Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
Spin Off : Jasia - Gua Monyet Api (2)


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


(Beberpa Hari kemudian)


Jasia yang masih berada di dalam gua monyet api liar, kini terlihat tengah berkultivasi dipinggir danau yang dipenuhi oleh rimbunan bunga teratai berwarna merah terang. Sementara di sekitarnya, tergeletak puluhan buah pisang merah darah. Selain itu, para monyet api juga saat ini sedang membentuk posisi melingkar mengelilinginya.


Dalam kondisi berkultivasi, aliran Mana api berbentuk sayap angsa juga terus berkobar di punggung Jasia, dengan paras cantik Jasia, dan dengan ketengangan wajahnya, hal ini membuat dia yang sedang berkultivasi menyajikan pemandangan yang sangat indah. Seperti sebuah lukisan dewi surgawi api, yang tengah dikelilingi oleh makhluk-makhluk penyembahnya.


*Booommmm


Ditengah kondisi tenang nan indah tersebut, suara keras pendaratan tiba-tiba terdengar. Boss monyet api mendarat tepat di depan Jasia, sambil membawa beberapa pisang merah di tangannya.


Kedatangan makhluk raksasa ini segera memecah keheningan, para monyet yang awalnya hanya diam mengelilingi sambil memperhatikan Jasia, kini mulai berteriak ribut.


"Kaahhhh… kaaahhh… kahhhh…."


Sementara Jasia yang juga menyadari kedatangan Boss Monyet ini, perlahan mulai membuka matanya.


"Lagi-lagi kau datang mengganggu! Bukankah persediaan pisangnya masih banyak!" Dengus Jasia, dia merasa kesal karena kultivasinya terganggu.


"Gggrrrrrr…..!!!!"


Sang Boss monyet yang mendengar Jasia memakinya, kini tampak seperti akan mengamuk. Aura api ganas mulai memancar keluar dari dalam tubuhnya.


"Kakkkk…. Kakkkk… kakkkk….!"


Melihat makhluk raksasa ini mulai mengeluarkan auranya, gerombolan monyet lain kembali berteriak ribut, namun kali ini semakin keras dan ramai, mereka terlihat sangat senang, seperti tengah menantikan sebuah pertunjukan yang seru.


"Hmmmm… dasar monyet sinting!" Jasia mendengus pelan, sebelum mulai berdiri.


Dia kemudian mulai mengeluarkan auranya juga, kondisi tempat kultivasi yang penuh dengan segala macam atribut api, membuat Jasia yang merupakan Knight dengan atribut tersebut, seperti menemukan surga.


Hanya dalam beberapa hari berkultivasi di tempat ini, Jasia telah mampu naik ke beberapa tingkatan. Dari Immortal Bumi tahap awal, menjadi seorang Immortal Langit tahap awal.


Dengan naiknya tingkat kultivasi Jasia, kini Mana api berbentuk sayap angsa yang ada dipunggungnya tampak semakin membesar, nyala api pada sayap ini juga berkobar semakin liar.


Sementara itu, melihat Mana api yang terus memancar liar dari tubuh Jasia, Boss Monyet bukannya tampak waspada, tapi justru menunjukkan sikap antusias.


"Grrrr….. kaaahhhh….!!!!"


Teriak Boss monyet lantang, sambil memasang gesture agar Jasia maju menyerangnya. Aura milik Monyet ini juga semakin bertambah kuat setiap waktu.


"Hmmm…. Dasar sinting! Sesuai keinginanmu!" Kata Jasia ketika melihat sikap Boss Monyet di hadapannya.


Dia kemudian mulai mengepakkan sayap api dipunggunya, terbang beberapa meter, kemudian dengan segenap kekuatan maju menerjang kearah Boss Monyet.


Sementara Boss Monyet yang melihat Jasia mulai maju menerjang kearahnya, tampak menjadi lebih antusias lagi.


"Kaaahhhhh….!!!!"


"Kakkk….kakkk…kakkk……!"


Dia kembali berteriak lantang. Diriingi dengan semakin ributnya teriakan-teriakan monyet kecil disekitarnya.


Dan ketika sudah berada tepat di hadapan Boss Monyet, Jasia menyalurkan semua energi Mana Api miliknya kedalam tangan kanannya, membentuk sebuah pedang api raksasa.


"Nikmati ini…!" Dengus Jasia, kemudian mengayunkan pedang api raksasa yang telah selesai ia bentuk.


*Woooshhhh….


Sementara Boss monyet, yang melihat pedang api akan segera menebas dadanya, masih saja memasang wajah antusias, terlihat sama sekali tak ada niatan untuk menghindar. Dia justru membuka kedua tangannya lebar.


"Slaaassshhhh….


Pedang api pun dengan telak mendarat di dada Makhluk ini, membuat sebuah luka goresan dalam, yang masih menyala dengan api liar.


"Hmmmm…..!"


Jasia yang telah selesai melancarkan serangan, mendarat dengan anggun di depan Boss monyet. Memandangnya dengan tatapan aneh.


"Ggrrrrrr……"


Sementara Boss monyet yang baru saja menerima serangan telak, dan menderita luka cukup berat, kini mulai mengerang sambil memasang ekspresi wajah menyeramkan.


Namun, ekspresi ini bertahan hanya untuk beberapa saat, sampai akhirnya sang Boss Monyet melihat kearah luka di dadanya. Kemudian justru kembali memasang wajah antusias.


Dia kemudian mulai meraba-raba luka miliknya, yang biasanya bila makhluk lain melakukan hal ini, tentu akan menyebabkan rasa sakit yang teramat sangat. Karena luka ini bukan hanya luka tebasan biasa, namun tebasan dari Mana yang diciptakan dari atribut api yang sangat ganas, yang tentunya juga memberi luka bakar serius.


Namun, ketika sang Boss Monyet meraba luka miliknya, ekspresi mukannya justru malah terlihat senang, dia bukannya tak merasakan sakit dari luka tersebut, tapi entah kenapa rasa sakit tersebut justru memberi Monyet raksasa ini sebuah kenikmatan tersendiri.


Selain meraba-raba, Boss Monyet juga terlihat beberapa kali menjilati darah segar yang ada di tangannya. Dan ketika sang Boss Monyet menjilat darah tersebut, ekspresi wajahnya menunjukkan kenikmatan yang tiada tara, bersamaan dengan ekpsreinya tersebut, monyet-monyet lain yang melihat disekelilingnya, juga mulai berteriak liar, seperti ikut merasakan kenikmatan tersebut.


Hal ini segera menimbulkan pemandangan aneh bagi Jasia yang melihatnya.


"Dasar Sinting!" Gumam Jasia lagi, tak habis pikir dengan perilaku Makhluk raksasa dan juga gerombolan monyet yang ada di hadapannya.


Kejadian tersebut sebenarnya terus terulang dalam beberapa hari ini, sejak Jasia berada di dalam Gua. Pertama kali adalah ketika Jasia dengan putus asa melancarkan serangan pamungkas kepada Boss Monyet di pertarungan pertama.


Dia yang hampir kalah dengan sekujur tubuh penuh luka, akhirnya berhasil mendaratkan serangan yang membuat sang Boss Monyet terluka. Namun serangan tersebut masih belum cukup untuk menumbangkan makhluk tersebut.


Jasia yang merasa sudah tak ada harapan, saat itu mulai menutup mata, berniat menerima takdir kematiannya. Tapi, kejadian setelahnya, membuat Jasia sedikit terbengong. Sang Boss monyet bukan menyelesaikan pertarungan dengan membunuhnya, tapi justru menunjukkan sikap menikmati tebasan Jasia.


Kemudian, setelah terlihat menikmati untuk beberapa saat, Boss Monyet ini dengan cepat melempar beberapa buah pisang merah kepada Jasia, sambil memberi Gesture agar Jasia memakannya.


Jasia yang melihatnya, semakin terbengong, dia baru sadar dari lamunannya ketika mendengar keributan suara bising dari monyet-monyet kecil di sekitarnya.


Jasia pun akhirnya mengambil buah Pisang merah darah yang dilempar kepadanya, ragu sesaat, sebelum akhirnya dia memutuskan memakan pisang tersebut.


Dan ketika dia memakannya, aliran Mana api yang sangat liar segera bergerak cepat menyusuri setiap sendi-sendi tubuhnya. Mengalir kearah Element Seed kemudian mengisi serta memperkuatnya.


Jasia kembali terbengong ketika merasakan efek dari buah pisang yang dia makan. Tanpa menunda, dengan cepat dia memakan beberapa buah pisang lain yang tadi dilempar kearahnya.


Begitu semua buah pisang sudah selesai ia makan, Jasia bisa merasakan perkembangan yang sangat signifikan pada Element Seednya. Hal ini tentu membuatnya sangat bahagia, namun hanya sesaat dia merasa bahagia, Jasia tiba-tiba merasakan aura menekan kuat dari arah depannya.


"Ggrrrr….."


"Kaaahhhh…."


Dihadapan Jasia, Boss Monyet menggerang sebentar sebelum kembali berteriak keras. Dia kemudian memberi gesture agar Jasia menyerangnya lagi.


Begitulah seterusnya, berulang berkali-kali dalam beberapa hari ini, Boss Monyet akan terus memberi Jasia buah pisang merah darah, dan membiarkannya berkultivasi untuk meningkatkan kekuatan.


Setiap Jasia mengalami perkembangan dan membuat luka yang lebih berat, Monyet raksasa ini akan tampak semakin bahagia dan menikmatinya.