Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
Reuni Kecil dan Kunjungan Mendadak


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


"Adikk…."


Theo segera menoleh untuk melihat sumber suara. Setelah melihat kearah pemilik suara merdu tersebut, senyumnya mulai mengembang lebar.


"Kakak…" Jawab Theo. Matanya mulai berkaca-kaca ketika melihat kakaknya Issabela.


Theo tak bisa untuk tak terharu. Saat-saat terakhir sebelumnya ketika bersama sang kakak, Theo mengalami berbagai peristiwa yang sangat dramatis. Bagaimana kakaknya ini berkorban dan bertarung tanpa memperdulikan nyawanya untuk melindungi dirinya, masih terekam jelas di ingatan Theo. Bahkan teriakan Issabela adalah suara terakhir yang ia dengar ketika tejatuh kedalam Jurang Misterius.


"Theo kau…" Issabela tak bisa meneruskan kata-katanya. Dia bergegas maju dan memeluk Theo dengan erat. Seakan takut akan kehilangan adiknya lagi.


"Kau selamat, kau selamat adik. Ini benar-benar kau." Issabela mulai menangis sesenggukan sambil memeluk Theo.


"Yahh. Adik tak bergunamu ini selamat kak." Jawab Theo.


"Jagan berkata seperti itu!" Issabela semakin erat memeluk Theo.


Suasana menjadi penuh haru seketika. Bagi Theo, selain ayah dan ibunya, kedua kakaknya adalah orang paling penting di hidupnya. Mereka adalah orang-orang yang akan mengambil resiko atau bahaya apapun untuk melindunginya. Theo sudah berjanji kepada dirinya sendiri. Setelah ini, akan menjadi gilirannya untuk melindungi mereka semua.


Suasana haru bertahan agak lama, Theo dan Issabela hanya saling berpelukan tanpa mengungkap kata-kata. Melihat hal itu, Lord Arduric dan Jasia yang juga berada di lokasi yang sama, tak bisa menahan untuk ikut terharu melihat pemandagan ini. Jasia beberapa kali terlihat mengusap titik-titik air mata yang keluar dari kelopak matanya.


Sementara Lord Arduric meskipun terlihat berkaca-kaca matanya, memasang senyum bangga melihat kedua anaknya. Dia memiliki anak-anak yang bisa diandalkan dan saling menyayangi, menjaga satu sama lain. Tidak ada orang tua yang akan merasa tidak bangga melihat anak-anak mereka seperti ini. Tak terkecuali Lord Arduric.


"Kakak, bagaimana kabarmu? Pasti berat selama ini. Maaf aku telah banyak menjadi beban untukmu." Kata Theo tiba-tiba memecah keheningan di tengah suasana haru.


"Sudah kubilang jangan pernah berkata seperti itu adik! Kau sama sekali bukan beban!" Jawab Issabela, semakin menangis sesenggukan dan mengencangkan pelukannya.


Theo hanya bisa tersenyum hangat melihat sikap kakaknya ini. Tak tau harus berkata seperti apa lagi.


Setelah suasana menjadi sedikit lebih tenang. Theo mempersilahkan kakak dan ayahnya untuk duduk pada kursi batu taman. Sementara Jasia undur diri, tak mau mengganggu reuni keluarga tersebut.


"Kakak, bagaimana kabarmu?" Tanya Theo lagi.


"Aku baik-baik saja, sebentar lagi aku akan lulus dari akademi." Jawab Issabela tersenyum hangat.


Issabela kali ini bisa memperhatikan Theo lebih jelas lagi. Sebelumnya ia telah mendapat informasi dari ayahnya tentang kondisi spesial Theo, serta semua bakatnya yang luar biasa. Kini setelah memperhatikan adiknya lebih jelas, Issabela bisa merasakan sendiri kharisma yang terpancar keluar dari sosok adiknya melebihi cerita-cerita yang dia dengar. Terlebih tatapan mata sang adik yang memiliki ketajaman luar biasa, membuat Issabela menjadi kagum dan bangga kepada adiknya ini. Dia hanya terus memandangi adiknya dengan senyuman bahagia.


"Kakak, apa kau tak mau menanyakan kabarku?" Tanya Theo lagi.


Theo merasa sedikit aneh, selama ini siapapun keluarga yang pertama kali bertemu dengannya setelah dia pulang, selalu mempunyai satu pertanyaan yang sama, yakni apa yang Theo alami beberapa tahun terakhir. Sementara Issabela terlihat tak memiliki pertanyaan apapun, hanya terus memandanginya dengan tatapan penuh kasih.


"Melihatmu pulang dengan selamat, itu sudah cukup bagiku dik." Jawab Issabela. Dia kembali mengusap titik-titik air mata yang keluar dari matanya ketika mengatakan hal tersebut.


Mendengar hal itu, Theo kembali hanya bisa tersenyum. Tak tahu harus berkata seperti apa lagi, perasaan hangat di dadanya semakin penuh. Dia sangat terharu.


"Baiklah, bagaimana kabar kak Gregoric? Kenapa dia tak ikut pulang denganmu?" Theo mencoba mencairkan suasana haru dengan bertanya tentang kakak laki-lakinya Gregoric.


"Sayangnya dia sedang dalam ujian tertutup di akademi. Ujian tertutup adalah ujian penting yang menentukan nilai akhir dari siswa akademi. Oleh karena itu, selama dia belum keluar, dia tak akan bisa mendapat kabar apapun dari luar."


"Namun aku yakin, dia akan sangat bersemangat bila mendengar kau pulang dengan selamat. Bisa kau bayangkan dia akan melakukan perjalanan tanpa istirahat untuk bisa pulang, seperti orang gila." Jawab Issabela, masih mempertahankan senyum hangatnya.


"Hahahhaha, ya aku bisa membayangkannya. Ahhh… sayang sekali, aku semakin merindukan kak Gregoric" Jawab Theo.


Theo sebenarnya juga ingin membahas tentang pertunangan kakaknya, tapi melihat Issabela seperti tak ingin membahasnya karena tak menyebut masalah ini sama sekali. Theo hanya bisa menahan diri, menunggu waktu yang tepat untuk membahasnya.


Obrolan kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah dan canda tawa. Suasana reuni ini sangat hangat, bahkan Lord Arduric yang selama ini tertekan dengan situasi house dan seperti lupa caranya tersenyum dan tertawa, kali ini tertawa dengan keras dan lepas. Dia sangat bahagia.


Ditengah suasana bahagia ini, tiba-tiba terdengar langkah kaki terburu-buru memasuki halaman Theo. Seorang penjaga terlihat memasuki halaman dengan ekspresi serius. Melihat hal itu, ketiga orang yang ada di kursi batu segera menoleh kearah penjaga.


"Tuanku.." Penjaga memberi salam tangan kepada Lord Arduric.


Lord Arduric mengangguk singkat kemudian segera bertanya. "Ada apa? Kenapa kau terburu-buru? Apa ada sesuatu yang sangat penting?"


"Sangat penting tuanku, beberapa waktu yang lalu, rombongan tamu dari House Braveheart datang berkunjung. Kini mereka sedang menunggu di aula utama keluarga. Di temani dengan para tetua." Jawab penjaga.


Mendengar hal itu, ekspresi Lord Arduric segera menjadi tak sedap di pandang. Dia terlihat sangat kesal.


"Mereka ini, selalu saja bersikap seenaknya. Kenapa tak menyampaikan pesan pemberitahuan terlebih dahulu bila ingin berkunjung?"


"Benar-benar tak ada sopan-santun, seolah-olah House kita ini taman bermain mereka sendiri yang bisa dikunjungi seenaknya kapan saja mereka mau." Dengus Lord Arduric kesal.


"Ayah tenangkan dirimu." Issabela yang merasa kunjungan dari House Braveheart ini pasti berkaitan dengan pertunangannya, segera mencoba menenangkan Lord Arduric.


"Tetap saja, mereka tak bisa terus-terusan seenaknya seperti ini! Terakhir kali mereka datang, mereka bertindak seperti pengawas untuk mengevaluasi kelayakan statusmu sebagai tunangan tuan muda mereka."


"Itu sudah sangat menguji kesabaranku, sekarang mau apa lagi dengan datang tiba-tiba seperti ini?" Sanggah Lord Arduric terlihat semakin kesal.


"Ayah sudahlah, sebaiknya kita temui mereka. Dan biarkan aku ikut juga, kebetulan ada sesuatu yang ingin kudiskusikan dengan House Braveheart." Kata Theo tiba-tiba.


Mendengar kata-kata Theo, Lord Arduric segera menoleh. Dia penasaran dengan maksud kata-kata Theo. Namun sebelum dia sempat bertanya. Theo segera menambahkan.


"Sebaiknya kita temui saja mereka dulu, aku berjanji tak akan membuat kekacauan." Kata Theo.


"Hmmm baiklah." Jawab Lord Arduric. Dalam beberapa hari belakangan, dengan semua bakat dan pengetahuan baru yang diberi Theo kepada house, dia sudah mulai terbiasa untuk percaya kepada Theo sepenuhnya.


"Penjaga, siapa yang memimpin rombongan House Braveheart kali ini?" Tanya Lord Arduric.


Mendengar pertanyaan itu, penjaga menjadi sedikit takut dan terbata-bata. "Ituu.. Tuan putri ketiga House Braveheart. Aria Braveheart."


Mendengar nama Aria Braveheart, wajah masam Lord Arduric semakin menjadi lebih buruk lagi.