Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
210 - Menagih Hutang Lama


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


(Medan tempur selatan, kelompok Desa tersembunyi+Issabela, Gregoric, dan Arthur V.S House Helsinsberg)


"Adiiikkkk….!!!"


Victor masih dengan liar membantai para pejuang desa tersembunyi dari klan Agila yang ada disekitarnya sampai tiba-tiba serangan anak panah Es raksasa, kembali menghujam medan pertempuran. Membuatnya sangat terkejut dan cemas di waktu bersamaan, sangat khawatir dengan kondisi adiknya yang berada di lokasi hujaman serangan anak panah kedua ini.


*Booommmm…!!!


*Booommmm….!!!


*Boooommmm….!!!


"Hmmm… melihat kemana kau anak muda?"


Saat Victor masih di sibukkan dengan perasaan cemas, serangan bombardir dari puluhan jimat formasi mendarat tepat di tubuhnya.


Serangan ini berasal dari ketua Aurelas yang masih tampak santai dan begitu berwibawa menunggangi Elang raksasa diatas langit medan tempur.


"Gahhhh… orang tua sialan!" Bentak Victor marah. Kemudian mengepakkan sayap listriknya, dan menerjang kearah ketua Aurelas.


*Wuuushhhh….!


Namun, hanya sepersekian detik sebelum terjangan Victor menemui sasarannya, Elang raksasa milik ketua Aurelas membuat manuver cantik, menghindari serangan tersebut. Kemudian menatap Victor yang berhasil dihindarinya dengan tatapan khas dari seekor burung Elang. Tajam dan berwibawa.


Pemandangan ini membuat Knight tua dan Spirit Beast Kontrak nya ini bagaikan pasangan pertapa kuno yang memandang rendah seluruh kehidupan dunia fana. Terbang diatas langit dengan pembawaan sangat berwibawa, begitu terhormat.


"Hoooaaarrgggg…..!!!"


Sementara Victor yang melihat hal tersebut, bukannya merasa terkesan, tapi malah merasa terhina, ia berteriak marah sambil menyemburkan Mana atribut listriknya kesegala arah.


Hal ini segera menyajikan pemandangan lain yang sangat kontras bertolak belakang dari yang di tunjukkan pasangan Ketua Aurelas dan Elang raksasanya.


Dengan ribuan baut listrik berwarna kuning menyebar luas memenuhi langit di sekitarnya, Victor saat ini tampak seperti dewa petir ganas, memandang semua hal dihadapannya adalah makhluk kecil yang tak penting, bisa dimusnahkan kapan saja.


*Bzzzzzttt…!!!!


*Bzzzzzttt….!!!


*Bzzzzzttt….!!!


"Hoooaaarggg…..!!!"


Suara derakan dari ribuan baut listrik menderu keras, membuat setiap orang yang mendengarnya akan segera merinding ketakutan saat Victor menghimpun semua listrik yang telah ia hamburkan keluar, kembali kedalam satu titik, yakni kepalan tangan kanannya.


Melihat aksi Victor ini, ekspresi santai di wajah ketua Aurelas segera menghilang. Diganti dengan wajah serius.


"Hmmmm… ini akan berbahaya!" Dengus ketua Aurelas, kemudian dengan gerakan cepat, mulai membentuk segel tangan rumit.


*Wunggg…..!!!


Segel tangan rumit yang sedang di kerjakan ketua Aurelas bahkan belum selesai sampai tiba-tiba sebuah formasi raksasa mulai terbentuk di sekitarnya. Formasi raksasa yang terlihat masih samar-samar ini, mulai membentuk aliran Mana yang tampak seperti sebuah cangkang kura-kura raksasa.


"Formasi segel rahasia Klan Agila!"


"Pertahanan sempurna Silver Turtle!" Gumam ketua Aurelas, bersamaan dengan ia selesai membentuk segel tangan.


"Goooooahhhhhh….!!!!!"


Disisi lain, seolah tak peduli dengan formasi raksasa berbentuk cangkang kura-kura berwarna perak yang tiba-tiba terbentuk di hadapannya, Victor maju menerjang kedepan, dengan derakan listrik liar di kepalan tangan kanannya, sosok Victor benar-benar bagaikan dewa guntur yang hendak menghukum dunia.


*Boooommmmmmmm……!!!!!


Suara ledakan keras segera menggema keseluruh medan pertempuran begitu tinju listrik Victor menghujam cangkang raksasa kura-kura perak.


***


(Medan pertempuran sisi lain)


*Kratak…!!!


*Kratakkkk…!!!


*Pyaarrr….!!!


Suara retakan yang kemudian diakhiri dengan pecahan es, terdengar lantang bersamaan dengan loncatan tinggi Katak Hijau raksasa yang keluar dari dalam tumpukan gunung es.


*Boommmm….!!!!


*Kwaakkk…!!!


Katak raksasa mendarat dengan mantap kembali ketanah setelah melompat tinggi, kemudian segera memuntahkan seluruh anggota Klan Asura yang tadi ditelannya.


"Hoeekkk…!!!"


"Goahhh….!!!"


"Hooekkk….!!!"


Begitu seluruh anggota Klan Asura keluar dari mulut sang katak, mereka semua segera meminum cairan aneh dari botol yang di pegangnya masing-masing. Berakhir memuntahkan lendir hijau pekat setelah meminum cairan tersebut.


"Hahh… paman! Racun lendir dari katakmu itu terlalu berlebihan!" Dengus Armadillo, wajahnya tampak pucat.


"Yaahh, ketua, racun katakmu itu benar-benar sesuatu! Bahkan setelah meminum penawar, efeknya masih terasa!" Kata salah satu pejuang muda klan Asura, membenarkan perkataan Armadillo barusan.


"Hmmmm… apa kalian punya cara lain? Itu masih lebih baik hanya mual-mual, dari pada kalian harus mati membeku terkena dampak serangan panah dahsyat dari senjata bikinan tuan muda Theo!" Dengus Ketua Arsegio, tampak tak puas saat cara yang ia pakai dipertanyakan kumpulan pemuda ingusan di hadapannya.


"Hmmm… Brother Theo memang sesuatu! Bisa menempa senjata sehebat itu!" Kata Armadillo, dengan ekspresi wajah sangat kagum.


"Yahh… Pejuang Agung Desa memang sesuatu!" Seperti biasa, kata-kata Armadillo segera di ikuti para pejuang muda lain.


*Kraakkk….!


*Kraaakkk….!


Saat kelompok Klan Asura masih terlibat obrolan santai, suara retakan-retakan kembali terdengar dari dalam gunungan Es dilokasi lain.


Hal ini membuat setiap anggota klan Asura, segera memfokuskan pandangannya kearah sumber suara, sambil memasang sikap waspada.


"Seperti yang kuduga! Beberapa dari mereka pasti berhasil selamat juga!" Gumam ketua Arsegio, memandang tajam kearah lokasi retakan.


*Pyaarrr…!!!!


*Pyaarrr…!!!


*Pyaarrr….!!


*Wosshhh…!


*Wosshhh…!!


*Wosshhh…!!!


Tak lama setelahnya, suara dari beberapa pecahan Es kembali terdengar, diriingi dengan lompatan tinggi sekelompok Knight dari House Helsinsberg yang masih dapat bertahan dari efek serangan dahsyat anak panah Es raksasa.


"Tuan muda! Apa anda baik-baik saja?" Tanya tetua House Helsinsberg, kepada Alexis yang ada disebelahnya begitu mereka mendarat di tanah.


"Cukup baik!" Jawab Alexis singkat, sambil mulai mengedarkan Mana atribut listriknya keseluruh tubuh untuk mengusir hawa dingin teramat sangat yang masih membekapnya.


*Bzzzzzttt…!!!


*Bzzzzzttt…!!!


*Bzzzzzttt…!!!


Tindakan Alexis ini segera diikuti oleh anggota Housenya yang lain.


*Spaaaassshhh….!!!


*Wuuuurrrrr…..!!!


*Tsaaaahhhh….!!!


Namun, belum selesai kelompok House Helsinsberg melakukan proses mengusir hawa dingin di dalam tubuhnya dengan sempurna, puluhan serangan racun tiba-tiba terlontar kearah kelompok mereka.


Hal ini menyebabkan beberapa anggota House Helsinsberg yang masih lengah dan tampak tak siap, dengan telak menerima serangan racun tersebut.


"Hmmm….!!!"


Alexis yang berhasil menghindari serangan racun barusan, segera mendengus kesal sambil melihat kearah kelompok penyerang. Yang tak lain adalah para pejuang Klan Asura yang dipimpin oleh Armadillo.


"Hahhaha… memangnya kami akan membiarkan begitu saja kalian kembali prima?" Kata Armadillo, dengan senyum lebar di wajahnya.


"Serang….!!!"


***


(Wilayah perbukitan)


"Hahhaha… mudah sekali! Apanya yang satu dari 10 Biggest Knight Group! Apanya yang House agung! Dasar kumpulan pecundang!" Kata Arthur, sambil tertawa lantang, ia menginjak kepala anggota House Helsinsberg yang berhasil dikalahkannya.


"Hmmm… hanya menghabisi satu! Kenapa begitu bangga!" Dengus Gregoric.


Saat ini, sambil menggenggam gada raksasa di tangan kanan, tangan kiri Gregoric menggenggam kepala dari salah satu anggota House Helsinsberg lainya, mengangkat tubuh tak bergerak tersebut tinggi-tinggi keudara, kemudian dengan santai melemparnya jauh. Seperti sedang melempar kotoran.


"Apa-apaan dua pemuda ini!"


Disisi lain, satu anggota House Helsinsberg yang masih tersisa, menatap ngeri dengan ekspresi wajah tampak sangat tak percaya kearah kedua pemuda di hadapannya yang hanya memiliki kelas Immortal Surga tersebut.


"Ehhh….!"


Mendengar suara dari orang tersebut, Arthur segera menoleh kearahnya, menatap sang Knight dari House Helsinsberg yang masih tersisa ini dengan tatapan serakah.


"Dia milikku!" Seru Arthur, kemudian menerjang maju kearah sang Knight.


"Tidak bisa! Yang terakhir ini makanan penutup milikku!" Seru Gregoric, ikut menerjang maju, tak mau kalah.


Melihat dua pemuda liar dan gila ini bergerak bersamaan dengan cepat kearahnya, anggota Knight terakhir dari kelompok House Helsinsberg tercengang untuk beberapa saat, otaknya berhenti bekerja, tak mampu memikirkan langkah apapun untuk keluar dari situasi nya tersebut.


*Booommmmm….!!!!


Namun, belum sempat Arthur dan Gregoric sampai pada lokasi sang Knight, sebuah ledakan elemen kegelapan yang dahsyat menerjang kearah keduanya. Membuat tubuh Arthur dan Gregoric terpental jauh kembali kebelakang.


"Urrggg…. Siapa!" Bentak Arthur marah.


Sementara Gregoric, tak memberi tanggapan apapun, menggunakan elemen air miliknya, ia sibuk mengusir atribut kegelapan yang menempel pada armornya.


"Hohohoho….!!! Anak muda! Lama tak jumpa! Akhirnya kita bisa bertemu lagi!"


Dari balik bayangan pepohonan pinus, sesosok pria tua muncul secara tiba-tiba, memandang Arthur dengan tatapan liar, seperti seekor hewan buas yang bertemu mangsanya.


"Sudah saatnya pria tua ini menagih hutang lama!"


Melihat sosok yang keluar dari bayangan pohon pinus tersebut, mata Arthur segera membelalak lebar.


"Tidak mungkin! Tua bangk4 Beladro!" Seru Arthur kaget, saat melihat sosok pria tua ini.