
Catatan penulis : Perihal Event buka gembok Spin Off.
Selamat malam, dalam catatan kali ini, saya cuma ingin menyampaikan terima kasih, kepada kawan-kawan pembaca semua yang telah berpartisipasi dalam Event buka gembok Spin off, yang saya adakan satu minggu kemarin.
Terima kasih karena telah menyempatkan memberi komentar, serta like, untuk mencoba membantu karya penulis mencapai 800k popularitas.
Meskipun pada akhirnya target 800k tidak terpenuhi, namun saya tetap ingin mengapresiasi usaha kawan-kawan semua. oleh karena itu, kamis minggu ini, bersama dengan rilis Chapter terbaru, satu Spin off akan saya buka, terbit sebagai chapter khusus.
Sekian catatan dari saya kali ini, sekali lagi, terima kasih atas usahanya.
Selamat menikmati Chapter terbaru! ^^
--------
"Tawaran pertama dari tamu VIP bilik 17, 150.000!" Liu Wei mengulang tawaran Theo karena setelah ia mengajukan tawaran, tak ada lagi yang mencoba menawar lebih tinggi.
"Hmmm… baiklah! 150.000 pertama!"
"150.000 kedua…!"
"150.000 ketiga..!"
*Dugg….!
"Item ketujuh, terjual kepada tamu VIP bilik 17!" Kata Liu Wei, setelah memukul palu, pertanda tawaran selesai.
"Siapa idiot di balik tirai nomer 17 ini? Membeli sebongkah batu tak berguna dengan harga setinggi itu!"
"Sudah biarkan saja, mungkin itu cuma tuan muda bodoh yang ingin menghambur-hamburkan uangnya!"
"Yahh… lagian berkat dia setidaknya item tak berguna ini tak terlalu lama berada diatas panggung! Aku sudah tak sabar melihat tiga item terakhir yang merupakan item istimewa gelombang pertama!"
Komentar-komentar miring terdengar begitu Theo memutuskan mengajukan tawaran dan dengan cepat menjadi pemilik batu misterius.
Namun, ketika orang-orang banyak yang mencibirnya, di balik tirai nomer 17, Theo malah terlihat sedang tertawa keras seperti orang gila.
"Haha…!"
"hahaha…..!"
"Hahhahahha…….!"
Tawanya menggema keseluruh aula lelang, membuat setiap orang yang dari tadi sudah mencibirnya, kini menganggap Theo benar-benar seorang tuan muda gila.
Berbeda dengan kebanyakan orang, Liu Wei diatas panggung, yang juga mendengar tawa aneh Theo, saat ini terlihat menatap kearah bilik 17 dengan tatapan kontenplatif.
Dari awal dia yang merupakan seorang pedagang senior, dimana telah banyak merasakan asam manis dunia perdagangan, dan telah menilai banyak barang, memiliki firasat bahwa batu ini bukanlah batu sembarangan.
Namun karena keterbatasan informasi, dia tak bisa dengan baik mengidentifikasinya, terlebih sang pemilik datang untuk mendaftarkan batu ini hanya beberapa hari sebelum pelelangan dimulai, membuatnya tak memiliki terlalu banyak waktu untuk melakukan penelitian.
Kini, saat mendengar suara tawa Theo yang terdengar sangat puas, entah kenapa, salah satu sudut hati kecilnya terasa sakit.
"Sialan! Bocah, kau benar-benar beruntung! apa dewa keberuntungan benar-benar ada didunia ini?" Kata Tiankong, tiba-tiba muncul di samping Theo.
"Apa kau kesal? Hahahhahaha…..!" Theo kembali tertawa lantang mendengar kata-kata Masternya, tampak sangat puas.
"Seandainya barang ini keluar di jamanku! Sudah akan terjadi perang untuk memperebutkannya!" Kata Tiankong, dengan wajah tak percaya.
"Hahhaha… Master, sepertinya setelah ini hentikan menyombong tentang kehidupanmu di masa depan! Kau lihat, hidup di jaman yang kau sebut sebagai jaman kekacauan yang udik ini, justru sangatlah menyenangkan!" Jawab Theo.
"Hahh... harus kuakui, kau sangat beruntung hidup di jaman kekacauan ini! Orang-orang udik ini bahkan membeli Spacial Ring milikmu, yang bahkan setiap anak kecil di masa 10.000 tahun mendatang memilikinya, dengan harga sangat fantastis, hahahahha…! Sungguh konyol!"
"Hahhaha… bodoh amat, yang penting aku untung besar! Jadi, berhenti menyombongkan masa 10.000 tahunmu itu!" Jawab Theo lagi.
*Bleeetaakkkk….!!!
"Sialan! Kenapa kau selalu main pukul bila kalah argumen?" Bentak Theo, ketika Tiankong tiba-tiba memukul kepalanya.
*Bleeetaaaaakkkk….!!!
*Bleeetakkkk….!!!!
"Masih berani menjawab?"
"Kauu…. "
*Bleeetaakkkk…..!!!!
"Terus, lanjutkan seperti itu!" Kata Tiankong, begitu Theo terlihat akan menjawab lagi, dengan senyum lebar yang mengerikan.
Aliran Mana besi kini juga mulai tercipta bersamaan dengan senyum mengerikannya, membentuk sebuah tongkat besi. Melihat itu, Theo kembali menelan kata-katanya, tak berani memberi jawaban. Tiankong sendiri, kini mulai memasang senyum kemenangan.
"Hmmm… bila bukan karena pengetahuan dari perpustakaan pribadiku, kau juga tahu apa? Dan sekarang berani-beraninya menyombong di depanku!" Dengus Tiankong.
"Belum lagi kau juga malas-malasan bila kusuruh menyalin semua buku yang ada disana!"
*Bleetaaakkk….!
Tiankong kembali memukul kepala Theo, setelah mendengus kesal.
"Master sudah cukup! Iya iya, aku minta maaf!"
"Hmmm…. Bagus kalau sudah tahu kesalahanmu!"
Ketika Theo dan Tiankong terlibat pembicaraan rahasia, Arthur yang tak bisa mendengarnya, segera kaget ketika menoleh dan melihat Theo yang berwajah pucat.
"Bosss…! Ada apa?"
Tanya Arthur bingung, sebelumnya dia masih merasa aneh ketika Theo tiba-tiba tertawa keras, melihat Theo sekarang menjadi berwajah pucat sambil terus menggosok-nggosok kepalanya, mau tak mau dia menjadi semakin bingung.
"Sudah, tak usah perdulikan aku!" Jawab Theo singkat.
"Yasudah, tapi ngomong-ngomong, mengapa kau membeli batu aneh itu?" Tanya Arthur penasaran.
Ketika Arthur menanyakan ini, Wanita pendamping bilik terlihat melirik Theo, ikut menyimak dengan teliti jawaban apa yang akan di keluarkan Theo dari pertanyaan Arthur.
"Hahahaha.… Nanti saja akan kujelaskan!" Jawab Theo. Menolak menjawabnya sekarang.
"Ohhh baiklah!" Jawab Arthur singkat, tampak tak peduli, dia sebenarnya hanya sekedar penasaran, tak begitu tertarik dengan batu tersebut.
Berbeda dengan Arthur, Wanita pendamping bilik memasang wajah kecewa ketika Theo menolak untuk menjelaskan.
Sebenarnya, tanpa di ketahui semua orang, dan karena memang pengetahuan di jaman kekacauan ini masihlah sangat minim, tak ada yang tahu bahwa sebongkah batu yang telah di beli Theo adalah item yang di sebut Logam Surgawi.
Logam Surgawi adalah benda yang sangat sulit untuk ditemukan, bahkan di jaman Tiankong atau 10.000 tahun yang akan datang. Dalam catatan buku sejarah yang ada di perpustakaan Tiankong, Logam dengan jenis ini tercatat pernah ditemukan hanya 5 kali saja sepanjang sejarah. Dan kelimanya menimbulkan perang besar yang melibatkan berbagai organisasi Knight ternama.
Logam ini memiliki fungsi yang berguna sebagai bahan dasar untuk menempa Armor atau senjata kelas S, bahkan mitos mengatakan, Logam ini juga bisa menciptakan Armor atau senjata dengan kelas diatas S.
Knight legendaris yang pernah diceritakan Tiankong kisahnya, pencipta perangkat yang mendekati kelas Illahi untuk mengimbangi Six Ancient Thing, yang salah satunya kini tengah di pakai Theo, yakni sepatu petir merah. Juga menggunakan Logam Surgawi sebagai bahan dasar pembuatan perangkat Armornya.
Karena hal itu, meskipun tadi Theo di pukul beberapa kali oleh Masternya, suasana hatinya masih saja tetap baik. Dengan wajah pucat, senyum lebar terus menghiasi wajahnya. Dia merasa menjadi manusia yang sangat beruntung bisa mendapatkan Logam Surgawi dengan hanya mengeluarkan 150.000 Mutiara Mana Perunggu.
"Master, dengan Logam Surgawi sebesar itu, kira-kira aku bisa menempa berapa perangkat agar kandungannya tak pecah?" Tanya Theo.
"Hmmm… paling banyak tiga!" Jawab Tiankong singkat.
"Hahaha. Itu bagus, aku akan menempa satu senjata untuk kak Issabela, kemudian satu Armor tubuh untuk kak Gregoric, sisanya akan kusimpan dan hanya akan kugunakan ketika kemampuan menempaku sudah berkembang lebih baik lagi!"
"Siapa tahu di masa depan aku bisa menempa senjata atau armor kelas Illahi, hahahhahah….!"
"Hmmm…. Jangan memikirkannya sekarang! Itu masih terlalu jauh, bahkan aku dan Knight legendaris itu tidak bisa membuatnya!" Dengus Tiankong. Namun, dengan intonasi nada tak merendahkan. Bagaimanapun juga, harapan terbesarnya memang agar Theo bisa melampauinya.
Theo masih terbenam dengan angan-angannya tentang menempa Item kelas Illahi, ketika suara Liu Wei diatas panggung menyadarkannya kembali.
Saat ini, diatas panggung, item kedelapan, atau salah satu dari tiga item istimewa pada gelombang pertama acara pelelangan tahun ini, telah siap diatas meja.