Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
153 - Lord Malforis


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


"Yah, itu adalah Sabertooth, salah satu Ancient Beast yang memiliki dual atribut, Air dan angin!" Kata Theo. Menjawab pertanyaan Arthur.


"Wahh… bukankah Spirit Beast ini dikatakan sudah punah Boss?" Tanya Arthur lagi.


"Hmmm… seharusnya seperti itu!" Jawab Theo singkat, sambil terus melihat kearah Sabertooth tersebut.


Sementara di dalam arena, Tuan muda pertama House Braveheart, Lucius, kini tampak menatap santai gadis muda yang ada di hadapannya.


Gadis ini sebenarnya memiliki paras yang sangat cantik, dengan bentuk tubuh yang juga indah, namun karena berpenampilan seperti lelaki, kecantikannya agak memudar. Di dalam arena, ia tengah bersimpuh, penuh luka sayatan di beberapa bagian tubuhnya.


"Nona Hella! Sepertinya ini kemenanganku!" Kata Lucius.


"Grrrrr……!!!!"


Hella Asgard tak menjawab, dia hanya menatap dingin pemuda di hadapannya dengan pandangan tajam penuh ketidakpuasan. Sebagai gantinya, Sabertooth yang ada di depannya, terus menggerang dengan garang. Seolah mewakilinya menyuarakan kemarahan.


Tak lama setelah itu, gadis ini menggunakan tombaknya sebagai penyanggah, mencoba berdiri dengan susah payah.


"Apa kau perlu bantuan?" Tanya Lucius.


"Diam! Aku tak perlu belas kasihanmu!" Dengus Hella.


"Hmmm… baiklah kalau begitu!" Jawab Lucius dingin.


Lucius sendiri, yang merupakan tuan muda pertama dari House of Braveheart, memiliki penampilan sangat menawan, seperti kebanyakan tuan muda dari House-House besar. Dia berwajah tampan, dengan rambut panjang hitam legam yang terurai, serta sorot mata sayu mempesona.


"Nikmati kemenanganmu! Suatu saat aku akan kembali dan menantangmu!" Kata Hella Asgard. Kemudian melangkah agak goyah, menaiki Sabertooth miliknya.


Dengan menunggang Sabertooth raksasa, serta memanggul tombak besar di punggung, gadis ini meninggalkan arena, tanpa menoleh kebelakang sekalipun.


"Hmmm… Sungguh gadis yang menarik!" Gumam Theo pelan.


"Ngomong-ngomong, jadi itu Lucius Braveheart, orang yang bertunangan dengan kak Issabela!" Gumam Theo lagi, kini tatapannya mengarah kepada Lucius.


***


(Aula utama House of Braveheart)


Seperti kebanyakan aula utama dari House besar, aula utama dari House Braveheart di desain sangat indah. Dengan berbagai perabot nomer satu dan juga lukisan-lukisan leluhur, terpajang rapi memenuhi hampir setiap sudut tembok ruangan.


Sebagai salah satu dari 10 Biggest Knight Group, tentunya House of Braveheart juga menganggap aula utama, yang merupakan wajah penyambut bagi setiap tamu yang datang, adalah suatu tempat dengan gengsi tersendiri.


Oleh karena itu, selain lukisan-lukisan leluhur yang memiliki keterangan lengkap berbagai informasi prestasi mereka ketika masih hidup, di dalam aula utama juga terpajang berbagai mayat Spirit Beast kelas tinggi yang diawetkan sebagai pajangan.


"Putriku, akhirnya kau pulang juga!"


Saat ini, kelompok rombongan House Braveheart yang selesai berkunjung ke House Alknight, tampak berada di tengah aula. Menghadap ke kursi podium Lord. Setiap dari rombongan juga tengah berlutut di hadapan Lord mereka, tak terkecuali Theo dan Arthur.


Sedangkan orang yang berbicara sebelumnya, tak lain adalah Lord dari House of Braveheart, Malforis Braveheart. Seorang pria setengah baya berusia sekitar 50 tahunan. Namun diusianya yang menjelang senja, ia masih memiliki sorot mata tajam mengintimidasi.


"Hmmm… Aria memberi salam kepada ayah!" Jawab Aria, dengan nada agak kesal. Menanggapi sambutan ayahnya.


Sementara rombongan yang lain, segera memberi salam dengan nada sangat sopan kepada Lord mereka, setelah Aria selesai berbicara.


"Hmmm.. kalian boleh berdiri!" Jawab Lord Malforis, dengan tatapan agak canggung ketika melihat ekspresi kesal Aria.


Bersamaan dengan perintah itu, tanpa menunda seluruh rombongan berdiri secara serempak.


"Ngomong-ngomong, siapa dua pemuda ini?" Tanya Lord Malforis, ketika menyadari keberadaan Theo dan Arthur dalam rombongan.


Mendengar pertanyaan itu, Master Estro terlihat akan menjawab, namun ia menyempatkan melirik sebentar kearah Aria, memastikan apakah dia boleh berbicara, atau nona mudanya ini sendiri yang menjawab pertanyaan dari Lord.


Dan ketika melihat Aria hanya diam, tampak tak tertarik mengenalkan keduanya, Master Estro akhirnya mengambil peran untuk berbicara.


"Tuanku, pemuda ini adalah Theodoric Alknight! Tuan muda ketiga dari House of Alknight. Dia memutuskan untuk ikut rombongan kita kembali ke house, karena ingin menyampaikan suatu tawaran!"


"Dan di sampingnya adalah Arthur Wild, tuan muda dari House of Wildbear, salah satu House besar di wilayah Hutan Pinus Beku, dia hanya ikut menemani tuan muda Theo." Kata Master Estro, mengenalkan Theo dan Arthur dengan nada berat berwibawa yang sangat sopan.


"Hmmmm… jadi dia tuan muda ketiga yang sering kau tulis dalam surat laporan itu?" Tanya Lord Malforis.


"Itu benar!" Jawab Master Estro singkat. Namun tetap dengan nada sopan.


Sementara Lucius, yang berdiri di samping Lord Malforis, kini mulai menatap Theo dengan tatapan menyelidik penuh ketertarikan ketika Master Estro selesai memperkenalkan identitasnya.


"Hmmm… jadi itu kau pemuda gegabah yang hampir membuat putriku celaka di perbukitan Merak?" Kata Lord Malforis, kini mulai sedikit membocorkan auranya.


"Hmmm… hati-hati, dia seorang Emperor tahap awal!" Kata Tiankong, mengingatkan dari dalam Gelang Ruang-waktu. Begitu merasakan aura yang di keluarkan Lord Malforis.


Mendengar itu, Theo mulai mengerutkan kening, ini adalah hal yang jarang terjadi, dimana ia bertemu dengan sosok seorang Emperor. Orang-orang dengan kelas ini, merupakan itentitas puncak yang ada di Gaia Land, sangat sulit bertemu dengan mereka.


Kini, ketika melihat Emperor untuk pertama kali, tak ada titik-titik ketakutan sama sekali dalam sorot mata Theo. Dia justru memandang Lord Malforis yang ada di hadapannya dengan tatapan penuh keteguhan.


'Emperor yah? Suatu saat aku akan mencapainya!' Gumam Theo dalam hati.


Sementara itu, melihat sorot mata Theo, Lucius yang dari tadi memperhatikannya, saat ini semakin tertarik dengan pemuda yang ada di hadapannya tersebut.


"Hmmm… kau berani memandangku dengan tatapanmu yang angkuh itu?" Tanya Lord Malforis lagi, ketika Theo tak menjawab pertanyaan pertamanya, namun justru memandang dengan tatapan penuh keteguhan.


Mendengar kata-kata intimidasi tersebut, Theo bukannya tertekan, tapi justru mulai berdiri dari sikap berlututnya.


"Bocah! Jaga sopan santunmu! Kembali berlutut! Di hadapanmu adalah Lord dari House Braveheart yang agung!" Bentak Master Estro, ketika melihat Theo justru bangkit dari posisi berlututnya.


Mendengar itu, Theo hanya menoleh sebentar kearah Master Estro, kemudian kembali menatap Lord Malforis yang ada di hadapannya.


"Aku sudah berlutut, sebagai tradisi salam pertama, untuk menunjukkan hormatku kepada Lord ketika pertama kali masuk dan bertemu dengannya tadi!"


"Jadi, tak ada alasan bagiku untuk tetap berlutut! Mengingat aku adalah seorang tuan muda dari House besar! Itu hanya akan merendahkan nenek moyangku!" Kata Theo, dengan sorot mata penuh ketajaman.