
"Hahahaha… aku menang lagi, dasar duo pecundang!" Theo kembali tertawa lantang, karena sekali lagi memenangkan perlombaan lari.
"Boss..! Katakan dengan jujur padaku, teknik gravitasi anehmu itu, bisa di gunakan kepada orang lain kan?" Tanya Arthur, dengan nada kesal.
"Apa maksudmu? Mencoba mencari alasan lagi?" Tanya Theo balik.
"Mengaku saja Boss! Kau curang lagi! sangat aneh tiba-tiba tubuhku menjadi berat ketika tinggal beberapa langkah saja sampai finis!" Desak Arthur.
"Ohh… sangat aneh, mungkin hanya perasaanmu saja! atau mungkin staminamu memang yang kurang bagus. Kau harus melatih tubuh fisikmu juga setelah ini! Jangan terlalu malas!"
"Atau kau ingin menjadi gemulai seperti penyihir wanita yang ada disana? Yang kerjanya cuma tidur saja seharian?" Kata Theo melanjutkan, mencoba mengalihkan pembicaraan dengan mengejek Aria.
"Benar juga, tapi malas ahh, aku kan seorang Soul Knight, ngapain juga melatih tubuh fisik." Jawab Arthur, sudah lupa bahwa tadi dia kesal kepada Theo.
Ketika Theo dan Arthur sedang asik berbicara, Aria yang biasanya sangat cerewet, kini terlihat diam. Matanya terus memperhatikan arah di belakang mereka.
"Hmmm.... kabut apa itu?" Tanya Aria tiba-tiba.
"Kabut?" Theo yang mendengar kata-kata Aria, segera menoleh kearah yang dimaksud olehnya.
Seperti kata Aria, diarah celah masuh bukit, tempat sebelumnya mereka berdiri. Kini terlihat di tutupi kabut berwarna putih yang sangat tebal. Kabut ini juga berjalan dengan cepat, mulai menutupi seluruh area celah jurang perbukitan Merak disekitar kelompok Theo.
"Sebaiknya kita kembali, tiba-tiba saja perasaanku menjadi tak enak." Kata Theo, setelah memperhatikan kabut putih tersebut untuk beberapa saat.
"Hmmm… kenapa begitu cemas, kita kan tidak masuk terlalu dalam, lagian juga kita melakukan perlombaan lari satu arah kedepan. tunggu saja sebentar disini, nanti juga rombongan yang lain menyusul kita."
"Itu akan sangat melelahkan jika harus bolak-balik kesana kemari!" Kata Arthur, terlihat malas untuk kembali.
Bersamaan Arthur menyelesaikan kata-katanya, kabut aneh yang tadi bergerak cepat, kini seperti menambah kecepatannya, kabut ini menuju kelompok Theo lebih cepat lagi dan dalam sekejap menutup semua area.
"Kabut ini terlalu tebal, aku tak bisa melihat apapun!" Kata Aria, ketika kabut selesai menyelubungi mereka.
"Cepat pegang erat kedua orang yang ada disebelahmu! Ini bukan kabut biasa." Suara Tiankong tiba-tiba terdengar dari samping telinga Theo.
Tanpa bertanya apapun lagi, Theo segera mengikuti intruksi Masternya, dengan sigap dia menggenggam tangan Aria dan Arthur yang ada di sampingnya.
"Apa yang kau lakukan? Dasar cabul! berani sekali mencoba mencari kesempatan disaat seperti ini!" Bentak Aria, ketika merasa Theo menggenggam tangannya erat.
"Boss… apa yang kau lakukan?" Dilain sisi, Arthur juga ikut protes, dia sangat tak suka ada orang yang memperlakukannya seperti anak kecil.
"Kalian diam saja, ini bukan kabut biasa! Kabut ini disebut sebagai kabut mistis abadi!"
"Sekali saja kalian melepaskan tanganku, maka kabut ini akan memisahkan kita! melempar kalian ke lokasi lain di dalam celah jurang yang seperti labirin ini!" Kata Theo, mulai menjelaskan gentingnya situasi yang tengah mereka hadapi saat ini.
Dan tentunya, Theo tahu semua informasi ini, dari Tiankong yang baru saja menjelaskan di sebelahnya.
"Hmmmm…. Pantas saja orang yang tak memiliki peta akan selamanya tersesat dalam perbukitan ini." Tiankong mulai berkomentar.
"Aku sekarang yakin, selain sebagai petunjuk arah, peta yang di maksud sebelumnya pasti juga di rancang khusus oleh seorang ahli formasi. Sehingga memungkinkan orang yang memegangnya, terhindar dari kabut ini." Lanjut Tiankong.
"Ehhh, ada hal yang seperti itu?" Tanya Theo, merasa aneh.
"Tentu ada, prinsipnya hampir sama dengan bunga Arseni yang kau dapat dari wilayah desa tersembunyi, bila bunga itu mampu menghalau Spirit Beast, maka bahan khusus yang dibuat untuk membuat peta, berfungsi untuk menghalau kabut ini." Jawab Tiankong.
"Master, apa kau mau bilang, kabut ini berasal dari semacam Spirit Beast?" Tanya Theo lagi.
"Hampir tepat, tapi bukan Spirit Beast, melainkan Spirit Plant. Kabut ini berasal dari salah satu variant Bunga Udumbara yang legendaris. Yakni Udumbara Embun." Tiankong menutup penjelasannya.
"Lalu Master, setelah ini, apa yang harus kulakukan?" Tanya Theo lagi.
"Inilah sebabnya bila kau malas membaca! padahal di perpustakaan gelang ruang-waktu ada penjelasan tentang jenis-jenis bunga Udumbara! Kenapa kau melewatkannya!" Dengus Tiankong.
"Hehehe. Bukan melewatkan, hanya saja, aku cuma sekilas membacanya." Jawab Theo, memasang ekspresi canggung.
"Bagamana jadinya bila suatu saat aku meninggalkanmu? Hmmmm…." Tiankong masih tampak kesal.
"Hehe.. maafkan aku Master, setelah ini aku akan membaca lebih giat!" Balas Theo.
"Tidak, aku punya ide yang lebih bagus! Bukankah dulu aku pernah menyuruhmu untuk menyalin semua buku yang ada diperpustakaan? Setelah ini, setiap ada waktu luang, salin semua buku!" Kata Tiankong.
"Master, semua buku? Kau tahu ada puluhan ribu.."
*Bleeetaakkkkkkk……!
"Diam! ini intruksi, kau berani membantah?" Bentak Tiankong, memukul keras kepala Theo, memotong keluhannya.
"Ahh… maaf, murid akan melakukannya!" Jawab Theo dengan tegas, menelan kembali semua keluhan yang akan dia ucapkan. Sambil menahan rasa sakit di kepalanya.
"Bagus, sekarang edarkan mana air keseluruh tubuh! dengan begitu keberadaanmu akan menyatu dengan kabut. Setelahnya kabut ini akan mengabaikanmu!"
"Ohhh… bukankah kau punya teknik yang kau sebut Ice Projection? Kurasa teknik itu akan lebih efisien!" Lanjut Tiankong.
Mendengar itu, tanpa menunda lagi, Theo segera mengaktifkan teknik Ice Projectionnya. Dan setelah diam untuk beberapa saat, pandangan di hadapannya mulai kembali jelas. Kabut Mistis Abadi yang menyelubungi kelompoknya, perlahan menghilang.
"Hahh... Itu tadi berbahaya, bagaimana jadinya bila kita terpisah di dalam labirin aneh ini!" Kata Theo, ketika kabut benar-benar sudah menghilang.
"Boss… apa benar yang kau katakan tentang kabut tadi?" Tanya Arthur.
"Hmmm.. apa aku pernah berbohong kepadamu?" Tanya Theo balik.
"Kau ini bicara apa? Jelas-jelas belum lama ini kau bohong padaku tentang penggunaan teknik Gravitasi anehmu dalam kompetisi lari!" Dengus Arthur.
"Hahhaha... Kau masih saja belum melepaskan masalah itu ya?" Theo hanya tertawa lantang mendengarnya.
"Hmmm… kalian berdua, bisa diam sebentar?" Aria yang dari tadi tak ikut dalam obrolan, tiba-tiba berbicara. Pandangan matanya tak lepas memperhatikan lingkungan sekitar.
"Ada apa lagi?" Tanya Arthur.
Berbeda dengan Arthur, Theo kini juga ikut mengamati sekitar, sama seperti yang dilakukan oleh Aria.
"Apa-apaan, mungkinkah?" Gumam Theo.
Sejurus kemudian, dia memfokuskan Mana Gravitasi untuk meringankan tubuhnya, setelah itu segera melompat tinggi keudara. Ketika sudah sampai diposisi yang cukup tinggi, Theo tampak mengamati lingkungan untuk sementara waktu, sampai kemudian kembali jatuh ketanah.
"Bagaimana?" Tanya Aria ketika Theo sudah mendarat.
"Sudah cukup jelas, kita saat ini tidak berada di lokasi yang sama seperti sebelumnya." Jawab Theo.
"Apa maksudmu?" Kali ini Arthur ikut bertanya, sambil mulai melihat sekeliling.
"Ini gawat, jangan bilang kita tersesat!" Gumam Arthur kemudian.