
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
(Satu sudut wilayah Gurun Lima Warna)
*Woooshhhh….!!!
Seperti biasa, Raja Naga Hitam terbang dengan kecepatan yang sangat kencang. Membelah langit biru diatas padang pasir yang maha luas. Sementara Theo yang menunggang diatas punggung Raja Naga Hitam, harus rela wajahnya terus di terpa hembusan angin bertekanan tinggi akibat kecepatan terbang Raja Naga Hitam.
Meskipun hembusan angin tersebut sama sekali tak memberi luka pada tubuhnya, karena kulit tubuh Theo sendiri bahkan bisa menahan tekanan super kuat dari kecepatan tinggi saat ia mengaktifkan sepatu kilat merah, namun tetap saja, terus menerus mendapat hembusan angin kencang dalam tempo waktu yang sangat lama serta konstan, membuat Theo sedikit merasa tak nyaman.
Hal inilah yang menyebabkan Theo harus beberapa kali menghentikan perjalanan untuk sekedar meregangkan otot-ototnya yang kebas. Terutama otot di bagian wajahnya.
*Woooshhhh….!
*Bammm….!!!
Dengan intruksi Theo, Raja Naga Hitam mendarat pada tanah berpasir daerah gurun. Membuat satu debumam keras pada pendaratannya.
Pendaratan keras Raja Naga Hitam dimana disebabkan karena bobot tubuhnya yang sangat berat, menyebabkan tanah berpasir disekitar lokasi segera terbang berhamburan kesegala arah.
"Uhuuukkk…!!!"
"Bahhh…!!!"
Theo yang masih berada diatas punggung Raja Naga Hitam, terbatuk beberapa kali serta memuntahkan banyak pasir dari dalam mulutnya begitu Raja Naga Hitam selesai mendarat.
"Baiklah! Istirahat makan siang dulu!" Ucap Theo. Kemudian melompat turun dari punggung Raja Naga Hitam.
Ia menyempatkan menarik kembali Boneka Bernyawanya tersebut kedalam Gelang ruang-waktu, sebelum melanjutkan dengan berjalan ketepian sungai Leluhur yang berada tak jauh dari lokasinya berada.
"Hmmm… Entah kenapa makan siang ditengah perjalanan selalu menjadi yang terbaik! Semuanya terasa nikmat!" Ucap Theo, sambil memakan dengan lahap hidangan mewah di hadapannya.
Hidangan mewah yang sedang ia nikmati, merupakan beberapa bekal yang sebelumnya ia sempatkan untuk membelinya dari restoran Gaia Inn. Menu makanan yang bisa dibilang merupakan yang terbaik di Kota Gurun Zordan.
Theo masih memakan hidangannya dengan sangat lahap sampai kemudian, tiba-tiba ia menghentikan kunyahan di dalam mulutnya untuk beberapa saat. Melirik kesalah satu sudut tebing tak jauh dari lokasinya beristirahat, sebelum tampak tak peduli dan melanjutkan kegiatan makan siangnya.
***
(Daerah tebing)
"Boss! Kenapa ragu-ragu? Ia hanya seorang King tahap awal!"
Saat ini, di sekitar tebing yang tadi sempat di lirik Theo, terlihat sekelompok Bandit sedang berdiskusi. Kelompok Bandit ini berjumlah sekitar 30 orang. Seluruhnya adalah Knight dengan Kelas King tahap Bumi. Hanya satu diantara mereka yang memiliki kelas King tahap Langit. Dimana tampaknya orang dengan kultivasi paling tinggi tersebut merupakan Boss Besar kelompok Bandit yang sedang berdiskusi.
"Boss! Yang dikatakannya benar! Bocah itu hanya seorang King tahap awal! Kenapa tak segera melakukan pergerakan?" Tanya anggota Bandit lain saat melihat Boss Besar mereka hanya diam saja.
"Dari pakaian cukup mewah yang ia kenakan, jelas bocah ini merupakan tuan muda dari salah satu keluarga pedagang kaya!" Tambah anggota Bandit lainnya.
"Boss! Kau tak seperti biasanya! Ada apa denganmu!" Tanya anggota Bandit lagi. Kini dibuat semakin heran dengan tingkah aneh Boss Besarnya.
"Hmmmm…! Baiklah! Kurasa bagaimanapun juga yang kalian katakan ada benarnya! Bocah ini hanyalah King tahap awal!" Ucap sang Boss Besar pada akhirnya.
Sebenarnya, walau Boss Besar dari kelompok Bandit tersebut menyetujui permintaan anak buahnya, entah kenapa masih ada perasaan ganjil yang hinggap di dalam hatinya.
Dari tadi ia merasa sangat aneh dengan keberadaan pemuda tersebut. Berpakaian dan memakan hidangan mewah, jelas ia memiliki ciri-ciri khas dari seorang tuan muda keluarga pedagang kaya. Namun, yang menggangu sang Boss Besar adalah, bagaimana mungkin ada seorang tuan muda pedagang kaya, melakukan perjalanan seorang diri di wilayah Gurun yang sangat berbahaya tanpa pengawal sama sekali.
Terlebih, untuk ukuran seorang tuan muda, Bocah tersebut memiliki tingkat kultivasi yang benar-benar tak biasa. Seorang King di usia semuda itu, belum pernah dijumpai oleh sang Boss Besar sepanjang masa hidupnya.
Semua fakta tersebutlah yang membuat Boss Besar kelompok Bandit dari tadi tampak ragu. Insting di dalam hati kecilnya mengatakan untuk tak membuat masalah dengan sang pemuda.
Namun, sebagai seorang Boss Besar kelompok Bandit, dihadapan anggota kelompoknya, ia tentu saja tak bisa membuat harga dirinya jatuh dengan memutuskan untuk mundur ketika sudah jelas target di hadapan mereka saat ini hanyalah seorang pemuda berkelas King tahap awal.
Membulatkan tekad di dalam hatinya, serta menyingkirkan semua pemikirian mendalam yang tadi sempat hinggap di dalam benaknya, Boss Besar kelompok Bandit memimpin anggotanya untuk bergerak menuju lokasi sang pemuda. Meyakinkan dirinya sendiri dengan pemikirian bahwa target kelompoknya tersebut hanyalah tuan muda bodoh anak pedagang kaya yang sedang tersesat.
***
(Pinggiran Sungai Leluhur, tempat Theo beristirahat)
Theo yang baru saja menyelesaikan makan siang, saat ini tampak sudah merentangkan tubuhnya. Terlihat ingin rebahan sejenak, menikmati tidur siang singkat sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Namun, baru beberapa detik Theo menutup mata, ia mulai menggelengkan kepala.
"Ck…! Mengganggu saja!" Dengus Theo. Dengan ekspresi wajah kesal. Tapi masih tak beranjak dari tempatnya. Mempertahankan posisi rebahan santai menutup mata.
Beberapa saat setelah dengusan Theo, sekelompok Knight berpakaian khas Bandit Gurun, muncul di sekitar lokasi ia sedang rebahan santai. Membentuk satu formasi mengepung.
"Bocah! Kami adalah kelompok Bandit Langit Hitam dari wilayah Gurun Kematian!" Ucap seorang pria yang memiliki perawakan besar penuh otot. Tak lain adalah Boss Besar kelompok Bandit Langit Hitam.
"Hmmmm… Apa yang di lakukan kelompok Bandit Gurun Kematian di wilayah Gurun Lima Warna ini?" Tanya Theo. Masih tanpa membuka mata.
"Jangan bilang kalian adalah kelompok pengecut yang sudah tak tahan dengan kerasnya persaingan di Gurun Kematian, sehingga memilih kabur ke wilayah Gurun Lima Warna yang lebih lemah!" Tambah Theo cepat. Sebelum Boss Besar Bandit Langit Hitam sempat menjawab pertanyaannya yang pertama.
Mendengar kata-kata hinaan dari Theo, ditambah lagi melihat sikap santainya yang seperti tak menganggap kehadiran kelompok Bandit Langit Hitam saat ini sebagai ancaman sama sekali, ekspresi Boss Besar segera berubah menyeramkan.
"Bocah! Kau hanya mencari kematian!" Bentak Boss Besar Bandit, mulai mengepalkan kedua tinjunya dengan sangat keras.
"Aku mencari kematian? Terbalik! Maju satu langkah, maka kupastikan dewa kematian yang akan mencari kalian!" Jawab Theo. Kini mulai membuka mata.
"Kucincang kau dengan tanganku sendiri!" Teriak Boss Besar Bandit. Merasa sudah tak tahan lagi, tanpa menunda, ia mengeluarkan senjatanya yang berupa Golok besar. Kemudian menerjang cepat kearah Theo.
Melihat hal tersebut, Theo kini justru memasang ekspresi wajah antusias. Dari aura yang keluar dari tubuh lawan yang sedang menerjang kearahnya, meskipun tak bisa melihat dengan pasti, Theo bisa menduga bahwa Boss Besar Bandit Langit Hitam ini pastilah seorang King kelas tinggi. Setidaknya paling rendah adalah King tahap Langit.
"Asmodeus! Waktunya bermain!" Gumam Theo. Seraya mengeluarkan pedang kembar Asmodeus dari dalam tatto segel.
Dengan seringai lebar yang kini mulai menghiasi wajahnya. Theo menatap tajam kearah Boss Besar Bandit Langit Hitam, tampak sudah tak sabar untuk melakukan pertarungan pertama dalam Kelas King.
----
"Segel mistis!"
*Woooshhhh...!!!
"Kalian tau harus apa dengan jempol ditangan kalian!"