Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
453 - Markas Baru


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


Suara getaran keras yang diiringi dengan terbukanya puncak sebuah bukit, menjadi penyambut pertama kelompok Bandit Serigala saat Glory Land Warship mulai mendarat dan memasuki ruang landasan terbang.


Dengan gerakan menurun secara perlahan, perlu beberapa waktu sampai Sasi yang mengendalikan Glory Land Warship akhirnya mendaratkan kapal tersebut dengan sempurna.


*Bammmm…!!!


Pendaratan kapal perang raksasa, menyebabkan satu suara keras begitu menyentuh lantai landasan.


"Selamat datang semuanya!" Ucap Razak, memberi sambutan saat melihat sosok para wakil pemimpin kelompok Bandit Serigala yang saat ini ada diatas dek.


Sementara Tuan Leluhur yang ada di sebelah Razak, hanya memandang dengan tatapan tajam menyapu seluruh orang yang ada diatas dek, sebelum mulai mengalihkan pandangannya. Tampak tak begitu tertarik.


"Hmmm… Dengan pemimpin kelompok seberbakat pemuda itu, kupikir anggota Bandit Serigala akan berisi sekumpulan orang-orang menarik! Ternyata hanya biasa-biasa saja!" Gumam Tuan Leluhur.


"Selain dua gadis yang suka ribut, dan juga keturunan terakhir suku Thousand Beast, para anggota lain tak terlalu mencolok!" Tambah Tuan Leluhur, seraya mulai berjalan menuju ruangan lain.


Sementara itu, ketika sosok Tuan Leluhur berjalan memunggungi kapal perang, satu sorot mata tajam terus menatap kearahnya. Pemilik sorot mata ini tak lain adalah Shadex. Dari tadi, sejak pertama kali kapal perang mendarat, ia terus memperhatikan dengan seksama Tuan Leluhur yang dalam bentuk Serigala Perak.


"Aliran Mana Besi yang begitu murni! Kualitasnya sama dengan milik Boss Besar dan juga bocah bernama Razak itu! Hanya saja, bila dibandingkan dengan sang bocah, kedalaman aliran Mana Besi yang dimiliki oleh senior ini tampak begitu tak terukur! Seperti laut lepas yang tenang, namun sangat mendalam!" Gumam Shadex. Tampak sangat tertarik dengan sosok Tuan Leluhur.


"Ohh… Tentu saja! Dia adalah Tuan Leluhur! Meskipun wujudnya saat ini adalah Serigala Metalik milik Boss Besar, namun yang bersemayam di dalam logam perak itu adalah seorang Knight berkelas Emperor! Leluhur dari suku Osiris yang Legendaris!" Jawab Guan Zifei, yang secara kebetulan mendengar gumaman Shadex.


Setelah mengatakan hal tersebut, Guan Zifei segera melompat turun dari atas dek Glory Land Warship. Bersama dengan para wakil pemimpin kelompok Bandit Serigala yang lain, mulai berjalan mengikuti Razak yang menunjukkan tempat beristirahat bagi mereka semua.


"Seorang Leluhur suku Osiris! Senior Tuan Leluhur! Tak seperti bocah Razak yang belum matang, senior ini pastilah memiliki banyak metode atau manual teknik pengolahan Mana Besi yang sangat langka!" Gumam Shadex. Ekpsresi wajahnya yang biasa tampak suram, kini terlihat berubah sedikit antusias. Tanpa menunda, ia ikut melompat turun mengikuti yang lain.


Ketika para wakil pemimpin yang ada diatas dek Glory Land Warship telah melompat turun, Sasi yang berada di dalam ruang kendali, mulai membuka segel pintu salah satu ruang kapal perang dimana dunia kecil Istana Emas berada.


Mengeluarkan seluruh anggota kelompok Bandit Serigala yang sebelumnya ia tempatkan di dunia kecil tersebut.


Dengan perasaan riang gembira yang begitu lega, seluruh anggota kelompok Bandit Serigala yang berjumlah ribuan melompat keluar dari dalam dunia kecil.


Dari awal mereka memasuki dunia kecil, setiap orang ini sudah merasa tak tahan dengan rasa pengap dan juga kengerian suasana yang ada di dalam sana. Terlebih ketika mendengar suara-suara liar para Demonic Beast penghuni dunia kecil tersebut yang terdengar sangat mengerikan. Membuat setiap orang benar-benar sudah tak sabar untuk keluar sesegera mungkin.


"Setiap orang! Harap bergerak dengan rute yang telah kusiapkan! Anggota divisi pendobrak, yang merupakan divisi nomer satu dalam kelompok, bisa menempati ruang sebelah kiri!" Seru Razak, yang telah kembali kelokasi.


"Diteruskan dengan anggota divisi kedua, yakni divisi penyergap, kalian bisa mengambil ruang yang ada di sebelah kanan!"


"Sementara divisi ketiga, divisi serangan jarak jauh, harap menempati ruang yang ada di hadapanku!"


"Divisi keempat, kembali lagi ke ruang sebelah kiri! Seperti divisi pertama! Begitu seterusnya sesuai dengan urutan nomer divisi!" Tutup Razak. Tampak telah mengatur semua persiapan agar tak terjadi kekacauan begitu kelompok Bandit Serigala sampai di dalam benteng. Mengingat jumlah kelompok Bandit Serigala yang memang ribuan orang.


Mendengar intruksi Razak, ribuan anggota kelompok Bandit Serigala yang pada awalnya tampak bergerombol di dalam ruang landasan, dengan rapi mulai berjalan menuju tempat yang telah disiapkan untuk masing-masing divisi.


"Jadi ini kemah besar kita yang baru!" Gumam salah satu anggota kelompok Bandit Serigala.


"Bodoh! Ini tak bisa lagi disebut kemah! Melainkan markas besar!" Tanggap kawan di sebelah anggota sebelumnnya.


Anggota kelompok Bandit Serigala berjalan dengan langkah perlahan sembari melihat sekeliling, mengamati dengan tatapan mata takjub. Bagaimanapun juga, Formasi benteng suku Osiris yang telah aktif, membuat pemandangan di dalamnya kini tampak begitu megah. Banyak interior dan juga patung-patung pejuang masa lampau yang terlihat sangat gagah, menghiasi seluruh ruangan.


"Razakkk …!!!"


*Buuugggg….!!!


Razak tampak masih mengamati pergerakan setiap divisi, sampai kemudian, satu sosok berteriak keras memanggil, menerjang dan memeluknya dengan keras.


"Hei…! Syakira! Hentikan itu!" Ucap Razak, saat melihat Syakira dengan mata berkaca, kini memeluknya erat.


"Diam! Aku rindu mengomelimu!" Ucap Syakira.


"Ahhh, Jadi ini Razak yang selalu kau ceritakan pada kami?"


"Hmmmm… Lumayan ganteng juga! Selama ini aku jarang memperhatikanmu! Kupikir kau hanya anggota tak penting atau kacung kelompok Bandit Serigala!"


"Hei Razak! Kuperingatkan padamu! Jika kau berani menyakiti Syakira, maka kami tak akan segan untuk memberimu pelajaran!"


"Hmmmm… Syakira! Kau berteman dengan para gadis ini?" Tanya Razak, dengan ekspresi wajah tak peduli.


"Mereka punya nama! Kak Xika, kak Xoya, dan kak Xafi! Jadi, setelah ini panggil dengan benar!" Jawab Syakira.


"Tak terlalu penting! Dari pada ketiga gadis ini, aku malah lebih khawatir saat melihat kau dekat dengan dua gadis berdarah panas yang selalu mengikuti Boss!" Tanggap Razak.


"Siapa yang kau maksud?"


"Hmmmm… Bocah ini sudah mulai punya nyali untuk bersikap kurang ajar!"


Razak baru saja menyelesaikan kalimatnya, sampai kemudian, dua sosok berjalan mendekat. Tak lain adalah Gerel dan Hella.


"Syakira! Lebih baik sekarang ikut aku! Kita lanjutkan latihannya!" Ucap Hella.


"Apa maksud kata-katamu? Bukankah hari ini adalah jadwalku melatih Syakira!" Dengus Gerel. Seraya menarik tangan Syakira.


"Hmmmm… Kau pura-pura bodoh atau apa? Jadwal latihan denganmu adalah kemarin!" Dengus Hella balik. Ganti menarik Syakira, menggendong sang gadis kecil, kemudian segera bergerak menuju salah satu ruangan lain.


"J*lang Br*ngsek!" Bentak Gerel, tanpa menunda mengikuti Hella untuk mengejarnya.


"Hahahhaha…. Ini akan seru lagi!" Ucap Xoya, segera mengekor Gerel.


"Cepat-cepat! Pertunjukan akan segera dimulai!" Sahut Xika.


"Tunggu aku!" Seru Xafi.


"Sighhh….!!! Syakira benar-benar telah salah memilih teman!" Dengus Razak, saat para gadis telah meninggalkan tempat.


"Hmmmm… Sepertinya si Leluhur itu telah memberimu sedikit arahan pelatihan! Bisa kulihat aliran Mana Besi di dalam tubuhmu kini sedikit bergerak lebih teratur!" Ucap Sasi, sosoknya secara tiba-tiba muncul di sebelah Razak.


"Ahhhh… Tuan Goblin! Salam!" Jawab Razak.


"Mulai sekarang, jangan panggil aku tuan lagi! Panggil aku Master! Aku telah memutuskan untuk mengangkatmu sebagai murid!" Jawab Sasi.


Mendengar kata-kata Sasi yang secara tiba-tiba menyatakan bahwa ia mengangkatnya sebagai murid, menyebabkan raut wajah Razak menjadi tertegun untuk beberapa saat.


"Tuan Goblin, anda serius?" Tanya Razak.


Mendengar pertanyaan Razak, Sasi hendak memberi jawaban, sampai kemudian, suara Theo terdengar dari atas dek Glory Land Warship.


"Razak! Aku perlu ruang perawatan yang memadai sekarang juga!" Ucap Theo. Sementara di belakang punggungnya, tubuh Zota yang masih tak sadarkan diri, melayang perlahan ditopang oleh aliran Mana Angin.