Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
363 - Penakluk Death Arena


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


"Kau punya kata-kata terakhir Sirius Braveheart?"


Mendengar Theo menyebut namanya, anggota Barbarian Tribe yang ternyata tak lain adalah Sirius Braveheart, saudara tiri dari Lucius dan Aria, segera memasang ekspresi wajah tertegun untuk beberapa saat. Kini ia mengerti siapa pria bertopeng yang sedang ia hadapi.


"Jadi ternyata itu adalah kau! Pemuda kontroversial yang namanya sedang menjadi perbincangan hangat di North Region!" Ucap Sirius.


Namun, sebelum Sirius sempat melanjutkan kalimatnya, Theo dengan cepat memotong.


"Berhenti basa-basi! Kabur dalam sebuah pertempuran ketika sedang membawa panji-panji Housemu!"


"Meninggalkan saudaramu yang sekarat dalam prosesnya!"


"Terlebih lagi, tak hanya meninggalkan, kau juga dengan sangat kurang ajar menyempatkan untuk mencuri benda miliknya!" Gumam Theo, seringai lebarnya kini mulai menghilang. Diganti dengan senyum dingin serta sorot mata penuh penghinaan kearah Sirius.


"Kau adalah deskripsi nyata dari sampah di tumpukan paling rendah! Sampah paling busuk di dunia!" Ucap Theo, seraya mulai membocorkan hawa membunuh intens keluar dari dalam tubuhnya.


Bersamaan dengan keluarnya hawa membunuh dari tubuh Theo yang kali ini tak ia tahan sama sekali, dimana menyebar luas hingga di area tribun penonton, menyebabkan sebagian penonton yang memiliki posisi dekat dengan lokasi Theo kini merasa merinding ketika hawa dingin mulai menghinggapi punggung masing-masing. Theo mulai melangkah maju kedepan.


*Bzzzzzttt…!!!


*Bzzzzzttt….!!!


*Bzzzzzttt…!!!


Setiap langkah maju yang diambil Theo, dibarengi dengan derak listrik ungu bergerak cepat menyelimuti seluruh tubuh serta dua pedang kembar Asmodeus yang ada di tangannya.


"Hmmmm….! Apa yang kau tahu tentang hidupku? Sampah terendah? Sungguh kalimat yang tajam!" Gumam Sirius, kini entah kenapa tak memasang ekspresi wajah khawatir meski bisa melihat Theo sudah mulai maju, berniat mengambil nyawanya.


"Tuan muda yang hidup dalam segala kenyamanan semenjak di lahirkan, terlebih mendapat anugrah bakat luar biasa sepertimu, tak akan pernah paham!" Gumam Sirius. Kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam Spacial Ringnya. Dilanjutkan dengan mulai merapalkan mantra.


Melihat tak ada perubahan riak ekpsresi takut sama sekali di wajah Sirius, dimana ia justru memasang ekspresi wajah kesal dan marah, Theo yang merasa ada satu hal ganjil, segera mengerutkan kening.


Kemudian, digerakkan oleh insting, dengan sigap ia mempercepat langkah serangannya. Memutuskan berhenti main-main dengan mangsa saat melihat Sirius mulai merapal mantra.


Theo yang bergerak maju dengan banyak baut listrik ungu berderak di sekitar, sudah mengayunkan dua pedang kembar Asmodeus dari dua arah, menyasar pada leher Sirius. Berniat memenggalnya dengan sekali ayunan dua pedang.


Namun, tepat sepersekian detik sebelum Theo berhasil memenggal kepala lawannya, Sirius yang ternyata telah selesai merapal mantra, kini berubah menjadi satu sosok boneka lumpur.


*Slaaaassshhh…!!!


Perubahan situasi yang terjadi tiba-tiba tersebut, membuat Theo akhirnya hanya bisa menebas kepala palsu dari boneka Lumpur.


"Hmmmm… Teknik yang cukup menyebalkan! Tapi sedikit menarik!" Gumam Theo. Begitu menyadari mangsanya berhasil melarikan diri.


"Tapi, kemanapun kau pergi, aku punya firasat kita akan segera bertemu kembali!"


"Barbarian Tribe ya! Sepertinya semakin banyak alasan untukku, dimana tak dapat menghindari bentrok dengan kelompok ini pada akhirnya!" Tutup Theo, kemudian mulai menarik kembali dua pedang kembar Asmodeus kedalam tatto segel.


***


(Ruang pribadi Delario)


Tak seperti keikutsertaan Theo sebelum-sebelumnya dalam pertandingan Death Arena, kali ini begitu ia memenangkan Gelar Kaisar Pedang, Tetua Delario memutuskan untuk mengundang Theo dalam jamuan makan pribadi di ruangannya.


"Sekali lagi selamat tuan muda! Kau benar-benar telah mencatatkan sejarah baru di muka Gaia Land ini!" Ucap tetua Delario, sambil memasang senyum sederhana.


"Tetua, sudah kubilang, tak perlu terlalu berlebihan! Aku sama sekali tak punya pemikiran kearah sana sedikitpun!" Jawab Theo. Dengan senyum sederhana yang sama.


"Lagipula, momen terakhir dalam pertandingan tadi, sedikit membuatku kesal!" Tambah Theo.


"Ohhh… Sepertinya kau punya dendam pribadi dengan petarung dari Barbarian Tribe itu!" Ucap Tetua Delario.


"Yah, ada hubungannya dengan teman lama yang tak bisa kulindungi!" Jawab Theo. Dengan ekspresi wajah sedikit berubah dalam sepersekian detik sebelum kembali memasang senyum sederhana.


"Hmmm… Tak perlu terlalu di risaukan! Mengingat pergerakan besar yang sedang kau lakukan dengan kelompokmu belakangan ini, hanya masalah waktu sampai kau bertemu lagi dengannya!" Ucap Tetua Delario, sambil memasang ekspresi wajah penuh makna.


"Hahhaha….! Kalian, Dark Guild dan juga Gaia Son Paviliun! Sepertinya aku tak bisa menyembunyikan banyak hal dari dua kelompok ini!" Jawab Theo. Merasa kemampuan mendapat informasi dari dua kelompok netral ini memang adalah yang terbaik.


"Hahhaha…! Dan kau tuan muda, adalah satu-satunya orang di muka Gaia Land yang berhasil menjalin relasi cukup baik dengan dua kelompok tersebut! Benar-benar mengesankan!" Balas Tetua Delario.


"Sejujurnya, kau adalah pemuda yang mengerikan!" Tambah Tetua Delario. Sangat terkesan dengan kemampuan Theo dalam melihat suatu kesempatan. Dimana berujung membuat ia menjadi satu-satunya orang yang mampu menjalin hubungan baik dengan dua kelompok Netral yang saling bertentangan satu sama lain.


"Anda terlalu memuji!" Jawab Theo singkat. Tampak tak ingin melanjutkan topik pembicaraan.


"Baiklah kalau begitu! Karena kau tak akan mengunjungi Death Arena lagi, bisa di bilang jamuan makan malam ini adalah perpisahan sementara!" Ucap Tetua Delario.


"Sepertinya memang begitu!" Jawab Theo. Seraya mulai mengambil posisi berdiri dan memberi salam tangan kepada Tetua Delario.


"Pria tua ini sungguh tak sabar untuk mendengar kabar spektakuler apalagi yang hendak kau dengungkan! Setelah North Region, sepertinya tak lama lagi akan menjadi giliran dari East Region!" Tutup Tetua Delario, sambil memberi salam tangan balik kepada Theo.


"Tetua! Terimakasih atas semua bantuannya! Aku tak akan pernah melupakan setiap orang yang telah berjasa dalam hidupku!" Ucap Theo.


"Tuan muda! Tak perlu di pikirkan! Mungkin suatu saat, ada waktu dimana pria tua ini yang akan memerlukan bantuanmu!" Jawab Tetua Delario.


"Cukup satu kata permintaan bantuan! Dan aku akan ada disana untukmu!" Balas Theo.


Setelah selesai memberi salam masing-masing, Theo akhirnya berjalan pergi meninggalkan Dark Guild cabang kota Zordan.


***


(Beberapa saat setelah kepergian Theo)


"Tetua, bagaimana dengan permintaan Lord Santiago?" Tanya salah satu Assassin Dark Guild yang tiba-tiba keluar dari balik bayangan salah satu sudut ruang.


"Apakah perlu dipertanyakan lagi? Perintah Lord adalah mutlak! Karena barangnya sudah sampai sejak satu bulan yang lalu, maka laksanakan sekarang juga!" Jawab Tetua Delario. Dengan ekspresi wajah antusias.


Malam itu juga, setelah Theo meninggalkan Dark Guild, sebuah patung perunggu gelap berukuran cukup besar, diletakkan oleh beberapa pekerja tepat di tengah aula penyambutan Death Arena. Membuat siapapun yang memasuki Death Arena akan bisa melihatnya.


Patung tersebut berbentuk seorang pemuda yang memiliki paras rupawan namun memasang ekspresi wajah bengis dengan seringai lebar di wajahnya. Memandang rendah setiap orang yang sedang menatapnya.


Sementara tepat di bawah kaki patung perunggu, terdapat sebuah plakat emas yang bertuliskan.


-Theodoric Alknight, Sang Serigala Liar. Penakluk Death Arena. Kaisar dari lima Arena-