
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
(Dua hari kemudian)
Theo saat ini terlihat sedang berjalan di tengah kota Alknight menuju kearah gerbang kota. Hari ini, Theo berencana untuk melakukan perjalanannya ke bagian dalam hutan pinus beku yang sempat tertunda beberapa waktu yang lalu.
Sehari yang lalu, pertemuan dengan House Braveheart di lakukan di aula utama, rombongan dari house Braveheart menyampaikan tujuannya datang secara mendadak dengan lebih sopan. Tujuan mereka melakukan kunjungan ternyata adalah untuk melakukan pengamatan dari perkembangan faksi resmi yang tengah berjuang meredam faksi pemberontak.
House Braveheart akan memutuskan apakah harus mengirim bala bantuan atau tidak setelah melakukan pengamatan selama satu bulan.
Hal ini tentu saja membuat Lord Arduric dan beberapa tetua, termasuk juga Theo sedikit kesal dengan sikap House Braveheart, mereka terkesan bermain aman dan tak mau mengambil resiko. Dari sini pihak House Alknight menjadi paham bahwa pihak House Braveheart sedang memeriksa ombak dalam satu bulan kedepan.
Namun meskipun begitu, posisi House Alknight yang berada di bawah tekanan tak memungkinkan mereka untuk mengajukan keluhan. Dalam situasi rumit ketika perjamuan ini, Theo tiba-tiba mengajukan sebuah permintaan kepada pihak rombongan House Braveheart.
Theo meminta dalam satu bulan kedepan, setelah batas waktu pengamatan berakhir, dia ingin ikut rombongan kembali ke Blackwood Empire. Theo bermaksud bertemu dengan Lord House of Braveheart secara langsung dan menawarkan sesuatu yang nantinya akan ditukar dengan bala bantuan untuk House Alknight. Dengan percaya diri Theo mengatakan, tawarannya ini adalah sesuatu yang tak akan bisa di tolak oleh Lord House Braveheart.
Mendengar kata-kata Theo, semua orang menjadi penasaran, tawaran apa yang di maksud oleh Theo. Namun, Theo tak mau mengatakan tawarannya sebelum dia secara pribadi bertemu dengan Lord house of Braveheart dan menyampaikan tawaran secara langsung.
Pihak rombongan perwakilan dari house of Braveheart yang tak melihat ada suatu yang merugikan dengan permintaan Theo, akhirnya sepakat untuk menyetujui membawa Theo ikut kembali ke house mereka satu bulan kedepan. Dengan begitu, perjamuan di aula utama akhirnya selesai.
**
Pada saat ini, Theo akhirnya sampai di gerbang utama Alknight City. Dia menyelesaikan urusan administrasi sebentar. Para penjaga yang masih trauma dengan peristiwa sebelumnya ketika pertama kali Theo sampai di gerbang, memilih tak memberi kesulitan apapun kepada Theo. Mempersilahkan Theo untuk segera meninggalkan kota tanpa mengurus administrasi yang berbelit.
Setelah keluar dari gerbang, Theo segera mengaktifkan mana gravitasnya. Bergerak dengan cepat memasuki hutan pinus beku. Theo sengaja menggunakan mana gravitasi, selain untuk mempercepat perjalan, dia juga ingin melatih pengendalian mana gravitasinya yang dinilai oleh Masternya masih sangat buruk.
Dalam sekejap Theo menghilang dari pandangan para penjaga yang masih temenung dengan kecepatan Theo.
**
(Gerbang utama Alknight City, Beberapa menit setelah Theo meninggalkan Gerbang)
"Berhenti disana!" Teriak salah satu penjaga gerbang.
Saat ini didepan gerbang, terlihat ada seorang wanita muda yang menggunakan tudung menutupi sebagian wajahnya. Wanita ini berjalan perlahan mendekati gerbang ditemani oleh seorang tetua disampingnya.
"Tunjukkan identitasmu!" Salah satu penjaga kembali berteriak ketika melihat wanita muda ini mengacuhkannya.
"Anak muda, belajarlah menjaga sikapmu sebelum memastikan dengan benar orang yang sedang kau hadapi." Tetua di samping gadis muda menegur penjaga sambil mengeluarkan auranya yang merupakan seorang General tahap langit.
Para penjaga yang kebanyakan merupakan seorang Immortal, segera jatuh berlutut menerima tekanan tersebut. Mereka segera memandang tetua di hadapannya dengan tatapan ngeri.
"Jangan khawatir, aku akan mengurusnya secepat mungkin nona muda." Jawab tetua di samping gadis muda tersebut.
Setelah berkata demikian, tetua itu menarik auranya. Para Knight penjaga gerbang akhirnya bisa sedikit bernafas lega ketika aura seperti gunung yang menimpa mereka sebelumnya mulai menghilang.
Bersamaan dengan ditariknya aura, tetua yang berada disamping gadis muda melempar sebuah token kearah salah satu penjaga gerbang.
Penjaga gerbang segera menangkap token tersebut. Dan setelah mengamati dengan teliti, ia melihat token ini memiliki lambang tanda hati berwarna perak dan di bawahnya bertuliskan kata 'Braveheart'.
Tangan penjaga mulai sedikit bergetar ketika menyadari token tersebut, dia segera berlutut dan mempersilihkan pasangan wanita muda dan tetua ini untuk melewati gerbang.
Tanpa menunda, wanita muda tersebut segera berjalan meninggalkan gerbang, setelah melewati gerbang, wanita muda ini terus melihat kearah dimana Theo menuju masuk kedalam hutan pinus beku.
"Nona muda, tolong pertimbangkan sekali lagi, hutan pinus beku merupakan wilayah yang berbahaya. Kita juga tak mendapat perintah untuk meninjau keadaan hutan ini." Kata tetua ketika mereka sampai di luar gerbang.
"Kalau kau tak mau menemaniku, maka pergi saja! Dari awal juga aku tak memintamu untuk menemaniku." Jawab wanita muda tersebut tanpa menoleh kearah tetua disampingnya. Dia masih melihat kearah kepergian Theo.
"Hahhh… tidak bisa begitu, aku di tugaskan langsung oleh Lord untuk menjaga keselamatanmu." Jawab tetua.
"Kalau begitu berhenti bersikap menyebalkan!" Kata gadis muda, mulai cemberut.
"Hahhh. Baiklah." Tetua tersebut hanya bisa menghela nafas menghadapi sikap nona mudanya.
"Baik, kau masih bisa merasakan aura nya bukan? Segera tunjukan jalan." Kata wanita muda, memberi perintah.
"Sesuai intruksi, tolong lewat sini." Tetua segera memimpin jalan, mengikuti arah kepergian Theo.
Kedua orang ini dengan cepat kemudian mulai memasuki hutan pinus beku.
**
(Hutan pinus beku bagian luar)
Saat ini Theo masih belum menyadari ada dua orang yang mengikutinya. Dia masih menggunakan mana Gravitasinya untuk terus bergerak cepat memasuki hutan pinus beku. Menuju kearah yang telah di intruksikan oleh Mastenrya.
"Master, kira-kira tempat seperti apa yang sedang kita tuju?" Tanya Theo.
"Aku juga belum bisa memastikannya, kita masih terlalu jauh." Jawab Tiankong.
"Yang jelas, tempat ini penuh dengan mana Petir kuno yang sangat pekat. Bila kau beruntung, mungkin akan ada Spirit beast dengan garis darah kuno yang tinggal disana. Kurasa kristal Beastnya akan cocok dengan bocah dosa dari gerbang Nafsu yang telah kau taklukan." Tiankong mulai menjelaskan.
"Kalaupun tidak ada Spirit Beast macam ini, setidaknya mana petir kuno ini akan cukup membuatmu menerobos ke kelas Immortal." Tiankong menutup penjelasannya.
"Baiklah kalau begitu." Kata Theo singkat.
Theo sebenarnya masih penasaran dengan tempat seperti apa yang berhasil menarik perhatian Masternya di dalam hutan pinus beku. Dan makhluk-makhluk seperti apa yang akan menunggunya di bagian dalam hutan. Namun, mendapat penjelasan dari mastenrya, dia tak berani bertanya lebih lanjut.
Theo meningkatkan kecepatannya, menuju bagian tengah hutan pinus beku dan mulai meninggalkan bagian luar hutan tanpa sekalipun menoleh kebelakang. Rasa penasaran membuatnya semakin antusias.
Tiankong sendiri beberapa kali melihat kearah belakang, dia seperti menyadari sesuatu, namun memutuskan tak mengatakannya kepada Theo. Senyum aneh mulai menghiasi wajahnya.