
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
*Wossshhh….!!!!
Memanfaatkan Mana Gravitasi untuk meringankan tubuh yang dikombinasikan dengan kontrol pada atribut Mana Angin, Theo mendarat dengan sempurna setelah jatuh lumayan dalam di bawah lantai yang sebelumnya secara tiba-tiba terbuka.
Sementara Hella dan Gerel, menggunakan Dual Element Seed masing-masing, membuat pijakan sebelum tubuh mereka mendarat untuk menahan benturan.
"Lumayan dalam juga!" Ucap Theo, sambil melihat keatas sesaat setelah mendarat.
"Hmmm… Aku akan memanggil Nagini untuk kembali keatas!" Kata Gerel, kemudian tampak akan segera memanggil Guardian Beast Grey Snake miliknya.
"Jika jadi kau, maka aku tak akan melakukannya!" Ucap Theo.
"Apa maksudmu?" Tanya Gerel.
"Hmmm… Lihatlah sisi-sisi dinding pada lubang diatas!" Jawab Theo, sambil menunjuk pada berbagai ukiran aneh yang tergambar pada sisi-sisi dinding menuju lubang di bagian atas. Tempat sebelumnya kelompok mereka jatuh.
Mendengar apa yang diucapkan Theo, baik itu Gerel dan juga Hella, segera melihat sisi dinding yang dimaksud olehnya.
"Kau mau bilang seluruh ukiran itu adalah formasi jebakan seperti yang terpasang di lantai atas?" Tanya Gerel.
"Tepat! Tapi sedikit meleset! Ukiran-ukiran tersebut memang formasi jebakan! Namun levelnya lebih berbahaya dari yang terpasang diatas!"
Gerel segera mengerutkan kening begitu mendengar penjelasan Theo, tampak sedikit ragu dan tak percaya. "Seberbahaya apa memang? Dengan Nagini bersamaku, aku yakin tak akan menjadi masalah bila harus menerobos beberapa formasi jebakan!" Ucap Gerel.
"Hmmmm.. Aku sendiri juga belum bisa memastikannya, sebagai orang yang sedikit paham tentang formasi, aku cuma bisa bilang level formasi yang terpasang di sisi-sisi dinding tersebut lebih tinggi dan lebih berbahaya!"
"Tapi itu bagus juga bila kau mau menjadi orang pertama yang mencobanya! Lupakan peringatanku sebelumnya! Silahkan terobos saja! Bila kau berhasil naik keatas, aku akan mengikuti di belakang! Namun bila kau gagal dan berakhir terluka parah atau mati, maka itu bisa menjadi pertimbangan bagiku untuk tak ikut keatas dan mencari jalan lain!" Ucap Theo.
Kata-kata Theo yang secara tak langsung mengatakan ingin agar Gerel menjadi kelinci percobaan, segera membuat wanita ini menjadi marah.
"B4jingan! Kau pikir siapa dirimu? Kenapa tak kau saja yang naik keatas duluan?" Bentak Gerel.
"Wanita j4lang! Kenapa memaki! Bukankah kau sendiri yang dari tadi ingin naik keatas?" Bentak Hella balik. Kembali membela Theo.
"Hmmmm… Kali ini aku sepakat dengan Hella! Dari awal aku memang tak berniat kembali keatas! Langkah paling logis adalah menyusuri lorong di depan!" Ucap Theo.
"Namun, seperti yang kubilang barusan, bila kau bersikeras untuk mencoba kembali keatas, itu terserah! Aku akan mengamati dari sini dan menjadikan hasil percobaanmu untuk naik, sebagai pertimbangan langkah apa yang akan kuambil selanjutnya!" Lanjut Theo, sambil mulai memasang wajah tak peduli.
"Tutup mulutmu! Aku akan ikut menyusuri lorong di depan!" Dengus Gerel.
"Ahhh… Sungguh di sayangkan!" Balas Theo.
"Hahhaha….!"
Sementara Hella, langsung tertawa puas. Ia merasa sangat senang melihat ekspresi canggung dan agak malu yang ditunjukkan Gerel karena telah menelan kembali semua kata-kata penuh percaya diri yang sebelumnya ia ucapkan tentang kembali keatas dengan usaha sendiri.
"Apa yang kau tertawakan?" Bentak Gerel.
"Tentu saja kau! Memang apa lagi?" Bentak Hella balik. Dengan ekspresi wajah dibuat-buat, tampak ingin memprovokasi Gerel.
"Hahhh….! Lanjutkan saja! Aku tak peduli lagi! Aku duluan!" Ucap Theo. Begitu melihat dua wanita ini kembali akan berseteru. Kemudian mulai berjalan kearah lorong sempit tak jauh di hadapannya. Meninggalkan Hella dan Gerel yang masih saling pandang dengan tatapan sengit di belakang.
***
"Kapan kita sampai di ujung lorong? Ini seperti tak ada habisnya!" Gerutu Gerel, setelah sudah hampir 2 jam ia mengikuti Theo menyusuri lorong sempit.
"Tak bisakah kau tenang barang sejenak saja? Kenapa selalu berisik setiap waktu!" Dengus Hella, begitu mendengar gerutuan Gerel.
"Ohhh… Apakah itu sebuah ancaman? Begitu menyeramkan, sampai-sampai membuat kedua kakiku bergetar!" Ejek Hella.
*Draaaakkkk….!!!
*Bammmm….!!!
Hella dan Gerel masih saling berdebat sampai kemudian Theo yang sudah tak peduli lagi dengan keduanya, menemukan suatu mekanisme tersembunyi pada dinding lorong dan berhasil membuka pintu rahasia.
"Jadi begitu! Lorong sempit ini hanyalah sebuah umpan agar setiap yang melewatinya terus berjalan kedepan, padahal sebenarnya hanya merupakan jalan memutar yang tak ada habisnya!" Gumam Theo.
Beberapa saat yang lalu, setelah mengamati dengan cermat situasi sekitar, Theo yang merasa aneh karena seolah lorong sempit yang ia tapaki tak memiliki ujung, mencoba membuat goresan kecil pada dinding lorong yang telah ia lewati. Dan begitu berjalan lagi, tak lama kemudian, ia kembali melihat goresan yang sebelumnya ia buat.
Hal itu segera mengkonfirmasi dugaan Theo bahwa selama ini ia hanya berjalan memutar. Setelah mendapati fakta tersebut, Theo melanjutkan dengan mencari mekanisme jalan keluar rahasia yang seharusnya terpasang secara tersembunyi disuatu tempat pada sisi-sisi dinding lorong.
Kini, melihat sebuah lubang pintu muncul pada dinding, Theo segera melangkahkan kakinya memasuki pintu tersebut, diikuti Hella dan Gerel menyusul dari belakang.
"Ruangan aneh apalagi sekarang?" Ucap Theo saat pertama kali memasuki ruangan di balik pintu, dimana pandangan matanya disambut oleh deretan lukisan seorang manusia muda yang berjejer memenuhi seluruh dinding ruangan.
"Sungguh pemuda narsis yang penuh gairah!" Kata Theo. Begitu melihat di semua lukisan yang terpajang, pemuda yang menjadi model utama lukisan-lukisan tersebut, digambarkan dengan senyum lebar dan memeluk beberapa gadis muda dalam pangkuannya.
"Tampaknya pemuda inilah yang dari tadi terus mengamati dari pusat formasi Istana, dan mengendalikan semua mekanisme jebakan!" Lanjutnya.
"Terima kasih atas pujiannya!"
Tepat ketika Theo menyelesaikan kalimatnya yang mengomentari lukisan-lukisan tersebut, sebuah suara keras yang sangat melengking tiba-tiba terdengar lantang. Menggema memenuhi seluruh ruangan.
"Tak kusangka, selain merupakan seorang ahli formasi, kau juga memiliki selera yang bagus dalam melihat sebuah karya seni!" Ucap suara melengking.
"Dan yang paling tak terduga, kau ternyata juga memiliki pemikiran dan mata yang tajam, sehingga bisa meyadari keberadaanku yang mengendalikan Istana Emas ini!"
"Bahh…! Itu tadi bukan pujian!" Dengus Theo, saat mendengar suara melengking misterius mengatakan bahwa ia memuji lukisan-lukisannya.
"Hahhahhaa… Terserah! Yang jelas karena kau telah menyadari keberadaanku, maka permainan akan segera di mulai!"
"Permainan?" Gumam Gerel.
"Apa maksudnya?" Tanya Hella.
Sementara Theo, tak memberi tanggapan apapun, hanya mulai melihat sekeliling dengan tatapan waspada.
"Permainan tahap pertama kelompok dua! Jerat Gairah nafsu duniawi, dimulai!" Ucap suara melengking misterius dengan nada yang sangat tengil.
Bersamaan dengan kalimatnya tersebut, sebuah lubang kecil terbuka di langit-langit ruangan. Diiringi dengan seekor makhluk terbang keluar dari dalam lubang tersebut.
"Kuuuhhhh….!!!"
"Demonic Beast?" Ucap Theo, saat melihat aliran Mana Kegelapan, mengalir keluar dari tubuh makhluk berbentuk burung hantu berwarna merah muda yang baru saja muncul.
Saat pandangan Theo masih terfokus pada Demonic Beast berbentuk burung hantu tersebut, lubang-lubang kecil lain tiba-tiba kembali terbuka, kawanan Demonic Beast dengan bentuk yang sama terbang keluar dari dalam lubang.
"Kuuhhh….!!!!"
"Kuuuhhhh….!!!!"
"Kuhhh….!!!"
Puluhan Burung Hantu merah muda ini bersuara ribut untuk sesaat, sebelum dengan gerakan gesit terbang secara acak mengitari langit-langit ruangan, sambil mulai menyebarkan serbuk berwarna merah muda.
Dengan aksi kawanan Demonic Beast berbentuk Burung Hantu tersebut, ruangan yang memang tak terlalu besar, kini mulai di penuhi dengan serbuk merah muda. Melihat hal ini, Theo dengan cepat menoleh kebelangang.
"Tahan nafas kalian!" Teriak Theo.
Namun, peringatan Theo tampaknya cukup terlambat, Hella dan Gerel yang berdiri tak jauh di belakangnya. Terlihat telah menghirup serbuk merah muda lumayan banyak.
Kini, dengan rona wajah memerah dan nafas memburu, keduanya menatap kearah Theo. Menatap dengan tatapan penuh gairah. Sebelum mulai menerjang maju dengan cepat, sambil melepas pakaiannya masing-masing.