
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
(Medan tempur selatan, kelompok Desa tersembunyi+Issabela, Gregoric, dan Arthur V.S House Helsinsberg)
"Tidak mungkin! Tua bangk4 Beladro!" Seru Arthur kaget, saat melihat sosok tua Beladro berjalan keluar dari balik bayangan pepohonan pinus dengan langkah perlahan.
Bersamaan dengan munculnya Beladro, puluhan Knight lain yang semuanya berpakaian serba hitam, juga mulai keluar dari balik bayangan pepohonan pinus yang ada di sekitar lokasi. Mengambil posisi mengepung.
"Hohohoho… mulut yang tajam! Tapi kenapa kau memasang ekspresi kaget seperti itu?" Tanya Beladro, sambil menatap tajam Arthur dengan sorot mata penuh kebencian.
"Apa kedatanganku benar-benar membuatmu terkejut? Sungguh aneh, dengan semua hal yang telah kau perbuat, terutama bocah berambut putih bernama Theo itu! Apa kau mengira aku akan membiarkan kalian pergi begitu saja?" Dengus Beladro. Kali ini dengan nada dingin. Elemen kegelapan intens juga mulai bocor dari dalam tubuhnya.
"Arthur siapa pak tua ini? Apa dia musuh?" Tanya Gregoric, yang tentu saja tak memahami apa yang sebenarnya terjadi. Namun, karena Beladro tadi sempat menyebut nama adiknya, Gregor yang merasa pria tua di hadapannya ini tak memiliki niat baik, segera menjadi waspada.
"Hmmm… bagaimana aku menjelaskannya! Ceritanya cukup panjang!" Jawab Arthur.
"Sepanjang apa memang? Biasanya juga kau selalu mengoceh tak jelas, mulutmu seperti tak pernah kehabisan stok kata! Kenapa sekarang malah bingung!" Dengus Gregoric.
"Ahhh… kali ini memang cukup rumit!" Jawab Arthur.
"Jelaskan saja sesingkatnya!" Bentak Gregoric, tampak mulai tak sabar.
"Baik-baik!" Dengus Arthur.
"Pria tua ini adalah Beladro! Tetua dari Dark Guild! Dalam perjalanan menuju ibukota, aku dan Boss bertemu dengannya, dan dalam pertemuan tersebut, Boss mempersulit pria tua ini!" Jawab Arthur, ringkas.
"Dark Guild?" Gumam Gregoric pelan, semakin mewaspadai Beladro yang ada di hadapannya.
Bagaimanapun juga, ia adalah siswa dari akademi surga yang berada di Ibukota. Jadi Gregoric paham betul kelompok macam apa Dark Guild tersebut.
"Jadi, dia adalah musuh?" Tanya Gregoric, memastikan.
"Boss besar kedua! Apa perlu ditanyakan lagi? Sudah jelas bukan! Dia memang musuh!" Seru Arthur.
Sementara itu, mendengar percakapan antara Gregoric dan Arthur, satu anggota House Helsinsberg tersisa yang mulai bisa menangkap situasi, dengan cekatan melompat kearah Beladro.
"Tetua! Perkenalkan, aku adalah anggota dari House Helsinsberg, satu dari 10 Biggest Knight Group!" Kata sang Knight, memperkenalkan diri dengan sopan sambil memberi salam tangan kepada Beladro, tepat setelah ia berada di hadapan pria tua tersebut.
Mendengar itu, Beladro tak memberi jawaban apapun, hanya melirik sang Knight dengan tatapan tak tertarik.
Sementara itu, melihat sikap tak respek Beladro, sang Knight tampak tak mempermasalahkannya. Kehadiran Beladro beserta kelompoknya, bagaikan bantuan yang dikirim dewa untuk membawanya keluar dari posisi sulit yang tadi sedang ia hadapi.
"Tetua, kurasa tujuan kita dalam hal ini adalah sama, yakni ingin menghabisi kelompok pemuda sombong yang ada di depan! Jadi, dengan rendah hati, aku menawarkan kerjasama dan bantuanku untuk menghabisi mereka!"
Mendengar kata-kata sang Knight, Arthur dan Gregoric langsung memasang ekspresi jijik.
"Dasar pecundang!" Dengus Gregoric.
"Sampah! Tak tau malu mengiba bantuan pada orang yang tak dikenal!" Kata Arthur, ikut menghujat.
"Hmmm… apa ada yang salah? Musuh dari musuhmu adalah teman!" Jawab sang Knight, ketika mendengar hujatan dari Arthur dan Gregoric.
Disisi lain, meskipun Arthur dan Gregoric merasa jijik dengan tindakan yang di lakukan Knight tersebut, tidak bisa dipungkiri bahwa yang dikatakannya barusan adalah benar, hal ini membuat keduanya mulai semakin memasang sikap waspada. Memikirkan cara yang tepat untuk keluar dari situasi ini.
"Bagaimana tetua? Apa kau menerima tawaranku? Bila kita saling membantu dalam perang ini, aku yakin House Helsinsberg ku, yang merupakan salah satu House agung, akan membalas semua bantuan kalian dengan selayaknya, bagaimanapun juga…."
"Uhuukk….??"
Sang Knight belum selesai bicara saat sebuah pedang kecil yang tajam, tiba-tiba menusuk tepat di tengah lehernya. Membuat kata-kata yang tadi akan ia ucapkan, tercekat di dalam tenggorokannya.
Yang menusuk leher Knight tersebut tak lain adalah Beladro. Pria tua yang sebelumnya ia anggap sebagai dewa penolong.
Dengan sorot mata penuh penghinaan, Beladro menatap kearah wajah sang Knight. Kemudian dengan cepat, menarik pisau kecilnya lagi.
"Uhukk…!!"
Darah segar segera mengalir deras dari leher Knight tersebut saat Beladro menarik pisaunya, namun dengan cepat ia menekan leher berdarahnya menggunakan satu tangan, sambil menatap balik Beladro dengan tatapan geram.
"Satu dari 10 Biggest Knight Group? House agung? Apa kau pikir aku peduli?" Dengus Beladro.
Mendengar itu, sang Knight yang merasa situasinya kembali menjadi tidak baik, mulai mundur satu langkah, berniat kabur dari lokasi.
Namun, bahkan sebelum sang Knight membuat langkah mundur keduanya, Beladro memberi tanda pada anggota disampingnya.
"Habisi sampah ini!" Dengus Beladro.
Mendengar intruksi tersebut, anggota Dark Guild yang berada disampingnya, dalam sekejap menghilang dari tempatnya berdiri. Kemudian muncul kembali di belakang Knight anggota House Helsinsberg yang sudah berniat untuk kabur.
*Slaaasshhhh….!!!
Tanpa mengatakan apapun, Knight berpakaian serba hitam ini menebas leher anggota House Helsinsberg tersebut. Dan setelah menyelesaikan tugasnya, ia kembali berubah menjadi sekelebat bayangan hitam. Muncul kembali disamping Beladro, seperti tak pernah meninggalkan tempatnya.
Kelompok Dark Guild ini, tampaknya tak peduli dengan nama besar House Helsinsberg sebagai salah satu dari 10 Biggest Knight Group. Menganggap anggota House Helsinsberg yang ada dihadapan mereka hanyalah sampah, atau angin lalu yang tak perlu diperhatikan.
"Ini gawat! Kita harus segera kabur dari sini dan memberitahu Boss tentang kehadiran pria tua ini! Kalau tidak, Ia akan menjadi api liar yang membakar semua! Mengacaukan rencana matang Boss!" Kata Arthur, terlihat mulai panik.
"Hmmm… kau pikir mau kabur kemana? Apa kau tak lihat kita sudah dikepung dengan sempurna!" Jawab Gregoric, sambil melirik kearah Issabela.
*Boooommmm….!!!
Namun, bersamaan dengan kata-kata dan lirikan Gregoric, sebuah ledakan dahsyat segera menghancurkan tebing tempat Issabela bersembunyi. Membuatnya jatuh kebawah, bergabung dengan Gregor dan Arthur.
"Hohohoho…! Jangan pikir bisa kabur dari sini!" Kata Beladro.
"Hmmm…. Tua bangk4! Apa maumu!" Bentak Issabela, secara garis besar, ia memahami situasi yang terjadi, karena dari tadi ikut melihat dan mendengarkan dari atas bukit.
"Apa mauku? Ohh… pertama-tama, aku ingin mengajukan pertanyaan!"
"Dilihat dari warna rambut kalian, dan juga dari gaya berbicara kalian, apakah kalian berdua masih punya hubungan darah dengan pemuda tengik bernama Theo dari House Alknight itu?" Tanya Beladro, sambil bergantian menunjuk kearah Issabela dan Gregoric. Pria tua ini menjawab pertanyaan Issabela, dengan pertanyaan lain.
Mendengar pertanyaan tersebut, Arthur segera menatap kearah dua bersaudara yang ada di hadapannya, berharap keduanya bisa memberi jawaban yang bisa sedikit mengulur waktu. Namun….
"THEO ADALAH ADIK KECILKU…!!!"
Teriak Gregoric dan Issabela secara bersamaan. Tampak dengan bangga dan tanpa keraguan sama sekali, mengakui Theo sebagai saudara mereka.
Disisi lain, Arthur yang mendengarnya, sedikit mengerjapkan mata untuk beberapa saat, terkejut dengan kekompakan kedua bersaudara ini dalam menjawab dengan jujur dan tanpa rasa takut pertanyaan yang diberikan oleh Beladro. Padahal jelas-jelas semua semua orang yang mengepung adalah musuh yang sedang ingin menuntut balas pada Theo.
Namun, ekspresi terkejut Arthur, segera berubah menjadi keteguhan, saat melihat sorot mata Issabela dan Gregoric yang saat ini justru tampak dipenuhi niat bertarung tinggi.
"Kau ada masalah dengan adikku? Maka maju! Sebagai kakak, jelas aku tak bisa membiarkanmu begitu saja!" Dengus Gregoric, kemudian mulai mengeluarkan semua auranya. Berniat melakukan pertarungan habis-habisan. Menahan kelompok di hadapannya semampu yang ia bisa. Tindakan Gregoric ini, segera diikuti Issabela dan juga Arthur.
Melihat tingkah tiga pemuda di hadapannya, Beladro yang menganggap ketiganya bertindak konyol, mulai memasang senyum menyeramkan.
"Baiklah kalau itu mau kalian! Dengan senang hati kami temani bermain!" Gumam Beladro, kemudian memberi tanda pada beberapa anggotanya untuk maju menyerang.