Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
305 - Sengatan Listrik Merah


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


Theo masih menyesuaikan diri dan menstabilkan aliran Mana yang bergerak secara tak beraturan di dalam Element Seednya, efek dari kenaikan tingkat kultivasi yang baru saja ia lakukan, sampai tiba-tiba, suara ribut yang berasal dari langit-langit ruangan. Mengganggu konsentrasinya.


"Kwaaakkk….!!!"


"Kuuuhhhh….!!!"


"Kuuhhhhh….!!!"


"Kuhhhh…..!!!"


Suara-suara ribut ini, berasal dari kawanan Demonic Beast berbentuk burung hantu merah muda yang sebelumnya di sebut oleh Ernesto sebagai Burung Hantu Birahi.


Kawanan Burung Hantu Birahi ini tampak menunjukkan ekspresi wajah sangat marah saat melihat Theo menyerap habis semua serbuk merah muda yang mereka keluarkan.


Dengan bentuk tubuh yang saat ini sudah menjadi sangat besar, ditambah dengan kuku-kuku tajam, paruh raksasa, dan juga perut buncit, kawanan burung Hantu Birahi sekarang memiliki perwujudan aneh cenderung menyeramkan.


Kawanan ini secara serentak mulai melebarkan sayap mereka masing-masing. Menatap tajam kearah Theo, sebelum mulai melompat terbang dengan gerakan menukik tajam dari atas langit-langit ruangan.


Disisi lain, Theo yang saat ini melihat kearah atas, dimana kawanan burung Hantu Birahi sedang menerjang cepat kearahnya. Justru mulai menunjukkan seringai lebar di wajahnya.


"Kalian sebelumnya menyebabkan aku harus merasakan sakit teramat sangat karena di sengat oleh listrik merah oleh si hantu cabul itu!" Ucap Theo. Kini mulai mengepalkan tinju tangan kanannya.


Masih dengan seringai lebar di wajahnya, Theo menatap tajam kearah kawanan burung Hantu Birahi.


"Sekarang saatnya kalian merasakan rasa sakit dari sengatan yang sama!" Ucap Theo. Sebelum aliran listrik merah, mulai menyala terang pada sarung tangan kilat yang ia kenakan.


*Bzzzzzttt….!!!


Dengan kepalan tangan kanan kini dialiri derakan keras listrik merah, Theo melakukakan gerakan meninju keatas. Menghentakkan tinju tangan kanannya dengan keras kearah kawanan burung Hantu Birahi yang saat ini menerjang kearahnya.


*Blaaaarrr…!!!


*Blaaazzz….!!!!


*Bzzzzzttt….!!!


Aliran baut listrik merah yang membentuk seperti akar pohon menjalar, dengan cepat tercipta bersamaan dengan gerakan meninju Theo. Memenuhi seluruh ruangan dan mulai menyengat setiap burung Hantu Birahi yang kini berada pada lintasan aliran listrik tersebut.


"Kaaahhh….!!!"


"Kaaahhhh….!!!"


"Kaahhhh….!!!"


Kejadian selanjutnya, suara-suara teriakan liar dari kawanan burung Hantu Birahi yang terdengar sangat kesakitan, menggema memenuhi seluruh ruangan. Diiringi dengan rentetan burung Hantu Birahi yang mulai jatuh menghujam lantai.


Pemandangan tersebut, membuat kini seolah kawanan burung Hantu Birahi berubah menjadi rintik hujan deras, dengan listrik merah diatas langit-langit ruangan sebagai pelengkap untuk seolah menjadi guruh guntur, penghias hujan lebat yang sedang terjadi di dalam ruangan.


"Asmodeus keluar!" Ucap Theo, melanjutkan aksinya dengan memanggil keluar pedang kembar Asmodeus.


"Unchh…!!! Master! Aku benar-benar menikmati aksimu belum lama ini! Gairah nafsu yang sangat mendebarkan!" Ucap Asmodeus, ketika pertama kali keluar.


Asmodeus tak segera mengambil bentuk senjata. Menyempatkan menggoda Theo dengan bentuk tubuh aslinya yang berupa gadis kecil setengah ular ungu. Perwujudan Asmodeus yang merupakan gadis kecil, entah kenapa membuat Theo sering kali menelan ludah. Benar-benar kesulitan menahan diri dari pesona dan aura aneh yang keluar dari tubuhnya.


Asmodeus yang merupakan manifestasi dari dosa Nafsu, tampak memiliki pesona yang membuatnya menjadi sangat ahli memainkan nafsu orang-orang yang berada di sekitarnya, entah itu nafsu birahi, ataupun nafsu membunuh.


"Master, kapan-kapan kau harus menyempatkan bermain denganku juga! Bermain dengan gairah mendebarkan seperti yang kau tunjukkan saat bersama dua wanita yang ada disana!" Ucap Asmodeus, dengan intonasi nada centil yang sangat menggoda.


Mendengar hal itu, Theo yang diawal sedikit bergetar hatinya, segera menutup mata. Mencoba memfokuskan pikiran, kembali memasuki kondisi Anata pada dosa Nafsu.


"Hmmmm… Itu berbahaya! Jadi bila aku terjatuh kesisi lebih berat pada hawa nafsu, kau menjadi sedikit lebih tak terkendali!" Ucap Theo. Setelah menenangkan diri. Kini mulai membuka mata kembali.


"Ahhh…. Master! Kenapa begitu cepat kembali menjadi orang yang membosankan! Tak inginkah kau bermain denganmu yang manis ini? Aku berjanji akan patuh dan melakukan apapun permainan yang ingin kau mainkan!" Ucap Asmodeus. Nada centilnya semakin menjadi, kini ditambah dengan ekspresi wajah memelas yang begitu menggoda.


"Sudah cukup! Sekarang diam! Kalau kau ingin patuh, cepat berubah kedalam bentuk senjata!" Ucap Theo.


Bersamaan dengan kata-katanya, aura pekat yang terasa sangat kuno, menyembur keluar dari dalam tubuhnya. Aliran Mana kuno ini berasal dari Gerbang Dosa yang saat ini dengan kokoh berdiri disebelah Element Seed nya.


Tepat ketika aliran Mana kuno mulai menyebar, tatto segel dari dosa Nafsu yang tanpa disadari oleh Theo sebelumnya tampak sedikit memudar, kini kembali menjadi jelas sekali lagi.


Hal ini menyebabkan Asmodeus yang terlihat ingin menyampaikan sesuatu, segera tertahan mulutnya. Ekspresi wajah gadis kecil ini tampak cemberut. Ia menghentakkan kaki beberapa kali ketanah sebelum akhirnya berubah menjadi sepasang pedang kembar berwarna dominan ungu yang sangat indah. Bergerak cepat terbang kearah tangan Theo.


"Begitu lebih baik!" Ucap Theo setelah menangkap pedang kembar Asmodeus.


Saat Theo sudah bisa mengendalikan situasi, di salah satu sudut ruangan, Ernesto yang dari tadi diam mengamati. Saat ini tampak memasang ekspresi wajah aneh kearah Theo.


"Tak kusangka, ternyata kau selama ini menyimpan seorang loli! Dasar maniak! Aku yang selalu kau sebut cabul, bahkan tak pernah punya keinginan bejat untuk bermain dengan seorang loli!"


"Kau bukan hanya cabul terselubung! Kau cabul terselubung tak bermoral!" Maki Ernesto.


Mendengar makian Ernesto, Theo segera menoleh kearahnya. "B4jingan! Siapa yang kau sebut cabul terselubung tak bermoral!" Bentak Theo.


"Tentu saja kau! Memang siapa lagi!" Bentak Ernesto balik.


"Sialan! Keputusanku sudah bulat! Kau akan menjadi roh item pertama Boneka bernyawa yang kubuat!" Bentak Theo.


"Hmmmm… Sudah kubilang masih seribu tahun lagi untuk kau bisa melakukannya! Apa kau mau kusetrum sampai mati!" Dengus Ernesto. Sebelum berubah menjadi sebuah kilasan cahaya merah. Terbang masuk kedalam sarung tangan kilat.


"Hmmm… Mengancam tapi sebenarnya takut!" Dengus Theo.


Bersamaan dengan menghilangnya sosok Ernesto, Theo yang tak ingin membuang waktu, menggunakan pedang kembar Asmodeus ditangan, segera melakukan aksi pembantaian pada kawanan Burung Hantu Birahi yang saat ini masih terkapar di lantai ruangan dengan derakan-derakan listrik merah beberapa kali menyala pada tubuh masing-masing.


"Hahhaha… Ini bisa di bilang panen besar!" Ucap Theo, setelah menyelesaikan aksi pembantaiannya. Ia kini mulai memilah Kristal Beast dari ratusan Burung Hantu Birahi yang ia dapatkan.


Dengan beberapa kali ayunan tangan, Theo yang selesai memilah antara ratusan Kristal Beast dan sisa-sisa tubuh Burung Hantu Birahi yang tampak beguna, segera memasukkan semua hasil panennya tersebut kedalam gelang ruang-waktu.


Baru setelah urusan panen sumberdaya selesai, Theo kini kembali sadar dengan dua sosok lain yang saat ini berada di dalam ruangan bersamanya.


"Sialan! Bagaimana ini!" Ucap Theo. Saat tatapan matanya tertuju pada dua wanita yang masih tertidur pulas tak sadarkan diri karena kelelahan tak jauh dari posisinya berada.


Kedua wanita tersebut tentu saja adalah Hella dan Gerel yang sekarang masih tanpa sehelai pakaianpun menutupi tubuh indahnya masing-masing.


Theo benar-benar dibuat bingung harus bersikap seperti apa pada kedua gadis ini setelah mereka bangun nanti. Mengingat apa yang telah ia lakukan pada keduanya ketika secara bersamaan di pengaruhi oleh serbuk merah muda Burung Hantu Birahi.