Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
171 - Bidak Catur Tambahan


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


Theo mendarat dengan mulus kembali ke tanah setelah meledakkan lokasi di bawahnya dengan Bom Formasi. Tanpa memeriksa lebih lanjut bagaimana nasib Beladro, ia bergegas menuju tempat Arthur.


"Hmmmm… bocah gigih yang dapat diandalkan!" Gumam Theo, ketika melihat Arthur masih dapat bertahan setelah dikepung puluhan Knight dengan kelas General tahap surga. Walaupun hal itu juga tak lepas dari bantuan Skull Hydra miliknya.


Skull Hydra Arthur sendiri, memang saat ini bukan makhluk yang sama seperti ketika ia masih hidup. Levelnya turun jauh mengikuti kelas Arthur yang hanya seorang Immortal Surga.


Makhluk ini juga kehilangan kemampuan pengendalian 6 elemennya. Namun, meskipun mengalami banyak penurunan kualitas kekuatan, tetap saja ia adalah makhluk legendaris yang sangat ganas, ditambah atribut api aneh berwarna hitam pekat yang menyelimuti seluruh tubuhnya, dimana terus menyala dan di semburkan kesegala arah dengan liar, membuat lawan-lawannya sangat kesusahan menghadapi makhluk ini.


"Arthur…! Sekarang saatnya!" Teriak Theo begitu posisinya sudah dekat dengan Arthur.


"Ohhh… kau sudah selesai mengurus tua bangka itu Boss? Luar biasa! Cepat sekali!" Seru Arthur penuh kekaguman.


Mendengar kata-kata percakapan Arthur dan Theo, kumpulan Knight anak buah Beladro langsung shock seketika. Secara serempak mereka menghentikan serangan dan menoleh kearah dimana Beladro sebelumnya berdiri.


"Tidak mungkin!"


"Mana mungkin tetua Beladro kalah melawan bocah ini!"


"Dimana tetua sekarang?"


"Bocah! Apa yang kau lakukan pada tetua!" Bentak salah satu Knight, ketika melihat lokasi medan pertempuran Beladro dan Theo saat ini sudah luluh lantak hancur berantakan.


"Hahahha… mana kutahu! Kalian periksa saja sendiri!"


"Yang jelas, dia sekarang telah terkubur dengan konyol disana! Beberapa tulang tuanya pasti juga sudah patah! Berikan perawatan yang baik setelah ini pada pria jompo bau tanah itu!" Teriak Theo, dengan nada riang gembira.


Setelah itu, dengan cepat dan tanpa peringatan apapun sama sekali, ia kembali mengeluarkan sebuah Bom formasi, sejurus kemudian melemparnya kearah gerombolan Knight di hadapannya.


*Booooommmm…..!!!!


Bom formasi meledak dengan sangat keras, dan efek yang paling mengerikan dari ledakan ini, selain daya hancurnya, tak lain adalah semburan gas beracun ganas yang menyebar dengan liar, berbarengan dengan meledaknya bola formasi tersebut.


"Gas beracun! Cepat mundur sejauh mungkin!" Teriak salah satu Knight.


Para Knight lain yang juga mulai menyadari tentang berbahayanya gas beracun tersebut, tanpa menunda mengikuti intruksi teriakan kawan mereka, mundur sejauh yang mereka bisa.


Dengan ledakan bom formasi, selain menjauhkan lawan-lawan Theo, deretan tebing di lokasi yang sangat sempit, juga menjadi hancur dan menutup semua area. Memisahkan lokasi Theo dan pengejarnya.


"Skull Hydra! Hell Fire….!"


Seperti masih kurang, Arthur menambah area yang hancur dengan Hell Fire miliknya. Membakar semua area dengan api hitam pekat yang ganas.


Kondisi runtuhan tebing yang diselimuti gas beracun, serta Hell fire tersebut, segera menciptakan pemandangan mengerikan bagi siapaun yang melihatnya. Membuat para Knight pengejar tak lagi berniat melanjutkan pertempuran, lagi pula mereka juga ragu apakah bisa melewati lokasi mengerikan yang terpampang di hadapan mereka saat ini.


"Hahahha… sukses dengan sempurna!" Kata Theo, dengan ekspresi wajah sangat puas.


"Boss! Bola apa yang kau lempar barusan! Itu sangat luar biasa!" Tanya Arthur.


"Ohh… itu bom yang kubuat dari racun Hydra!"


"Racun Hydra? Boss beri aku beberapa bola-bola itu! Dengan daya ledak dan racun mengerikan itu, bahkan jika lawannya seorang King sekalipun, tak akan terlalu sulit untuk mengalahkannya! Tinggal melemparnya dengan beberapa bola sekaligus!" Kata Arthur antusias.


"Hmmm… kau pikir aku bisa membuat bola seperti ini seenak dan sebanyak yang kumau? Aku cuma memiliki 3 yang tersisa untuk saat ini! Dan itu hanya akan digunakan pada keadaan darurat!" Jawab Theo.


"Ahhh… kalau begitu bolehkah…"


"Sudah! Lebih baik kita pergi dulu dari sini! Kurasa si tua Beladro itu masih hidup sekarang, meskipun memang kondisinya terluka, tapi tetap saja berbahaya untuk diam terlalu lama." Kata Theo. Kemudian dengan cepat meninggalkan tempat bersama Arthur.


***


(Lokasi reruntuhan yang mengubur Beladro)


*Blaaaarrr…..!!!!


Ledakan elemen kegelapan yang ganas, menyembur keluar dari dalam reruntuhan, membuat tumpukan tanah yang ada dilokasi berhamburan terbuka. Dari dalam reruntuhan, Beladro melompat keluar.


"Uhukkk…!"


"Gas beracun yang kuat! Ini berbahaya!" Dengus Beladro, kemudian bergerak dengan cepat menjauh dari lokasinya semula.


"Tetua! Kau baik-baik saja?"


Tak begitu lama setelah Beladro berlari menjauh, ia melihat anggotanya, yang saat ini dengan langkah bergegas, menghampirinya sambil berteriak khawatir.


"Hmmm… kenapa kalian semua disini? Kemana dua bocah sialan itu!" Bentak Beladro. Tak menjawab pertanyaan khawatir anggotanya.


"Uhuukkkk….!"


Setelah membentak, Beladro kembali terbatuk, namun kali ini sambil memuntahkan darah berwarna hijau tua.


"Tetua…!"


Melihat itu, anggotanya kembali hendak bertanya khawatir. Namun, karena sikap Beladro sebelumnya, mereka jadi ragu untuk melanjutkan.


"Hmmmm… racun yang sangat ganas!" Gumam Beladro pelan, sambil memegang dada, ia merasa paru-parunya seperti sedang terbakar.


Kondisi Beladro sendiri, saat ini terlihat sangat parah. Dengan tubuh penuh bekas luka bakar, ditambah salah satu lengannya juga patah, mau tak mau membuat perawakan pria tua ini tampak sangat menggenaskan bagi siapapun yang melihatnya.


"Uhuuukkk… bukankah aku bertanya pada kalian! Kemana dua bocah itu? Kenapa tak ada yang menjawab!" Bentak Beladro lagi, tampak sangat marah. Rasa marahnya membuat ia melupakan semua rasa sakit yang saat ini sedang mendera tubuhnya.


Mendengar bentakan itu, para anggotanya yang semula masih tertegun melihat kondisi Beladro, kini menjadi sadar kembali dari ketertegunan masing-masing.


"Itu… tetua.. mereka berdua berhasil lolos!" Jawab salah satu Knight, dengan suara terbata. Bingung merangkai kata yang tepat untuk memberi penjelasan pada Beladro.


"Lolos? Bagaimana mungkin mereka bisa lolos? Apakah kalian tak bisa mengurus satu bocah saja? Bagaimana bisa puluhan General Surga membiarkan satu bocah yang hanya seorang Immortal Surga lolos?" Bentak Beladro. Tampak semakin marah.


"Itu… tetua, bocah ini tak sederhana! Kau tak akan percaya dengan makhluk apa yang bisa ia panggil!" Kata salah satu Knight, kemudian mulai menjelaskan kronologi yang terjadi.


"Hmm…. Makhluk yang tampak seperti zombie dari divisi penelitian Guild? Terlebih itu adalah Zombie Hydra yang legendaris?"


"Uhukkk…! dari mana kedua bocah ingusan ini mendapat kekuatan yang tak masuk akal seperti itu?" Dengus Beladro.


Ketika melawan Theo, pria tua ini sudah dikejutkan dengan semua kemampuan aneh milik pemuda tersebut, dan sekarang setelah mendengar deskripsi kemampuan dari pemuda lainnya, mau tak mau Beladro menjadi heran.


"Kedepan, bila berhasil menemukan mereka lagi! Langsung serang dengan kekuatan penuh! Panggil iblis kalian tanpa ragu! Jangan pernah meremehkan lagi meskipun lawannya hanya bocah!" Kata Beladro, dengan nada dingin.


Mendengar itu, seluruh anak buahnya tak menjawab, hanya memberi anggukan singkat, menandakan mereka mengerti.


"Tetua, apa langkah kita selanjutnya?" Tanya salah satu Knight.


"Apa masih perlu bertanya? Setelah aku merawat luka-luka ini, kita akan segera melakukan perjalanan ke wilayah Hutan Pinus Beku!"


"Pemuda ini telah mengacaukan rencana matang yang sudah kususun selama puluhan tahun! Kini karena aku telah mengetahui identitasnya, tak akan kubiarkan ia hidup dengan tenang!" Dengus Beladro dingin, dengan sorot mata penuh kebencian.


----


Catatan penulis :


Mohon maaf bila ada beberapa diksi dalam chapter kali ini yang terasa kurang enak di baca. Karena ketika menulis chapter 171 ini, penulis sedang sakit gigi. :