Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
Lalat Pengganggu


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


Lagor yang tak menduga bila Theo akan punya nyali untuk menyerangnya, sama sekali tak sempat menempatkan Mana pelindung apapun di tubuhnya. Hal ini menyebabkan pukulan Theo membuat dirinya terpental cukup jauh, mendarat dengan keras di dalam sebuah danau yang ada di taman akademi tak jauh dari lokasi.


"Tuan muda!"


Melihat pemimpin mereka terpental jauh, para pengikut Lagor segera berteriak panik, kemudian berlari kearah danau, berniat menolongnya.


"Kak, apa aku memberimu masalah?" Tanya Theo kepada Issabela.


"Hmmmm... Lakukan sesukamu! Aku juga sudah mulai muak melihat muka pecundang ini! Dia seperti seekor lalat yang terus muncul, susah sekali diusir!"


"Seandainya kau tadi tak bertindakpun, aku sendiri yang akan memberinya pelajaran!" Kata Issabela, menjawab pertanyaan Theo.


"Baiklah kalau begitu!" Kata Theo. Kemudian mulai kembali menarik auranya.


"Boss…!!! Itu tadi sangat keren!" Kata Arthur, memandang Theo penuh kekaguman.


"Hahh… sudahlah, sebaiknya kita pergi dari sini! Sebelum terjadi keributan lain!" Kata Issabela, ketika merasa mulai banyak orang yang bergerombol di sekitar danau untuk melihat apa yang terjadi.


***


(Danau taman akademi, beberapa saat setelah kepergian kelompok Theo)


"Tuan muda, apa kau baik-baik saja?" Tanya salah satu pengikut Lagor, begitu mereka berhasil mengangkatnya keluar dari danau.


"Diam! Singkirkan tanganmu!" Bukannya menjawab, Lagor malah membentak orang tersebut.


Dia kemudian mulai melihat sekeliling, kearah sekelompok orang yang mulai bergerombol di sekitar danau.


"Ohh… ternyata Lagor Estrabat, siapa yang begitu berani membuatnya dalam kondisi memalukan seperti ini?" Kata salah satu orang disekitar danau.


"Entahlah, aku hanya mendengar sedikit ribut-ribut, sebelum tuan muda yang terhormat ini tiba-tiba terlihat terpental sangat jauh, dan mendarat di danau ini! Hihihi….!" Seorang gadis menanggapi orang yang baru saja berkomentar. Sambil menatap hina kearah Lagor.


"Sungguh memalukan!"


"Bukankah itu masih belum ada satu bulan dari kejadian di ujian akademi, dimana dia dihajar habis-habisan oleh Gregoric? Dan sekarang dia di permalukan lagi?"


"Hahhha… apanya yang pemuda paling berbakat di akademi, sesumbarnya selama ini ternyata hanya omong kosong?"


"Sudah, jangan menghinanya lagi! Mungkin ini hanya karma dari sikap sombongnya selama ini!"


Komentar-komentar miring mulai ramai terdengar dari orang-orang yang berkerumun di sekitar danau. Lagor yang mendengar itu, seketika wajahnya menjadi merah padam, dia sangat marah, sekaligus malu di saat bersamaan.


"Kalian semua! Apa yang kalian lihat? Cepat enyah dari sini!" Bentak Lagor, sangat emosi.


"Hahhaha… dasar pecundang!"


"Oh… pertunjukkannya sudah selesai? Baiklah, aku akan pergi... Hihihihi….!"


"Tuan muda sombong!"


"Kau yang enyah! Kenapa juga aku harus menuruti kata-katamu!"


Berbagai komentar miring mulai terdengar lagi bersamaan dengan bentakan emosi dari Lagor, beberapa memilih pergi dan tak mencari masalah, namun beberapa lainnya yang tak takut tetap bertahan.


"Tuan muda, tenangkan dirimu! Sebaiknya kita pergi dulu dari sini!" Kata salah satu pengikut Lagor, terlihat mulai malu karena menjadi pusat perhatian.


"Diam! Sekarang juga! Cari tau identitas dari pemuda sialan yang berani memukulku tadi!"


"Aku akan mengembalikan semua penghinaan ini ribuan kali lipat!" Bentak Lagor. Dengan sorot mata kebencian yang sangat mendalam.


***


(Kelompok Theo)


"Kak, apa benar-benar tak ada masalah dengan yang kulakukan tadi?" Tanya Theo. Dia masih merasa cemas karena telah membuat keributan di dalam akademi.


"Sudahlah, berhenti memikirkan itu! Paling juga aku hanya akan di skors beberapa minggu bila para penegak kedisiplinan akademi mengetahui kejadian ini!" Jawab Issabela.


"Sudah kubilang berhenti memikirkan masalah ini! Si Lagor itu adalah tipe orang yang mengedepankan gengsi, jadi aku ragu dia akan melapor ke pihak penegak kedisiplinan, karena itu justru akan mempermalukan dirinya sendiri!" Jawab Issabela lagi, terlihat acuh tak acuh.


"Ohh… baiklah kalau begitu!"


"Tapi ingat, dia adalah orang yang sangat pendendam, jadi setelah ini kau harus sedikit waspada!" Kata Issabela, mengingatkan Theo.


"Asal kejadian ini tak memberimu masalah, itu sudah cukup! Aku bisa menjaga diriku sendiri dengan baik!" Jawab Theo santai.


Mendengarnya, Issabela hanya memberi anggukan singkat, tak ingin membahas lebih lanjut.


***


"Kita sudah sampai!" Kata Issabela.


Setelah melakukan perjalanan cukup jauh di kedalaman akademi, kelompok Theo akhirnya sampai di tempat yang mereka tuju.


Dihadapan Theo saat ini, ada sebuah pintu yang diatasnya memiliki papan nama bertulisan 'Ruang Pelatihan Fisik'.


"Kak Gregor ada di dalam?" Tanya Theo.


"Yah... dua hari yang lalu, dia baru saja siuman dan pulih dari luka-luka yang ia dapat dalam ujian!"


"Dan karena beberapa hari yang lalu kudengar kalau kau sedang dalam perjalanan menuju ibukota, Aku sengaja tak memberi tahu padanya tentang kabar kembalinya dirimu dari jurang misterius."


"Aku berharap dengan ini bisa sedikit memberinya kejutan menyenangkan!" Kata Issabela.


Mendengar itu, senyum hangat mulai menghiasi wajah Theo, dia sungguh sudah sangat rindu dengan kakak laki-lakinya ini.


"Masuklah!" Kata Issabela kemudian.


"Ahh… kau tak ikut?" Tanya Theo.


"Aku tunggu saja disini, jika ikut masuk denganmu, dia akan terlalu gengsi mengungkap perasaannya yang sebenarnya!"


"Kau tau sendiri Gregor sangat tak mau kalah dan selalu saja bersikap sok tegar di hadapanku! Aku tak mau mengganggu reuni kalian!" Jawab Issabela, sambil memberi senyum hangat.


Mendengar itu, Theo tak memberi jawaban apapun, hanya membalas senyum hangat Issabela dengan senyuman yang sama. Kemudian membuka pintu, dan mulai melangkah masuk.


Sementara itu, melihat Theo memasuki ruangan, Arthur yang ada di sampingnya terlihat akan segera mengikuti di belakang. Namun…


"Kau mau kemana?" Dengus Issabela, menghentikan langkah kaki Arthur.


"Ahh… tidak kemana-mana! Aku juga akan menunggu disini!" Jawab Arthur cepat.


***


(Didalam Ruang latihan)


Ruang pelatihan fisik akademi terlihat sangat luas. Di dalamnya ada banyak pemuda yang tengah sibuk melakukan latihannya masing-masing.


Ada yang sedang bertapa di tengah air terjun buatan, ada juga yang tengah berlatih dengan mengangkat tumpukan batu di pundaknya.


Theo yang baru saja melangkah masuk, kini terlihat sedang memeriksa seleliling, mencoba mencari keberadaan Gregoric di tengah kerumunan orang yang tengah berlatih.


Dan setelah mencari sebentar, dia akhirnya menemukan sosok familiar yang sedang ia cari. Senyum hangat segera kembali menghiasi wajahnya begitu melihat sosok ini.


*Booommmm….!


Suara ledakan keras terdengar dari lokasi begitu Theo mendekati sosok yang ingin dia temui tersebut.


"Asley kau terlalu lembek!" Bentak seorang pemuda bertubuh kekar berambut putih.


"********! itu kau yang terlalu berlebihan!" Pemuda yang di sebut Asley membentak balik.


"Hihihihi… benar sekali, itu Big Brother yang terlalu berlebihan!" Seorang wanita yang dari tadi terlihat mengamati latih tanding ikut berkomentar. Sebelum tatapannya menyadari keberadaan Theo yang berjalan mendekat.


"Hmmm… adik kecil, apa aku mengenalmu?" Tanya wanita tersebut ketika Theo sudah berada di hadapannya.


"Sepertinya belum!" Jawab Theo, dengan senyum hangat ramah.


"Aku kesini untuk bertemu orang itu!" Kata Theo kemudian, sambil menunjuk kearah pria kekar berambut putih.


Mendengar suara Theo, Pria tersebut dengan cepat menoleh kebelakang untuk melihatnya.


"Siapa?"


"Ahh... Tidak mungkin…!!!"