" Dengus Jasia, dengan sayap api angsa raksasa dipunggung, dan ditemani Bubu dibelakangnya, ia menatap tajam kearah Bethany.
"Kaaahhh… kahhhh… kahhhh….!"
Di belakang Bubu, kawanan kera kecil yang tak mau ditinggal, berlarian ikut menerjang masuk kearah formasi pasukan House Estrabat.
"Hmmm… wanita ini lagi! Hanya kelas General! Kenapa begitu sombong masuk kedalam formasi musuh! Jika saja waktu itu tak ada kakek tua aneh yang seorang King bersamamu! Aku pasti sudah menghabisimu!"
"Dan sekarang kau malah mencari kematian!" Bentak Legalus.
"Habisi gadis ini dengan formasi Golden Crow!" Teriak Legalus kemudian, memberi perintah pada anggotanya.
Tanpa menunda, kelompok house Estrabat yang berada dibawah kepemimpinan Legalus, segera melemparkan beberapa kertas jimat, kemudian mulai membentuk segel tangan. Tak lama setelahnya, seberkas garis-garis cahaya berhamburan keluar dari dalam kertas jimat, saling berkait satu sama lain membentuk sebuah pola dua sayap raksasa diatas langit, tepat dimana posisi Jasia dan para monyet berdiri.
Bersamaan dengan terbentuknya garis cahaya berpola sayap gagak ini, anggota House Estrabat lain yang tak sedang membentuk segel tangan, mengeluarkan senjata rahasia berbentuk batang-batang tongkat keemasan dari dalam Spacial Ring mereka masing-masing. Segera melempar tongkat-tongkat tersebut kearah pola cahaya di atas langit.
*Klaangg….!!!
*Klaaangg….!!!
*Klaanggg….!!!!
Suara benturan antar logam menggema dengan keras begitu tongkat-tongkat yang di lemparkan pasukan House Estrabat mulai saling terkait satu sama lain. Mengikuti pola bercahaya, batangan tongkat-tongkat ini membentuk sayap Golden Crow raksasa.
Ketika formasi sudah terpasang dengan sempurna, Legalus melompat tepat ketengah pusat formasi. Dikelilingi oleh anggotanya yang sedang mempertahankan segel tangan, Legalus mulai ikut membentuk segel tangan yang serupa. Diakhiri dengan kedua bola matanya mengeluarkan sinar cahaya keemasan yang sangat terang.
"Formasi rahasia House Estrabat, Sayap penghancur dari Golden Crow yang legendaris!" Gumam Legalus. Kemudian dengan gerakan tangan, mengendalikan sayap raksasa diatas langit untuk bergerak turun, mengarah tepat di posisi Jasia dan kawanan kera.
Merasa akan datangnya serangan dahsyat, digerakkan oleh instingnya, Bubu langsung berteriak lantang, memasang sikap bertahan.
"Kahhh… kahhh…. Kahhh… kahhh…!"
Hal yang sama juga diikuti oleh seluruh kera-kera kecil anak buahnya. Kawanan kera ini menatap liar kearah sayap raksasa diatas mereka.
Disisi lain, Jasia yang juga berada di lokasi yang sama, bukannya ikut melihat keatas, tapi mulai memfokuskan perhatiannya pada kelompok House Estrabat yang tengah membentuk formasi segel.
Setelah terlihat berfikir untuk beberapa saat, Jasia dengan cepat mengeluarkan simpanan pisang darah miliknya dari dalam Spacial Ring. Memakan pisang ini dengan cepat, kemudian bergerak menerjang kearah pusat formasi.
Sayap raksasa Jasia semakin membesar akibat efek suntikan Mana tambahan dari buah pisang darah yang ia makan, membuat Jasia yang mengepakkan sayap raksasanya, terbang cepat kearah kelompok pembentuk formasi.
Sayap gadis ini, justru terlihat lebih Golden Crow dari pada sayap batangan besi emas diatas langit. Derakan api membara berbentuk sayap yang ada dipunggungya, merupakan pemandangan mengerikan bagi siapaun lawan-lawan yang melihatnya.
Namun, hanya beberapa meter sebelum Jasia mampu mencapai targetnya, sebuah serangan menyelinap dari senjata rahasia berbentuk bola besi, dengan keras dilempar kearahnya.
Serangan ini mendarat tepat mengenai dada Jasia. Membuat gadis ini kehilangan keseimbangan dan jatuh ketanah. Bersamaan dengan jatuhnya Jasia, Bola besi yang terpental keatas setelah mengenai dadanya, tiba-tiba meledak, kemudian menghamburkan ratusan jarum kecil yang beberapa darinya tak mampu di hindari oleh Jasia, menancap di beberapa bagian tubuhnya.
"Ugghhh….!!"
Jasia mengerang sambil memegang dadanya, yang terasa sakit. Selain dadanya terasa sakit, beberapa bagian tubuhnya yang terkena tusukan jarum juga mulai terasa kebas, mati rasa.
"Gadis yang menarik! Dari kata-katamu tadi, sepertinya kau kenal dekat dengan pemuda bernama Theo yang sedang kucari!"
Dihadapan Jasia yang masih bersimpuh, Bethany Estrabat berjalan mendekat kearahnya dengan langkah santai sambil memasang senyum licik yang menyeramkan.
"Kauu….!"
Jasia hendak menanggapi kata-kata Bethany, sampai bagian tubuhnya yang terasa kebas, kini mulai mengeluarkan sensasi kesemutan. Dan ketika Jasia masih bingung dengan racun apa yang masuk kedalam tubuhnya. Terdengar suara benturan keras yang tiba-tiba menggoncang tanah di sekitarnya, hal ini segera mengalihkan perhatian gadis ini, membuatnya menoleh kearah sumber benturan.
"Bubuuu….!!!"
Jasia berteriak cemas saat melihat tubuh raksasa Bubu, saat ini menancap dan menghancurkan perbukitan yang berada tak jauh dari lokasi pertempuran.
*Boommmm…!!!
*Booommmm….!!!
*Booommmm….!!!
Seolah masih kurang, sayap emas raksasa terus menghujam tubuh Bubu berkali-kali, membuat sang kera semakin terperosok masuk kedalam retakan tanah yang terbentuk dari kerasnya efek benturan.
"Berani mengalihkan perhatian ketika berhadapan denganku?"
Saat Jasia masih tampak cemas dengan situasi Bubu, suara dingin Bethany kembali terdengar. Bersamaan dengan suara ini, beberapa senjata rahasia juga berterbangan kearahnya.
Melihat hal ini, Jasia dengan cepat bergerak mundur kebelakang menghindari semua senjata rahasia. Ia berhasil menghindar tepat waktu, namun begitu ia mendarat dari lompatannya, kedua kakinya mulai bergetar hebat. Rasa kesemutan yang tadi ia rasakan, kini mulai menjalar keseluruh tubuhnya.
"Hahhaha… bersikap eksplosif, menerjang maju kedepan dengan gegabah tanpa memperhatikan sekitar! Sungguh gadis muda yang amatir!"
"Hanya karena memiliki kekuatan Mana api yang diatas rata-rata, apa kau pikir dirimu itu tak terkalahkan? bisa membakar semua lawan-lawanmu dengan sesuka hatimu?" Dengus Bethany, masih dengan ekspresi wajah dan senyum licik menyeramkannya.
Ia kemudian mengeluarkan seperangkat pisau kecil dari dalam Spacial Ring miliknya, dan mulai berjalan mendekati Jasia yang saat ini bersimpuh tak mampu berdiri.
"Sekarang, katakan dimana pemuda bernama Theo itu berada?" Kata Bethany dengan nada dingin. Saat berada tepat dihadapan Jasia.
"Cuiihhh…!!!"
Mendengar pertanyaan itu, Jasia tak memberi jawaban apapun, hanya meludah kearah kaki Bethany.
"Hahhaha… terserah kau saja! Aku bisa menikmati ini sepanjang hari! Kita lihat sampai berapa lama kau akan bertahan saat aku mulai menguliti kulit putih mulusmu itu!" Kata Bethany. Menatap dengan tatapan penuh minat kearah Jasia, sambil memainkan pisau-pisaunya.