
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
"Boss! Kau akhirnya kembali!" Seru Oscana, begitu melihat kelompok Theo berjalan memasuki perkemahan Bandit Serigala.
"Hmmm… Sebelumnnya aku sempat mendapat laporan dari Thomas bahwa perkembangan latihan kalian berjalan dengan baik."
"Namun, keliatannya si Gendut terlalu melebih-lebihkan! Kau cuma naik tiga tingkat! Masih di kelas yang sama!" Ucap Theo. Begitu melihat kultivasi Oscana.
"Ahhh… Itu, Boss! Bukankah naik tiga tingkat hanya dalam waktu dua bulan merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa?" Tanya Oscana, tampak heran dengan kalimat tak puas yang sebelumnya di sampaikan Theo.
"Hmmmm… Itu akan luar biasa bila kau mencapainya dengan usaha sendiri dan sumberdaya minim!"
"Namun dengan semua sumberdaya yang sebelumnya ku tinggalkan, ditambah lagi dengan yang kutitipkan pada Thomas serta masih banyak lagi yang kuminta pada pihak Gaia Treasure kirim langsung kemari beberapa waktu lalu, kemajuan kultivasi yang kau capai, dimataku sama saja dengan jalan di tempat!" Dengus Theo.
"Ahhh… "
Mendengar kata-kata tak puas Theo, Oscana hanya bisa tergagap, tak bisa menyampaikan kalimat balasan apapun.
"Boss! Kau kembali! Kenapa begitu lama?"
"Itu benar! Kau bilang hanya akan pergi satu bulan! Ini sudah lewat dua bulan!"
Saat Oscana masih terdiam dengan ekspresi wajah sulit, suara antusias Yahuwa dan Yaseya tiba-tiba terdengar.
Melihat kehadiran dua orang ini, Oscana hendak menyampaikan sesuatu, namun mulutnya tak bisa menemukan kata yang tepat, berakhir dengan ia hanya memasang ekspresi seolah menyuruh agar dua orang ini segera pergi.
"Ada apa dengan ekspresi wajahmu itu? Kau tampak tak senang kami berada disini?" Ucap Yahuwa.
"Yahh…! Memang kau tak senang dengan kembalinya Boss? Semangatlah sedikit! Kita perlu melakukan pesta penyambutan setelah ini!" Sahut Yaseya.
Mendengar apa yang di katakan oleh dua orang kawan sejawatnya tersebut, ekspresi Oscana justru menjadi semakin buruk.
'Kalian idiot! Jika aku yang berhasil naik 3 tingkat saja mendapat omelan dari Boss, bagaimana dengan kalian yang hanya berhasil naik 2 tingkat?'
'Dan sekarang dengan santainya secara riang gembira berniat menyambut Boss!' Gumam Oscana dalam hati. Seraya mulai ganti melihat kearah Theo.
"Pesta?" Ucap Theo. Kini seringai lebar perlahan mulai terpampang di wajahnya.
Melihat seringai lebar menyeramkan tersebut, Yahuwa dan Yaseya baru sadar bahwa ada sesuatu yang salah. Seketika keduanya melihat kearah Oscana.
"Apa? Berhenti melihatku seperti itu!" Ucap Oscana, tak berniat membalas ekspresi wajah menuntut penjelasan dari dua kawannya.
Sementara Oscana masih bersikap seolah tak tau apa-apa. Theo yang masih memasang seringai lebar. Saat ini mulai melangkah maju kedepan.
"Aku tak tahu apa yang sebenarnya kalian lakukan selama dua bulan ini!"
"Namun, setelah memberi tumpukan sumberdaya berharga, dengan nilai jutaan Mutiara Mana Perunggu, dalam dua bulan, kultivasi kalian hanya bisa naik dua tingkat?"
"Benar-benar luar biasa! Entah kenapa diriku saat ini merasa telah dirampok oleh kelompok Banditku sendiri!" Gumam Theo. Seringai diwajahnya tampak semakin melebar.
"Ahhh… Boss…!!!"
Ekspresi wajah menyeramkan Theo, membuat Yahuwa dan Yaseya segera merasa dingin pada punggungnya masing-masing. Mulai mundur satu langkah kebelakang.
"Dan setelah semua itu, kalian berniat mengadakan pesta penyambutan? Benar-benar lelucon yang berkelas!"
*Woooshhhh…!!!
*Booommmm…!!!
*Boooommmm….!!!
Dalam sekejap, Theo tiba-tiba menghilang, muncul kembali tepat dihadapan Yahuwa dan Yaseya. Kemudian mendaratkan pukulan keras pada keduanya, membuat mereka terbang dengan sangat cepat menuju bagian dalam perkemahan Bandit Serigala.
Kejadian tersebut, membuat setiap anggota Bandit Serigala yang kini telah berkumpul di sekitar lokasi Theo berada, berniat menyambut kedatangannya. Segera memasang ekspresi wajah ngeri.
"Para b4jingan bandit Serigala, dengarkan aku!" Seru Theo lantang, saat tatapan takut setiap orang masih melihat kearahnya.
"Selama ini, bila sudah menyangkut kelompok, aku tak akan segan memberi yang terbaik! Kulakukan semua yang bisa kulakukan untuk perkembangan kelompok menjadi lebih kuat!"
"Sumberdaya berharga, harta, atau apapun itu, bila bisa membuat kelompokku berkembang lebih baik, maka akan kuberikan!"
"Karena ditempatku berasal, seorang pemimpin akan memberi segala yang mereka bisa untuk melindungi kelompoknya!"
"Itulah yang membuat kawanan Serigala liar bisa bertahan hidup! Itulah yang membuat kawanan Serigala tak bisa ditundukkan!"
"Jadilah lebih kuat! Buat dirimu menjadi tak terkalahkan! Bukan untuk dirimu sendiri! Namun untuk kelompok!"
"Selama kalian bertambah kuat! Kelompok kita juga akan bertambah kuat! Dengan kelompok kita bertambah kuat, tak ada lagi yang akan membuat kita harus mendongakkan kepala untuk melihat!"
"Itu harus lawan-lawan kita yang mengangkat wajahnya saat berhadapan dengan kelompok kita! Mereka semua harus berada di bawah kaki Bandit Serigala!"
"Masing-masing dari kalian sekarang adalah seekor Serigala liar! Jadi bersikaplah layaknya Serigala yang tak akan pernah bisa ditundukkan oleh makhluk lain di muka Gaia Land ini!"
Kalimat membahana keras yang diucapkan oleh Theo, seketika membuat setiap anggota Bandit Serigala terdiam. Mereka semua diam, namun hati mereka tidak. Dada setiap orang saat ini berdebar kencang. Menatap kearah Theo dengan tatapan wajah penuh penyembahan.
"Sekarang, lakukan kultivasi tertutup sekali lagi! Aku tak peduli bagaimanapun caranya, terserah bila itu harus membuat kaki, tangan, atau seluruh bagian tubuh kalian patah dan hancur!"
"Dalam waktu satu bulan, setiap dari kalian harus bisa naik minimal 2 tingkat kultivasi!" Seru Theo. Menutup semua kalimatnya dengan tatapan tajam.
"Siap!"
Intruksi Theo, segera disambut secara serentak oleh kelompoknya. Setiap orang kini mulai melompat dan bergerak cepat menuju lokasi yang menurut mereka nyaman untuk dijadikan tempat melakukan proses kultivasi.
Disisi lain, Hella, Gerel, dan Razak yang juga mendengar semua yang di katakan Theo, saat ini tampak memandang punggung Theo dengan tatapan bergetar.
Entah apa yang ada di benak ketiganya. Namun jelas pada sorot mata masing-masing dari mereka, tersirat titik-titik kekaguman. Khususnya pada sorot mata Hella dan Razak.
Sementara Gerel, kini mulai merasa benar-benar tak ingin melepaskan pemuda dihadapannya tersebut. Sorot matanya justru menunjukkan keserakahan yang mencolok. Sebelum mulai sedikit melirik kearah Hella.
"Hahaha….! Boss…! Kau memang sesuatu!"
Saat situasi berkembang menjadi sedikit hening, suara keras Thomas tiba-tiba memecah keheningan.
*Boooommmm…!!!
Namun, tak lama setelah tawa lantangnya terdengar, tubuh gentut Thomas terpental agak jauh. Theo tanpa peringatan apapun melancarkan tendangan keras pada perut buncit si gentut.
"Boss!! Kanapa kau juga menghukumku! Tak seperti mereka! Aku berhasil naik 4 tingkat dalam kultivasi!" Bentak Thomas, tak terima.
"Hmmm… Masih berani bertanya! Bukankah sebelum berpisah, aku memberimu pesan untuk mengawasi kelompok kita?"
"Jadi, bila harus memilih orang yang paling bertanggung jawab atas situasi ini, itu tentu saja kau!" Bentak Theo.
Mendengar kata-kata Theo, Thomas hanya bisa membuka-tutup mulutnya, tak bisa memberikan sanggahan apapun.
"Kau bahkan berani menyampaikan kabar bahwa perkembangan mereka cukup memuaskan!"
"Dasar gendut sialan!" Gumam Theo. Sebelum kembali melakukan langkah menerjang kedepan. Sekali lagi mendendang perut buncit Thomas.
*Boooommmm…!!!
"Aaarhhhhgggg…!!! Sudah cukup! Boss! Aku minta maaf!" Teriak Thomas.
*Booommmm….!!!
*Booooommmm…!!!
Namun, teriakan Thomas, justru disambut dengan tendangan-tendangan keras lain dari Theo.
Suara tendangan serta teriakan keras kesakitan Thomas. Membuat setiap anggota Bandit Serigala yang tengah sibuk berkultivasi, sedikit membuka mata masing-masing, memasang ekspresi wajah ngeri bercampur lega. Entah kenapa setiap orang merasa bersyukur dan berterima kasih pada si Gendut karena menggantikan mereka menerima hukuman dari Boss besar.
"Gendut! Aku berhutang padamu!" Ucap Oscana, sebelum kembali menutup mata.
----
Note : Hari minggu jadi up 1 chapter.