Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
238 - Sebuah Jurnal


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


Arc 2 -The Legend Of The Wild Wolf- Bagian awal.


***


(Dimensi Ruang)


Saat ini, tubuh Theo tampak melayang-layang dengan ringan di udara kosong. Sudah seminggu berlalu sejak pertempuran di Hutan Pinus Beku dimana pada akhir jalannya pertempuran, Tiankong menggunakan sisa-sisa simpanan Mana terakhirnya, membuat dimensi ruang kecil, kemudian melemparkan tubuh tak sadarkan diri Theo kedalam nya.


Meskipun seminggu sudah berlalu, dengan tubuh penuh luka, Theo yang tak sadarkan diri, belum juga siuman. Terlihat seperti sedang tertidur dengan tenang. Menikmati kondisi tak sadarkan dirinya. Terus melayang ringan di udara kosong dalam dimensi ruang.


***


(Satu bulan kemudian)


Theo yang masih melayang-layang diudara kosong, saat ini tampak kehilangan ketenangan di wajahnya. Diganti dengan ekspresi ngeri serta kesedihan mendalam. Dalam kondisi tak sadarkan diri, ia berulang kali meneteskan air mata. Tampak sangat tersiksa secara mental. Tidur tenang Theo, mulai terganggu dengan mimpi-mimpi buruk yang terus menghantuinya dalam beberapa minggu terakhir.


Dimana dalam mimpinya, ia terus melihat kejadian dimana Aria dengan tubuh bersimbah darah, menatapnya dengan tatapan kosong, seperti ingin meminta pertolongan. Namun, setiap kali Theo ingin maju untuk menghampiri Aria, ada tenaga besar misterius yang menghentikan langkah nya. Semakin Theo ingin maju kedepan, semakin kuat pula tarikan tersebut. Membuat Theo justru bergerak mundur kebelakang. Semakin menjauh dari posisi Aria.


Selain mimpi tersebut, ada dua mimpi lain yang secara bergantian terus terulang bersama mimpi pertama tentang Aria. Kedua mimpi ini adalah dimana ia melihat Arthur mengerang kesakitan, sambil menatap tajam kearah dirinya.


Dalam mimpi tersebut, Theo berulang kali mencoba mendekati Arthur yang tampak sangat menderita. Tak seperti mimpi tentang Aria, dalam mimpi ini, Theo tak mendapat tarikan apapun, dengan bebas maju kedepan mendekati Arthur. Namun, langkah Theo akan selalu diakhiri dengan tubuh Arthur meledak, menyipratkan darah segar kesegala arah. Mambasahi wajah Theo.


Berulang kali Theo mencoba mendekati Arthur, tapi dalam mimpi ini, secepat apapun Theo bergerak, ia tetap tak akan mampu tepat waktu sampai di posisi Arthur sebelum tubuh bocah itu meledak.


Kemudian mimpi ketiga, ada dimana Theo melihat Tiankong Masternya. Perlahan bergerak menjauh, melayang di terpa angin meninggalkannya sendiri dalam kekosongan tanpa batas. Dalam mimpi ini, Theo tak akan bisa bergerak sama sekali. Hanya bisa menatap kepergian Masternya dalam diam.


Ketiga mimpi tersebut, terus terulang secara bergantian. Membuat Theo yang saat ini tak sadarkan diri. Benar-benar tersiksa secara mental.


***


(Dua bulan kemudian)


"Aaaaaargggggghhhhhh…..!!!!"


Setelah mengulang beribu kali mimpi buruk yang menghantui tidur panjangnya, Theo akhirnya tersadar. Dan hal pertama yang ia lakukan saat kembali tersadar adalah berteriak keras. Sangat keras sampai suaranya serak. Teriakan keras Theo ini, dibarengi dengan ia menjambak rambutnya. Tampak sangat frustasi.


Kondisi ini bertahan untuk cukup lama, sampai akhirnya Theo yang mentalnya benar-benar hancur. Kembali jatuh pingsan. Dan harus mengulang tiga mimpi terburuk dalam hidupnya sekali lagi.


***


Theo kembali tersadar, namun kali ini tak menunjukkan ekspresi ekstrim seperti sebelumnya. Sambil terus melayang diudara, ia hanya terdiam, menatap dengan pandangan mata kosong kearah atas. Dimana hanya ada kegelapan tak terbatas dalam dimensi ruang.


Kondisi Theo ini bertahan dalam beberapa hari. Sampai akhirnya ia mulai mengambil posisi duduk bersila, namun hanya kembali termenung. Sampai beberapa hari setelahnya.


Kemudian, setelah dalam beberapa waktu tertentu, Theo yang tampak sudah menunjukkan beberapa berkas cahaya kehidupan dalam sorot matanya, memutuskan untuk memasuki Gelang Ruang-waktu. Berniat menenangkan diri didalam Kastil milik Masternya.


Didalam Kastil, Theo mulai memeriksa luka-luka yang ada di sekujur tubuhnya, yang mana ternyata sangatlah parah. Jika luka yang dialami Theo saat ini diterima oleh tubuh orang lain, yang tak pernah di baptis oleh ribuan petir Illahi, serta di lebur oleh kepulan Mana Besi kuno dari telur Giardian Beast, maka orang tersebut tak akan bertahan lama, mati secara menggenaskan dengan tubuh hancur berantakan cuma dalam beberapa hari saja.


Selesai Theo memeriksa luka-lukanya dengan seksama, ia kemudian mulai mengeluarkan beberapa Pill obat dari dalam Spacial Ringnya, memakan Pill-pill tersebut dengan lahap. Dilanjutkan dengan segera melakukan meditasi, menggunakan atribut Mana cahaya untuk mendorong pill obat yang memasuki tubuhnya, kearah dimana luka-luka paling parah berada.


Prosesi tersebut, dilakukan Theo dalam jangka waktu yang lumayan lama, sampai ia sudah mulai berhenti menghitung waktu. Proses lama ini tak lain disebabkan karena luka dalam tubuh Theo memang sangat parah, ditambah juga dengan pikirannya yang sama sekali tak bisa tenang, dimana tiga mimpi yang dalam dua bulan terakhir terus menghantuinya, kini berubah seperti hewan buas yang terus berusaha memasuki pikirannya, meskipun ia sudah kembali sadar.


Setelah seminggu penuh berusaha dengan keras, dan setelah berpuluh kegagalan menyalurkan energi obat dalam tubuhnya karena terganggu oleh kilasan-kilasan mimpi buruk yang terus mendera alam pikiran, Theo akhirnya mampu meredakan luka-luka parah di tubuhnya sampai pada batas tertentu. Setidaknya membuat ia kembali mampu mengoperasikan Element Seednya.


Dengan kembali pulihnya kontrol Theo pada Element Seed, ia kini ganti melakukakan proses pengisian ulang setiap Mana pada Element Seednya menggunakan simpanan Mutiara Mana Perak. Mencoba untuk kembali bugar secepat yang ia bisa.


Butuh dua hari penuh sampai akhirnya simpanan Mana pada Element Seed Theo terisi penuh. Dengan sudah terisi nya simpanan Mana Theo tersebut, ia kini mulai bisa bergerak bebas.


Meskipun sudah bisa bergerak bebas serta sudah pulih dari luka-lukanya, sorot mata Theo tetap saja masih sayu. Tak tampak ketajaman yang selama ini selalu menghiasi kedua matanya. Dengan pandangan sayu, ia kemudian mulai berjalan perlahan menuju kamar pribadi Masternya.


Sesampai di depan pintu kamar Tiankong, Theo tak segera membukanya, hanya menatap kosong kearah pintu untuk beberapa waktu, terlihat sedang berperang batin, apakah harus membuka pintu tersebut sekarang, atau menundanya untuk beberapa waktu kedepan.


Dan setelah hanya menatap kosong dalam waktu yang cukup lama, Theo tampak dengan keraguan yang teramat sangat, memaksa menggerakkan tangannya untuk membuka pintu.


Setelah pintu terbuka, pemandangan sederhana dari kamar Tiankong yang ternyata tak terlalu besar, segera menyambut Theo. Saking sederhananya kamar Tiankong, hanya dengan sekali sapuan mata singkat, Theo bisa melihat semua yang ada di dalamnya.


Dimana hanya terdapat beberapa perabotan. Yang terdiri dari satu tempat tidur, satu rak buku yang sepertinya terisi penuh oleh buku-buku bacaan favorit Masternya, serta satu meja tua yang diatasnya tergeletak sebuah buku catatan dan dua kertas jimat formasi berwarna merah dan biru.


Melihat buku catatan yang tergeletak diatas meja, seketika pandangan mata sayu Theo, berubah semakin sedih, karena ia sangat tahu buku catatan apa itu.


Dengan langkah ragu, Theo mulai mendekati meja, tangannya sedikit bergetar saat akan meraih buku catatan, seperti tak berani untuk menyentuhnya. Namun, bagaimanapun juga, ini adalah intruksi terakhir dari Masternya yang menyuruh Theo memeriksa kamar pribadi nya. Dimana ia meninggalkan satu dua hal di dalamnya untuk Theo.


Setelah sedikit berperang batin, Theo akhirnya memberanikan diri meraih buku tersebut. Pada sampul buku catatan berwarna biru langit ini, Theo bisa melihat ada dua baris kalimat. Kalimat paling atas, terlihat sudah sangat lama tertulis pada sampul. Berbunyi -Jurnal perjalanan Xiao Tiankong, Pemimpin umat Manusia-.


Sementara baris kalimat kedua yang berada di bawah kalimat pertama, dimana tampak masih terlihat baru di tulis, berbunyi -Untuk Muridku Theo, baca sampai tuntas Jurnal ini. Banyak informasi di dalamnya yang akan berguna untukmu!-


------


Note :


Untuk mematangkan alur dari Arc 2, dan juga untuk sedikit mendinginkan pikiran. Penulis memutuskan untuk sisa bulan ini, hanya merilis satu chapter saja.


Baru diawal bulan depan tanggal 1, akan kembali normal 2 chapter setiap harinya. Sekian dari penulis, mohon pengertiannya. ^^