Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
425 - Kemah Besar


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


(Wilayah sekitar kemah besar kelompok Bandit Serigala)


*Booommmm…!!!


*Booommmm….!!!


*Booommmm….!!!


Saat ini, Shadex yang telah dalam bentuk Soul Knight, dialiri aliran Mana Besi berbentuk belalang sembah dengan pedang-pedang tipis disekitar tubuhnya, tampak sedang bertempur melawan seseorang.


Yang sedang ia hadapi, tak lain adalah seorang wanita berparas cantik, namun memiliki bentuk tubuh layaknya anak kecil. Isaa, mantan Boss Besar kelompok Bandit Racun Abadi yang sekarang menjabat sebagai wakil pemimpin divisi Bandit Serigala baru bentukan Theo. Divisi Racun.


"Hanya segitu saja?" Ucap Isaa, dengan raut wajah provokatif kearah Shadex.


Dalam mode Meridian Knightnya yang merupakan manusia setengah kelabang, Isaa yang memiliki atribut Mana Air, kini tengah melumuri tubuhnya dengan Air berkontur lengket. Air lengket itu sendiri, tak berwarna biru cerah layaknya Air pada umumnya. Tapi tampak sangat keruh, ungu pekat. Karena memang dipenuhi dengan racun yang sangat berbahaya.


"Hmmmm… Kenapa begitu sombong! Kita baru menyelesaikan satu putaran hari ini!" Dengus Shadex, kini mulai menambah intensitas aliran Mana Besi di sekitar tubuhnya.


"Hmmmm… Aku tak tahu dendam apa yang kau tanggung sehingga begitu benci padaku! Tapi yang jelas, sebelum aku bisa membuatmu bertekuk lutut dan membalas kejadian tempo hari dimana kau berniat membunuhku, maka aku tak akan pernah tenang!" Gumam Isaa. Dengan sorot mata penuh kebencian pada Shadex.


"Dendam? Kau salah sangka! Aku tak pernah punya dendam apapun kepadamu! Hanya saja, melihat seorang pemimpin kelompok yang begitu lemah serta bodoh sepertimu, benar-benar membuatku jijik!" Ucap Shadex.


Mendengar jawaban Shadex, raut wajah Isaa segera berubah menyeramkan.


"Mati!" Bentak Isaa. Sebelum kemudian maju menerjang kearah Shadex.


"Dengan kemampuanmu itu? Seolah kau bisa membunuhku saja?" Gumam Shadex, segera membentuk kubah pelindung dari aliran Mana Besi.


*Booommmm…!!!


Suara benturan keraspun tak terhindarkan saat Shadex dan Isaa kembali bentrok satu sama lain. Isaa terus menyerang dengan ganas menggunakan teknik tubuh penuh Air beracun miliknya, sementara Shadex yang terlihat mengambil sikap bertahan, sesekali melancarkan serangan menyelinap menggunakan aliran Mana Besi berbentuk pedang tipis disekitar tubuhnya.


Disisi lain, saat Shadex dan Isaa masih saling bertarung dengan intens, tak jauh dari lokasi keduanya, mengamati dari atas sebuah bukit kecil, trio gadis kembar anak buah Shadex sedang duduk santai memainkan sebuah permainan kartu. Syakira juga tampak bersama ketiganya.


"Ahhh… Mulai lagi!" Ucap Xika.


"Apakah mereka tak bosan bertarung setiap hari!" Tanggap Xoya.


"Ahaaa…! Kalian kalah!" Teriak Xafi, sambil melempar salah satu kartu yang sedang ia genggam.


"Itu curang! Bagaimana kau bisa punya kartu itu! Bukankah tadi sudah keluar!" Seru Xoya.


"Apakah perlu di tanyakan lagi? Dia pasti mengambil dari dek bawah saat kita tak melihat!" Tanggap Xika, dengan muka cemberut.


"Hihihi…! Kakak ketiga! Kau tak boleh curang begitu!" Ucap Syakira.


"Apa? Menang ya menang! Aku pernah mendengar Boss besar mengatakan, jika ingin mencapai puncak tertinggi, maka kau harus mengambil setiap kesempatan yang ada! Itu salah kalian tak memperhatikan!" Dengus Xafi, memasang ekspresi wajah cerah.


"Itu dia! Kau mengaku! Kau curang!" Ucap Xika, seraya mengambil posisi berdiri sambil menunjuk saudari ketiganya.


"Apa?" Seru Xafi, kini ikut berdiri.


Xika dan Xafi masih saling berseteru satu sama lain, sedangkan Syakira dengan senyum lebar mengamati keduanya dengan gemas. Sampai kemudian, Xoya yang memilih untuk melanjutkan melihat pertarungan Shadex dan Isaa, tiba-tiba menyadari satu sosok berjalan dengan langkah gontai dari arah belakang lokasi pertempuran.


"Hmmmm… Siapa itu? Bukankah berbahaya masuk ke area pertempuran?" Tanya Xoya. Dengan ekspresi wajah polos.


Satu pertanyaan yang segera membuat Syakira ikut melihat kearah yang di maksud oleh gadis tersebut.


"Hmmmm… Bukankah itu kak Yahuwa?" Ucap Syakira sambil memicingkan mata. Ekspresi wajahnya berubah cemas saat menyadari Yahuwa yang kini sedang melangkah dengan langkah gontai dalam keadaan tubuh penuh lumuran darah. Akhirnya terjatuh di tanah.


Menjadi sangat panik, Syakira yang merasa melewati area pertempuran antara Shadex dan Isaa tak memungkinkan untuknnya, tanpa menunda segera berlari menuruni bukit untuk kembali ke kemah besar. Diikuti trio gadis kembar di belakangnya.


***


(Kemah besar kelompok Bandit Serigala)


"Thomas! Shadex dan Isaa kembali bertarung!" Ucap Zota, sembari memasuki kemah si Gendut.


"Hmmmm… Biarkan saja! Aku sudah capek mengatur orang-orang liar itu! Biar nanti Boss yang mengambil tindakan setelah ia kembali! Lagipula, dengan kontrak Tuan-hamba, mereka tak akan bisa saling bunuh! Karena sudah dapat intruksi langsung dari Boss!" Jawab Thomas.


"Paling juga berakhir terluka parah setengah mati seperti yang sudah-sudah!" Tambah Thomas.


"Yang menjadi pikiranku sekarang adalah kenapa kelompok pengalih perhatian yang di pimpin Yahuwa dan Yaseya tak kunjung kembali! Ini sudah lewat satu minggu dari rencana awal!" Tutup Thomas.


"Hmmmm… Itu benar! Membuat khawatir saja!" Tanggap Oscana, yang sekarang juga berada di dalam kemah.


"Mungkin mereka ditangkap musuh dan sekarang telah mati dieksekusi!" Sahut Meria, nenek tua mantan Boss Besar kelompok Bandit Duri Kematian yang saat ini juga kebetulan ada di dalam kemah.


"Nenek bau tanah sialan! Tutup mulut busukmu itu!" Bentak Oscana. Segera merasa tak terima nyawa kedua sahabatnya dijadikan omongan ringan oleh Meria.


"Hmmmm… Aku hanya mengatakan kemungkinan yang terjadi! Memang salahnya dimana?" Jawab Meria, dengan raut wajah tak peduli.


"Thomas, kau sudah menerima laporan divisiku! Jadi, bila tak ada lagi yang perlu dibahas, lebih baik aku pergi! Berada di kemah sempit, terlebih di wilayah Gurun yang panas bersama orang-orang berkepala panas pula, membuat tubuh tuaku tak tahan!" Ucap Meria. Kemudian tanpa menunggu jawaban dari Thomas, segera akan melangkah meninggalkan kemah.


Namun, sebelum Meria sampai pada pintu keluar, beberapa orang menerjang masuk dengan langkah tergesa serta suara ribut.


"Kak Thomas! Ini gawat! Kau harus ikut denganku sekarang juga!" Teriak Syakira dengan wajah panik begitu ia dan trio kembar memasuki kemah.


"Ahhh, kak Oscana juga! Ayo cepat! Cepat!" Teriak Syakira. Mulai menarik lengan baju Thomas.


"Syakira! Tenangkan dirimu dulu! Jelaskan ada apa?" Ucap Thomas. Sambil mengerutkan keningnya.


"Yahuwa!" Jawab trio gadis kembar hampir serentak begitu Thomas bertanya.


Mendengar nama Yahuwa disebut, serta melihat kepanikan di wajah keempat gadis kecil di hadapannya. Seluruh orang di dalam kemah segera berdiri.


***


(Lokasi Yahuwa)


"Sialan! Apa yang terjadi!" Bentak Oscana, sambil memeluk erat tubuh Yahuwa yang saat ini sedang mengerang kesakitan.


"Sergapan!" Gumam Yahuwa lirih, hampir tak terdengar.


"Oscana! Bertanya nanti saja! Kita perlu merawat Yahuwa terlebih dahulu!" Ucap Thomas. Saat menyadari kondisi luka di tubuh Yahuwa terlihat sangat parah.


Kata-kata Thomas, segera disambut dengan anggukan oleh Oscana. Ia hendak akan mengangkat tubuh Yahuwa, sampai kemudian, Yahuwa yang sedang ia peluk, mulai mengeratkan genggaman tangannya pada lengan Oscana.


"Yas… Yaseya! Selamatkan Yaseya!" Ucap Yahuwa dengan susah payah, sebelum akhirnya jatuh tak sadarkan diri.


"Sialan! Apa yang sebenarnya terjadi!" Bentak Oscana, sambil mengepalkan tinjunya erat.