Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
348 - Dimusnahkan


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


(Gurun Lima Warna)


Di salah satu tepian Sungai Leluhur yang memisahkan Gurun East Region menjadi 4 wilayah, beberapa kemah kelompok Bandit kini berdiri. Seperti kegiatan hampir seluruh kelompok Bandit yang sedang mendirikan kemah dan beristirahat selepas melakukan aktivitas merampoknya, perkemahan Bandit tersebut terlihat sedang semarak dengan pesta.


Namun, dalam suasana riang pesta kelompok Bandit, terlihat beberapa pemandangan mengerikan, dimana terdapat puluhan tungku-tungku besi yang kini berjejer di sekitar api unggun utama pesta. Pada setiap tungku besi yang biasanya digunakan untuk merebus obat tersebut, saat ini terisi dengan air mendidih.


Hanya saja, yang di rebus dalam air mendidih tersebut bukanlah bahan obat, melainkan beberapa sosok tubuh manusia yang kini sudah dalam kondisi mengenaskan, kulit mereka melepuh, sementara ekspresi wajahnya tampak sangat mengerikan, kedua mata serta mulut terbuka lebar. Setiap orang yang melihat ekspresi wajah tersebut, pasti bisa menduga bahwa orang-orang ini mati dalam rasa sakit yang teramat sangat saat tubuhnya direbus hidup-hidup.


Selain pemandangan mengerikan puluhan tungku mendidih berisi tubuh-tubuh manusia, di dalam area perkemahan juga tampak banyak gadis muda yang saat ini berjalan kesana kemari melayani anggota kelompok Bandit dengan tanpa mengenakan sehelai pakaian sama sekali di tubuh mereka.


Sementara kulit tubuh telanjang para wanita muda ini, memiliki banyak sekali bekas luka cambukan. Setiap anggota Bandit terlihat memegang satu cambuk kecil di tangan mereka masing-masing. Menghabiskan waktu luang dengan tanpa alasan mencambuk para gadis muda. Mereka tertawa lantang begitu puas saat mendengar para gadis berteriak kesakitan setiap kali menerima cambukan keras di kulit tubuhnya.


"Hahahha….!!! Sudah kubilang, dengan dua kelompok Bandit kita melakukan kerjasama dalam aktivitas merampok wilayah sekitar, maka semua akan berjalan lebih mudah!" Ucap seorang pria bertubuh kekar dengan banyak luka di area punggungnya.


"Yahhh….! Dari awal aku sudah menduga bahwa ide ini cukup brilian! Dari pada saling bersaing satu sama lain memperebutkan target, bekerjasama akan membuat segalanya lebih baik! Jumlah rampokan yang kita dapat juga terus bertambah seiring berjalannya waktu! Hahhaha….!" Jawab seorang pria berperawakan kurus dengan bekas luka parah pada mata kanannya yang kini sedang duduk disamping pria kekar sebelumnnya.


Dua orang ini tak lain adalah Boss besar dari dua kelompok Bandit di wilayah Gurun Lima Warna. Dua kelompok Bandit yang mereka pimpin sendiri, merupakan kelompok yang memiliki nama besar di wilayah Gurun Lima Warna.


Pria bertubuh kekar adalah Boss Besar kelompok Bandit Kaktus Darah, kelompok yang tersohor dengan kekejamannya. Tak segan merebus hidup-hidup korban mereka hanya untuk kesenangan dan menghabiskan waktu luang.


Sementara Pria bermata satu, merupakan Boss Besar Bandit Hyena. Kelompok Bandit yang benar-benar keji dan di takuti oleh penduduk sekitar. Kegemaran mereka adalah menculik wanita muda dan juga anak-anak.


Tak perlu di pertanyakan apa yang kelompok ini lakukan pada para wanita muda yang mereka culik, satu wanita biasanya akan menjadi bahan kesenangan bagi puluhan orang sekaligus di dalam satu kemah Bandit. Sedangkan anak-anak, akan mereka lepaskan di tengah wilayah Gurun yang ganas, cuma untuk sebagai bahan taruhan, seberapa lama mereka dapat bertahan hidup.


"Hmmm…! Ini benar-benar menyenangkan! Seperti hidup di dalam surga saja! Bahkan kelompok Tribe yang melindungi pemukiman sekitar, kini tak terlalu banyak melakukan pergerakan!" Ucap Boss Besar Bandit Kaktus Darah.


"Memang apa yang bisa mereka lakukan? Dengan kedua kelompok berhenti berseteru dan mulai bekerjasama, saat ini tak ada yang bisa menghentikan kita! Hahhahah…!" Tanggap Boss Besar Bandit Hyena.


Percakapan santai dua Boss besar tersebut, disambut oleh gelak tawa riang oleh seluruh anggotanya. Kedua Kelompok Bandit tampak benar-benar menikmati hasil dari kerjasama yang terjadi.


Gelak tawa tersebut hanya berhenti saat tiba-tiba satu sosok asing berjalan dengan santai memasuki area perkemahan. Dibawah tatapan tajam setiap orang, sosok ini berjalan dengan langkah malas mengangkat kaki-kaki berlemaknya menuju lokasi api unggun utama tempat dimana dua Boss Besar berada.


"Boss!" Ucap salah satu wakil pemimpin Bandit Kaktus Darah kepada Boss Besarnya. Terlihat meminta ijin untuk menindak sosok asing yang saat ini dengan sembarang memasuki wilayah perkemahan kelompoknya.


"Biarkan saja dulu! Aku ingin tau apa yang diinginkan si Gendut ini!" Jawab Boss Besar Bandit Kaktus Darah.


"Yahhh…! Lagipula siapapun dia, memang apa yang bisa dilakukannya seorang diri ditengah kelompok kita yang sedang berkumpul!" Sahut Boss Besar Bandit Hyena.


Mendengar kata-kata dua Boss Besar, beberapa wakil pemimpin dari kedua kelompok Bandit yang sebelumnya terlihat sudah akan maju untuk meringkus sosok Gendut, kini menghentikkan langkah masing-masing.


Sapaan santai nan singkat yang diucapkan sosok Gendut, membuat seluruh anggota kelompok Bandit yang saat ini tatapan matanya terfokus kearahnya, mau tak mau segera mengerutkan kening masing-masing.


Mulai merasa bahwa jaringan otak dari pria Gendut tersebut sudah putus. Hingga dengan sangat berani bersikap begitu kurang ajar dihadapan dua Boss Besar kelompok Bandit yang tersohor di wilayah Gurun Lima Warna dengan kekejamannya masing-masing.


"Katakan padaku! Siapa dirimu dan apa tujuanmu datang kesini!" Gumam Boss Besar Bandit Kaktus Darah dengan ekspresi wajah menyeramkan.


"Jawab pertanyaanku dalam waktu 10 detik! Jika lewat sedikit saja! Maka akan kurebus tubuh Gendutmu itu di dalam tungku mendidih!" Tambah Boss Besar Bandit Kaktus Darah.


"Hmmm… Sungguh menyeramkan!" Sahut si Gendut.


"Baiklah! Lagipula aku juga tak punya banyak waktu! Namaku adalah Thomas Ardo! Wakil pemimpin dari kelompok Bandit Serigala!"


"Tujuanku datang kesini adalah untuk memberi penawaran pada kalian berdua! Tunduk di bawah panji-panji kami, atau di musnahkan!"


"Jawab dalam waktu 5 detik!" Tutup Thomas. Dengan raut wajah malas.


*Bammmm….!!!


*Braakkk….!!!


*Braaakkk….!!!!


*Braaakkk….!!!


Mendengar kata-kata Thomas, setiap anggota kelompok Bandit Kaktus Darah dan juga Bandit Hyena segera berdiri dari tempatnya masing-masing. Dengan sangat marah menghancurkan benda apapun di hadapan mereka.


"Gendut! Kau mencari kematian!" Gumam Boss Besar Bandit Hyena. Kini sudah mulai mengeluarkan belatinya.


"Benar-benar br*ngsek! Ini adalah Gurun Lima Warna! Bukan wilayah Gurun Darah Gersang yang lemah! Kau pikir aku takut dengan nama kelompok Bandit Serigala?" Bentak Boss Besar Bandit Kaktus Darah.


"Ringkus si Gendut ini! Tapi jangan bunuh dia! Aku ingin melihat tubuh berlemaknya menggeliat di dalam tungku rebus!"


"Hmmm… Jika saja Boss Besar tak menekankan untuk selalu memberi penawaran tunduk terlebih dahulu, aku tak akan mau repot-repot!"


"Lagipula, itu akan menyebalkan menerima kelompok seperti kalian bergabung dengan Bandit Serigala!" Ucap Thomas.


"Baiklah! Kuanggap kalian lebih memilih untuk dimusnahkan!" Lanjut Thomas, seraya mengangkat sebuah tabung bambu tepat ketika sekelompok orang anggota Bandit Kaktus Darah akan menangkapnya.


*Dooommmm….!!!


Sebuah suar cahaya putih terbang tinggi keatas langit malam yang gelap sebelum akhirnya meledak dengan cahaya gemerlap. Dan begitu langit malam yang gelap menjadi terang, diatas perkemahan Bandit, sosok Raja Naga Hitam kini tampak menatap kearah bawah dengan tatapan penuh nafsu membunuh.


"Groooooaaaahhh….!!!!"


*Woooshhhh….!!!


Raja Naga Hitam berteriak lantang dengan sangat liar untuk sesaat, sebelum mulai mengepakkan sayap berdurinya. Terbang menukik tajam turun kebawah. Sementara dipunggungnya, Razak, Hella dan beberapa anggota Bandit Serigala lainnya, telah bersiap memasuki pertempuran. Sudah dalam mode Knightnya masing-masing.


Malam itu, dengan kelompok kecil yang menunggang Raja Naga Hitam sebagai pembuka serangan, disusul anggota berjumlah besar Bandit Serigala lain yang telah menerima sinyal menyerang dari Thomas ikut memasuki medan pertempuran, dua kelompok Bandit besar yang begitu tersohor di wilayah Gurun Lima Warna, yakni Bandit Kaktus Darah dan Bandit Hyena, di musnahkan.