
(Pinggiran Hutan Pinus Beku. Beberapa hari setelah insiden dengan kelompok Bandit Lebah Hitam)
"Nona muda, sebentar lagi kita akan keluar dari wilayah Hutan Pinus Beku."
Suara Master Estro membangunkan Aria yang sedang tidur di dalam kereta.
"Ohh.. begitu? Setelah ini berhenti membangunkanku bila memang tak ada yang benar-benar penting!" Dengus Aria, terlihat sedang dalam mood yang tidak baik.
"Ahh… maafkan saya! Saya tidak tahu kalau anda sedang tidur." Jawab Master Estro buru-buru.
Kalau saja dia tahu Aria sedang tidur, tak akan ada keberanian baginya membangunkan Aria. Dia sangat memahami sifat nona mudanya ini, bila ada orang yang membangunkannya dari tidur, maka moodnya akan tidak baik selama seharian penuh.
"Sudah, lupakan! Ngomong-ngomong, dimana bocah berandal itu?" Tanya Aria.
"Kalau maksud anda adalah Theo, dia sedang berada di depan rombongan. Seperti biasa, dia bilang ingin melakukan penjelajahan." Jawab Master Estro.
"Hmmmm… dasar manusia udik!" Dengus Aria. Sejurus kemudian dia melompat keluar dari dalam kereta.
"Nona muda, mau kemana?" Tanya Master Estro dengan ekspresi khawatir.
"Aku ingin meregangkan otot-ototku, tidur seharian membuat tubuhku kaku!" Jawab Aria. Kemudian mulai melompat kearah depan rombongan.
"Tunggu dulu, aku akan menyiapkan pengawal untukmu!" Teriak Master Estro.
"Tidak, jangan ada yang mengikutiku! Bahkan kau juga! Jangan ikuti aku!" Bentak Aria.
"Tapi nona muda…."
"Diam! Sudah jangan cerewet!" Bentak Aria lagi dari kejauhan, terlihat mulai kesal.
"Baik..!"
Melihat nona mudanya sudah dalam mood yang tidak baik, Master Estro tak berani lagi membantah. Namun tetap saja, secara diam-diam dia memerintahkan dua pengawal untuk mengikuti Aria secara diam-diam.
***
(Jauh di depan rombongan.)
*Boommmm…..
Suara ledakan ringan terdengar, bersamaan dengan ledakan ringan tersebut, seekor Spirit Beast berbentuk tikus tanah raksasa terpental jauh, kemudian jatuh tergeletak ketanah tak bernyawa.
"Hahhahaha… satu poin lagi, berarti sekarang score nya 20-5 untuk keunggulanku!" Kata Theo.
"Hmmmm…. Ini sangat menyebalkan! Boss, bagaimana kau bisa mengatur kepadatan atribut kegelapanmu dengan begitu stabil?" Tanya Arthur yang terlihat berdiri di sebelah Theo.
"Ohh, kau cepat belajar! itu benar, aku bisa melempar dengan efisien dan tepat sasaran karena memang atribut kegelapanku kupadatkan dengan sangat stabil." Jawab Theo.
"Bagaima kau melakukannya?" Tanya Arthur.
Dalam beberapa hari ini, setelah bersama Theo, dan karena terus menerus dibuat Theo kalah dalam adu berbagai kompetisi, Arthur mulai mengakui dan memandang Theo lebih tinggi darinya. Sekarang dia dengan ikhlas dan tanpa paksaan mau memanggil Theo dengan sebutan Boss.
Dia bahkan cenderung bersikap seperti adik kecil yang manja, terus menerus bertanya kepada Theo tentang ini dan itu. Terlihat sangat penasaran dengan berbagai hal baru yang ia temui.
"Itu ada di panduan dasar nomer lima, dalam manual teknik yang kuberikan padamu, coba periksa! Disana disebutkan cara bagimana kau bisa mengontrol dan memadatkan atribut kegelapanmu."
"Ohhh…" Mendengar itu, Arthur segera membuka manual teknik yang sebelumnya di berikan Theo padanya.
"Emmm… jadi begini, dan dilanjutkan seperti ini.." Arthur belajar dengan cepat, sambil membaca dia juga mempraktekkannya langsung.
"Benar begitu, itu sudah cukup padat dan stabil." Kata Theo, ketika melihat Dark Ball sederhana ciptaan Arthur.
"Ternyata tak terlalu sulit." Jawab Arthur, terlihat antusias.
"Yah memang, kau saja yang malas membaca!" Dengus Theo.
"Hehhehe…. Begitu ya boss."
"Sekarang coba serang tikus-tikus itu lagi!" Theo memberi intruksi sambil menunjuk gerombolan Spirit Beast berbentuk tikus tanah yang berada tak jauh di depan mereka.
"Ciiit…. Ciittt…. "
*Booommmm…..!
Namun, tak sempat Arthur melempar Dark Ballnya, ledakan tiba-tiba terdengar. Ledakan yang berbentuk gelombang es ini, mengacaukan kumpulan Spirit Beast tikus tanah, sebagain besar membeku dalam sekejab, sebagian lain yang selamat berhamburan melarikan diri ke berbagai arah.
"Apa-apaan, siapa itu?" Bentak Arthur marah, ketika melihat gerombolan tikus targetnya, membeku dan kabur.
"Hmmm… apa yang kau lakukan disini!" Lain Arthur, Theo malah bertanya sambil melihat ke salah satu bagian sudut hutan.
Tak lama kemudian, sosok Aria keluar dari arah yang dilihat oleh Theo.
"Hmmm… tidak apa-apa, aku hanya bosan, memangnya tidak boleh aku ada disini?" Dengus Aria dengan ekspresi cemberut.
"Tidak boleh! Kau mengacaukan kompetisi, lihat tikus-tikus itu! Dasar wanita menyebalkan! Kau ngapain sih sebenarnya!" Bentak Arthur, terlihat sangat kesal.
"Kau… kau berani membentakku? Kau berani?" Bentak Aria balik kepada Arthur, dia kini telah mengeluarkan dua pisau kecilnya.
"Kenapa juga aku tak berani? Kau nona muda manja yang kerjanya hanya tidur saja seharian!" Bentak Arthur lagi, terlihat tak takut sama sekali.
"Kurang ajar! Kau yang manusia udik, selalu bertanya tentang semua hal! tak tahu apapun! Dasar udik!!" Bentak Aria. Tak mau kalah.
"Kau…." Arthur yang merasa tak terima di katai udik, ingin membalas ganti. Namun Theo segera menghentikannya.
"Sudah… sudah.. lupakan saja, tak ada habisnya kau berdebat dengannya!" Kata Theo, sambil menahan pundak Arthur yang terlihat siap melompat kearah Aria.
"Tapi boss.. gadis ini sungguh menyebalkan! Kenapa kau bisa tahan beberapa hari ini dengannya!" Tanya Arthur, masih terlihat tak terima.
"Apa kau bilang? Coba ucapkan lagi? Kau yang menyebalkan!" Bentak Aria balik, tak terima dengan kata-kata Arthur.
"Dan kau, apa maksudmu tak ada habisnya tadi? Kau mau bilang aku ini cerewet?" Kali ini Aria melanjutkan dengan membentak Theo.
"Kenapa aku juga kena bentakanmu! Kau ini sedang sakit atau apa? Apa kepalamu habis terbentur sesuatu?" Bentak Theo balik, dia merasa tak paham kenapa gadis ini tiba-tiba marah tak jelas, begitu dia muncul.
"Kauu...." Aria hendak membentak Theo lagi, namun tiba-tiba tatto dipunggung tangan kanan Theo menyala terang dengan warna perak.
*Wooosshhh….
Suara angin ringan terdengar sesaat setelah nyala cahaya perak meredup, bersamaan dengan itu, Joy Kecil terbang keluar dari dalam tatto.
"Tuuu……!!"
Joy kecil segera memberi salam lugu kearah Theo begitu dia keluar, kemudian dengan ringan mendarat di pundaknya.
"Ohhh... Joy Kecil, sudah lapar lagi?" Tanya Theo sambil mengelus lembut kepala mungil Joy Kecil.
"Tuuuu…. Tuuu… tuuu….!!"
Joy kecil mengannguk penuh semangat. Terlihat sangat imut dan lucu.
"Joy kecil! lihat-lihat sini! paman Arthur ada disini. Cepat kesini, sebelum penyihir wanita itu merebut dan menyiksamu dengan pelukannya!" Kata Arthur.
"Penyihir wanita? Apa maksudmu?" Bentak Aria.
"Jangan dengarkan dia, Joy kecil, cepat kesini, mama akan memberimu pelukan hangat manja." Kata Aria, berusaha meraih Joy Kecil di pundak Theo. Moodnya terlihat kembali baik begitu Joy Kecil muncul.
"Tuu…. Tuuu… tu…. "
Melihat Joy Kecil diperebutkan oleh kedua orang di hadapannya, Theo segera menyela.
"Sudahh… kalian ini, terus saja memperebutkan Joy kecil dalam beberapa hari ini! Biarkan dia makan dulu, setelah itu kalian boleh bertengkar lagi! Lihat, dia merasa tak nyaman!" Dengus Theo, sejurus kemudian membawa Joy kecil menjauh.
"Aarrgggg… boss.. jangan begitu, biarkan aku melihat dia makan!" Arthur segera mengikuti di belakang Theo.
"Kau, bocah menyebalkan! Jangan dekati Joy kecil, kau hanya memberi pengaruh buruk padanya!" Bentak Aria, kini juga mulai mengikuti kemana Theo dan Arthur pergi.
"Siapa yang kau sebut bocah?" Mendengar Aria menyebutnya bocah, Arthur mengehentikan langkah kakinya.
"Hahhh….." Sementara Theo, yang menyadari akan ada perkelahian lagi antara Arthur dan Aria, hanya bisa mendengus. Kemudian pergi menjauh tak memperdulikan keduanya.