
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
"Serigala hanya akan patuh dan akan melindungi kawanannya sendiri." Kata Theo, menatap tajam kearah mata Aria.
Semua orang di dalam ruangan masih terkejut dengan pergantian peristiwa yang tiba-tiba. Para tetua house Aklnight yang pertama kali menyadari kedatangan Theo segera menjadi lega, karena Theo datang tepat waktu sehingga mampu menghindarkan master Aegric dari kondisi yang tidak baik. Entah kenapa para tetua ini merasa bisa mengandalkan Theo untuk menyelesaikan masalah ini.
Sementara anggota rombongan dari House Braveheart yang tak mengenali Theo, segera terlihat panik.
"Pemuda, lepaskan nona muda kami, apa kau tak tahu siapa identitasnya?" Bentak salah satu tetua House Braveheart.
Mendengar bentakan tersebut, Theo terlihat tak peduli, dia malah menarik tangan Aria dan mendekatkan wajahnya kearah wajah Aria, menatapnya dengan tatatapan tajam yang mempesona.
"Bukankah ini nona muda dari house Braveheart yang terkenal itu? Sikapmu sama persis dengan desas-desus yang menyebar." Kata Theo pelan namun tegas, tepat di telinga Aria.
"Lancangg….!!!!" Seluruh rombongan House Braveheart segera berteriak secara serentak.
Mereka menjadi marah sekaligus takut, para tetua ini paling memahami bagaimana nona muda mereka, siapapun yang berani bersikap seperti itu, tak akan pernah berakhir baik. Begitu nona muda mereka membereskan pemuda ini, setelah itu pasti giliran mereka yang menerima imbas kemarahannya.
Namun, tak seperti dugaan para tetua ini, Aria justru tak menunjukkan sikap eksplosif seperti biasanya. Dia hanya tertegun menatap kearah mata Theo. Tertegun memandang sorot mata Theo yang penuh ketajaman.
Melihat sikap nona mudanya yang tak seperti biasa, salah satu tetua menjadi khawatir. "Lepaskan nona muda sekarang juga!" Bentak tetua tersebut.
Bentakan terakhir ini segera menyadarkan Aria dari lamunannya. Rona wajahnya mulai memerah, hatinya mulai berdebar. Ada suatu perasaan aneh yang tidak dia pahami ketika melihat wajah dan sorot mata Theo. Dia tak pernah merasakan perasaan aneh seperti ini sebelumnya, terlebih lagi tatapan Theo entah kenapa membuatnya malu.
Aria yang tak tahu harus seperti apa segera merasa mulai tak nyaman, namun dia bingung kenapa tak merasakan kemarahan seperti biasa bila ada orang yang bersikap tak sopan seperti ini kepadanya. Di tengah kebingungannya, Aria mulai berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Theo.
Melihat hal itu, Theo justru makin mengencangkan pegangannya. "Kenapa terburu-buru, aku bahkan belum mengenalkan diriku." Kata Theo.
"Namaku adalah Theodoric Alknight, tuan muda ketiga dari House Alknight."
"Kudengar dari tadi kau menyebutku sebagai tuan muda sampah. Kau boleh terus memanggilku seperti itu. Aku tak akan memasukkannya dalam hati."
"Tapi camkan ini, jangan pernah kau mencoba menyentuh orang-orang Houseku lagi secara sembarangan!" Theo mengakhiri kata-katanya bersamaan dengan merilis Auranya yang begitu dalam dan mengintimidasi.
Setelah memperkenalkan diri, Theo melepaskan genggaman tangannya. Aria yang sebelumnya berusaha melepaskan diri, justru mulai jatuh berlutut di depan Theo. Dia memandang kearah wajah Theo sebentar, kemudian mulai menundukkan wajahnya.
Melihat kondisi nona muda mereka, para tetua house Braveheart segera maju kedepan untuk memapahnya berdiri. Sementara beberapa tetua lain mulai mengeluarkan aura tandingan untuk meredakan aura milik Theo.
"Meskipun kau adalah tuan muda ketiga dari house Alknight, tidak seharusnya kau bersikap tak sopan kepada nona muda kami!" Bentak salah satu tetua.
Setelah tetua itu mengatakan hal tersebut, aura lain segera menyebar dengan kuat menekan seluruh aula.
Lord Arduric yang dari tadi mengamati situasi dan melihat seluruh aksi putranya, segera membentak balik. Aksi Theo sebelumnya menaikkan adrenalinnya, membuat dada nya penuh dengan kebanggaan.
Lord Arduric yang sekarang terlihat berbeda dengan Lord Arduric dalam beberapa tahun belakangan. Sorot matanya kembali penuh ketajaman dan keangkuhan sebagai seorang Lord, dia mendapatkan kembali kewibawaannya yang telah lama hilang.
Bukan hanya Lord Arduric, aksi dan kata-kata Theo juga memicu semangat dan kebanggan dari semua tetua dan anggota house Alknight yang hadir di aula utama. Kebanggan menghiasi raut muka mereka semua.
"Katakan padaku, siapa yang bertindak tak sopan? Kalian datang tanpa pemberitahuan! lebih parah lagi kalian segera membuat kekacauan begitu menginjakkan kaki di rumahku!"
"Tamu macam apa kalian ini?" Bentak Lord Arduric.
Melihat pergantian peristiwa yang tiba-tiba ini, seluruh rombongan house Braveheart segera kehilangan keangkuhannya. Dari awal sebenarnya mereka sadar, sikap yang nona muda mereka tunjukkan adalah salah, hal ini membuat mereka terdiam, tak mampu membantah.
"Lord Arduric…" salah satu tetua house Braveheart segera maju dan ingin menjelaskan sesuatu. Namun dia tak tahu harus menjelaskan seperti apa.
Sebenarnya tetua ini ingin meminta maaf, namun harga dirinya menolak untuk melakukan hal tersebut. Bagaimanapun juga, mereka adalah perwakilan dari salah satu 10 Biggest Group Knight yang terhormat. Mereka tak boleh sembarangan merendahkan diri untuk meminta maaf. Terlebih lagi dia juga takut bila meminta maaf, nona muda mereka tak akan terima dan menghukumnya.
Melihat situasi buntu yang terjadi, Theo mulai menghela nafas panjang. Usia metalnya yang sudah sangat matang, mampu menyadari kesulitan dari tetua tersebut.
'Kebanggan dan harga diri manusia memanglah sebuah jurang dalam yang misterius' gumam Theo.
"Hahhh, lupakan saja! Akan kuakui bahwa akulah yang salah, oleh sebab itu aku secara pribadi dan mewakili master Aegric meminta maaf kepada nona Aria Braveheart." Kata Theo, dia memberi salam tangan tanda meminta maaf.
Sikap Theo ini segera menjadi pemecah kebuntuan. Tetua dari House Braveheart yang mendengarnya segera menganggukkan kepala dan menerima permintaan maaf Theo. Dalam hati, tetua ini kagum dengan sikap Theo. Di usianya yang begitu muda, dia mampu berfikir matang dan mengesampingkan egonya untuk kebaikan bersama.
"Nona Aria, apa kau mau menerima permintaan maafku?" Tanya Theo, menatap kearah Aria.
Melihat tatapan mata Theo, Aria segera melempar muka. Wajahnya kembali memerah.
"Ya!" Jawab Aria singkat. Dia kemudian mulai berjalan menjauh.
"Tetua, kita diskusikan urusan kita besok saja, aku ingin segera beristirahat." Kata Aria.
"Ahhh…"
Tetua yang mendengar permintaan Aria, menjadi tertegun, dia merasa aneh dengan sikap nona muda mereka ini.
Sementara itu, Lord Arduric justru merasa tersinggung dengan sikap Aria. Bagaimanapun dia adalah seorang Lord, sikap Aria sama sekali tak menunjukkan penghormatan kepadanya yang telah datang menyambut. Namun sebelum Lord Arduric menyampaikan keluhannya. Theo datang menghampirinya.
"Ayah, tenangkan dirimu." Kata Theo, tersenyum hangat kearah ayahnya.
"Nona Aria, ayahku datang untuk menyambutmu, kau adalah nona muda terhormat dari salah satu house paling besar di Gaia Land ini." Kata Theo masih dengan senyum di wajahnya, namun senyuman Theo terlihat sedikit berbeda.
"Apakah kau merasa sikapmu itu benar?" Tanya Theo.
Beberapa tetua house Braveheart segera ingin menjawab kata-kata Theo yang menyudutkan nona muda mereka, namun Aria mendahuluinya.
"Aku minta maaf." Kata Aria singkat. Memberi salam tangan kearah Lord Arduric, namun tak melihat sama sekali pada Theo.