Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
284 - Koin Hitam


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


"Cukup diam disana! Aku tak butuh ada orang lain mendikte apa yang harus kulakukan!" Gumam Theo dingin. Sambil menatap tajam kearah podium, tempat dimana Carlos berdiri, dengan tatapan mematikan.


Mendengar kata-kata konfrontasi Theo yang jelas-jelas tertuju pada Carlos, seluruh Death Arena yang dari awal sudah cukup hening. Kini berubah semakin mencekam.


"Bocah! Kau berani berkata seperti itu padaku?" Gumam Carlos. Dengan raut wajah menyeramkan. Tampak sangat marah. Aura Kegelapan pekat, kini tak tertahan berhamburan liar keluar dari dalam tubuhnya.


"Kuakui kau memiliki bakat lumayan bagus untuk anak seusiamu! Aura Kegelapan yang keluar dari tubuhmu juga tampak tak biasa!"


"Tapi, apa kau mengira dengan punya sedikit bakat, itu cukup untuk membuatmu bisa bersikap begitu sombong?"


"Cukup sombong untuk menantangku yang merupakan salah satu tetua Dark Guild?" Dengus Carlos.


Bersamaan dengan kata-kata Carlos, aura Kegelapan lain mulai memancar di sekitar Death Arena, para Assassin dari League of Assassin milik Dark Guild cabang kota Zordan yang di tempatkan untuk menjaga keamanan Death Arena. Secara serentak merilis auranya masing-masing.


"Boss…!!!"


Melihat kejadian ini, Razak yang sekarang masih berada di sekitar Arena Tangan Kosong, segera mengepalkan kedua tangan dengan erat, bersiap maju kapan saja bila situasi berkembang tidak menguntungkan untuk Theo.


"Ini gawat! Apa yang sedang coba dilakukan Boss besar?" Gumam Thomas dari tribun penonton. Kini mulai khawatir dengan perkembangan situasi di dalam Death Arena.


Pria gendut ini tampak mulai melihat sekeliling, mencari celah yang bisa di manfaatkan untuk membantu Bossnya kabur.


"Beri pelajaran pada bocah ini! Jadikan dia contoh agar tak ada lagi yang berani sembarangan ketika mereka menjadi peserta dalam pertandingan Death Arena!" Seru Carlos. Memerintahkan para Assassin Dark Guild, untuk menyerang Theo.


Selesai mengatakan hal tersebut, Carlos segera melakukan lompatan tinggi, mendarat tepat di hadapan Theo, aksi Carlos diikuti oleh puluhan Assassin Dark Guild yang dari tadi sudah merilis auranya. Mereka semua mendarat di sekitar Arena Tongkat. Mengepung Theo sepenuhnya.


"Ini gawat! Sekarang harus bagaimana!" Gumam Thomas, dengan ekspresi wajah panik saat melihat situasi buntu Theo. Ia dapat melihat tak ada celah kecil apapun dari posisi mengepung yang sedang di lakukan oleh para Assasin Dark Guild.


"Boss…!!!"


Disisi lain, Razak tampak sudah mulai berlari menuju Arena Tongkat. Meskipun ia tahu tak akan bisa membantu banyak, mengingat para Assassin dari Dark Guild yang mengepung Theo seluruhnya adalah kelompok berkelas King tahap awal, tapi tak peduli bagaimana caranya, ia ingin melakukan tindakan untuk mencoba membantu. Hanya berdiam diri tanpa melakukan apapun saat melihat Boss nya dalam kondisi sulit, terasa salah di hati Razak.


"Razak! Diam ditempat!"


"Tak perlu ikut campur! Biar kuurus sendiri masalahku!" Ucap Theo.


Mendengar kata-kata Theo, Razak menjadi bimbang. Hanya diam tanpa melakukan apapun terasa sangat salah dan menyiksa batinnya. Sementara ia sendiri tentu tak bisa mengabaikan intruksi dari Theo.


"Boss! Aku tak mungkin cuma melihat saja!" Bentak Razak. Aura besi pekat, mulai dengan liar menyelimuti tubuhnya. Ia juga sudah mulai berubah kedalam mode Meridian Knightnya.


Melihat Razak tampak akan lepas kendali, Theo segera mengerutkan kening. Dari awal ia sudah tahu bahwa bocah ini memiliki sifat keras kepala yang sangat akut. Namun kali ini penyakit keras kepala Razak, kambuh di waktu dan tempat yang salah. Membuat Theo menjadi sedikit sakit kepala.


"Thomas!" Seru Theo kemudian.


Bersamaan dengan seruan Theo, Thomas segera melakukan lompatan tinggi, dalam sekejap mendarat di belakang Razak. Dan tanpa mengatakan apapun, memukul keras leher bagian belakang bocah tersebut. Pukulan Thomas, membuat Razak jatuh tak sadarkan diri.


"Jika Boss besar bilang diam ditempat ya berarti kau harus diam di tempat! Kurasa setelah ini kami harus mencari cara untuk membuatmu lebih disiplin lagi!" Gumam Thomas, seraya menggendong tubuh tak sadarkan diri Razak.


Dengan aksi Thomas, kini setiap orang di dalam Death Arena menjadi tahu, bahwa tiga orang paling menarik perhatian yang dari tadi menjadi fokus utama dalam pertandingan Death Arena, ternyata saling mengenal satu sama lain. Dan tampaknya berasal dari kelompok yang sama.


Hal ini membuat suasana tegang Death Arena, menjadi semakin menarik. Diskusi-diskusi kecil mulai terdengar di atas tribun penonton. Bagaimanapun juga, meskipun para penonton juga di selimuti perasaan tegang, mereka tetaplah orang-orang pinggiran, tak terlibat dalam masalah yang terjadi. Sehingga suasana tegang, kini berubah menjadi situasi dan pertunjukan menarik bagi para penonton.


Disisi lain, Theo yang saat ini masih dalam posisi terkepung. Justru mulai memasang wajah rileks sekali lagi. Tindakan Razak yang ingin menerjang maju secara ceroboh, tampaknya lebih membuat Theo risau dari pada situasi terkepung yang saat ini tengah ia hadapi.


"Bocah sombong! Masih belum terlambat untuk meminta maaf! Aku adalah pria yang punya sifat lapang dada!"


"Mungkin dengan meminta maaf, aku akan sedikit melepas masalah ini! Cukup mematahkan beberapa tulangmu, akan membuatku puas!" Ucap Carlos.


Mendengar kata-kata Carlos, Thomas yang dari tadi tampak sedikit cemas, kini justru ganti memasang wajah geram. Pria gentut ini mulai menggertakkan gigi-giginya. Satu saja kalimat perintah dari Theo, dia tak akan ragu untuk maju menerjang kedepan, membantu sekuat tenaga.


"Kalian kumpulan pria tak tahu aturan! Kenapa ikut campur dalam pertandingan Death Arena yang sedang berlangsung! Cepat menyingkir! Pertarunganku dengan pemuda itu belum selesai!"


Saat situasi masih berjalan tegang, tanpa di duga, orang yang memecah keheningan justru Hella Asgard, lawan terakhir Theo di Ring Arena Tongkat. Gadis ini entah kenapa secara tak langsung tampak ingin membantu Theo.


Disisi lain, mendengar kata-kata Hella, Theo sedikit memasang senyum tipis, begitu tipis sampai tak ada seorangpun yang akan menyadarinya.


'Meskipun terus memasang wajah sengit dan tak perduli, ternyata kata-kataku sebelumnya, bisa sedikit kau terima!' Gumam Theo dalam hati.


"Peserta Hell! Lebih baik tak usah ikut campur! Atau kau juga akan menerima akibatnya! Jaga mulutmu untuk tak terlalu berbicara tajam sehingga membuatku kesal!" Ucap Carlos, kini ikut mengancam Hella.


"Tua bangka! Lebih baik kau yang tutup mulut! Aku sudah mencoba sabar dari tadi!" Ucap Theo tiba-tiba, setelah hanya diam dari tadi.


"Bocah tengik! Masih saja bersikap tak tahu diri! Kau hanya mencari kematian!" Gumam Carlos, seraya memberi tanda agar para Assassin Dark Guild, maju menyerang Theo.


Tanpa menunda, para Assasin yang mendapat intruksi, segera maju menerjang kedepan. Namun, ketika para Assassin ini sudah sampai di hadapan Theo dan sudah mengeluarkan senjata masing-masing untuk dihujamkan pada tubuh pemuda di hadapannya. Theo yang menjadi target semua serangan, tiba-tiba mengeluarkan sebuah benda dari dalam Gelang ruang-waktu. Kemudian mengangkat benda tersebut tinggi-tinggi dengan tangan kanannya.


Benda yang dikeluarkan Theo sendiri, merupakan sebuah Koin Hitam dengan lambang bulan sabit di satu sisi, sementara disisi lain terdapat sebuah ukiran nomer berangka satu. Dan begitu melihat koin yang di keluarkan Theo, dalam sekejap langkah menyerang yang di lakukan para Assasin Dark Guild terhenti. Mereka serentak mengambil beberapa langkah mundur kebelakang, kemudian tiba-tiba ganti berlutut di hadapan Theo.