
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
(Desa Tersembunyi)
"Hmmm… bagaimana?" Tanya Master Aegric, kepada ketua Aurelas yang baru saja keluar dari dalam sebuah ruang perawatan.
"Obat-obatan yang kalian berikan cukup berguna! Itu akan mampu meringankan rasa sakit yang selama ini mendera tubuhnya!" Jawab ketua Aurelas.
"Itu adalah Pill obat terbaik yang bisa diberikan oleh orang-orang Gaia Son Paviliun yang beberapa hari lalu berkunjung ke House!"
"Andai saja tuan muda Theo ada disini, kurasa ia akan mampu melakukan sesuatu, lebih dari yang bisa kita lakukan saat ini!" Gumam Master Aegric, dengan wajah menyesal.
"Master Aegric, meskipun kita memenangkan pertempuran, tuan muda Theo telah kehilangan banyak dalam prosesnya! Jadi itu wajar bila ia memilih untuk menenangkan diri sementara waktu! Biarkan saja seperti ini untuk sekarang!" Jawab Ketua Aurelas.
"Tetap saja, aku tak bisa berhenti khawatir! Ia sudah kuanggap seperti cucuku sendiri! Kini setelah ia menghilang dan tak ada kabar selama berbulan-bulan, terlebih sebelum ia menghilang, kondisi tubuhnya penuh dengan luka parah! Bagaimana mungkin aku bisa tetap tenang!" Keluh Master Aegric. Ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa ia tampak benar-benar khawatir.
"Master Aegric, bila anda benar-benar mengenal baik tuan muda Theo, tentunya anda sangat tahu betapa bagus kualitas mentalnya! Terkadang aku bahkan lupa bahwa sedang berbicara dengan seorang Junior bila mengobrol dengannya!"
"Jadi, lebih baik berhenti khawatir! Kita fokus saja untuk mencari cara memulihkan kondisi nona Jasia!" Kata ketua Arsegio. Kini ikut memberi tanggapan setelah dari tadi hanya diam.
Merasa yang di katakan oleh ketua suku Klan Asura ini benar, Master Aegric akhirnya mengesampingkan sejenak pikirannya tentang Theo. Ia memberikan anggukan singkat pada pria tua kekar tersebut, sebelum kembali menoleh kearah Ketua Aurelas.
"Ketua Aurelas, berapa lama kira-kira kubah formasi pemulihanmu itu mampu menjaga kondisi Jasia tetap stabil?" Tanya Master Aegric.
Mendengar pertanyaan itu, Ketua Aurelas tampak berfikir sejenak, sebelum mulai menjelaskan.
"Pada dasarnya, kubah formasi kuno yang kuciptakan ini, hanyalah konduktor penyalur Mana air penjaga kebugaran pada setiap tubuh yang di masukkan kedalamnya!"
"Jadi, itu tergantung pada kemauan nona Jasia sendiri! Bila keinginan bertahan hidupnya kuat, maka ia akan mampu bertahan cukup lama!" Jawab ketua Aurelas, tak bisa memberikan kepastian spesifik. Hanya gambaran umum bagaimana mekanisme cara kerja formasinya.
Mendengar itu, Master Aegric hanya menunduk sambil tampak berfikir keras, mengingat-ingat, apakah ada di dalam catatan House yang pernah ia baca, tentang suatu cara bagaimana mengatasi situasi Jasia.
"Hmmmm… aku masih sedikit heran, teknik macam apa yang sebenarnya di pelajari oleh nona Jasia. Sampai-sampai ia bisa meniru kondisi Berserk yang seharusnya hanya bisa terjadi pada Spirit Beast!" Gumam ketua Arsegio.
"Kau ini! Tak perlu memikirkan hal itu untuk sekarang! Lagi pula teknik itu meskipun memang sangat dahsyat! Tapi juga penuh resiko! Bisa kau lihat sendiri bagaimana nona Jasia berakhir setelah mengeksekusi nya!" Dengus ketua Aurelas, merasa sedikit kesal dengan sikap Arsegio. Padahal dia tadi yang mengingatkan untuk fokus mencari cara memulihkan kondisi Jasia, tapi ia sendiri pula yang teralihkan.
"Hmmmm… Kenapa mengaturku? Memang begini cara Klan Asura memikirkan jalan keluar? Untuk memamahi racun dan berakhir memanfaatkannya untuk dijadikan kekuatan, kau harus bergulat dengan racun itu sendiri sebelum nya!"
"Sama halnya dengan kasus nona Jasia, bila kau ingin tahu kondisi nya! Maka kita harus tau dulu teknik macam apa yang ia gunakan sampai membuatnya berakhir seperti ini!" Dengus ketua Arsegio, tampak tak terima di tegur oleh Aurelas.
Mendengar itu, ketua Arsegio tampak akan kembali membalas, namun dengan cepat Master Aegric yang berdiri diantara kedua ketua Klan ini, menghentikannya.
"Sudah, sudah! Kalian sama tua nya denganku! Kenapa terlihat seperti anak-anak saja!" Dengus Master Aegric, mulai pusing dengan kelakuan dua ketua Klan di hadapannya.
Sekarang ia menjadi tau, dari mana sikap tak mau kalah yang dimiliki generasi muda dari kedua Klan penduduk Desa Tersembunyi berasal, ternyata itu memang sudah turunan dari kedua pemimpin nya.
"Hmmmm… lebih baik aku kembali ke perpustakaan desa, mungkin disana ada beberapa buku yang bisa digunakan dalam proses membantu kondisi nona Jasia!" Gerutu ketua Aurelas, tampak agak malu mendapat teguran dari Master Aegric.
"Hmmmm….!"
Sementara ketua Arsegio, hanya mendengus singkat, sebelum ikut meninggalkan tempat. Menyisahkan Master Aegric bersama asisten barunya, yakni pemimpin Bandit keempat yang dari tadi diam menemani di sampingnya.
"Master Aegric! Apa yang akan kita lakukan sekarang?" Kata pemimpin Bandit keempat, tampak tak nyaman dengan situasi hening yang tiba-tiba terjadi.
"Hahhh...! Lebih baik kita juga kembali ke House dulu! Barangkali anggota tim Alchemy yang kuperintahkan untuk mencari buku-buku kuno di perpustakaan House, menemukan satu petunjuk yang bisa membantu!" Kata Master Aegric, sambil memijat keningnya.
Dengan ini, setiap orang akhir nya kembali ketempat masing-masing. Membuat hanya suara tangisan Kalina yang berasal dari dalam ruang perawatan terdengar memilukan.
Namun, sesaat setelah setiap orang meninggalkan tempat, sesosok yang mengenakan pakaian jubah penutup wajah, tiba-tiba muncul dari balik bayangan salah satu sudut ruangan.
Tanpa mengatakan apapun, dan tanpa membuat suara dalam setiap gerakannya, sosok ini mulai melangkah kearah pintu ruang perawatan. Segera memasukinya.
***
(Didalam ruang perawatan)
"Hikkss…! Hikkss…! Hikkss…!"
Tangisan Kalina, semakin terdengar memilukan di dalam ruang perawatan, gadis kecil ini, hanya bisa menangis sambil memandang tubuh telanjang kakaknya yang saat ini berada di dalam kubah perawatan. Tubuh Jasia sendiri, terlihat sangat mengenaskan dengan banyak luka bakar melepuh disekujur tubuhnya.
Beberapa bagian dari luka tersebut, bahkan tampak seperti retakan-retakan memanjang. Membuat setiap orang yang melihat tubuh Jasia, pasti akan merasa khawatir tubuhnya bisa pecah kapan saja. Benar-benar kondisi yang aneh dan tak bisa dijelaskan dengan akal normal.
Setiap orang yang memeriksa Jasia, akan kembali keluar dengan menggelengkan kepala, merasa sangat heran dengan kondisi tubuh Jasia, yang mana belum pernah mereka lihat kasus kondisi tubuh seperti itu sebelumnya.
Baik itu Master Aegric beserta jajaran tim Alchemy pimpinan nya dari House Alknight, ataupun tabib-tabib terbaik Desa Tersembunyi, semuanya tak ada yang berhasil menganalisa kondisi tubuh gadis ini.
Bahkan tim Alchemy dari Gaia Son Paviliun, juga kembali dengan tanpa hasil apapun saat dikirim untuk memeriksa kondisi Jasia. Mereka hanya mampu memberikan Pill obat yang bisa sedikit meredakan rasa sakit yang di rasakan gadis tersebut.
Membuat Jasia yang sebelumnya tak sadarkan diri sambil terus mengerang kesakitan, saat ini bisa menjadi sedikit tenang.
"Hikkss…! Hikkss…! Hikkss…! Kakak, cepatlah bangun! Jangan membuatku khawatir seperti ini! Bukankah kau sudah berjanji tak akan meninggalkanku!" Kata Kalina, sambil menangis sesenggukan.
Bersamaan dengan kata-kata terakhir yang diucapkan Kalina tersebut, pintu ruang perawatan tiba-tiba berderak terbuka. Mendengar hal itu, Kalina yang mulai terbiasa dengan puluhan orang yang memasuki ruangan, secara bergantian mencoba memeriksa Jasia, tak menoleh untuk melihat siapa yang baru saja masuk.
"Kalina! Aku berjanji, kakakmu tak akan pernah meninggalkan mu! Ia akan baik-baik saja setelah ini!" Kata orang yang baru saja masuk. Yang langsung disambut dengan gerakan menoleh cepat oleh Kalina, karena ia benar-benar mengenal suara dari orang yang baru saja bicara.
"Kakak! Kau akhirnya kembali! Tolong selamatkan kak Jasia!" Seru Kalina, dengan cepat berlari kearah sosok berjubah yang baru saja memasuki ruangan. Memeluknya erat sambil menangis sesenggukan.