
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
"Groooooaaaahhh….!!!!"
Raja Naga Hitam berteriak keras dengan sangat liar. Mulai menebas setiap orang yang berusaha kabur dari medan pertempuran menggunakan sayap berdurinya.
Sesekali juga mengibaskan ujung ekornya yang berbentuk Gada raksasa, menghujamkan tubuh-tubuh yang berusaha kabur kembali ke medan pertempuran di bawah dengan benturan keras. Menyebabkan mereka yang menerima serangan tersebut, terluka sangat parah ketika mendarat di tengah lautan manusia.
Sementara di punggung Raja Naga Hitam, Razak, Hella dan hampir semua wakil pemimpin Bandit Serigala, kini berdiri dengan tatapan tajam memandang kearah bawah.
Tim elite ini tampak bersiap untuk beberapa saat, masuk kedalam mode tempur masing-masing, sebelum akhirnya melakukan lompatan turun kebawah hampir secara serentak.
Dengan para wakil pemimpin tua yang memiliki tingkat kultivasi paling tinggi memimpin didepan, kelompok elite Bandit Serigala memasuki medan pertempuran. Membantai setiap anggota aliansi Bandit dari arah belakang. Menyebabkan kelompok aliansi Bandit kini menjadi semakin frustasi.
Razak dengan Gauntlet besi di kedua kepalan tangan dimana ia dapatkan dari latihannya di dalam Istana Emas, melancarkan teknik-teknik serangan brutal kepada setiap lawan yang berada paling dekat dengannya.
Bagaikan bocah iblis, tiap teknik pukulan beratribut Mana Besi yang di ekseskusi oleh Razak, menghancurkan bagian tubuh manapun dari setiap lawan yang tak beruntung dimana harus menerima pukulannya.
Sementara itu, tak mau ketinggalan dengan aksi Razak, Hella yang memegang Tombak Es dan ditemani oleh White Fang, menghujamkan serangan berhawa dingin intens yang segera membekukan sekelompok besar lawan yang menjadi target serangannya.
Teknik Tombak Hella tampak semakin baik sejak ia mendapat intruksi serta perbaikan manual teknik langsung dari Theo. Kini Hella bukan terlihat sedang bertarung, melainkan sedang menari. Menunjukkan seni tombak yang sangat elegan namun juga mendominasi di saat bersamaan. Kemanapun Hella bergerak, bongkahan es raksasa berisi puluhan manusia akan tercipta.
Situasi tak jauh berbeda juga di tampilkan oleh kelompok wakil pemimpin Bandit Serigala lain, Yaseya, Oscana, Yahuwa, serta para wakil pemimpin tua, membantai lawannya masing-masing dengan tanpa belas kasihan.
Gelombang serangan baru yang datang dari arah belakang tersebut, membuat kelompok aliansi Bandit menjadi semakin hilang arah. Tak tahu lagi harus berbuat seperti apa.
Di belakang mereka mendapat gempuran kelompok keji wakil pemimpin Bandit Serigala, dari atas mereka mendapat puluhan serangan jarak jauh yang sampai saat ini seperti hujan deras tanpa henti, sementara jika tetap memaksa maju kedepan, mereka akan di hadapkan dengan situasi neraka saling injak antar dua kelompok aliansi Bandit dan Tribe, dimana sekarang sudah mulai membentuk satu tumpukan tinggi tubuh manusia yang saling injak satu sama lain.
Mencoba kabur dengan terbang? Jangan di tanya lagi, Raja Naga Hitam masih bersiaga diatas langit, terbang mengelilingi medan pertempuran sambil sesekali menukik tajam memberi serangan keji pada sisi kelompok Tribe.
Dan jika melihat ada satu saja dari mereka yang melakukan gerakan melompat keatas, tanpa ampun ia akan membuka mulutnya. Menerkam dan mencabik tubuh orang tersebut dengan taring-taringnya yang sangat tajam.
Raja Naga Hitam kini bagaikan penguasa langit. Terus mengeluarkan hawa kehadiran yang sangat mendominasi, seolah ingin mengatakan bahwa ia adalah raja diatas langit.
"Mereka hanya satu kelompok! Kenapa bisa sekuat ini!"
"Ini mengerikan!"
"Makhluk apa itu?"
"Aku tak ingin mati dengan cara seperti ini!"
Teriakan-teriakan putus asa yang terdengar sangat parau, kini mulai berdengung di sekitar kelompok aliansi Bandit. Banyak dari mereka yang saat ini sudah berlutut dan kehilangan harapan. Bahkan dari banyak orang yang berlutut tersebut, tampak juga beberapa Boss Besar para Bandit.
Melihat kejadian tersebut, Thomas yang saat ini masih dengan wajah malas mengamati diatas perbukitan, mulai mengganti wajah malasnya dengan senyum lebar.
"Kami Bandit Serigala memberi kalian dua pilihan! Tunduk dan bergabung dengan kelompok Bandit Serigala, atau di musnahkan!"
Teriakan Thomas, segera membuat situasi medan pertempuran yang sudah sangat kacau, kini berubah menjadi semakin gaduh.
"Aku memilih tunduk!"
"Ampuni nyawaku dengan begitu aku dan kelompok Banditku akan bersumpah setia pada Bandit Serigala!"
"Tunduk!"
"Menyerah!"
"Aku bergabung!"
"B*debah pengecut! Apa kalian tak punya harga diri?"
"Jangan harap aku akan tunduk!"
"Mati saja kalian Bandit Serigala!"
"Kelompok licik sialan!"
"Aku menolak!"
"Lebih baik aku mati dari pada bergabung dengan kelompok kalian!"
Dua opsi penawaran yang di teriakkan Thomas, segera memicu berbagai jawaban dari para Boss Besar Bandit, sebagain besar mengatakan mereka memilih untuk tunduk, namun tak sedikit pula yang menolak mentah-mentah. Mempertahankan harga diri dan kebanggaan kelompoknya masing-masing.
"Hmmmm….! Baiklah, aku bisa dengar dari sini banyak yang setuju untuk tunduk!" Ucap Thomas.
"Sebagai bukti kesetiaan awal kalian, sekarang bunuh siapapun itu yang tadi mengatakan bahwa ia menolak untuk bergabung! Buktikan dedikasi kalian untuk kelompok! Bantai habis setiap lawan yang menolak tunduk!" Seru Thomas lantang.
"Setelah itu, kita akan bersatu dan ganti memusnahkan kelompok Tribe yang ada di depan!" Tutup Thomas, kini memasang seringai lebar. Tampak berusaha mencoba tampil kejam namun elegan dengan meniru seringai Theo.
Mendengar intruksi Thomas, para Boss Besar yang sebelumnya mengatakan akan tunduk, segera memasang ekspresi wajah menyeramkan. Menoleh kearah siapapun Boss Besar lain di sekitar mereka yang tadi mengatakan menolak untuk bergabung dengan kelompok Bandit Serigala.
"Jangan berani melakukan apapun itu yang ada di dalam benak kalian!" Gumam salah satu Boss Besar Bandit yang menolak bergabung, begitu menyadari banyak tatapan membunuh sekarang terarah padanya.
Namun, selesai melontarkan kalimat ancaman, jawaban yang ia terima justru terjangan serentak para Boss Besar Bandit yang menatapnya. Tanpa memberi jawaban apapun, mereka mulai membunuh para Boss Besar yang menolak bergabung.
Situasi medan pertempuran berkembang menjadi semakin rumit saat para Boss Besar kini saling bunuh satu sama lain. Situasi rumit baru mereda ketika kelompok elite wakil pemimpin Bandit Serigala yang sebelumnya hanya diam saat Thomas mulai berbicara, kini kembali ikut memasuki pertempuran.
Dengan kembali beraksinya kelompok elite tersebut, pembantaian dari para Boss Besar Bandit yang menolak untuk bergabung berjalan dengan cukup cepat. Sampai akhirnya hanya tersisa kelompok aliansi Bandit yang seluruhnya memilih tunduk dan mengatakan setia bergabung dengan Bandit Serigala.
Setelah berhasil membantai kelompok yang menolak bergabung, gelombang serangan dilanjutkan dengan menggerus kelompok Tribe yang saat ini dalam posisi sepenuhnya tergencet dari dua arah. Tanpa kesulitan berarti, Bandit Serigala memusnahkan kelompok Tribe tersebut.
Hari itu, menjadi momen penting dari langkah awal rencana kelompok Bandit Serigala. Karena mereka bisa dikatakan telah menaklukkan Gurun Pasir Berisik dan Gurun Lima Warna dengan sekali jalan.
Beberapa kelompok Bandit besar dari aliansi Bandit, berhasil di rekrut, sementara yang menolak bergabung, dimusnahkan saat itu juga. Ditambah dengan hampir seluruh Tribe besar di wilayah dua gurun juga ikut musnah dalam pertempuran itu, menyebabkan tanpa kesulitan berarti, Bandit Serigala menyisir kelompok Bandit lainnya yang masih tersisa beberapa hari kemudian.
Secara resmi, Bandit Serigala akhirnya menjadi kelompok Bandit tunggal penguasa tiga wilayah Gurun. Gurun Darah Gersang, Gurun Pasir Berisik, dan Gurun Lima Warna. Hanya menunggu kembalinya Theo untuk bersiap melanjutkan game ke level berikutnya.