
"Hahahha… Kakak besar! Itu tadi luar biasa? Teknik macam apa yang kau pakai?" Tanya Thomas antusias, sambil sedikit melirik sepatu Theo.
"Hmmm… Bukan apa-apa! Lebih baik segera naik kelantai selanjutnya! Segel ini tak akan mampu menahan pria tua itu terlalu lama!" Kata Theo, tanpa menoleh kearah Thomas. Ia tampak sedang melihat sekeliling dengan cermat.
"Ketemu!" Gumam Theo lirih, pandangan matanya terfokus pada salah satu sudut ruangan lantai pertama.
"Kalian semua pergi dulu kearah tangga lantai dua! Aku akan segera menyusul!" Lanjut Theo, memberi intruksi pada kelompoknya.
Mendengar apa yang di katakan Theo, tanpa banyak bertanya, rombongan Bandit dan Thomas segera menurutinya. Bergegas kearah tangga lantai dua. Sementara Theo sendiri, kini bergerak kearah sudut ruangan yang tadi dilihatnya
"Hmmm… Seharusnya seperti ini!" Gumam Theo, sambil mulai membentuk segel tangan, mengalirkan Mana cahaya pada salah satu ujung jari telunjuknya, kemudian diteruskan dengan merangkai segel formasi baru pada coretan formasi usang yang terdapat pada dinding ruangan.
*Klang…!
*Klang…!
*Klang…!
*DUMMM…!
Begitu Theo mulai merangkai gambar formasi baru, suara mekanik aneh segera terdengar keras dari balik dinding. Diakhiri dengan suara berdebum yang berat.
*Wunggggg…!
Kejadian selanjutnya, aura Mana cahaya dengan liar menerobos keluar dari gambar formasi yang baru di selesaikan Theo. Aliran Mana cahaya yang baru keluar ini, segera mengarah pada reruntuhan Guardians Golem yang tadi di hancurkan Theo bersama kelompok Bandit dan Thomas. Secara perlahan mulai kembali menyusun tubuh berantakan Golem-golem tersebut.
Melihat hal ini, Theo tanpa menunda segera bergerak menuju pintu tangga lantai dua. Bergabung kembali dengan kelompoknya.
"Kakak besar! Apa yang kau lakukan!" Kata Thomas, begitu melihat para Golem, kini tampak sudah mulai tersusun lagi dengan sempurna.
"Mereka akan memberi kita beberapa waktu tambahan lagi!" Kata Theo, seraya melirik kearah reruntuhan yang menutup pintu masuk ruang rahasia. Lokasi dimana kelompok pengganggu saat ini sedang terjebak.
Melihat arah pandangan Theo, Thomas yang cukup cerdas, segera memahami apa maksud kata-kata Theo sebelumnnya. Pria gentut ini memberi anggukan singkat pada Theo, sebelum mengalihkan pandangan kearah tangga lantai dua.
"Baiklah ayo bergegas naik!" Intruksi Theo, saat merasa Thomas sudah memahami apa maksud dan rencananya.
***
(Lantai dua)
*Dangg…!!!
*Klontang…!!!
Saat ini, telah hampir satu jam Kelompok Theo berada di lantai dua, dimana seperti dugaan setiap orang, lantai dua benar-benar di jaga oleh Guardian yang lebih kuat dari para Golem lantai pertama.
Kelompok penjaga di lantai dua sendiri, merupakan pasukan baju zirah tempur. Dimana sama dengan para Golem, memiliki tiga warna dan tiga ukuran berbeda. Perunggu, perak, dan emas.
Memerlukan usaha keras bagi Theo dan kelompoknya dalam menaklukkan pasukan Zirah besi ini, sampai akhirnya, dengan pukulan keras, Theo berhasil menaklukkan pasukan Zirah emas terakhir. Menghancurkannya berkeping keping, dimana menghasilkan suara berisik keras dari puluhan keping Zirah besi yang awalnya menyusun tubuh sang penjaga, semburat berjatuhan di lantai ruangan.
'Lumayan apanya! Itu tadi sangat berbahaya!' Gumam salah satu kelompok Bandit, sambil saling tatap satu sama lain dengan kawan-kawan nya. Tampak memiliki pemikiran yang sama.
"Baiklah! Mari segera periksa ruang rahasianya!" Lanjut Theo.
Tanpa kesulitan berarti, Theo yang telah memahami konsep dari formasi segel dalam menara, dapat membuka dengan mudah pintu rahasia di lantai kedua. Dan seperti lantai pertama, di dalam ruangan tersebut, juga terdapat tumpukan koin emas, namun dalam jumlah dua kali lipat lebih banyak.
"Aku benar-benar kata raya!" Seru Thomas. Kembali melompat kedalam tumpukan koin emas.
Langkah Thomas ini, juga segera diikuti oleh kelompok Bandit. Rasa sakit dan kelelahan yang mereka rasakan sebelumnya hasil bertarung dengan puluhan prajurit Zirah, seketika lenyap, diganti dengan perasaan bahagia.
"Sebaiknya jangan terlalu banyak bermain kali ini! Segera bereskan harta dalam ruangan! Jangan sampai kejadian di lantai pertama terulang! Kita harus bergerak cepat!" Kata Theo. Yang langsung di sambut anggukan serius oleh seluruh orang dalam ruangan, dengan cepat mereka berebut memasukkan koin emas kedalam Spacial Ring masing-masing.
Sementara ketika yang lain sibuk membereskan harta, Theo kembali meneliti dinding ruangan, mencari lubang rahasia lain dimana menyimpan harta yang paling berharga dalam ruangan tersebut.
Dan setelah menemukan dinding yang ia cari, tanpa menunda Theo segera membongkar formasi rahasia yang terletak pada dinding. Kali ini, dibalik dinding batu yang tersegel, Theo menemukan sebuah jubah bertudung dengan warna merah darah. Tampak seperti hanya jubah usang biasa karena tak memancarkan aura apapun.
Namun, Theo yang merasa bahwa jika lantai pertama saja berisi gulungan Manual teknik kelas tinggi, tentunya lantai kedua tak akan menyimpan harta yang biasa saja. Oleh karena itu, tanpa banyak berfikir lagi, Theo segera meraih jubah tersebut, memasukkannya kedalam Gelang ruang-waktu. Berniat memeriksa item tersebut lebih cermat ketika sudah keluar nanti.
Hampir bersamaan dengan Theo selesai memasukkan jubah, kelompok Thomas dan para Bandit juga telah menyelesaikan urusan masing-masing. Dengan begitu, mereka segera bergegas akan melanjutkan naik kelantai tiga.
Namun sebelum melanjutkan kelantai selanjutnya, tidak lupa juga Theo menyempatkan untuk mengatur ulang mekanisme formasi pelindung dalam lantai dua. Dengan itu, prajurit Zirah kembali bangkit lagi.
"Hehehe… Ini menyenangkan! Bagaimana rasanya jadi mereka harus terus di hadang oleh para penjaga yang merepotkan, namun tanpa mendapat hasil apapun karena semua harta telah kita kosongkan!" Kata Thomas. Begitu melihat prajurit Zirah bangkit kembali.
***
Lantai 3, memiliki penjaga gabungan antara Golem dan Prajurit Zirah. Butuh perjuangan keras dengan satu korban jiwa dari kelompok Bandit untuk menaklukkan lantai tersebut. Namun, hal tersebut cukup layak, karena di dalam ruang harta, kali ini tak hanya terdapat koin emas, tapi juga berisi tumpukan Mutiara Mana Perunggu.
Melihat hal itu, Theo tetap memutuskan memberikan tumpukan harta pada kelompok Thomas dan para Bandit. Sementara ia mengambil harta paling berharga di balik formasi rahasia dinding ruangan. Yang kali ini merupakan sebuah senjata tombak kelas S beratribut Es.
***
Lantai 4, lantai yang mulai menantang bagi Theo, karena para penjaganya adalah burung besi raksasa. Selain memiliki ketahanan tubuh lebih kuat dari Golem dan Prajurit Zirah, burung-burung besi tersebut, memiliki kemampuan bergerak yang luar biasa. Mampu melakukan manuver-manuver cantik yang berakhir memberi serangan kejutan mematikan.
Di dalam gudang harta lantai 4, Theo menemukan sebuah sobekan peta misterius. Dengan beberapa baris tulisan kuno aneh di belakangnya.
"Dimana aku merasa pernah melihat sobekan peta seperti ini?" Gumam Theo, setelah mengamati untuk beberapa saat peta di tangannya. Namun karena waktu yang terbatas, Theo segera memasukkan potongan peta kedalam Gelang ruang-waktu. Memikirkannya lagi nanti.
Dalam gudang harta lantai 4, kini tak terdapat tumpukan koin emas lagi. Digantikan dengan seluruh nya berisi Mutiara Mana Perunggu serta beberapa tumpuk kecil Mutiara Mana Perak.
Tanpa banyak bicara, Theo sedikit memaksa mengambil seluruh jatah Mutiara Mana Perak. Yang dengan sedikit tak ikhlas, di setujui oleh kawanan Bandit serta Thomas.
"Ada apa dengan ekspresi kalian itu? Lagi pula aku yang telah mengalahkan seluruh penjaga di ruangan ini! Sementara kalian hanya melihat di sisi!" Dengus Theo, saat melihat ekspresi tak puas kelompok Bandit dan Thomas.
"Kakak besar! Bukankah itu memang maumu yang tak ingin kita ikut campur! Kau hanya sedang ingin melatih tubuh fisik mu!" Gerutu Thomas. Yang segera diikuti dengan anggukan serentak kawanan Bandit.
"Bodoh amat! Faktanya memang aku yang mengalahkan mereka semua!" Dengus Theo, seraya mulai berjalan keluar ruangan.