Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
321 - Mulut Yang Tajam


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


"Apa yang terjadi?" Ucap Bethany, saat melihat serangan pasukan aliansi disisi barat dan timur tiba-tiba terhenti.


Bukan cuma itu saja, dua sisi tersebut, kini tampak sedang dalam situasi kacau. Berbagai teriakan kesakitan diiringi dengan ledakan-ledakan dahsyat terdengar lantang menggema.


"Kakak! Sepertinya kita mendapat serangan menyelinap dari arah belakang!" Jawab Legalus.


"Hmmmm…! Siapa yang berani melakukannya! Padahal tinggal selangkah lagi kita akan bisa membuat House Braveheart rata dengan tanah!" Gumam Bethany, ekspresi wajahnya kini tampak sangat menyeramkan.


Bertepatan dengan kalimat yang diucapkan Bethany, dua orang Knight pemantau medan pertempuran House Estrabat mendarat tak jauh dihadapannya.


"Nona muda! Ini gawat! Sisi Barat mendapat serangan tiba-tiba dari sekolompok Knight misterius berpenampilan serba hitam!" Ucap salah satu pemantau.


"Sisi timur diserang oleh tiga orang Knight! Namun ketiganya memiliki kekuatan yang tak biasa! Salah satunya bahkan mempunyai Spirit Beast Kontrak dengan kekuatan diluar nalar!" Sahut pemantau lainnya.


"Knight misterius berpakaian serba hitam?" Gumam Bethany.


"Itu benar! Kelompok Knight misterius ini tampak sangat ahli dalam melakukan pembunuhan! Gerakan mereka sangat rapi dan efisien! Ditambah juga, pada teknik yang digunakan kelompok ini, aku merasakan sedikit riak aura Kegelapan! Jadi, mungkin saja mereka adalah…."


"Dark Guild! B4jingan! Kenapa selalu saja ikut campur! Bukankah mereka adalah kelompok netral!" Dengus Bethany.


"Terlebih lagi, serangan ini benar-benar menyasar tepat pada dua sisi paling lemah dalam formasi mengepung pasukan aliansi!" Sahut Legalus.


"Pasti ada satu orang yang memiliki mata tajam dimana menjadi pusat komando serangan! Orang ini mampu melihat sisi timur dan barat adalah yang paling lemah!"


"Karena tiga kekuatan utama pasukan aliansi, berada di sisi lain, House Frozenie dan House Whitesmoke di selatan, sementara kita di utara!" Tambah Legalus.


Dalam kekesalannya, Bethany yang mendengar penjelasan Legalus, tampak masih sangat marah, sampai kemudian, ia tiba-tiba mulai mengerutkan kening.


"Katakan padaku, apa ada seorang pemuda berambut putih pada kelompok yang melakukan serangan menyelinap!" Tanya Bethany.


Pertanyaan yang membuat Legalus segera memasang ekspresi wajah serius. Memahami kenapa Bethany menanyakan hal tersebut.


"Ahhh… Itu, salah satu dari tiga orang penyerang di sisi timur memang adalah seorang pemuda berambut putih!" Jawab salah satu pasukan pemantau cepat.


"Hahhaha…. Hahhahahha…. Hahahaha…! Akhirnya! Aku berniat menghancurkan House Alknight dan mencarimu setelah meratakan House Braveheart! Tal kusangka, kau malah dengan sangat berani menghampiriku!"


"Legalus! Kau urus pengepungan ditempat ini! Aku akan membuat perhitungan dengan b4jingan itu! Kali ini, aku benar-benar tak akan melepaskannya!" Ucap Bethany, tanpa menunggu jawaban dari Legalus, segera bergerak cepat meninggalkan lokasi. Menuju kearah timur.


"Kakak! Hati-hati dan jangan lengah!" Teriak Legalus lantang. Entah kenapa ia justru mendapat firasat buruk saat melihat Bethany meninggalkan tempat.


***


(Sisi Timur)


*Slaaaassshhh…!!!


*Slaaaassshhh….!!!


*Slaaaassshhh….!!!


Menggunakan pedang kembar Asmodeus di tangannya, ditambah dengan teknik gerakan langkah siput yang licin serta aktifnya Eye of Agamoto pada keningnya. Theo melakukan pembantaian kejam pada setiap lawan yang berdiri hadapannya.


Leher, tangan, kaki, dada, setiap bagian tubuh, tak ada yang lepas dari tebasan Theo. Gerakan-gerakan yang ia eksekusi begitu kejam dan mendominasi, tanpa cela.


Hal ini membuat Theo yang sedang melakukan pembantaian, dengan seringai lebar serta ciptrakan darah segar pada wajahnya, terlihat bagaikan dewa iblis di mata lawan-lawannya. Bukan hanya lawan, bahkan Hella dan Gerel juga di buat merinding dengan setiap aksi dan ekspresi wajah Theo.


Kedua gadis ini bahkan lupa untuk membantu. Hanya berdiam diri di tempatnya masing-masing sambil melihat kekejaman Theo. Merasa bersyukur meskipun pernah menjadi lawan Theo, keduanya tak pernah berhadapan dengan Theo dalam versi dewa iblis kejam seperti yang sedang mereka saksikan saat ini.


*Sriiinggg…!!!


*Sriiinggg….!!!


Theo masih asyik dengan pembantaian yang sedang ia lakukan sampai kemudian beberapa senjata rahasia terbang cepat menuju kearahnya. Menyasar pada bagian punggungnya yang terbuka.


"Awas…!!!"


"Menghindar…!"


Melihat hal tersebut, Hella dan Gerel yang menyadari datangnya serangan menyelinap, hampir secara serentak berteriak mengingatkan.


*Traang…!!!


*Traang….!!!


*Tranggg….!!!


Namun, seperti mempunyai mata pada punggungnya. Tepat sebelum senjata-senjata rahasia tersebut mendarat, Theo melakukan gerakan gesit berbalik kebelakang. Tanpa berkedip sedikitpun dengan ringan menangkis semua senjata rahasia menggunakan pedang kembarnya.


"Cukup cekatan! Hahahah…!!!" Ucap seorang wanita bertangan buntung yang kini berdiri tak jauh di hadapan Theo.


"Senjata rahasia beracun! Menyerang secara tiba-tiba dari arah belakang! Wajah yang tampak sombong dan tak punya malu! Biar kutebak, kau adalah salah satu sampah dari House Estrabat!" Ucap Theo. Masih dengan seringai lebar di wajahnya.


"Mulut yang tajam! Aku sudah tak sabar untuk menggores dan merobeknya!" Jawab Bethany.


"Boss! Kalau tak salah ia adalah Bethany Estrabat! Nona muda pertama dari House Estrabat yang terkenal sinting dan keji!" Seru Hella. Menyampaikan identitas Bethany pada Theo.


"Ohhh… Nona muda pertama House Estrabat? Bethany ya? Jadi itu kau yang sebelumnya membuat Jasia sampai mengeksekusi teknik Rage buatan?" Gumam Theo.


"Jasia? Wanita api itu? Terakhir kulihat dia sudah sekarat! Sungguh di sayangkan aku tak bisa meneruskan siksaan yang kulakukan padanya sampai akhir!" Jawab Bethany. Dengan senyum mengerikan di wajahnya.


"Aku bisa memahami apa yang kau rasakan! Jika bisa mengulang kembali, aku juga tak akan terburu-buru membunuh adikmu Lagor! Kematiannya sungguh terlalu cepat!" Jawab Theo.


"Ngomong-ngomong, apa kepala adikmu yang kuantar sebelumnya sudah di kubur dengan layak? Maaf karena cuma bisa mengembalikan kepala! Karena tubuhnya sudah kujadikan sebagai makanan Serigala liar!" Lanjut Theo, seringai lebar di wajahnya semakin mengembang.


Mendengar perkataan Theo, Bethany yang biasanya selalu memasang sikap tenang dan berfikiran keji, kini tampak mulai menggerakkan gigi-giginya.


"B4jingan! Mulutmu itu ternyata lebih kurang ajar dari pada Lucius! Biar kurobek sekarang juga!" Bentak Bethany, seraya mulai melakukan segel tangan.


Tak lama kemudian, selesai Bethany membuat segel tangan. Tatto kontrak di leher kanannya mulai menyala terang. Diiringi dengan seberkas cahaya hijau melompat keluar dari dalamnya.


*Baaammmm…!!!


"Tssaaahhhhh…..!!!!"


Seekor Spirit Beast berbentuk siput raksasa dengan cangkang berwarna hijau tua kini mendarat tak jauh dihadapan Bethany.


"Siput Cangkang Hijau berlendir! Salah satu Spirit Beast dengan racun paling berbahaya!" Gumam Theo, begitu melihat makhluk yang tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Perlu bantuan?" Tanya Gerel.


Sebagai seorang tuan dari Guardian Beast Grey Snake, Gerel merasa tertantang saat melihat ada seorang True Knight yang memiliki Spirit Beast kontrak beratribut tambahan racun. Karena bagaimanapun juga, Grey Snake juga memiliki atribut racun.


"Stsaahhhh…!!!"


Seperti mengerti perkataan tuannya, Nagini mulai mendesis keras. Tampak sedikit antusias.


"Tak perlu! Kalian habisi saja lawan-lawan lain di sekitar! Bunuh sebanyak yang kalian bisa! Aku akan menghadapi wanita ini!" Jawab Theo.


"Joy Kecil, keluar!" Gumam Theo kemudian.


Bersamaan dengan gumaman tersebut, tatto segel pada punggung tangan Theo mulai menyala terang dengan warna perak. Sebelum seberkas cahaya perak melompat keluar.


"Tuuu….!!!"


Joy Kecil mendarat pada pundak Theo. Menatap dengan pandangan sayu kearah Spirit Beast berbentuk Siput raksasa di hadapannya.