
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
*Dentang…!!!
*Dentang…!!!
*Dentang….!!!
*Bzzzzzttt…!!!
*Graaaakkkk….!!!
Suara khas benturan antar logam terdengar nyaring saat Golok raksasa Boss Besar Bandit Langit Hitam beradu dengan pedang kembar Asmodeus di tangan Theo.
Suara benturan tersebut, juga diselingi dengan suara-suara riak dua atribut Mana yang saling serang satu sama lain. Theo dengan Mana Listriknya, sedangkan Boss Besar Bandit Langit Hitam dengan Mana Tanahnya.
Pertarungan antar keduanya tampak berimbang satu sama lain, membuat anggota kelompok Bandit Langit Hitam yang hanya menyaksikan di samping, kini tampak menjadi heran, bagaimana seorang King tahap awal, bisa mengimbangi King tahap langit.
Namun, meskipun merasa heran, tak ada titik-titik kecemasan apapun di ekspresi wajah setiap anggota Bandit tersebut. Bagaimanapun juga, dalam benak mereka, nasib dari sang pemuda sudah bisa di tentukan.
Seberbakat apapun pemuda di hadapan mereka itu, meskipun ia memiliki teknik pedang yang tampak indah dimana mampu mengimbangi teknik Golok Boss Besarnya, namun tetap saja perbedaan King tahap awal dan King tahap langit terlampau jauh. Dari kapasitas penyimpanan Mana, sudah akan menjadi pembeda dalam pertarungan.
Hanya masalah waktu sampai pemuda tersebut kehabisan simpanan Mana, berakhir Boss Besar mereka memenggal kepalanya. Terlebih lagi, bila memang sang pemuda bisa membuat keajaiban tak masuk akal dengan berhasil mengalahkan Boss Besar kelompok Bandit mereka, tetap saja, masih akan ada 30 orang lain anggota Bandit Langit Hitam yang sedang menunggu di sekitar.
Namun, berbeda dengan pemikirian hampir seluruh anggota kelompok Banditnya, Boss Besar Bandit Langit Hitam yang kini sedang bertarung dengan Theo, justru mulai meneteskan keringat dingin.
"Pemuda yang sangat mengerikan!" Gumam sang Boss Besar, sembari melakukan gerakan menangkis sabetan-sabetan pedang Theo.
Ia yang bertarung langsung dengan Theo, bisa merasakan riak aliran Mana yang keluar dari tubuh lawannya itu terasa begitu murni dan juga dalam. Seperti tak memiliki dasar.
Terlebih lagi, ia kini juga mulai merasa bahwa lawannya ini terlihat sedang hanya bermain-main. Ketika ia sudah mengeluarkan kemampuan terbaiknya dan telah berubah kedalam Mode Meridian Knight, Theo justru masih dalam bentuk manusia normal yang bertarung dengan seringai lebar. Benar-benar tampak santai.
"Hahh…!! Jadi seperti itu!"
Tepat ketika Boss Besar Bandit Langit Hitam sudah mulai panik dan akan menginstruksikan kelompoknya untuk menyerang secara bersamaan, Theo tiba-tiba melakukakan langkah mundur kebelakang dan mengatakan sesuatu.
"Seperti kata Master, aku tak terkalahkan di dalam kelas yang sama!" Gumam Theo. Merasa sudah tak berminat lagi melanjutkan pertarungan dengan lawan di hadapannya.
"Tapi karena kau tadi bilang berasal dari Wilayah Gurun Kematian, nasibmu cukup beruntung!" Ucap Theo. Seraya mulai mengeksekusi Teknik kedua Dosa Nafsu.
"Anggap saja ini imbalan untuk latih tanding barusan!" Gumam Theo.
Dengan aktifnya teknik Theo, puluhan baut listrik ungu tiba-tiba muncul di sekitar lokasi. Kemudian berubah menjadi puluhan sosok Theo.
Melihat kejadian tersebut, seluruh kelompok Bandit Langit Hitam segera memasang ekspresi wajah tercengang. Kini kelebihan jumlah yang dari tadi membuat mereka masih bersikap santai, telah lenyap beserta dengan aktifnya teknik kedua doa Nafsu.
"Apa-apaan!" Gumam salah satu anggota Bandit Langit Hitam.
Ekspresi wajahnya menjadi ngeri saat merasa teknik yang di ekseskusi Theo, bukanlah teknik bayangan pada umumnya yang biasanya di gunakan oleh beberapa Knight untuk sekedar mengalihkan perhatian lawan.
Puluhan sosok Theo yang saat ini berada di hadapan kelompok Bandit Langit Hitam, tak memiliki perbedaan riak Mana sama sekali satu sama lain. Semuanya tampak sama persis.
"Baiklah! Mari kita mulai membersihkan sampah Gurun Kematian!" Gumam puluhan sosok Theo secara serentak. Kemudian ekspresi wajah tiap-tiap dari sosok ini berubah mengerikan dengan seringai lebar mengembang bagaikan iblis.
*Woooshhhh…!!!
*Woooshhhh…!!!
*Woooshhhh…!!!
***
"Si-siapa sebenarnya kau!" Ucap Boss Besar Bandit Langit Hitam. Dengan ekspresi wajah ketakutan.
Dalam posisi berlutut, pria berperawakan besar ini sekarang sedang menatap kearah Theo yang sedang menatapnya balik dengan tatapan tajam sembari mengarahkan salah satu pedang kembarnya kearah leher sang Boss Besar.
Bagaimana ia tak menjadi begitu ketakutan, baru saja, hanya dalam beberapa menit, Theo melenyapkan seluruh anggota kelompok Banditnya dengan tanpa perasaan dan begitu keji, memotong setiap bagian tubuh mereka menjadi beberapa bagian.
Menyebabkan lingkungan sekitar saat ini terlihat bagaikan tempat bermain iblis penjagal. Penuh simbah darah serta potongan tubuh berserakan dimana-mana.
"Aku adalah Boss Besar Bandit Serigala!" Ucap Theo singkat.
"Bandit Serigala?"
Jawaban Theo, membuat Boss Besar Bandit Langit Hitam hanya bisa tertegun. Nama Bandit Serigala tampaknya sudah menyebar di kalangan kelompok Bandit Gurun Kematian.
***
(Perkemahan Bandit Serigala)
Sudah lebih dari dua bulan semenjak kepergian Theo. Saat ini, di wilayah perkemahan Bandit Serigala, suasana tampak cukup hening. Situasi yang bisa di bilang aneh terjadi pada perkemahan Kelompok Bandit. Karena biasanya perkemahan satu kelompok Bandit, akan selalu semarak dengan pesta pora.
Dibawah aura aneh yang terus berpendar menyelimuti seluruh perkemahan, pada setiap sudut lokasi, terlihat setiap anggota Bandit Serigala sedang melakukan kultivasi.
*Baaammmm….!!!
Keheningan beberapa kali terpecah ketika terdengar suara ledakan keras yang disertai dengan menyebarnya aliran riak Mana kelingkungan sekitar. Satu peristiwa yang umum terjadi saat seorang Knight telah berhasil melakukan terobosan ke tingkat kelas selanjutnya.
"Sialan! Sudah ada lagi yang berhasil menembus King!" Ucap salah satu anggota Bandit Serigala. Kemudian dengan tanpa mengatakan apapun lagi, kembali menutup mata.
Kini, setiap anggota kelompok Bandit Serigala seperti sedang melakukan perlombaan menaikkan tingkat kultivasi masing-masing. Tak ada satupun dari mereka yang mau tertinggal dari yang lainnya.
Merasa bersyukur karena telah memutuskan bergabung dengan kelompok Bandit Serigala. Dimana semua kebutuhan Kultivasi mereka di penuhi dengan jumlah yang cukup melimpah.
Namun, selain bersyukur, setiap orang juga dihinggapi oleh rasa was-was. Takut tertinggal dalam hal Kultivasi, benar-benar tak mau menjadi satu dari 100 orang terlemah di dalam kelompok. Dimana nantinya akan berakhir harus memasuki Istana Emas yang mengerikan.
*Baaammm….!!!
Suara riak ledakan Mana kembali terdengar saat ada anggota kelompok Bandit Serigala lain yang berhasil naik tingkat. Suara-suara ledakan riak Mana ini, sudah menjadi hal yang umum terjadi dalam beberapa waktu belakangan di perkemahan Bandit Serigala
Terdengar bagaikan suara dentang keras jam raksasa yang menjadi pengingat dalam heningnya suasana.
*Wunggggg….!!!
Saat setiap orang semakin terpacu dalam melakukan proses kultivasi. Suara yang terdengar berbeda mulai terdengar. Suara tersebut tak lain adalah dengungan keras diatas langit.
Mendengar suara tersebut, seluruh anggota Bandit Serigala yang awalnya berkonsentrasi penuh melakukakan kultivasi, segera membuka mata masing-masing, menatap keatas langit dengan tatapan cemas.
Diatas langit, Istana Emas berdengung beberapa kali lagi, sebelum mulai mengeluarkan sinar emas yang sangat menyilaukan.
"Berapa yang berhasil keluar hidup-hidup kali ini?" Gumam salah satu anggota Bandit Serigala.
Bersamaan dengan gumamannya, sekelompok orang tampak keluar dari dalam Istana Emas. Melompat turun dengan mantap meskipun dengan tubuh penuh luka parah.
Diantara orang-orang ini, terlihat Razak, Gerel, serta Hella. Gerel dan Hella memancarkan aura kuat seorang King tahap Bumi. Sementara Razak. Tampak berada dalam kelas General tahap Surga puncak.
"Hanya 9 orang!" Ucap anggota Bandit Serigala yang tadi bertanya. Namun, selesai mengatakan hal tersebut, sinar kemilau yang terpancar dari Istana Emas, bergerak cepat menyelimuti seluruh tubuhnya.
"Tidak! Jangan bilang…"
Sang anggota Bandit Serigala belum sempat menyelesaikan kalimatnya sampai kemudian cahaya kemilau menariknya masuk kedalam Istana Emas. Bersama dengan 99 orang lainnya.
---
"Segel mistis!"
*Woooshhhh...!!!
"Kalian tau harus apa dengan jempol ditangan kalian!"