
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
"Kalau tak keberatan, aku ingin ikut denganmu!" Ucap Hella, dengan nada ragu-ragu setelah keluar dari balik dinding.
"Ikut denganku?" Tanya Theo. Sambil memandang Hella dengan tatapan acuh tak acuh.
Melihat tatapan Theo, Hella yang dari awal sudah tampak ragu-ragu, kini menjadi semakin enggan. Ia tampak mengepalkan kedua tangan erat sebelum mulai berbalik.
"Jika kau keberatan, itu juga tak masalah! Aku tak akan memaksa!" Ucap Hella.
"Hmmm… Aku tak pernah bilang seperti itu! Kan cuma bertanya saja!" Balas Theo. Dengan nada masih asal-asalan.
Hella yang mendengarnya, kini dibuat semakin tampak kesal. "Sudahlah! Lupakan saja aku pernah meminta!" Ucap Hella dengan nada ketus. Kemudian mulai melangkah. Berniat pergi dari lokasi.
"Mudah terprovokasi dan selalu bersikap congkak! Hanya dengan sedikit kalimat bernada meremehkan, itu sudah cukup membuat dirimu goyah!"
"Watakmu itu benar-benar merupakan sebuah tembok tinggi yang akan selalu menghalangimu untuk bisa berkembang lebih baik lagi!" Ucap Theo, saat melihat Hella sudah mulai berjalan meninggalkan tempat.
Kalimat yang tiba-tiba keluar dari mulut Theo tersebut, dengan segera membuat Hella yang mendengarnya, kini seketika menghentikan langkah kakinya.
Gadis ini tampak semakin mengepalkan kedua tangannya dengan cukup keras, terlihat benar-benar sedang berperang batin.
"Turunkan sedikit harga dirimu itu! Aku yakin bila kau bisa melakukannya, tak ada kerugian sama sekali yang akan kau dapat! Boss akan mampu membantumu berkembang lebih kuat!"
Saat Hella masih tampak bimbang, suara Razak tiba-tiba terdengar. Bocah ini dengan polos memberi nasehat. Dia sepertinya bisa memahami apa yang sedang di rasakan Hella saat ini, karena sebelumnya ia juga merasakan hal yang sama. Ketika pertama kali meminta bantuan pada Theo.
Bila menyangkut harga diri dan keras kepala, bisa di bilang Razak adalah salah satu ahlinya. Dia bahkan masuk dalam kategori expert dalam bidang tersebut.
Disisi lain, Theo dan Thomas yang mendengar Razak tiba-tiba memberi nasehat, segera memasang ekspresi aneh untuk beberapa saat. Keduanya juga mulai melirik Razak dengan tatapan aneh.
"Apa?" Tanya Razak dengan ekspresi polos, setelah menyadari dua orang tersebut menatapnya dengan tatapan tak biasa.
"Bukan apa-apa!"
Jawab Theo dan Thomas hampir secara serentak. Sebelum dengan cepat menarik lagi tatapan keduanya pada Razak.
"Nona muda! Bahkan seorang bocah 12 tahun sekarang memberimu nasehat! Bila kau masih saja keras kepala, maka jangan buang waktu kami lebih lama lagi!"
"Boss, sebaiknya kita pergi saja!" Ucap Thomas, berusaha membuat kalimat provokasi tambahan, kini ia tahu bahwa Theo sedang melakukan tes pada wanita tersebut, tes yang hampir sama dengan yang dilakukannya pada Razak belum lama ini.
Mendengar kata-kata Thomas, Hella dengan cepat membalik badannya lagi, kini kembali menghadap kearah Theo. Dengan tatapan ragu-ragu, ia tampak berusaha menyampaikan sesuatu.
Sementara itu, Theo yang melihat gadis ini masih saja bersikap keras kepala menjaga gengsinya. Kini memilih memalingkan wajah, mulai melangkah meninggalkan tempat.
"Bolehkah aku ikut denganmu?"
Tepat ketika Theo sudah mulai melangkah, suara Hella yang kembali bertanya, tiba-tiba terdengar dengan agak lirih.
Ucapan yang kini membuat Hella dengan cepat menatap kearah punggungnya dengan ekspresi wajah memelas.
"Bocah! Berhenti bersikap seperti ini! Jangan biarkan wanita ini lepas! Dia jelas-jelas sudah tertarik padamu!"
Saat situasi tarik ulur yang tampak sangat menggemaskan masih terlihat buntu. Ernesto yang dari tadi ikut mengamati dari dalam Sarung Tangan Kilat, segera memaki Theo keras. Tampak sudah tak tahan dengan situasi yang dilihatnya.
"Diam kau hantu cabul!" Bentak Theo balik. Saat mendengar suara Ernesto.
"Bocah, kau terus saja menyebutku cabul, seolah dirimu adalah pria bersih yang memiliki pikiran murni!"
"Selalu menolak anjuranku sejak awal dimana menyuruhmu untuk membuat wanita itu menjadi salah satu gadis koleksimu sejak pertama melihatnya!"
"Namun, dibalik semua kalimat penolakan tersebut, sikapmu justru menunjukkan yang sebaliknya! Hahhaah….!!!" Ucap Ernesto, dengan nada tengil yang terdengar sangat memprovokasi.
"Hmmmm… Apa maksud kata-katamu itu?" Dengus Theo.
"Masih berani bersikap seolah tak paham? Kau memang rubah kecil sialan! Padahal dari awal sudah jelas dirimu selalu menebar pesona dan karisma dihadapan gadis ini!"
"Bersikap seolah pertapa suci, tapi sebenarnya hanya seorang cabul terselubung! Itulah dirimu! Hahhaha….!" Ucap Ernesto, diakhiri dengan tawa lantang membahana. Tampak sangat puas dengan kata-kata yang baru saja disusunnya.
"Apa kau bilang? Coba katakan lagi?" Ucap Theo dengan ekspresi wajah sangat kesal setelah mendengar kata-kata Ernesto.
"Aku bilang bahwa kau adalah cabul terselubung! Terus kau mau apa dengan itu? Menghajarku? Masih terlalu cepat seribu tahun untuk bocah sepertimu bisa melakukan hal macam itu! Hahhahahha….!" Jawab Ernesto, kembali dengan tawa lantang membahana. Seolah ia sudah tahu bahwa Theo akan menjawab seperti itu, sehingga dengan cepat sudah menyiapkan jawaban kalimat provokasi balik.
"Seribu tahun? Tunggu saja! Aku pastikan padamu tak akan membutuhkan waktu selama itu sampai aku bisa menghajarmu!" Dengus Theo.
Selesai mendengus, seringai lebar kini tampak mulai mengembang di wajah Theo. "Mungkin suatu hari nanti, aku malah akan menjadikanmu sebagai roh penghuni salah satu boneka bernyawa yang kuciptakan!"
"Tunggu saja, ketika saatnya tiba, itu pasti akan sangat menyenangkan! Kita lihat apa kau masih akan bisa tertawa seperti saat ini!" Ucap Theo. Dengan seringai yang semakin melebar.
"Kau…!"
Mendengar kata-kata ancaman Theo, Ernesto segera tercekat mulutnya. Sama sekali tak bisa membalas.
"Awas saja jika benar-benar tega melakukannya!" Dengus Ernesto, sebelum mulai terdiam.
"Ijinkan aku ikut denganmu! Aku ingin kau memberitahu lebih detail tentang semua kekurangan dari teknik Tombak turun temurun milik keluargaku!"
Tepat saat Ernesto sudah terdiam, suara keras Hella terdengar. Gadis ini kini menyampaikan dengan jelas semua tujuan dan keinginannya.
"Hmmmm… Tak ada yang namanya makan siang gratis di dunia ini! Katakan padaku, memang apa manfaat yang bisa kudapatkan dengan membiarkanmu ikut denganku?" Tanya Theo.
"Asal kau tahu, aku adalah pemimpin kelompok Bandit! Jadi…"
Theo hendak menyampaikan sesuatu, sampai kemudian dengan cepat Hella memotong.
"Memangnya kenapa kalau kau pemimpin Bandit? Aku tak peduli! Yang kunginkan adalah berkembang menjadi lebih kuat dan kuat! Jadi bila kau memang seorang pemimpin Bandit, maka ijinkan aku bergabung dalam kelompokmu!"
"Aku akan berusaha sekuat yang kubisa untuk menjadi salah satu anggota Bandit yang bisa kau andalkan!" Ucap Hella.
Mendengar kata-kata Hella, dan melihat ekspresi di wajahnya ketika menyampaikan semua kalimatnya. Theo kini mulai memasang senyum tipis. Sebelum kemudian mengayunkan tangan dengan ringan. Mengeluarkan Tombak Es dari dalam gelang ruang-waktu, diakhiri dengan gerakan cepat melempar Tombak tersebut kearah Hella.
"Untuk menjadi Bandit yang bisa kuandalkan, kau akan membutuhkan senjata itu! Jadi, untuk sementara waktu, kupinjamkan padamu!" Ucap Theo, sambil menatap Hella yang saat ini sedang memandang dengan tatapan bergetar pada Tombak Es di tangannya.
"Dengan ini, kau telah resmi menjadi salah satu anggota Bandit Serigalaku!"