Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
251 - Berdarah Panas


"Kau bocah berandal! Lancang sekali berani menyerang nona muda!"


Saat Theo dan sang wanita masih saling memandang satu sama lain dengan tatapan sengit, salah satu pria berperawakan agak tua dari kelompok yang datang bersama sang gadis segera berteriak lantang memakinya.


Bersamaan dengan teriakannya, pria tua tersebut tampak mulai berubah kedalam mode Meridian Knightnya, dimana mengambil perwujudan Landak gurun.


Dengan ribuan duri tajam yang saat ini menghiasi punggung serta kedua tangannya, pria tua ini mulai membocorkan aura kelas King tahap surganya. Membuat setiap orang yang berada di lokasi segera merasa sesak nafas, tak kuat menahan tekanan dari aura tersebut.


"Tetua kedelapan! Siapa yang meminta bantuanmu?"


Namun, saat pria tua tersebut hendak melakukan langkah maju, suara dingin gadis yang dipanggilnya nona muda, tiba-tiba terdengar.


"Hmmm… Nona muda! Bocah ini harus di beri pelajaran!" Dengus sang tetua, tanpa menoleh kearah sang wanita, terlihat sedikit mengabaikan nona mudanya.


"JANGAN IKUT CAMPUR URUSANKU!"


Mendengar jawaban tetua di hadapannya, wanita tersebut segera membentak keras sambil mulai menyebarkan aura miliknya yang merupakan Knight dengan kelas General tahap Surga. Ia tampak sangat marah dan tak sabar. Nafasnya juga mulai memburu, membuat dadanya naik turun dengan cepat.


"Nona muda! Jaga sikapmu! Meskipun aku bertugas sebagai pelindungmu! Harus kau tau, posisiku tidak lebih rendah darimu! Aku bukan pelayanmu!" Bentak sang tetua balik.


'Hmmm… Seorang wanita dengan darah panas! Akan merepotkan bila terus berususan dengannya!' Gumam Theo dalam hati, begitu melihat tabiat wanita di hadapannya.


Saat sang gadis dan tetuanya sedang sibuk saling membentak satu sama lain, Theo berfikir cepat untuk menemukan cara menyelesaikan masalah di hadapannya seringkas dan seefisien mungkin.


'Gendut! Aku akan membuat kelompok di depan menyingkir dari pintu masuk! Ketika saatnya tiba, bergeraklah cepat dengan para Bandit untuk bergegas keluar!' Kata Theo kemudian, mentransmisikan suaranya secara diam-diam pada Thomas.


Mendengar apa yang disampaikan Theo, Thomas segera menoleh kearahnya dan memberikan anggukan singkat. Menandakan ia mengerti.


'Namun ingat, begitu sampai di luar, apapun yang terjadi, tak perduli aku sedang berada dalam situasi seperti apa, kau harus segera menghancurkan pintu masuknya!' Kata Theo lagi, masih dengan transmisi suara dalam kepala Thomas.


Tak seperti intruksi sebelumnnya yang langsung disambut dengan anggukan mengerti oleh Thomas, intruksi terakhir Theo yang terdengar sedikit aneh, membuat Thomas mengerutkan kening untuk beberapa saat.


Namun, setelah melihat sorot mata penuh ketajaman dari mata Theo, Thomas berhenti berfikir. Mencoba untuk tak meragukan intruksi dari Theo. Bagaimanapun juga, dari pengalaman Thomas yang hanya dalam beberapa hari saja bersama Theo, ia sudah berulang kali di kejutkan oleh pemuda ini. Jadi, itu bukan masalah bila ia harus terkejut sekali lagi dengan hasil akhir dari intruksi aneh Theo barusan. Ia justru kini malah menjadi penasaran.


Disisi lain, setelah Theo melihat sorot mata paham yang ditunjukkan Thomas, ia segera kembali memperhatikan orang-orang di hadapannya. Yang mana masih sibuk saling bentak satu sama lain.


Malah sekarang, perdebatan antara gadis muda dan sang tetua, berkembang menjadi lebih intens, sang gadis tampak telah berubah kedalam mode Meridian Knightnya. Terlihat sedang bersiap menyerang tetua di hadapannya.


Begitu pula sebaliknya, sang tetua yang mendapat tatapan kesal dari nona mudanya, justru tak mau kalah, ia tampak dengan ekspresi kesal, menambah intensitas aura yang keluar dari dalam tubuhnya. Menekan nona mudanya sendiri.


Mode Meridian Knight dari gadis muda sendiri, adalah perwujudan dari Spirit Beast berbentuk Ular Derik berwarna coklat. Dalam mode Meridian Knightnya, entah kenapa justru membuat sosok sang gadis muda, tampak menjadi lebih eksotis lagi bagi siapapun yang memandangnya.


"Hmmmm… Tak kusangka, bukan hanya si nona muda yang berdarah panas! Bahkan tetuanya juga! Ini benar-benar pemandangan yang jarang terjadi!" Gumam Theo, dengan ekspresi sedikit heran di wajahnya.


Bagaimanapun juga, dalam kejadian umum, seorang tetua pengawal, akan selalu tunduk, cenderung takut pada nona atau tuan muda yang mereka kawal. Namun, pemandangan di hadapan Theo saat ini, benar-benar telah merusak logika umum yang selama ini telah eksis di Gaia Land tersebut.


'Hmmmm… Tidak baik berususan dengan orang-orang ini terlalu lama!' Gumam Theo lagi.


"Hei…! Apa kalian telah selesai?" Teriak Theo kemudian, dengan suara sangat lantang.


"APA….!"


Diteruskan dengan dua orang tersebut memberi bentakan keras kepada Theo.


Mendengar bentakan tersebut, serta melihat tatapan menyeramkan dua orang di hadapannya, sudut-sudut mata Theo segera berkedut. Entah kenapa ia merasa kesal dengan sikap tak normal dua orang di hadapannya ini.


"Hahhh…! Bodoh amat!" Dengus Theo. Setelah itu tanpa peringatan apapun, secara tiba-tiba ia bergerak cepat melakukan langkah menerjang kedepan.


Tindakan Theo ini, segera membuat kelompok lawan di hadapannya sedikit terkejut. Mereka benar-benar tak menduga pemuda yang hanya seorang General tahap bumi ini, dengan sangat konyol mengambil langkah pertama menyerang terlebih dahulu. Apalagi dia melakukannya seorang diri. Tak terlihat ada pergerakan membantu dari kelompok yang sedang bersamanya.


"Kau mencari kematian!" Dengus sang tetua, begitu melihat arah terjangan Theo ternyata tepat mengarah padanya.


Sang tetua sudah mulai mengambil sikap serangan. Ia mengepalkan tinjunya erat, aliran Mana lumpur juga mulai berputar liar disekitar tubuhnya. Sampai tiba-tiba, Theo yang menerjang kearahnya, mulai memasang seringai lebar. Sebuah seringai yang entah kenapa membuat perasaan sang tetua menjadi tak enak.


Dan benar saja, begitu jarak antara keduanya hanya tersisa beberapa langkah, Theo tiba-tiba menginjak lantai yang berada di bawah kakinya, merubah arah terjangannya secara tiba-tiba. Berganti kearah nona muda yang berdiri tak terlalu jauh di hadapan sang tetua.


Melihat hal ini, sang tetua dengan sigap akan bergerak mengikuti Theo, berusaha menghentikannya. Namun…


*Wunnng….!!!


Bersamaan dengan langkah pertama yang dilakukan sang tetua untuk mengejar Theo, sebuah medan aneh yang tak kasat mata terbentuk secara tiba-tiba. Medan tak kasat mata ini, membuat tekanan pada lingkungan sekitar, seketika menjadi lebih berat. Menyebabkan langkah sang tetua melambat untuk beberapa detik.


*Booommm…!!!


Karena dampak dari tekanan berat tersebut juga di rasakan oleh gadis muda yang di tuju Theo, tepat ketika Theo mendaratkan pukulan telak pada perut wanita ini, ia sama sekali tak bisa menghindarinya, berakhir terpental jauh kesisi lain ruangan, kembali menabrak keras dinding batu.


"B3debah!" Teriak sang tetua dengan sangat keras, begitu melihat nona mudanya kembali mendapat pukulan dari Theo.


"Hhehe…!"


Mendengar makian tersebut, Theo justru tertawa dengan nada meremehkan untuk beberapa saat, kemudian bergerak mendekati sang wanita yang masih terkapar. Tampak berniat mendaratkan pukulan lainnya.


"Jangan berani kau…! Hentikan berandal itu!" Teriak sang tetua lagi, kini tak mau lagi bermain-main. Mengerahkan seluruh anggota nya untuk bergerak kearah Theo.


Disisi lain, melihat seluruh kelompok yang sebelumnya menghadang di pintu masuk kini meninggalkan posisinya, Thomas yang menangkap bahwa ini adalah situasi yang tadi di maksud Theo, segera memimpin rombongan Bandit untuk bergegas keluar meninggalkan ruangan.


Dan begitu telah sampai di luar ruangan, sesuai intruksi Theo yang tadi diberikan padanya, tanpa menunda, Thomas berubah kedalam mode Meridian Knightnya, melancarkan pukulan atribut tanah keras pada pintu masuk.


*Booommmm…!!!


Pukulan keras Thomas, dengan segera menghancurkan dinding pintu masuk ruangan. Ternyata, setelah formasi segel yang mengunci nya di bongkar oleh Theo, dinding yang pada awalnya tampak sangat kokoh tersebut, kini mampu di hancurkan oleh Thomas dalam sekali pukul.


*Bzzzzzttt…!!!


Hampir bersamaan dengan reruntuhan dinding mulai menutup seluruh jalan keluar, seberkas cahaya listrik merah tampak menerobos celah-celah reruntuhan. Berakhir memunculkan sosok Theo yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Thomas.


Tak sempat Thomas dan kelompok Bandit menunjukkan ekspresi kagumnya pada teknik gerakan Theo yang begitu elegan, Theo tanpa banyak bicara memasang formasi segel penahanan baru pada reruntuhan pintu masuk. Mengunci para pembuat onar yang dengan tiba-tiba tadi datang mengganggu kelompoknya di dalam ruang harta yang telah kosong.