Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
415 - Reruntuhan Suku Osiris


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


"Hmmmm… Ini bukan kabut biasa!" Gumam Theo, saat merasakan kabut perak pekat disekitarnya, penuh dengan serpihan aliran Mana Besi murni.


'Bukan kabut biasa?' Tanya Ernesto.


"Kabut ini sangat berbahaya! Karena tercipta dari akumulasi kumpulan serbuk Besi!" Jawab Theo.


"Bahkan seorang pengguna dual Element Seed atribut Besi, akan tetap kesulitan menahan pekatnya serbuk Besi ini! Jadi, tak terbayangkan jika itu pengguna Element Seed jenis lain! Bisa-bisa mereka mati dengan paru-paru penuh serbuk besi begitu memasuki daerah kabut ini!" Lanjut Theo.


'Ohhh… Satu fakta yang cukup menarik! Aku belum pernah mendengar suatu hal seperti ini sebelumnya!' Jawab Ernesto, kini mulai memasang ekspresi wajah penasaran.


'Jadi, kau akan terus bersembunyi di dalam kabut ini sampai para pengejar itu pergi?' Tanya Ernesto kemudian.


"Hmmmm… Tentu saja tidak! Kabut aneh yang tercipta dari serbuk Besi! Sudah jelas reruntuhan suku Osiris berada di sekitar sini! Aku sudah berada pada jalur yang tepat!" Jawab Theo.


"Lagipula, sepertinya aku punya satu gagasan tentang dari mana sumber serbuk Besi pekat ini berasal!" Tambah Theo.


'Tuan! Terjadi sesuatu pada totem milik bocah suku Osiris! Sebaiknya kau memeriksanya!' Ucap Sasi tiba-tiba.


Mendengar kata-kata Sasi, Theo tanpa menunda segera menarik kesadarannya untuk memasuki Istana Emas yang berada di dalam ranah jiwanya.


***


(Istana Emas)


"Boss! Bagaimana situasi yang ada di luar?" Tanya Sanir cepat begitu melihat sosok Theo memasuki Istana Emas.


*Baaammm….!!!


Bertepatan dengan pertanyaan Sanir, satu suara benturan keras juga terdengar nyaring. Di salah satu sudut ruangan, tampak Darsa dan Guan Zifei sedang bekerja sama menghajar Zhou Kang.


Sementara Hella dan Gerel yang berada disamping Sanir, terlihat duduk sambil terus memandang kearah Zhou Kang yang sedang di hajar dua orang, dengan tatapan penuh kekesalan.


"Untuk sementara, kita bisa dianggap lolos dari kelompok Bandit Malam Berbintang!" Jawab Theo. Kemudian melihat kearah dimana Darsa dan Guan Zifei sedang menghajar Zhou Kang.


"Apa yang sedang mereka lakukan?" Tanya Theo kepada Sanir. Merasa menghajar Zhou Kang juga tak akan mengubah situasi.


"Bukan apa-apa Boss! Hanya sekedar menyalurkan rasa kesal! Lagipula, itu pertunjukan yang memuaskan saat melihat lelaki t*lol itu di hajar habis-habisan!" Jawab Sanir.


"Hahh! Terserah kalian saja!" Tanggap Theo. Kemudian mulai berjalan kearah dimana Razak sedang berdiri bersama Sasi.


"Boss! Totemku terus bergetar dengan hebat!" Ucap Razak. Sambil menyodorkan totem identitas suku Osiris yang berada di genggamannya.


"Hmmmm… Ini pasti ada hubungannya dengan kabut serbuk besi pekat yang ada diluar!" Ucap Theo. Sambil menatap penuh minat kearah totem ditangan Razak. Selain bergetar hebat, totem tersebut kini juga mulai menyala terang dengan warna keperakan.


"Razak, boleh kupinjam totem milikmu ini sebentar?" Tanya Theo.


Mendengar pertanyaan Boss Besarnya, tanpa ragu Razak segera memberi anggukan singkat. Menyerahkan totem identitas suku Osiris ditangannya kepada Theo.


"Terimakasih!"


"Sasi, aku akan keluar lagi! Tolong awasi sekumpulan orang konyol ini! Jangan sampai melakukan satu hal yang berlebihan!" Ucap Theo.


Jawaban Sasi, segera disambut dengan senyum sederhana oleh Theo. Kemudian tanpa menunda, ia kembali menarik kesadarannya.


***


(Kabut Serbuk Besi)


Theo yang telah kembali berada di dunia luar, segera merasa getaran dari totem identitas suku Osiris di genggaman tangannya, kini menjadi semakin tak beraturan. Seperti sedang mencoba lepas dari tangannya.


"Hmmmmm… Seperti anak ayam tersesat yang kembali melihat induknya!" Gumam Theo. Seraya kemudian mengaktifkan Eye of Agamoto di keningnya.


Setelah Eye of Agamoto telah benar-benar aktif, Theo segera melepas genggamannya pada totem identitas suku Osiris. Membiarkan totem tersebut bergerak cepat terbang menembus pekatnya kabut Serbuk Besi.


Dan begitu totem terbang dengan cepat, Theo yang memanfaatkan kemampuan melihat segala dari Eye of Agamoto. Ikut bergerak cepat mengikuti kemanapun totem identitas suku Osiris terbang.


"Hmmmmm….! Kabut ini benar-benar dalam!" Gumam Theo. Setelah sudah lebih dari 2 jam mengikuti totem memasuki kedalaman kabut, namun belum juga melihat tanda-tanda totem tersebut akan sampai kelokasi tujuannya.


Dan setelah hampir 3 jam….


"Hmmm?"


Theo yang terus bergerak dibelakang, kini bisa melihat totem yang sedang ia ikuti, mulai memancarkan cahaya keperakan lebih intens lagi, selain itu, kecepatan terbangnya juga semakin bertambah.


"Sepertinya sudah semakin dekat!" Gumam Theo. Kini ikut menambah kecepatannya.


Tak berapa lama kemudian, langkah kaki Theo terhenti ketika dirinya keluar dari pekatnya kabut Serbuk Besi, sampai di suatu lokasi yang sepenuhnya berisi lahan berpasir tandus.


"Ohhhh…! Tak kusangka akan ada tempat semacam ini di balik Kabut!" Gumam Theo. Sambil melihat sekeliling.


Tanah berpasir tandus yang saat ini menjadi lokasi dimana Theo berdiri, sepenuhnya di kelilingi oleh tebing-tebing tinggi. Membentuk satu benteng alami. Sementara tepat di tengah lokasi, terdapat satu oasis dengan banyak tanaman tropis tumbuh subur di sekitarnya. Menjadi pemandangan yang sangat menyegarkan karena oasis ini berada di satu lahan luas yang sangat tandus.


"Reruntuhan benteng suku Osiris yang legendaris!" Ucap Theo. Begitu pandangan matanya menangkap reruntuhan kuno yang berada pada salah satu sudut perbukitan.


Dari apa yang dilihat Theo saat ini, suku Osiris ternyata membangun benteng pertahanannya menjadi satu dengan daerah perbukitan. Memahat dan membentuk salah satu bukit menjadi satu benteng raksasa.


"Leluhur suku Osiris sepertinya memiliki selera seni yang tinggi!" Ucap Theo.


Ia menjadi begitu terkesan dengan bagaimana pahatan di dinding-dinding tebing yang terlihat sangat estetik. Meskipun saat ini benteng tersebut hanyalah sebuah reruntuhan, Theo masih bisa membayangkan bagaimana indahnya benteng suku Osiris ini saat masih berdiri dengan megah di masa kejayaannya dulu.


"Sangat disayangkan suku dengan semua bakat dan kemegahannya ini harus musnah!" Gumam Theo. Sambil terus menatap dengan tatapan takjub kearah reruntuhan benteng kuno suku Osiris dihadapannya.


"Endless Heavens Sect! Sampah yang harus di bersihkan dari muka Gaia Land ini secepatnya! Jika tidak, akan terus ada kelompok-kelompok lain yang bernasib sama dengan suku Osiris atau Thousand Beast di masa depan!" Tutup Theo. Kemudian ganti mengalihkan pandangannya kearah sisi tebing lain, dimana terletak tak terlalu jauh dari reruntuhan benteng suku Osiris.


Pada sisi tebing yang kini di lihat Theo sendiri, terdapat satu pintu masuk gua kecil yang terus mengeluarkan aliran serbuk Besi pekat dari dalam.


"Sepertinya dugaanku tepat!" Gumam Theo. Saat dirinya telah berada di depan pintu masuk gua


"Joy kecil!" Ucap Theo kemudian. Memanggil Joy kecil keluar dari dalam tatto segel.


"Tuuuu….!"


Joy Kecil yang seperti biasa mengambil pundak kanan Theo sebagai tempat duduk spesial, kini menatap kearah Theo untuk sementara waktu begitu ia keluar dari dalam tatto segel, sebelum pandangan matanya dengan cepat ganti melihat kearah pintu masuk gua.


Sorot mata sendu yang menjadi ciri khas Joy Kecil, kini berubah antusias saat merasakan aliran Serbuk Besi pekat yang keluar dari dalam gua.


"Tunggu apa lagi? Tak perlu malu! Makan saja sepuasnya! Hahaha…!" Ucap Theo. Tak bisa menahan tawa begitu melihat ekspresi wajah Joy kecil yang menggemaskan.


"Tuuuu….!!!!"


Mendengar kata-kata Theo, tanpa menunda Joy kecil segera melompat kearah pintu masuk gua. Dengan cepat dan lahap memakan semua serbuk besi. Dan begitu serbuk besi di mulut gua telah benar-benar habis, Joy kecil tanpa ragu bergerak memasuki gua. Sementara Theo, mengikuti di belakang dengan langkah santai.