
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
"Bagaimana tadi kalimat petunjuknya?" Tanya Theo. Kepada Razak.
Saat ini, tim ekspedisi sedang beristirahat mengitari api unggun kecil. Theo memutuskan untuk menutup perjalanan mereka hari itu ketika sudah menjelang petang.
Setiap orang tampak sedang duduk santai sambil menatap api unggun. Hanya Darsa yang tak terlihat dalam lingkaran kecil tersebut. Kebiasaan selama puluhan tahun memimpin divisi pelacak kelompok Bandit Langit Hitam, membuat Darsa ingin melakukan penyisiran terkahir terlebih dahulu, memastikan lokasi yang dipilih oleh kelompok untuk beristirahat malam itu, benar-benar aman.
"Pada totem yang diwariskan secara turun temurun oleh leluhur Suku Osiris, ada satu kalimat yang bertulis di bagian belakangnya. Dan menurut warisan lisan yang juga di sampaikan secara turun-temurun, kalimat ini akan membimbing keturunan suku, saat sedang dalam kondisi tak tahu arah!" Ucap Razak, mulai menjelaskan sembari menunjukkan totem yang ia maksud.
Totem tersebut berbentuk lingkaran sempurna, memiliki warna merah terang, dan terdapat satu lambang sayap perak di permukaannya. Totem di tangan Razak sendiri, bukanlah totem identitas biasa, melainkan satu totem khusus yang hanya dimiliki oleh anggota Suku Osiris keturunan langsung dari Khan.
Dengan kata lain, Razak yang memiliki totem tersebut, mempunyai garis darah seorang kepala suku. Jika saja Razak lahir lebih awal ribuan tahun yang lalu, posisinya dalam Suku Osiris saat itu pastilah seorang tuan muda terhormat. Tak menutup kemungkinan ia juga akan menjadi Khan di generasinya.
Dengan semua bakat serta dedikasi yang ia miliki, Razak pasti akan memimpin Suku Osiris dengan sangat baik. Sayangnya, Razak lahir ribuan tahun terlalu lambat. Lahir ketika masa kejayaan suku Osiris telah habis. Menyisahkan hanya dirinya seorang yang kini menjadi penjaga benang tipis dari nasib suku tersebut, jika ia mati, maka suku Osiris akan benar-benar lenyap dari muka Gaia Land.
Razak adalah gambaran nyata dari seorang raja agung tanpa tahta, tanpa pasukan, bahkan tanpa rakyat yang bisa dipimpin. Menyisahkan hanya singgasana rapuh yang kini harus ia jaga seorang diri.
"Kalimat di belakang totem berbunyi."
-Untuk siapapun generasi selanjutnya yang menyandang totem ini! Bila kau sedang berada di dalam kegelapan total yang mencekam, begitu dingin hingga tulang besimu bahkan terasa rapuh, maka pergilah mencari matahari! Disana kau akan menemukan kehangatan!-
"Pergilah mencari matahari!"
"Pergilah mencari matahari!" Gumam Theo. Kini tampak sedikit merenung.
"Seharusnya kalimat terakhir itulah yang menjadi poin utama, petunjuk yang sebenarnya!" Ucap Theo kemudian.
"Hmmmm…. Kenapa leluhurmu begitu merepotkan! Kalau memang berniat membantu keturunannya, seharusnya tak perlu memasang kalimat teka-teki seperti itu!" Sahut Gerel.
"Sebenarnya mereka punya niatan membantu atau tidak! Kenapa tak langsung saja!" Tambah Gerel.
Mendengar kata-kata Gerel, Razak yang merasa wanita itu tak menunjukkan satu sikap hormat pada leluhurnya, segera memasang ekspresi wajah sengit.
"Diam kau wanita ular! Jangan sekali-kali menghina leluhur suku Osiris ku!" Bentak Razak. Tampak sangat marah. Ia kini telah dalam posisi berdiri, sementara aliran Mana Besi pekat, bergerak liar tak terkendali disekitar tubuhnya.
"Razak tenangkan dirimu!" Ucap Theo, dengan cepat menekan aura Razak yang berhamburan keluar tanpa kendali.
Mendengar Boss Besar nya telah berbicara, Razak dengan sigap menarik kembali semua aura yang sempat ia keluarkan. Kembali duduk, namun masih menatap tajam kearah Gerel.
"Boss! Kali ini wanita itu memang sudah keterlaluan! Sebagai orang yang Tribenya juga telah musnah, aku bisa memahami apa yang di rasakan oleh Razak!" Ucap Sanir, kini juga ikut menatap kearah Gerel dengan tatapan sengit.
Dari awal, Sanir memang sudah sangat tak suka dengan sosok Gerel yang dikenalnya sebagai Snakewoman. Karena menurut Sanir, selama berada dalam kelompok, Gerel sama sekali minim kontribusi untuk perkembangan kelompok Bandit Serigala.
"Sudah! Jangan bertikai! Ini bukan waktu yang tepat!" Ucap Theo.
Melihat tatapan Theo, Gerel tampak akan membantah, namun belum sempat ia mengucapkan kalimat apapun, satu aura kuat tiba-tiba menekankannya.
"Jika masih ingin bersama dengan kelompok, maka sebaiknya kau mulai belajar!" Ucap Theo. Aura berat kini memancar dari dalam tubuhnya. Sepenuhnya terfokus pada Gerel.
"Ya!" Jawab Gerel singkat. Akhirnya memilih untuk menekan egonya. Meskipun raut wajahnya tampak masih sangat tak terima.
"Hmmm, karena orang-orang sepertimu, stigma seorang nona muda dari kelompok Knight besar, selalu saja buruk di mata masyarakat umum!" Ucap Hella. Tak mau ketinggalan dengan segera menyambar kesempatan untuk ikut mengomentari sikap Gerel.
"Diam kau! Aku mungkin akan mendengar kata-katanya! Namun tidak denganmu! Sekali lagi kau mengoceh, maka itu akan menjadi saat terakhir mulutmu itu bisa terbuka!" Dengus Gerel. Tampak sangat tak terima begitu mendengar kata-kata ejekan Hella.
"Ancaman? Kau pikir aku takut padamu? Lihat ini, aku kembali mengoceh! Lalu apa yang akan kau lakukan untuk menutup mulutku hah??" Dengus Hella balik.
"Hahhh…!!!"
Mendengar dua wanita di hadapannya kembali berseteru, Theo segera menghela nafas panjang. Kemudian secara tak terduga mengaktifkan sepatu kilatnya. Dalam sekejap berada di hadapan Hella dan Gerel.
"Terserah pada kalian jika ingin bertarung! Tapi lakukan di tempat lain!" Ucap Theo. Sebelum kemudian, listrik merah kembali berderak dari sepatu kilat yang ia kenakan.
*Bzzzzzttt….!!!
*Bzzzzzttt…!!!!
Sosok Theo menghilang untuk beberapa detik bersama dengan Hella dan Gerel. Kemudian muncul kembali di tempat yang sama. Namun kali ini hanya seorang diri. Tanpa Hella dan Gerel yang tadi ikut menghilang bersamanya.
"Boss! Kemana dua wanita menyebalkan itu?" Tanya Razak.
"Kupindahkan ketempat lain untuk sementara waktu agar tak mengganggu!" Jawab Theo.
*Booommmm….!!!
Bersamaan dengan kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Theo, satu ledakan keras tiba-tiba terdengar dari suatu arah yang agak jauh dari posisi dimana api unggun berada.
"Hmmmm… Mereka benar-benar bertarung!" Gumam Theo. Sambil mulai memijit keningnya.
"Hahhh…! Terserah….! Aku tak peduli lagi!"
"Jadi Sanir, bagaimana menurutmu? Apa kau mendapat sesuatu dari kalimat petunjuk yang tertulis di balik totem Razak?" Tanya Theo. Kini tak peduli lagi dengan Hella dan Gerel. Mencoba kembali memfokuskan pikiran untuk memecahkan teka-teki di balik kalimat petunjuk dengan meminta pendapat Sanir.
"Boss! Kalimatnya terlalu samar! Dari pada menyebutnya sebagai petunjuk, itu malah terdengar seperti satu petuah!" Jawab Sanir. Tak memiliki ide sama sekali.
"Petuah ya?" Gumam Theo.
Theo tampak kembali termenung. Memasuki pikiran mendalam untuk beberapa saat, sampai kemudian, konsentrasinya kembali pecah saat satu tubuh tiba-tiba terlempar tak jauh di hadapannya.
"Hmmm….?" Gumam Theo, begitu melihat sosok yang baru saja mendarat keras di hadapannya.
"Boss! Aku menemukannya sedang mengendap-endap di balik kegelapan! Sepertinya ia telah mengikuti kita sepanjang hari sejak pertama kali meninggalkan kemah besar!" Ucap Darsa. Melangkah perlahan mendekati Theo. Namun ia tak kembali seorang diri. Melainkan dengan Guan Zifei berjalan disampingnya.
"Tuan muda, maafkan aku! Bocah ini memang terkenal susah diatur! Aku sudah berusaha mengejar untuk menghentikannya! Namun harus kuakui, teknik gerakannya begitu gesit!" Ucap Guan Zifei.
"Hmmmm… Zhou Kang! Kenapa kau mengikuti kami?" Tanya Theo pada akhirnya, menatap tajam kearah Zhou Kang, mantan Boss Besar kelompok Bandit Sisik Ular yang tadi dilempar Darsa kehadapannya.