
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
"Ayah, aku akan memberi semua yang kubisa untuk menemukan keberadaan ibu!" Ucap Sanghis.
"Apakah kau tak punya petunjuk lain yang bisa kita pakai?" Tanya Sanghis.
"Hmmmm… Sejak merasakan goncangan yang terjadi pada Element Seed ibumu, aku telah menyebar seluruh auraku untuk mencoba mencari jejak-jejak riak halus aliran Mana di tubuhnya!"
"Dan jejak-jejak ini, berakhir di sekitar wilayah Kelompok Bandit Malam Berbintang! Kau bisa mulai melakukan penyisiran di wilayah tersebut!" Jawab Janghis.
"Baiklah! Itu adalah petunjuk terbaik yang bisa kudapatkan dalam beberapa hari belakangan! Setidaknya, sekarang aku bisa sedikit memperpendek wilayah pencarian!" Ucap Sanghis. Sebelum mulai berbalik dan akan melangkah pergi.
Namun, hanya beberapa langkah ia menuju pintu keluar, Sanghis tiba-tiba menghentikan langkah kakinya.
"Ayah, kenapa kau mengangkat anak haram dari House Braveheart itu sebagai murid pribadimu?" Tanya Sanghis.
Mendengar pertanyaan Sanghis, sang ayah justru mulai kembali memejamkan matanya.
"Apakah itu hal yang penting?" Tanya Janghis.
"Sebagai seorang yang telah bebas tugas dari semua kepentingan Tribe, aku bebas mengangkat siapa saja sebagai murid! Dan kau sebagai Khan, tak punya wewenang apapun untuk mempertanyakan!"
"Sama halnya dengan aku tak berhak mengganggu otoritasmu sebagai Khan, aku juga tak punya kewajiban memberi laporan kepadamu tentang semua hal yang ingin kulakukan!" Lanjut Janghis.
Jawaban sang ayah, disambut dengan Sanghis memasang ekspresi wajah penuh kecurigaan untuk beberapa saat, sebelum akhirnya memutuskan melangkah pergi meninggalkan tempat. Tak memberi tanggapan apapun berkaitan kalimat yang di sampaikan oleh Janghis.
"Sirius! Kau bisa masuk sekarang!" Gumam Janghis, beberapa saat setelah sang anak meninggalkan tempat.
"Sirius menghadap Master!" Ucap Sirius, segera mengambil posisi berlutut begitu sampai di hadapan Janghis.
"Ambil posisi nyaman! Kita lanjutkan pembahasan sebelumnya yang sempat terpotong! Jelaskan lebih detail tentang Tuan muda ketiga House Alknight! Theodoric Alknight yang sedang menjadi perbincangan hangat di wilayah North Region!" Ucap Janghis.
***
(Kemah rapat Barbarian Tribe)
"Hmmmmm… Anak haram dari House Braveheart ini benar-benar memberiku satu perasaan tak nyaman! Jika bukan karena ayah tiba-tiba mengangkatnya sebagai murid! aku pasti sudah menendangnya keluar!"
"Terlebih setelah kejadian di Death Arena yang cukup memalukan bagi Barbarian Tribe! Membawa nama kelompok, dengan ceroboh di kalahkan oleh seorang pemuda antah berantah!" Gumam Sanghis.
Sanghis masih tampak merenung untuk beberapa saat, sebelum terlihat akan mulai memanggil orang-orangnya untuk segera melakukan langkah pencarian terhadap Gerel dan Sirei di wilayah kekuasaan kelompok Bandit Malam Berbintang.
Tapi, belum sempat Sanghis memanggil, salah satu tetua mendahului dengan langkah bergegas memasuki kemah rapat.
"Tuanku, ada situasi penting!" Ucap sang tetua, sembari bersujud dihadapan Sanghis.
"Katakan!" Jawab Sanghis singkat. Sedikit mengerutkan keningnya.
"Di depan gerbang, ada beberapa orang yang mengatakan bahwa mereka adalah utusan Eleanor Tribe! Berharap bisa betemu dengan anda!" Jawab sang tetua.
Jawaban sang tetua, menyebabkan kerutan di dahi Sanghis bertambah beberapa lapisan lebih banyak lagi.
"Suruh mereka masuk!" Jawabnya kemudian.
***
(Beberapa saat kemudian)
Utusan dari Eleanor Tribe, ternyata hanya berjumlah 3 orang. Ketiga orang ini, memakai pakain berwarna dominan biru laut dengan jubah bertudung yang menyembunyikan wajah masing-masing.
Sanghis bisa merasakan, satu orang utusan yang berjalan paling depan, merupakan seorang Knight dengan kelas King tahap Surga. Sementara dua orang lain yang berjalan di belakang, merupakan Emperor tahap Bumi.
Dan tepat ketika telah sampai di hadapan Sanghis, ketiganya segera mengambil sikap bersujud. Sebelum mulai membuka tudung penutup kepala masing-masing.
"Salam pada Khan Barbarian Tribe!" Ucap ketiga utusan hampir secara bersamaan. Dimana ternyata ketiganya adalah seorang wanita.
Wanita yang memimpin di depan, tampak masih sangat muda, memiliki usia yang sepantaran dengan Gerel. Sementara dua wanita lain yang terlihat seperti pengawal dari sang gadis muda, memiliki usia yang terlihat telah lanjut.
"Sebelumnya, ijinkan saya memperkenalkan diri! Nama saya Iris Khan! Nona muda kedua dari Eleanor Tribe!" Ucap sang gadis muda.
Memperkenalkan dirinya sebagai nona muda kedua dari salah satu 10 Biggest Knight Group. Seraya mengeluarkan sebuah token identitas khusus untuk mengkonfirmasi kebenaran identitasnya.
"Dua orang yang menemani saya, adalah tetua yang ditugaskan khusus oleh Khan untuk menjadi pengawal dalam perjalanan kunjungan kali ini!" Tambah gadis bernama Iris.
Mendengar kata-kata Iris, Sanghis segera menatap token yang dikeluarkan oleh sang gadis muda untuk beberapa saat. Memindai token tersebut. Memastikan keasliannya.
"Hmmmm… Karena kau adalah seorang nona muda! Silahkan berdiri! Ambil posisi nyaman! Dan katakan apa tujuanmu datang kesini mencariku!" Ucap Sanghis. Setelah memastikan keaslian dari token yang ditunjukkan nona muda kedua Eleanor Tribe.
Karena situasi Barbarian Tribe bisa di bilang saat ini sedang dalam keadaan cukup genting, Sanghis segera tanpa basa-basi menagih tujuan dari kedatangan orang-orang penting Eleanor Tribe dihadapannya. Tak ingin membuang waktu dengan obrolan kosong yang memang bukan merupakan sifatnya.
Disisi lain, merasa Khan Barbarian Tribe terlihat tak sedang ingin berbasa-basi. Iris yang tampak sedikit terkejut, menjadi termenung untuk beberapa saat, sampai kemudian, salah satu pengawalnya memberi bisikan ringan. Menyadarkan kembali sang gadis muda.
"Tujuan kami datang kemari, adalah untuk meminta bantuan pada Barbarian Tribe!" Ucap Iris pada akhirnya. Langsung pada kebutuhan dari maksud kedatangannya.
"Hmmm…? Bantuan? Bantuan macam apa?" Tanya Sanghis.
"Sebenarnya, ini berkaitan dengan perkembangan kelompok Perompak yang ada di wilayah kepulauan East Region!" Jawab Iris.
Iris kemudian mulai menjelaskan bahwa Eleanor Tribe, saat ini sedang terdesak oleh kumpulan Perompak di wilayah kepulauan, dimana dalam beberapa tahun belakangan, berkembang menjadi di luar batas bagi Eleanor Tribe untuk bisa menanggulanginya.
"Jadi, kami pihak Eleanor Tribe, berharap pihak Barbarian Tribe, mau memberi sedikit uluran tangan! Menambah jumlah pasukan di wilayah perbatasan laut yang memisahkan antara wilayah Gurun dan kepulauan!"
"Dengan kalian mau membantu di wilayah perbatasan, kami akan bisa fokus memberantas para Perompak di wilayah utama!" Lanjut Iris.
"Dan tentunya, permintaan bantuan yang kami ajukan ini, tak hanya sebatas permintaan sepihak, karena bagaimanapun juga, jika dibiarkan terus berkembang, para Perompak ini juga akan mengancam wilayah Gurun yang kalian kuasai!"
"Jadi, kesepakatan ini akan menguntungkan kedua bela pihak! Selain itu, kami pihak Eleanor Tribe sebagai yang mengajukan permohonan bantuan, akan memberi satu imbalan tambahan untuk Barbarian Tribe jika berkenan mengulurkan tangan!" Tutup Iris.
Bertepatan dengan selesainya penjelasan panjang yang di sampaikan oleh Iris, Sanghis segera menatap tajam kearah nona muda Eleanor Tribe tersebut.
"Aku menolak!" Jawab Sanghis. Setelah diam untuk beberapa saat.
"Tuan?" Ucap Iris. Benar-benar tak menduga yang keluar dari mulut Sanghis adalah sebuah penolakan.
"Kita dua kelompok Tribe besar, punya urusan masing-masing! Kami Barbarian Tribe menangani para kelompok Bandit! Sementara kalian Eleanor Tribe menangani para Perompak!" Ucap Sanghis.
"Itu sudah berjalan dalam puluhan tahun belakangan! Jadi, para Perompak adalah tanggung jawab kalian! Selesaikan sendiri masalah itu!"
"Lagipula, jika para Perompak ini benar-benar menyinggung wilayah Gurun, maka silahkan saja! Aku ingin lihat, berapa lama para sampah lautan ini bisa bertahan di wilayah Gurun yang gersang!" Tutup Sanghis. Dengan sorot mata tajam menatap kearah Iris.