Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
Bahan Obat


"Kau gila, itu adalah tubuh Demonic Beast yang disebut Hydra dari desa sebelumnya!" Aria berteriak kaget ketika melihat Theo mengeluarkan tubuh Hydra.


Tubuh Hydra yang dihadapan Aria kali ini, sudah tak begitu utuh lagi, selain keenam kepalanya sudah tak ada, bagian dada makhluk ini juga terlihat sedikit membusuk. Namun tetap saja, tubuh raksasa Hydra menginisiasi rasa takut bagi siapapun yang melihatnya.


"Hmmm, gila apanya? Dan kenapa kau takut seperti itu?" Jawab Theo, terlihat heran dengan reaksi Aria.


"Kau gila!" Aria kembali memaki Theo.


"Kau tahu apa yang bisa dilakukan tubuh makhluk ini pada desa sebelumnya kan? Kenapa kau membawanya?"


Mendengar hal itu, Theo malah memandang Aria dengan tatapan remeh, kemudian dia mulai berdiri dan berjalan mendekati tubuh Hydra. Sementara Aria, memandang ngeri apa yang sedang di lakukan Theo.


Setelah sampai di lokasi tubuh Hydra, Theo menyentuhnya, kemudian menoleh kearah Aria. "Sekarang ini hanya tubuh kosong, sama sekali tak berbahaya, aku sudah mengekstrak semua racun sisa di dalamnya."


"Dan lagi, dengan tak adanya Kristal Beast, jiwa sisa yang bersemayam di dalamnya juga sudah menghilang." Kata Theo.


"Jika kau masih tak percaya..."


"Mammon keluarlah!" Theo tiba-tiba memanggil Mammon.


Tatto lengan kiri Theo bercahaya sebentar, kemudian seberkas cahaya terbang keluar.


"Master kau memanggilku?" Tanya Mammon, tanpa Ekspresi.


Melihat Mammon, Aria tiba-tiba merasa sedikit ngeri. Saat ini, wujud Mammon yang di panggil Theo, tak seperti terakhir ia melihatnya.


Mammon memiliki enam ekor raksasa yang terlihat tak sebanding dengan ukuran tubuh kecilnya, enam ekor ini juga memiliki enam warna yang berbeda. Bentuk keenam ekornya sama persis dengan milik Hydra.


Tubuh Mammon juga sekarang menjadi dominan warna hijau. Selain itu, ia memiliki enam buah mata kecil di wajahnya. Mammon tampak seperti kombinasi miniatur antara iblis dan Hydra. Aneh sekaligus menyeramkan.


"Apa-apaan? Dia makhluk yang kau panggil sebelumnya? Kenapa wujudnya menjadi seperti itu?" Tanya Aria, dengan ekspresi takut.


"Yah dia bocah yang sama." Jawab Theo.


"Tubuhnya berubah karena dia telah menyerap Kristal Beast dari Hydra. Sekarang kau sudah paham kan? Tubuh Hydra yang ada di hadapanmu tidak lagi berbahaya, karena semua hal menakutkan yang ada di dalamnya sebelum ini, telah kusingkirkan." Kata Theo menutup penjelasannya.


"Lalu untuk apa kau masih membawa tubuh menyeramkan ini kemana-mana?" Tanya Aria lagi.


"Kenapa kau cerewet sekali? Setiap pertanyaan yang kujawab, selalu berlanjut dengan pertanyaan lainnya? Kapan ini akan berakhir?" Dengus Theo, mulai kesal.


"Diam, jawab saja, apa susahnya!" Bentak Aria.


"Hahhh… kau bodoh atau apa? Meskipun sudah kosong, setiap bagian tubuh makhluk ini adalah harta, kenapa juga aku harus meninggalkannya?" Jawab Theo.


"Lagi pula, ada satu bagian dari tubuh ini yang bisa digunakan untuk menetralkan racun di dalam tubuhmu."


"Selain itu, ketika aku selesai mengurus makhluk ini, aku menemukan Jamur serbuk racun yang langka tumbuh di sekitarnya."


"Kau beruntung karena Jamur ini juga salah satu bahan dari obat yang bisa digunakan untuk racunmu!"


"Jamur ini adalah salah satu tanaman kelas Ilahi yang susah di temukan, hanya akan tumbuh di lingkungan penuh racun selama ratusan tahun. Secara tak langsung, makhluk menyeramkan yang kau takuti ini, adalah dewa penolongmu!"


"Secara umum akan agak susah dan memerlukan waktu yang lama untuk menemukannya, karena racun elemen petir tergolong langka."


"Namun, aku punya satu ide brilian, meskipun agak gila. Dan itu lagi-lagi akan memerlukan bantuan dari sisa-sisa makhluk ini. Sekarang kau sudah mengerti?" Kata Theo menutup penjelasannya.


"Hmmm… kau bodoh atau apa? Setelah penjelasan panjang lebarmu, kau masih belum menjawab pertanyaanku diawal. Bola apa yang sedang kau buat?" Tanya Aria geram.


"Aaarghhhhhh……." Theo mulai menjambak rambutnya. Frustasi.


"Bola-bola ini adalah metode formasi yang kupelajari dari desa tersembunyi, dan serbuk hijau itu adalah sisa gas racun Hydra yang telah kuekstrak menggunakan metode racun yang juga kupelajari dari desa tersembunyi."


"Jika keduanya digabungkan, akan tercipta senjata rahasia yang sangat berguna. Aku berencana menggunakannya untuk melawan Ular Petir Ungu yang meracunimu sebelumnya." Jawab Theo.


"Melawan Ular itu lagi? Apa kau sudah gila?" Bentak Aria.


Mendengar Aria memakinya lagi setelah semua permintaan penjelasan yang ia minta sudah dituruti, Theo menjadi semakin kesal.


"Apa tak ada kata lain yang bisa kau ucapkan selain gila? Apa persediaan kosa katamu hanya sebatas itu saja?" Bentak Theo. Tak tahan.


"Yahh kau gila! Kau gila! Kau gila!" Bentak Aria lagi.


"Kauu…" Theo hendak menanggapi, namun Aria memotongnya.


"Kau tahu makhluk itu sangat berbahaya, jadi kenapa kau masih mau menghadapinya lagi? Lebih baik kita menghindarinya!"


"Meskipun kau merasa kuat dan pintar, tetap saja kau harus menyayangi nyawamu? Kenapa kau di butakan oleh keserakahan untuk mencari kekuatan hingga segitunya?" Bentak Aria.


Mendengar hal itu, Theo tampak makin kesal.


"Kauu… sudah kubilang bahan terakhir dari obat untuk racunmu adalah sampel racun elemen petir. Dan bila racun itu ada di hadapanmu, kenapa kau harus mencari lagi di tempat lain?"


"Akan lebih baik menggunakan racun yang sama, itu akan lebih efektif. Lagi pula kita tak tahu sampai kapan segel yang kubuat bisa menahan racun dalam tubuhmu!" Bentak Theo balik.


Mendengar kata-kata Theo, Aria yang hendak kembali membantah tiba-tiba terdiam. Ternyata kesibukan Theo dalam beberapa hari ini membuat bola-bola formasi, dan alasan dia ingin menghadapi Ular Petir Ungu, bukan karena keserakahan dirinya sendiri. Tapi untuk kesembuhannya.


Aria tak menyangka, Theo yang selama ini terlihat bersikap tak perduli, nyatanya selalu memikirkan cara untuk menghilangkan racun yang ada di dalam tubuhnya. Dan dalam prosesnya dia mau mempertaruhkan nyawa sekali lagi untuk menghadapi Ular Petir Ungu yang ganas.


Mau ta mau ia sedikit merasa tersentuh, namun karena harga diri dan gengsi. Dia memutuskan untuk berbalik, tak melihat kearah Theo. Tak lagi menanyakan apapun.


"Hahh, apa lagi sekarang? Kenapa kau diam?" Bentak Theo, melihat sikap aneh Aria.


"Hahhahahha…. Kondisi Anata dalam gerbang nafsu kadang-kadang juga merupakan suatu kerugian, kau menjadi tidak peka terhadap hal paling gampang dilihat ini." Di tengah kebingungan Theo dengan sikap Aria, Tiankong tiba-tiba muncul dengan tawa lantang dan komentar yang menurut Theo aneh.


"Master, apa maksudmu?" Tanya Theo bingung.


"Hahhahaha… Lupakan saja, akan lebih baik kau tetap tak peka, itu akan membuat situasi menjadi tetap menyenangkan untuk hiburanku!" Jawab Tiankong. Kemudian melayang menjauh.


"Hahhh, dasar!" Melihat sikap Masternya, Theo hanya bisa mendengus kesal.


"Master, kau memanggilku?" Sementara Mammon yang dipanggil Theo, kembali bertanya dengan ekspresi datar. Tak tahu alasan kenapa dia dipanggil keluar.