
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
*Bzzzzzttt…!!!
Dengan derakan listrik ringan berwana kuning, Sanir muncul di area luar perkemahan, diikuti oleh keempat adiknya tak lama kemudian.
"Kakak…!! Makhluk apa itu?" Gumam saudari kelima. Begitu melihat sosok Raja Naga Hitam terbang diatas perkemahan.
"Siapa kau? Kenapa mengacau di markas Bandit Halilintar!" Sanir berseru lantang. Dengan ekspresi wajah marah mengabaikan pertanyaan sang adik begitu melihat area perkemahan hancur berantakan.
"Hmmmm… Perkenalkan, aku adalah pemimpin Bandit Serigala!" Ucap Theo santai dari atas punggung Raja Naga Hitam.
"Aku datang kesini untuk bertamu dan sedikit mengobrol denganmu!" Lanjut Theo.
Mendengar perkataan Theo, ekspresi wajah marah Sanir justru semakin menjadi.
"Jadi kau Boss besar Bandit Serigala? Sedikit mengobrol? Tamu macam apa yang datang untuk sedikit mengobrol namun melakukan banyak kerusakan pada tempat tinggal tuan rumah!" Dengus Sanir.
"Attidutemu sebagai pemimpin kelompok benar-benar mencerminkan desas-desus yang selama ini kudengar! Kalian kelompok Bandit Serigala adalah kawanan Bandit bar-bar keji yang tak punya norma!" Bentak Sanir.
"Hmmm… Benarkah begitu? Jika bukan karena para penjaga perkemahan yang menyerang terlebih dahulu, aku tentu tak akan bersikap berlebihan!"
"Disini aku hanya sekedar mempertahankan diri, tak lebih! Ditambah lagi kita bahkan belum pernah bertemu, dan sebelum sempat mengobrol lebih dekat, kau sudah memiliki anggapan buruk! Itu benar-benar tidak baik!" Jawab Theo.
"Sebagai seorang pemimpin kelompok, cobalah bersikap adil sejak dalam pikiran! Meskipun itu adalah lawan, jangan menilai terlalu cepat!" Tutup Theo.
"Banyak bicara! Kau sudah dengan sangat berani datang kesini seorang diri! Maka, kuanggap dirimu sudah tahu resikonya!" Gumam Sanir. Seraya memberi isyarat pada anggota kelompok Bandit Halilintar yang saat ini sudah berkumpul seluruhnya.
"Habisi dia!" Seru Sanir.
Meskipun ia merasa bahwa makhluk raksasa yang saat ini di tunggangi Theo cukup berbahaya, namun fakta di lapangan dimana kelompok Bandit Halilintar memiliki jumlah yang begitu banyak, membuat Sanir cukup percaya diri bisa mengalahkan Theo yang hanya seorang diri ditemani makhluk tunggangannya tersebut.
Dalam pikiran Sanir, asalkan bisa menjatuhkan dan membunuh Boss besar kelompok Bandit Serigala, itu akan sepadan walaupun kelompok Bandit Halilintar harus kehilangan banyak anggota dalam prosesnya.
Bagaimanapun juga, ini adalah kesempatan yang harus ia ambil, karena dengan terbunuhnya Theo, tentu akan memberi waktu tambahan bagi kelompoknya untuk melakukan rencana migrasi.
Disisi lain, mendengar intruksi Sanir, ratusan anggota Bandit Halilintar segera mengeluarkan senjata rahasia masing-masing. Kemudian mulai membentuk segel tangan.
Bersamaan dengan segel tangan yang mereka bentuk, berbagai jenis senjata rahasia yang berada di tangan masing-masing anggota kelompok Bandit Halilintar menyala terang dengan derakan listrik kuning.
Tanpa menunda, begitu senjata rahasia menyala terang, ratusan orang ini melompat menerjang keatas hampir secara serentak. Sanir dan keempat saudarinya sendiri tak hanya berpangku tangan, mereka justru menjadi kelompok pertama yang maju menerjang, memimpin seluruh Bandit Halilintar melancarkan serangan secara bersamaan.
Pergerakan ratusan anggota Bandit Halilintar tersebut, segera menghasilkan pemandangan yang begitu luar biasa, dimana ratusan baut listrik kuning yang menyala terang, menerobos dan menerangi langit malam yang gelap.
Sementara itu, disisi berlawanan, Theo yang menjadi target serangan kombinasi dahsyat tersebut, saat ini masih berdiri dengan santai diatas punggung Raja Naga Hitam. Menatap kearah ratusan baut listrik kuning yang kini menerjang kearahnya.
"Mencoba bermain listrik denganku?" Gumam Theo. Seringai lebar kini mulai tampak di wajahnya.
Bersamaan dengan seringainya, Theo meletakkan kedua tangan pada punggung metalik Raja Naga Hitam.
Dan begitu tangan Theo menyentuh punggung metalik Raja Naga Hitam, sarung tangan kilat merah yang di kenakannya mulai bergetar hebat untuk sesaat, sebelum kemudian listrik merah mulai menderu dengan sangat liar.
*Bzzzzzttt….!!!
*Bzzzzzttt….!!!!
*Bzzzzzttt….!!!!
Aliran listrik merah meledak dengan sangat dahsyat, menjalar pada tubuh metalik Raja Naga Hitam. Menyebar kemudian membungkus seluruh tubuh raksasanya.
"Grrrrrrrr…..!!!!"
Raja Naga Hitam sendiri, mulai mengerang liar begitu aliran listrik merah sudah sepenuhnya menyelimuti tubuhnya.
Bentuk tubuh Raja Naga Hitam yang dari awal sudah tampak sangat mengerikan, kini berubah menjadi semakin menyeramkan. Dengan erangan liar serta tatapan tajam memandang kearah kelompok yang saat ini tengah menerjang di bawah, Raja Naga Hitam mengeluarkan aura yang begitu mendominasi, tampak bagaikan Dewa kehancuran yang siap ******* segalanya.
Melihat hal tersebut, kelompok Bandit Halilintar yang telah terlanjur maju menerjang, hanya bisa memasang ekspresi wajah tertegun. Berusaha membulatkan tekad untuk tidak mengambil langkah balik arah atau mundur dimana akan sangat memalukan bagi kelompok mereka.
"Jangan takut! Maju serentak! Dengan jumlah kita! Kelompok Bandit Halilintar tak akan kalah!" Teriak Sanir, mencoba memberi dorongan semangat pada anggotanya.
"Demi Bandit Halilintar!"
"Hidup Bandit Halilintar!"
"Maju! Berikan segalanya!"
Teriakan-teriakan lain, mulai menggema diantara kelompok Bandit Halilintar begitu mereka mendengar seruan Boss besarnya. Kelompok ini tampak begitu solid dan benar-benar percaya sepenuhnya pada sang Boss Besar, Sanir Khan.
"Hmmm.. Kepercayaan diri serta keteguhan yang luar biasa!" Gumam Theo.
"Kawanku, beri mereka pelajaran!" Lanjut Theo kemudian.
"GROOOOOAAAAHHH…. !!!!"
Mendengar intruksi Theo, Raja Naga Hitam berteriak lantang dengan sangat liar untuk sesaat, sebelum kemudian mulai mengepakkan kedua sayap berdurinya.
Gerakan mengayunkan sayap yang tampak sangat berat tersebut, diiringi dengan aliran listrik merah yang menyebar diseluruh tubuh Raja Naga Hitam kini bergerak terfokus pada kedua sayapnya.
*Woooshhhh….!!!!
Dengan satu ayunan sayap yang sangat kuat, Raja Naga Hitam menghembuskan seluruh listrik merah yang terfokus begitu mengerikan pada kedua sayapnya kearah bawah. Tepat menuju ratusan kelompok Bandit Halilintar yang kini sudah berada sangat dekat dengannya.
*Blaaaaaaaazzzzzzttttt…..!!!
Benturan antar dua serangan atribut listrik pun tak terhindarkan ketika ratusan listrik kecil berwarna kuning yang terhimpun dari kelompok Bandit Halilintar, bertemu dengan listrik merah yang begitu liar dan mendominasi.
"Goooaahhh….!!!"
Sanir Khan yang bergerak paling depan bersama dengan keempat saudarinya, segera memuntahkan seteguk darah segar begitu aliran listrik merah menghancurkan serangan atribut listrik kuning miliknya.
Berakhir dengan sekujur tubuh wanita tersebut di sengat oleh aliran listrik merah yang ganas. Membuatnya seketika terluka parah dan mulai jatuh terjun bebas kebawah.
Seperti akar pohon yang tersambung menjadi satu, aliran listrik merah tak berhenti bergerak setelah menyengat tubuh Sanir, melainkan mulai menyebar kesegala arah. Meneruskan sengatannya kepada seluruh anggota kelompok Bandit Halilintar yang ikut menerjang bersama dengan Sanir.
Meskipun memang tak seganas serangan pertama yang di terima oleh Sanir, namun sengatan sisa listrik merah yang menyebar tersebut cukup untuk membuat ratusan anggota Bandit Halilintar merasakan rasa sakit teramat sangat menjalar pada seluruh tubuhnya. Berakhir sama dengan Boss besar mereka, jatuh terjun bebas dari ketinggian.
Jatuhnya ratusan anggota Bandit Halilintar, membuat Theo yang saat ini memandang dari atas punggung Raja Naga Hitam di ketinggian langit, seolah seperti sedang melihat deru hujan deras. Namun deru hujan deras tersebut, tercipta dari ratusan tubuh manusia.
"Apa terlalu kejam?" Gumam Theo, dengan tatapan tajam serta seringai lebar.