
"Ahhhh…. Master, apa maksudmu?" Theo yang masih bingung bertanya heran.
"Janji langit adalah janji yang benar-benar harus kau tepati. Kau tak boleh ingkar, bila kau ingkar, bahkan bila itu masih dalam pikiranmu, maka langit akan menghukummu. Setiap yang kau katakan sebagai janji akan benar-benar terjadi."
"Iblis hati akan memburumu selamanya." Tiankong menutup penjelasannya dengan ekspresi seram.
"Kau bercanda bukan? Mana mungkin ada yang seperti itu." Theo yang masih heran, kembali bertanya.
"Aku serius kali ini, jangan berfikir aku sedang bercanda. Aku tak mau muridku jatuh kedalam kondisi hancur oleh iblis hati."
"Jangan pernah meragukan kata-kataku ini, karena aku sendiri juga pernah mengalami jatuh kedalam sumpah iblis hati." Kata Tiankong, sangat serius.
Ketika Theo dan Tiankong masih terlibat obrolan dalam pikiran. Aria yang merasa puas dengan janji Theo mulai berdiri. Menyimpan kembali pisaunya.
"Hmmm bagus. Aku akan menunggu pertanggung jawabanmu." Kata Aria singkat. Kemudian mulai berjalan menjauh.
Theo sendiri yang sebenarnya masih bingung dengan jenis pertanggung jawaban macam apa yang diminta Aria, mulai kembali duduk bersila. Meskipun masih bingung, Theo tak berani bertanya lebih rinci. Dia masih merasa ngeri dengan penjelasan iblis hati dari Tiangkong sebelumnya.
Setelah itu, situasi menjadi sedikit canggung. Theo dan Aria tak terlibat percakapan sama sekali. Keduanya hanya duduk dalam diam, sambil sesekali menatap satu sama lain. Suasana hening ini bertahan dalam beberapa waktu.
**
(Keesokan harinya)
Theo dan Aria menghabiskan sisa hari kemarin dengan beristirahat dan mengisi simpanan Mana keduanya. Kali ini setelah merasa sudah sedikit pulih, mereka memutuskan akan keluar dari gua dan mencari jalan kembali ke kota Alknight sekaligus bila beruntung, ingin melacak keberadaan Master Estro.
"Apakah benar di dalam tubuhku masih ada racun yang kau ceritakan kemarin?" Tanya Aria dalam perjalanan keluar menyusuri gua.
"Untuk apa aku berbohong, coba edarkan aliran Manamu kedalam pembulu darah, kemudian arahkan ke sudut bawah Hati. Kau akan bisa merasakan keberadaan racun itu." Kata Theo.
"Hmmm…." Tanpa menjawab, Aria segera mencoba melakukan yang dikatakan Theo.
Ketika Aliran Mana mencapai bagian bawah ujung hatinya. Dia bisa merasakan racun yang di maksud Theo. Parahnya, ketika racun ini merasa kehadiran aliran Mana, itu mulai bereaksi. Membuat Aria jatuh berlutut, mengerang kesakitan.
Theo yang melihat hal itu, segera menggunakan ujung jarinya yang telah dialiri oleh mana Cahaya untuk menusuk bagian hati Aria. Menekan kembali racun agar tetap tenang.
"Mulai sekarang, berhati-hati dalam mengedarkan Manamu, atau kau akan secara tak sengaja mengaktifkan racun ini kembali." Kata Theo.
Aria hanya mengangguk singkat, menunjukkan dia paham, kemudian mulai berdiri lagi. Keduanya kemudian melanjutkan perjalanan.
***
Beberapa saat kemudian, Theo dan Aria akhirnya keluar dari dalam gua, mereka melompat menerjang air terjun dan mendarat disisi danau yang memiliki berbagai bunga Arseni indah yang mengeluarkan bau-bauan harum aneh semerbak.
"Ahhhhhh….."
Suara teriakan gadis kecil terdengar. Theo dan Aria sendiri juga ikut terkejut ketika melihat ada seorang gadis kecil berpakaian aneh yang terbuat dari bulu-bulu binatang tengah memetik bunga-bunga Arseni yang berbau harum disekitar danau, ketika pertama kali mereka keluar dari dalam gua.
Gadis ini terlihat sangat terkejut dan jatuh kebelakang, keranjang berisi bunga-bunga Arseni yang baru saja ia petik juga jatuh.
"Siapa kalian?" Teriak gadis kecil ini panik.
"Seharusnya kami yang bertanya, siapa kau?" Tanya Theo balik.
Theo tak bisa untuk tak heran, bagaimana bisa ada seorang gadis kecil yang berkeliaran dengan santai memetik bunga-bunga di area bagian dalan hutan pinus beku yang liar dan berbahaya. Bagaimana bisa gadis ini bertahan hidup sementara Theo sendiri, selama berada di wilayah hutan bagian dalam ini tak bisa sekalipun menurunkan kewaspadaannya.
"Apa maksudmu?" Kali ini Aria yang bertanya. Dia mencoba mendekati gadis kecil untuk menenangkannya.
"Tidakkk.. tidakkk.. jangan mendekat, kalian orang asing. Jangan makan aku..!!" Gadis kecil berteriak parau begitu melihat Aria mendekatinya.
"Agura keluar!" Dengan cepat gadis kecil membuat segel tangan, kemudian tatto di punggung tangan kanannya mulai menyala.
Bersamaan dengan nyala terang tatto tangan gadis tersebut, seekor spirit beast berbentuk macan kumbang hitam keluar dari segel tatto.
"Hoooaarggggg…!!!" Macan kumbang menyalak galak kearah Aria dan Theo.
Gadis kecil kemudian melompat kepunggung macan kumbang, memberi perintah kepadanya untuk bergerak. Macan kumbang yang mendapat perintah, segera berlari dengan cepat meninggalkan danau. Menerobos semak-semak belukar.
Theo menganga melihat kejadian yang ada dihadapannya, menurutnya sangat langka ada seorang gadis kecil yang sudah mampu membuat tatto segel di usia sepertinya. Bisa di bilang, gadis kecil ini adalah True Knight termuda yang pernah ia temui.
Namun, beberapa saat kemudian, Theo tersadar dari lamunannya. "Ini berbahaya, gadis itu tak akan bisa bertahan sendiri dalam hutan ini, kejar dia." Kata Theo.
Aria dan Theo kemudian bergerak mengejar gadis kecil tersebut.
**
Tak seperti yang di duga Theo, kecepatan lari macan kumbang yang ditunggangi gadis kecil ternyata sangat cepat. Makhluk ini bergerak dengan lincah melompat dari satu tempat ketempat lain, terlihat sangat hafal lingkungan sekitarnya.
"Ini aneh, kenapa spirit beast dilingkungan ini selalu menghindarinya, sementara itu mereka memilih menyerang kita?" Tanya Theo, ketika mulai menyadari ada sesuatu yang aneh.
Dalam perjalanan mengejar gadis kecil, Theo dan Aria beberapa kali harus menghindar dari Spirit Beast kelas tinggi yang menghadang mereka. Yang membuat Theo heran adalah, para Spirit Beast ini seperti mengabaikan gadis kecil, bahkan terlihat menghindarinya.
Ditengah kebingungan Theo, Tiankong tiba-tiba muncul di sampingnya. "Jangan heran, perhatikan dengan teliti setiap pernak-pernik perhiasan yang di pakai gadis itu."
"Pernak-pernik itu terbuat dari bunga Arseni yang secara alami memiliki bau-bauan menghalau Spirit Beast." Kata Tiankong menjelaskan.
"Ahhh jadi seperti itu, kenapa tak terfikirkan olehku, seharusnya tadi kita mengambil beberapa bunga untuk mempermudah perjalanan." Kata Theo.
Theo melanjutkan pengejaran bersama Aria, ia semakin penasaran dengan identitas gadis kecil ini. Apakah ia tinggal di dalam Hutan Pinus Beku wilayah dalam ini?
Beberapa saat berlalu, macan kumbang masih bergerak gesit, mempertahankan jarak antara gadis kecil dengan pasangan Theo dan Aria yang mengejarnya.
Namun, ketika Theo dan Aria mulai bisa mengejar dan memperpendek jarak dengan susah payah, dan merasa akan bisa mencapai serta menangkap gadis kecil, dia tiba-tiba menghilang dari pandangan Theo.
"Apa yang terjadi? Kemana perginya dia?" Tanya Theo bingung, menghentikan langkahnya.
"Hmmm, ayo periksa area tempat gadis itu menghilang." Saran Aria.
Theo yang merasa saran tersebut masuk akal, akan melangkahkan kaki untuk bergerak maju memeriksa. Namun sebelum dia melangkah….
"Berhenti.. jangan bergerak." Kata Tiankong, menghentikan langkah Theo.
Mendengar peringatan itu, Theo menghentikan langkahnya, dan menarik pundak Aria agar tak melangkah maju.
"Ada apa?" Tanya Aria.
Theo tak menjawab, kemudian menoleh kearah masternya.
"Area di depanmu penuh dengan formasi jebakan kuno." Jawab Tiankong.