
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
"Ohhhh… Cucuku yang paling cantik! Kenapa selalu saja bersikap kesal pada setiap hal! Itu tak bagus untukmu! Membuat wajahmu hanya akan bertambah tua lebih cepat!" Ucap sang wanita tua. Yang tak lain adalah Sirei Khan. Nenek dari Gerel. Seorang yang kini menjabat sebagai salah satu monster tua Barbarian Tribe.
Sirei masih berjalan perlahan mendekat kearah Gerel sembari memasang senyum tipis yang tak tampak seperti sebuah senyum.
Disisi lain, Gerel yang melihat sang nenek semakin mendekat, ingin mengambil langkah mundur. Namun, kedua kakinya tertahan. Tak mampu digerakkan, ditekan oleh suatu hal yang tak terlihat oleh mata.
"Lepaskan aku!" Dengus Gerel.
"Ohhh… Apa yang kau katakan? Jika ingin pergi, maka pergi saja! Aku tentu tak akan menahanmu cucuku tersayang!" Ucap Sirei. Kini telah sampai tepat di depan Gerel. Mengelus lembut wajah cantik Gerel dengan jari-jari tangan kanannya.
'Dasar penyihir tua!' Gumam Gerel dalam hati. Kemudian dengan cepat mengaktifkan tatto segel Nagini.
Namun, baru beberapa detik tatto segel Nagini menyala, Sirei dengan cepat melakukan gerakan menepuk dada Gerel. Dalam sekali tepukan, tatto segel rumit yang berbentuk ukiran-ukiran huruf kuno dalam jumlah amat sangat banyak, menyebar luas keseluruh tubuh Gerel. Sebelum terfokus menjadi satu tatto segel berbentuk lingkaran yang mengelilingi segel Nagini.
Tatto segel yang baru saja terpasang itu, mengeluarkan aliran Mana lumpur pekat untuk beberapa saat, sampai akhirnya menekan segel Nagini. Menghentikan proses pemanggilan yang di lakukan oleh Gerel.
"Bukankah sudah kubilang untuk tak selalu bersikap kesal? Tak perlu memanggil keluar Nagini yang manis itu untuk menemani obrolan kita!" Ucap Sirei, setelah menyelesaikan aksinya. Masih dengan senyum tipis yang tak terlihat seperti senyum tersungging di wajahnya. Sembari memainkan jari-jarinya yang lentik di wajah halus sang cucu.
"Nenek! Aku tak bercanda dengan ancamanku tadi! Jika kau terus mencoba bermain-main, aku benar-benar tak akan mau lagi melihat wajahmu itu!" Dengus Gerel. Mencoba menjaga harga dirinya dalam posisi tak berdaya.
"Ini tak akan menjadi rumit bila kau menurut dan bersedia pulang bersamaku secara baik-baik!"
"Aku berjanji, setelah kita kembali ke Tribe, aku tak akan membocorkan apapun yang telah kulihat ditempat ini! Sebagai contoh, terowongan rahasia yang tadi sempat kau gunakan untuk beralan keluar!" Jawab Sirei. Sedikit memainkan ekspedisi wajah dengan menaikkan salah satu ujung alisnya.
Mendengar permintaan yang di selipi dengan satu ancaman samar keluar dari dalam mulut neneknya. Ekspresi wajah Gerel segera berubah menyeramkan.
"Bagus! Kau masih mencoba bermain denganku? Sepertinya, setelah lama tak bertemu, dimana kau menghabiskan waktu dalam gua pengap bersama para monster tua lain, dirimu itu sudah lupa bahwa aku tak pernah bercanda dengan semua kalimat yang kusampaikan!" Ucap Gerel. Bersamaan dengan ucapannya. Aliran Mana lumpur pekat, dengan liar mulai berderak di sekitar tubuhnya.
"Hohoho….!!! Cucuku yang cantik, mencoba mengancam neneknya! Memang, apa yang bisa kau lakukan? Aku terbilang masih cukup baik telah meminta dengan hangat! Padahal dengan satu ayunan tangan ringan, bisa saja aku membawamu paksa untuk kembali pulang detik ini juga!" Jawab Sirei.
Aliran Mana lumpur yang tak kalah pekat dari milik Gerel, kini menyelimuti tubuh Sirei. Secara samar mulai membentuk satu sosok bayangan Laba-laba raksasa di belakang tubuhnya.
"Cucuku! Masih terlalu cepat beberapa dekade untukmu mengamcamku! Bagaimana mungkin seorang berkelas King mencoba mengadu kekuatan dengan seorang Emperor!" Ucap Sirei.
"Seorang King mengalahkan Emperor? Jika kau mengatakannya beberapa tahun lalu, aku tentu tak akan bisa menyangkal sama sekali! Namun, kurasa ukuran kekuatan kelas kultivasi, telah sedikit berubah sekarang!" Gumam Gerel.
"Aku sudah pernah melihat dengan mata kepalaku sendiri, bagaimana seorang King, membunuh Emperor! Bukan hanya satu! Tapi dua sekaligus dalam satu moment pertarungan!" Tambah Gerel. Senyum di wajahnya, kini semakin melebar.
Mendengar kata-kata Gerel, eskpresi wajah Sirei yang dari tadi tampak tenang, berubah untuk beberapa saat. Sebelum pada detik berikutnya kembali menjadi tenang.
"Boss Besar Bandit Serigala yang sedang naik daun itu! Apa ia yang sedang kau maksud saat ini?" Tanya Sirei.
Bagaimanapun juga, sebagai salah satu monster tua Barbarian Tribe, Sirei memiliki jaringan informasi utama yang ada di dalam Tribe. Sehingga bisa mengetahui semua peristiwa penting terbaru yang sedang terjadi di wilayah Gurun East Region.
Salah satunya tentu saja, informasi menggemparkan dimana tersebar luas dengan cepat di wilayah Gurun, yakni kematian dua orang Emperor Bandit Besar dalam satu waktu secara bersamaan di tangan seorang pemuda berkelas King.
Informasi tentang aksi Theo yang tanpa rencana membunuh dua orang Emperor penjaga keseimbangan dari kekuatan antar kelompok besar di wilayah Gurun Purba, ternyata telah tersebar luas ke seluruh wilayah Gurun East Region. Bukan hanya East Region, tapi juga mulai menyebar luas menjadi satu isu simpang siur keseluruh wilayah Gaia Land.
Aktor utama yang menyebarkan berita tersebut, tak lain adalah Delario Dark. Pemimpin Death Arena kota Gurun Zordan. Tak ada yang tau apa sebenarnya niat terselubung dari tindakan Delario ini. Hanya saja, ia seperti benar-benar menikmati kegaduhan yang terjadi atas tersebarnya isu tersebut.
Pihak Dark Guild yang ada di belakang Delario, terkesan memiliki agenda tersembunyi. Sengaja menyalakan api liar. Menjadikan Theo yang identitasnya sengaja tak di sebut, hanya di ketahui sebagai Boss Besar kelompok Bandit Serigala, sebagai perbincangan hangat dalam dunia Knight Gaia Land.
Kembali ke situasi Gerel. Mendapat pertanyaan dari sang nenek, ia tak memberi jawaban apapun. Hanya mulai memasang ekspresi wajah penuh keteguhan.
"Ada apa dengan perubahan ekspresi wajah yang tiba-tiba itu? Hanya karena sudah lama bersama kelompok Bandit Serigala, itu bukan berarti kau bisa melakukan hal yang sama dengan si Boss Besar ini! Apa kau berfikir bisa mengalahkanku dengan hanya bermodal tekad?" Ucap Sirei.
"Hohoho….!!! Cucu yang kukenal, bukanlah orang dengan sikap senaif ini!" Tutup Sirei.
"Hahhaahhaha…..!!!"
Kata-kata bernada ejekan yang dilontarkan oleh Sirei, disambut dengan Gerel mulai tertawa lantang.
"Dalam pertarung langsung, jelas aku tak bisa mengalahkanmu! Tapi apa kau punya cara untuk menghentikan ini?" Ucap Gerel. Seraya mulai memfokuskan aliran Mana Lumpur liar disekitar tubuhnya. Untuk bergerak menuju kearah Element Seed di dalam ranah jiwanya.
Melihat tindakan Gerel, ekspresi wajah tenang Sirie segera berubah panik. Mundur beberapa langkah.
"Apa yang kau lakukan? Jangan bodoh!" Ucap Sirei.
"Di dalam ranah jiwaku, bukan hanya tersimpan Element Seed! Tapi juga segel Kontrak yang terikat dengan Element Seed Nagini! Bisa kau bayangkan bagaimana jadinya jika itu meledak?" Tanya Gerel.
"Seorang King membunuh Emperor! Sepertinya itu juga bukan hal yang mustahil bagiku!" Tutup Gerel. Dengan senyum semakin berkembang lebar. Tampak seperti seorang iblis.
Selain Thomas yang dalam beberapa waktu belakangan tampak terkesan dengan senyum seringai lebar menyeramkan khas Theo, sepertinya Gerel juga secara diam-diam mulai mengidolakan hal yang sama. Kini berusaha mempraktekkan senyum lebar tersebut untuk mengintimidasi pihak lawan.
Disisi lain, Sirei yang melihat tak ada titik-titik keraguan sama sekali dalam sorot mata Gerel. Terlebih ditambah dengan senyum lebarnya yang begitu menyeramkan, kini mulai berdebar kencang dadanya. Tak bisa menyembunyikan ekspresi ngeri di wajahnya.