Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
355 - Level yang Berbeda


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


(Beberapa hari kemudian, perbatasan Gurun Lima Warna dan Gurun Kematian)


*Booommmm….!!!!


*Booommmm….!!!


*Boooommmmm….!!!


Pertempuran besar saat ini tampak sedang terjadi. Sekelompok Knight dengan pakain berlambang lingkaran merah tersulam di bagian dada, terlihat memimpin ratusan orang lainnya menggempur satu perkemahan besar kelompok Bandit.


Para penyerang ini tak lain adalah gabungan kelompok Tribe wilayah Gurun Kematian yang dipimpin langsung oleh salah satu Tribe terkuat wilayah tersebut, yakni Red Rock Tribe. Sementara perkemahan besar kelompok Bandit yang sedang mereka serang saat ini, merupakan markas besar Bandit Serigala.


"Kalian pikir hanya karena bisa menaklukkan seluruh kelompok Bandit di tiga wilayah Gurun terlemah, itu akan cukup untuk bisa berbuat seenaknya dan secara sembarangan masuk ke wilayah Gurun Kematian?" Gumam salah satu pemimpin dari kelompok penyerang anggota Red Rock Tribe.


Pria yang merupakan seorang Knight dengan kelas King tahap langit itu, saat ini tampak sedang menggenggam bagian kepala anggota Bandit Serigala yang telah jatuh tak sadarkan diri dengan tubuh penuh bekas luka.


"Bahkan bila seluruh Bandit di tiga wilayah terlemah bersatu, kalian hanya akan mengantar nyawa dengan datang dan mencoba masuk ke wilayah Gurun Kematian!"


"Kekuatan kelompok Tribe maupun Bandit yang ada disini, berada di level yang sama sekali berbeda!" Tutupnya, seraya menghancurkan kepala pria malang yang dari tadi digenggamnya.


Seperti yang di katakan oleh orang tersebut, perbedaan kekuatan yang begitu mencolok saat ini bisa di lihat ketika hanya dengan ratusan orang, kelompok Tribe yang dipimpin oleh orang-orang Red Rock Tribe, mampu memporak-porandakan perkemahan besar kelompok Bandit Serigala.


Meskipun memang mereka tak akan bisa menghabisi seluruh anggota Bandit Serigala karena kalah terlalu jauh dalam hal jumlah, dimana kelompok Bandit Serigala terdiri dari ribuan orang. Namun, bila itu hanya sekedar pergi setelah membuat kekacauan, maka kelompok tersebut akan cukup mampu, bahkan bisa di bilang sangat mudah untuk melakukannya.


"Sialan! Ini tak bisa dibiarkan! Bila terus berlanjut, mental kelompok kita akan hancur bahkan sebelum berhasil melangkahkan satu kakipun di wilayah Gurun Kematian!" Gumam Hereda.


Fakta bahwa ratusan penyerang ini seluruhnya adalah Knight dengan kelas King tahap Bumi paling rendah, menyebabkan kelompok Bandit Serigala benar-benar dibuat frustasi.


Kelompok elite Bandit Serigala yang terdiri dari para wakil pemimpin memang mampu mengimbangi kelompok penyerang, namun itu tak cukup bila harus melindungi semua anggota kelompok. Terlebih lagi, para penyerang tampak hanya melakukan aksi pukul dan mundur. Tak berniat melakukan pertempuran serius.


Taktik tersebut, membuat kelompok elite Bandit Serigala tak bisa melakukan banyak hal, karena setiap mereka berniat menghadang atau setidaknya mengalahkan satu penyerang dari kelompok Tribe, orang-orang ini dengan tanpa pikir panjang akan melakukan retreat.


Aksi serangan pukul dan mundur yang dilancarkan oleh kelompok yang di pimpin Red Rock Tribe tersebut, berlangsung secara rutin beberapa kali dalam seminggu semenjak Kelompok Bandit Serigala mendirikan kemah besar di perbatasan wilayah Gurun Kematian. Menyebabkan kelompok Bandit Serigala mengalami banyak kerugian besar di setiap aksi serangan yang terjadi.


"Thomas, apakah perlu melakukan langkah mundur terlebih dahulu? Kita bisa mendirikan kemah di bagian dalam wilayah Gurun Lima Warna yang cukup aman! Menunggu sampai Boss Besar kembali!" Ucap Sanir. Memberi saran.


"Itu benar! Semakin lama kita bertahan disini, semakin berkurang anggota kelompok kita! Terlebih banyak anggota yang mampu bertahan kini mulai kehilangan semangat juang!" Tambah Hereda.


Mendengar kata-kata dua wanita tersebut, Thomas tak segera menjawab. Mata bulatnya yang kecil, masih sibuk mengamati sekitar. Sampai kemudian, satu insiden kecil menarik perhatiannya.


Insiden tersebut tak lain adalah, Hella dan Razak yang sedang bertarung bersama, dengan sukses memberi pukulan kombinasi yang mendarat dengan telak pada salah satu anggota kelompok penyerang.


"Hmmm… Intruksi Boss Besar sangatlah jelas! Ia mengatakan untuk kita segera mendirikan kemah besar di perbatasan wilayah Gurun Kematian begitu selesai menaklukan tiga Gurun!"


"Bukankah kalian sebagai wakil pemimpin, yang ikut hadir di pertemuan terakhir sebelum ia melakukan kultivasi tertutup juga mendengarnya!" Tanya Thomas.


"Yah, lagipula Boss Besar mungkin tak menduga bila perkembangan situasi akan menjadi seperti ini!" Sahut Hereda.


"Kalian salah! Aku meragukannya!" Ucap Thomas.


"Sejak pertama kali bertemu dengan Boss Besar, aku tak pernah sekalipun melihat ia memberi intruksi yang mana berada diluar jangkauannya!" Lanjut Thomas.


"Yang di katakan si Gendut kali ini benar! Pasti ada alasan tertentu untuk Boss Besar memberi intruksi seperti ini!" Sahut Oscana.


"Konyol! Buka mata kalian!" Bentak Sanir. Tampak sangat kesal. Mulai merasa Thomas dan beberapa anggota paling awal kelompok Bandit Serigala terlalu mendewakan Theo.


"Aku sudah membukanya dari tadi! Sekarang giliranmu untuk melihat dengan teliti!" Gumam Thomas, seraya mengarahkan pandangan setiap orang pada kelompok Razak dan Hella.


"Apa maksudmu? Mereka hanya sekedar mengalahkan satu dua orang!" Jawab Sanir.


"Jangan menyebutnya dengan hanya sekedar mengalahkan satu dua orang! Namun lihat dari sudut pandang lain! yang mereka lakukan sekarang, itu disebut dengan adaptasi!" Ucap Thomas.


Mendengar kata-kata Thomas, Sanir segera mengerutkan kening, jatuh pada pemikirian mendalam.


"Sama sepertimu! Aku juga sempat mempertanyakan tentang kenapa Boss Besar terkesan memberi intruksi prematur yang sangat terburu-buru dengan menyuruh kita mendirikan kemah besar di wilayah yang bisa di bilang sangat keras ini!" Lanjut Thomas.


"Namun, setelah berjalannya waktu, baru tadi aku mulai paham, intruksi Boss Besar bukanlah sebuah langkah prematur. Namun merupakan langkah untuk memaksa kita memandang kedepan. Menatap langsung wajah dari wilayah keras yang setelah ini harus kita taklukkan!"


"Dan bila setelah ini kita memilih mundur, bahkan hanya karena serangan-serangan kecil tersebut, apakah pantas kita begitu sombong mengatakan akan menaklukkan seluruh Bandit di wilayah Gurun East Region!" Tutup Thomas. Kemudian dengan tiba-tiba berubah kedalam mode Meridian Knightnya.


Ia mengeluarkan Gada raksasanya sebelum tanpa memberi kalimat apapun lagi, bergerak menerjang maju kedepan. Bergabung dengan kelompok Hella dan Razak.


Melihat aksi Thomas, dan setelah merenungkan kata-katanya untuk beberapa saat, ekspresi wajah dari setiap orang kini menjadi teguh. Mereka berubah kedalam mode Knight masing-masing dan ikut bergerak menerjang kedepan.


"Groooooaaaahhh….!!!!"


"Auuuuuhhhh…..!!!!"


Bersama dengan Raja Naga Hitam dan 50 Serigala metalik, kelompok Bandit Serigala memberi perlawanan sengit. Dengan cerdas menyatukan serangan di dalam satu titik. Ratusan orang, menyerang satu orang. Menyebabkan yang menjadi target serangan akhirnya tak mampu mengambil langkah mundur, mati di tempat.


Namun, taktik tersebut tidaklah sepenuhnya menguntungkan, meskipun ini adalah untuk pertama kalinya mereka bisa menghabisi balik beberapa anggota dari kelompok Tribe penyerang, tapi pengorbanan yang harus di berikan juga tidak sedikit.


Ratusan anggota Bandit Serigala harus rela menyerahkan punggung mereka yang terbuka tanpa pertahanan karena fokus menyerang satu orang, dihabisi oleh beberapa orang anggota kelompok Tribe lainnya.


"Hmmm….! Ada yang aneh dengan tingkah laku para Bandit ini! Sebaiknya kita mundur sekarang!" Ucap salah satu pemimpin Red Rock Tribe. Ketika menyadari perubahan sikap lawan-lawannya.


Mendengar intruksi tersebut, seluruh pemimpin Tribe lainnya dengan sigap akan menarik pasukan. Berniat mundur dari penyerangan hari itu seperti biasanya.


Namun, sebelum mereka sempat melakukan pergerakan….


*Bzzzzzttt….!!!


Sebuah derak ringan aliran listrik merah tiba-tiba menyala diatas langit tempat mereka berdiri. Satu sosok pemuda berambut putih, sambil memegang Palu Raksasa yang berukuran dua kali tubuh pria dewasa berwarna perak, terbang jatuh kebawah tepat menuju lokasi para pemimpin Tribe.


"Teknik pertama Dosa Kemalasan!"


***


Note :


Jangan lupa, minggu ini pekan event spin off 2 mingguan berjalan. Jadi silahkan vote atau komen bagi yang berminat ^^