
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
"Bagaimana kau ingin mati?" Gumam Theo dingin. Percikan 6 jenis atribut Mana, kini mulai samar berderak di sekitar tubuhnya.
Pertanyaan Theo, membuat Gahui mengerutkan keningnya. "Sekali lagi, siapa kau?" Tanya Gahui.
Boss Besar kelompok Bandit Kumbang Gurun ini tampak bersikap hati-hati. Bagaimanapun juga, hawa membunuh yang saat ini di keluarkan oleh pemuda di hadapannya, terasa sangat tak biasa, hanya bisa di dapat dari orang yang telah membantai ribuan nyawa.
Sebuah pemikiran yang sebenarnya cukup tepat. Karena dalam proses menaklukan empat gerbang dosa, Theo yang harus menjalani kehidupan lain penuh lumuran dosa selama ratusan tahun, telah membantai ribuan nyawa.
Hal inilah yang menyebabkan Theo selalu tak memiliki keraguan sama sekali tiap membunuh lawannya. Sekeji apapun cara yang ia gunakan untuk membunuh, ia tetap akan melakukannya tanpa berkedip.
Gahui mulai menerka identitas Theo, dimana mungkin adalah salah satu orang penting dari sebuah kelompok besar. Dan dari hawa membunuh pekat yang dimiliki oleh pemuda tersebut, Gahui cenderung memiliki dugaan bahwa Theo adalah salah satu pembunuh kelas tinggi dari Dark Guild.
Oleh sebab itu, Gahui yang tak ingin menyinggung suatu kelompok besar, terlebih adalah Dark Guild yang terkenal kejam, memilih bersikap hati-hati. Sebelum bisa memastikan dengan benar identitas pemuda tersebut, ia tak berani bergerak sembarangan.
"Zota, bagaimana kondisi Yaseya?" Tanya Theo tiba-tiba. Mengabaikan pertanyaan Gahui.
Mendengar pertanyaan tersebut, Zota yang dari tadi sudah menatap Theo dengan pandangan mata bergetar, benar-benar tak menyangka bahwa Boss Besarnya akan bergegas langsung datang sendiri kemarkas musuh malam itu juga. Kini segera menoleh kearah Yaseya yang tampak pucat pasih. Mengeluarkan banyak darah segar setiap kali mengambil nafas.
"Boss! Ia masih bertahan! Tapi perlu segera mendapat perawatan! Tubuhnya kehilangan banyak darah!" Jawab Zota.
Jawaban Zota, membuat sorot mata Theo berubah semakin menyeramkan. Hawa membunuh juga bertambah intens. Ia kini kembali menatap kearah Gahui.
Melihat tatapan tersebut, Gahui yang kini telah bisa memastikan identitas Theo dari obrolannya dengan Zota, segera memandang balik dengan tatapan remeh. Sikap hati-hatinya menghilang seketika.
"Hehe…! Kukira siapa? Aku bahkan sempat menduga kau adalah salah satu orang penting dari Dark Guild, ternyata Boss Besar kelompok Bandit Serigala yang tak penting!" Ucap Gahui. Sambil memasang senyum menghina.
"Begini saja! Karena kau telah repot-repot datang kesini seorang diri atas kemauan sendiri, bagaimana jika aku memberimu satu pertunjukan spesial! Anggap ini sebagai satu salam penyambutan dariku!" Gumam Gahui. Senyum lebar mengerikan kini tersungging di wajahnya.
Kata-kata Gahui, disambut Theo dengan mulai mengerutkan kening. Dan bersamaan dengan kerutan kening di dahi Theo, Gahui secara tiba-tiba kembali mengangkat goloknya. Dalam satu lompatan, mengarahkan golok yang telah ia genggam, tepat menuju leher Yaseya.
Menyadari apa yang akan dilakukan oleh Gahui, sepersekian detik sebelum golok Gahui menyentuh leher Yaseya, Theo dengan cepat mengaktifkan sepatu kilat.
*Bzzzzzttt….!!!
Ia bergerak cepat menuju lokasi dimana Yaseya berada. Namun….
*Bammmm….!!!!
Laju Theo tiba-tiba terhenti ketika ia membentur dengan keras satu formasi bertahan transparan yang ternyata terpasang menyelimuti seluruh kemah besar kelompok Bandit Kumbang Gurun.
Dan, tepat ketika suara benturan keras terdengar….
*Slaaaassshhh…!!!!
*Tukk….!!!
Satu suara tebasan yang diakhiri dengan jatuhnya sesuatu membentur tanah, kini menyebabkan suasana menjadi hening. Kepala Yaseya tertebas, menggelinding pada tanah tepat di bawah tiang yang menyangga tubuhnya.
"B*jingaaaaannn…..!!!!!"
Suasana hening pecah saat Zota yang berada tepat di sebelah Yaseya, berteriak penuh amarah. Menatap dengan tatapan penuh nafsu membunuh kearah Gahui.
"Hahahhahhaa….!!! Itu dia! Pertunjukan yang sebentar! Ekspresi wajah yang sungguh membuatku bergairah!" Ucap Gahui, begitu melihat ekspresi wajah penuh amarah Zota. Ia tertawa lantang sembari membersihkan noda darah pada bilah goloknya.
Tawa Gahui, segera disambut dengan tawa lantang seluruh anggota kelompok Bandit Kumbang Gurun yang lainnya. Mereka tampak benar-benar menikmati pertunjukan pada jamuan makan malam itu.
Ia dari tadi justru terus menatap kearah langit. Dimana Theo saat ini sedang dalam kondisi diam menatap kepala Yaseya. Dari pertama kali kemunculannya, Etna terlihat terus memandang Theo seolah sedang memastikan sesuatu.
*Woooshhhh….!!!
Suasana dalam kemah besar kelompok Bandit Kumbang Gurun masih penuh gelak tawa, sampai kemudian, satu hembusan angin kencang yang disertai dengan kilatan cahaya emas, tampak muncul diatas langit.
Glory Land Warship yang terbang dengan kecepatan penuh membawa seluruh anggota kelompok Bandit Serigala, telah sampai di lokasi.
"Boss! Maaf sedikit lambat!" Ucap Thomas. Dari atas dek kapal perang.
*Boooommmm….!!!
Kata-kata Thomas, nyatanya disambut oleh ledakan atribut enam elemen Mana pada tubuh Theo. Ia kini berubah kedalam mode Rage buatan. Terlebih, rage buatan yang di eksekusi Theo kali ini, bukan rage buatan biasa, melainkan rage buatan absolute.
Selain enam atribut Mana, Theo mengaktifkan empat gerbang dosa, membuat empat senjata bentuk manifestasi dari masing-masing gerbang, kini terbang melayang di belakang punggungnya.
Selain itu, aliran medan Gravitasi juga mulai terbentuk disekitar tubuhnya. Eye of Agamoto bersinar terang pada keningnya. Diakhiri Joy kecil terbang keluar dari dalam tatto segel, mendarat di pundak Theo.
Kondisi Theo kali ini, sama seperti ketika ia mengamuk pada perang besar di wilayah Hutan Pinus Beku. Tepat ketika menyadari Aria dan Arthur mati di saat hampir bersamaan.
"Boss!" Gumam Thomas. Dengan mata bergetar saat melihat kondisi Theo yang bagaikan dewa Surgawi dan Raja iblis neraka di saat bersamaan.
Bukan hanya Thomas, seluruh wakil pemimpin yang kini sedang berdiri di dek kapal perang bersamanya, mulai merinding saat melihat Boss Besarnya. Merasa beruntung tak harus menjadi lawan Theo yang dalam kondisi seperti itu.
"Eye of Agamoto yang legendaris! Tak salah lagi! Dia adalah orang itu!" Gumam Etna dengan mata terbuka lebar.
"Ini buruk! Kita menyinggung orang yang salah! Aku harus segera memberi informasi ini kepada Boss Besar!" Gumam Etna. Kemudian segera mengambil posisi berdiri. Sebelum dengan cepat mengeluarkan aliran Mana Kegelapan dari dalam tubuhnya. Mengeksekusi satu teknik yang mana membuat sosoknya menghilang di telan kegelapan.
Disisi lain, ketika setiap orang masih memandang kearahnya dengan tatapan bergetar, Theo yang telah menjadi satu sosok mengerikan. Mulai mengucapkan sesuatu.
"Thomas! Kali ini tak ada dua pilihan! Musnahkan semua!" Gumam Theo. Tanpa menoleh kearah Thomas. Masih melihat kearah kepala Yaseya.
Tepat ketika Theo menyelesaikan kalimatnya, tanpa banyak bicara lagi, ia melakukan satu gerakan tangan. Mengarahkan Palu Raksasa Belphegor untuk menghujam formasi bertahan kemah besar kelompok Bandit Kumbang Gurun.
*Baaaammmmm….!!!
*Bammmm….!!!
*Bammmmm….!!!!
Mendengar kata-kata Theo, seluruh wakil pemimpin kelompok Bandit Serigala segera ikut melihat kearah yang tadi di tatap Boss Besarnya. Dan begitu melihat kepala Yaseya, kini mereka mulai menyadari apa yang menyebabkan Boss Besarnya begitu marah.
"B*jingann….!!!!" Teriak Oscana. Segera berubah kedalam mode Meridian Knightnya. Maju menerjang kedepan.
"AAARHHHHGGGG…..!!!! Kalian harus mati!" Bersamaan dengan langkah Oscana, teriakan parau terdengar dari salah satu puncak perbukitan. Yahuwa yang sebelumnya di turunkan Theo, kini ikut menerjang maju.
*Bammmmm….!!!
*Pyaaaarrr….!!!!
Bertepatan dengan majunya Oscana dan Yahuwa, Palu Raksasa Belphegor akhirnya berhasil memecah formasi bertahan.
*Woooshhhh….!!!!
*Bammmmm….!!!
Dengan pendaratan berat, Theo menerjang terlebih dahulu memasuki wilayah kemah besar. Menghancurkan apapun itu yang berada di sekitar wilayah pendaratannya.
----
Note :
Dalam dua hari ini saya cukup sibuk. Jadi, satu chapter lainnya untuk sementara spin off. ^^