Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
297 - Barbarian Tribe Lagi


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


"Sialan! Mereka lagi!" Dengus Thomas.


"Boss, Kelompok Barbarian Tribe ini benar-benar tak akan melepaskan kita kali ini!" Tambah Thomas.


Mendengar kata-kata Thomas, Theo tak memberi jawaban. Masih menoleh melihat sekeliling sebelum tatapannya jatuh pada wanita yang sebelumnya berbicara, yang tak lain adalah Gerel Khan. Nona muda pertama Barbarian Tribe.


"Mereka musuh?" Tanya Razak dengan nada dan Ekspresi polos.


"Apa perlu di tanyakan lagi?" Bentak Thomas.


"Hmmm… Kalau begitu maju dan terjang saja! Kita buka jalan!" Jawab Razak.


Mendengar jawaban asal Razak, kini Hella yang menoleh kearahnya.


"Memang bagaimana menurutmu kita membongkar formasi mengepung mereka?" Dengus Hella.


"Ya cukup terobos saja, cari yang pertahanannya paling lemah! Pukul dengan tinju sekuat tenaga!" Jawab Razak. Lagi-lagi dengan ekspresi polosnya.


"Kau gila!" Bentak Hella.


"Bocah! Lebih baik diam saja!" Tambah Thomas.


"Hmmm… Kalian berdua diam! Aku punya ide yang sama dengan apa yang di katakan Razak!" Ucap Theo.


Kata-kata Theo, segera membuat Hella dan Thomas kini menatap kearahnya dengan pandangan tak percaya.


"Boss! Apa maksudmu? Bagaimana kita menerobos orang-orang ini?" Tanya Thomas.


"Jadi begini…"


Theo mulai menjelaskan rencananya.


**


(Beberapa saat kemudian)


*Boommm…!!!


*Boooommmm….!!!


*Boooommmm….!!!


Suara ledakan menggema di sekitar area lokasi, kelompok Barbarian Tribe yang telah melakukan formasi mengepung, tentu saja tak membiarkan kelompok Theo bergerak leluasa dan mengobrol terlalu lama.


Tepat setelah Theo menyampaikan rencananya, atas intruksi dari tetuanya, seluruh pengepung dari Barbarian Tribe maju menyerang secara serentak.


Sementara itu, disisi Theo, melihat para pengepung mulai melancarkan serangan, Theo dengan cepat memanggil Joy Kecil keluar. Memasang aura pelindung sebagai penahan puluhan serangan yang datang.


"Razak, sekarang!" Ucap Theo, saat kepulan debu masih bertebaran menutup area sekitar.


"Menempah Tubuh Surgawi! Dewa Besi membelah Bumi!" Seru Razak. Begitu mendengar intruksi dari Theo.


Bersamaan dengan seruannya, kedua kepalan tinju Razak mulai dialiri Mana Besi intens sekali lagi, namun kali ini, Mana Besi tersebut mulai membentuk sebuah kubus dengan ujung-ujung lancip pada dua bagaian atas nya.


*Bammm…!!!


Tanpa banyak bicara, selesai membentuk Mana Besinya, Razak menghantamkan ujung lancip kubus ciptaannya pada permukaan tangah di bawah kaki setiap orang. Mulai menggali tanah tersebut.


**


"Kemana mereka pergi?" Ucap salah satu anggota Barbarian Tribe saat melihat kelompok Theo menghilang dari tempat begitu kepulan debu telah memudar.


"Di bawah! Tetap waspada!" Teriak pria tua yang merupakan tetua Barbarian Tribe saat tatapannya jatuh pada satu lubang tak terlalu besar yang kini terlihat ditempat dimana sebelumnya kelompok Theo berada.


*Blaaar…!!!


*Blaaaarrr….!!!


Bertepatan dengan teriakan sang tetua, dua suara ledakan tiba-tiba terdengar, ledakan ini berasal dari tanah hancur yang berada di dua tempat berbeda. Satu pada sebelah barat dimana Thomas menerjang keluar dari dalam tanah sambil menghujamkan Gada raksasa miliknya pada setiap lawan yang berdiri di hadapannya. Ditemani dengan Razak dan Hella bersama White Fang yang ikut melompat keluar, melakukan serangan membuka jalan.


Sementara ledakan lain berasal dari sebelah timur dimana posisi Gerel Khan berada, Theo melompat keluar dari tanah yang hancur. Kemudian dengan satu pukulan keras, meninju perut Gerel. Membuat wanita ini yang benar-benar tak menduga kelompok Theo sangat berani mengambil aksi nekat balik menyerang, berakhir harus terpental cukup jauh.


"Medan Gravitasi!"


Seolah tak mendengar makian dari sang tetua, Theo dengan cepat mengaktifkan Medan Gravitasi, membuat lingkungan sekitar menjadi lebih berat. Hal ini menyebabkan 5 orang pengawal dari Gerel yang seluruhnya adalah Knight dengan kelas King tahap awal. Kini mulai tertahan pergerakannya.


"Asmodeus keluar!"


Melihat lawan-lawan disekitarnya sudah terjebak dalam Medan Gravitasi, Theo kemudian melanjutkan aksinya dengan memanggil keluar pedang kembar Asmodeus


"Teknik pertama dosa nafsu! Sikap Tubuh Penuh Gairah!" Ucap Theo, begitu pedang kembar Asmodeus sudah berada di tangannya.


*Bzzz….!!!


*Bzzzzzttt…!!!


*Bzzzzzttt….!!!


Aliran listrik ungu berderak ringan menyelimuti seluruh tubuh Theo mengiringi aktifnya teknik dosa nafsu.


Tubuh Theo mulai berkelap-kelip ringan, sampai kemudian menghilang dari pandangan setiap lawannya.


*Slaaaassshhh….!!!


*Slaaaassshhh….!!!


*Slaaaassshhh….!!!


Kejadian selanjutnya, listrik ungu berderak ringan muncul dan menghilang disekitar posisi 5 orang pengawal Gerel. Dan setiap kali listrik ungu muncul, akan dibarengi dengan salah satu bagian tubuh lawannya terpotong.


"Arrggghhhh…!!!"


"Arrggghhhh….!!!"


Teriakan-teriakan memilukan terdengar lantang mengiringi aksi kejam Theo. Tanpa ampun ia memotong kaki atau tangan lawan-lawannya. Membuat lawannya buntung dalam hitungan sepersekian detik. Jatuh ketanah mengerang kesakitan sambil memegang anggota tubuhnya yang telah terpotong.


Bagaimanapun juga, Theo kini telah mencapai General tahap Bumi, jadi melawan beberapa Knight yang sedikit memiliki kelas diatasnya seperti kelompok 5 orang King tahap awal ini, bukanlah masalah terlalu berarti baginya. Apalagi ditambah pergerakan lawan-lawannya kini telah tertahan oleh Medan Gravitasi. Membuat Theo dengan leluasa dan tanpa mendapat perlawanan berarti, mampu memotong tubuh lawan-lawan di hadapannya.


"Hentikan bocah itu!"


*Woooshhhh….!!!


Melihat aksi brutal Theo, tetua Barbarian Tribe jelas tak bisa tinggal diam, dengan satu intruksi, ia memberi perintah agar semua anggotanya untuk maju menerjang kearah Theo.


Disisi lain, tindakan sang tetua ini justru disambut dengan senyum tipis mulai mengembang di wajah Theo.


*Tuk…!!!


*Tuk…!!!


*Tuk…!!!


Seluruh anggota Barbarian Tribe yang menerjang hampir sampai pada posisi Theo ketika tiba-tiba, derakan listrik merah kini mulai muncul dan mewarnai kedua sepatu yang di kenakan Theo saat ia dengan santai mengetukkan ujung sepatunya pada permukaan tanah.


*Bzzzzzttt…!!!


*Bzzzzzttt….!!!


Suara derakan keras yang diiringi dengan kilatan listrik merah, menyala dua kali saat tubuh Theo menghilang dihadapan semua orang. Kemudian muncul kembali pada posisi dimana sebelumnya tubuh Gerel terlempar.


"Mau apa kau!" Bentak Gerel, saat Theo tiba-tiba muncul di sebelahnya.


"Diam saja dulu!" Ucap Theo, sebelum derakan listrik merah, kini mulai menyala pada dua sarung tangan besi yang ia kenakan.


*Bammm…!!!


Dengan satu pukulan keras, Theo kembali mendaratkan tinju tepat pada perut Gerel. Pukulan berbalut listrik merah tersebut, membuat Gerel langsung tak sadarkan diri. Namun kali ini, sebelum Gerel kembali terpental, Theo dengan sigap meraih pergelangan tangannya, menahan Gerel.


*Bzzzzzttt….!!!


Dilanjutkan dengan dia kembali menghilang dalam derakan listrik merah. Muncul kembali disisi lain yakni sebelah barat. Tempat dimana kawan-kawannya tadi membuka jalan dan telah meninggalkan tempat.


Bersama Gerel yang saat ini sedang di panggulnya, Theo mengaktifkan teknik gravitasinya sekali lagi. Kini membuat tubuhnya menjadi sangat ringan, dan dengan cepat bergerak meninggalkan tempat.


Melihat hal ini, seluruh kelompok Barbarian Tribe yang sekarang berada di sisi ujung lain tempat pertempuran. Akan membuat langkah pengejaran sampai tiba-tiba suara lantang Theo menggema keras.


"Jika kau tak ingin nona mudamu terluka, maka sempatkan berfikir dua kali saat ingin mengejarku!" Teriak Theo.


Mendengar kata-kata ancaman Theo, tetua Barbarian Tribe kini mulai menggertakkan gigi-giginya. Benar-benar tak menyangka akan jatuh pada trik licik bocah ini untuk kesekian kalinya. Terlebih kali ini ia telah dengan ceroboh membuat nona mudanya jatuh ketangan musuh.


"Bocah tengik! Lihat saja! Lihat saja!" Dengus sang tetua, sambil memandang punggung Theo yang mulai menjauh dengan tatapan bergetar penuh kemarahan.