
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
"Anak muda! Apakah kau tak merasa kalau mulutmu itu terlalu tajam?" Ucap proyeksi cahaya Leluhur suku Osiris. Memecah keheningan yang tiba-tiba terjadi tepat ketika Theo menyelesaikan kalimatnya.
"Hmmmm, pak tua, tak ada yang terlalu tajam dalam kalimatku! Aku hanya sekedar mengatakan apa yang selama ini kupegang sebagai prinsip hidupku!" Jawab Theo.
"Dan karena Razak adalah salah satu orang yang berada dalam lingkaranku, aku tak ingin dia digunakan sebagai alat untuk sekedar memenuhi semua keinginanmu!"
"Tanggung jawab harus beriringan dengan kehendak!"
"Lagipula, kalau kau merasa kalimatku terlalu tajam, dimana berakhir menyudutkanmu, maka itu adalah hal yang cukup wajar dan harus kau terima! Karena bagaimanapun juga, pada posisi yang sekarang, aku lebih kuat darimu!"
"Siapapun yang lebih kuat, harus di dengar kata-katanya! Siapapun yang paling kuat, adalah benar semua yang ia katakan!"
"Bukankah itu yang hendak kau sampaikan tadi ketika dengan congkak menekan Razak menggunakan auramu!" Tutup Theo.
Kalimat jawaban Theo yang sekali lagi berisi kata-kata tajam begitu menusuk bagi Leluhur suku Osiris, dimana berhasil menyudutkannya untuk kedua kali, membuat proyeksi raksasa leluhur suku Osiris hanya terdiam. Tak mampu memberi pembelaan apapun.
"Anak muda, apa kau berniat mencegah keturunan terakhir sukuku ini untuk melakukan balas dendam kepada Endless Heavens Sect?" Tanya Leluhur suku Osiris pada akhirnya.
Mendengar kata-kata Leluhur suku Osiris, Theo yang masih menatap dengan tatapan penuh ketajaman kearah sang Leluhur, segera menaikkan salah satu sudut alisnya.
"Mencegah? Kau salah sangka! Tidak ada niatan sama sekali bagiku untuk melakukan itu! Malah aku memang berniat untuk membantunya memenuhi keinginan balas dendam tersebut!" Jawab Theo.
"Namun, balas dendam hanya satu tujuan praktis! Oleh sebab itu, aku tak ingin Razak terlalu terjebak dalam hal tersebut!" Lanjut Theo.
"Dia akan menemaniku mencapai tujuan yang lebih tinggi lagi! Satu tujuan yang belum pernah terlintas dalam benak siapapun di muka Gaia Land ini! Satu tujuan yang tak hanya terkungkung pada batas-batas Realm kelas rendah ini!"
"Razak akan menemaniku, menuju realm yang lebih tinggi lagi! Berjalan beriringan mencapai puncak tertinggi perjalanan seorang Knight!"
"Aku akan membawanya kepuncak dunia!" Tutup Theo.
"Realm yang lebih tinggi?"
Sekali lagi, kata-kata yang di ucapkan oleh Theo, berhasil membuat suasana menjadi hening. Tak hanya Leluhur suku Osiris yang menjadi lawan bicaranya, kini setiap orang yang juga mendengar semua yang ia sampaikan, jatuh pada pemikiran mendalam saat Theo menyebut tentang Realm yang lebih tinggi.
"Anak muda! Jangan bilang kau percaya tentang keberadaan Realm yang lebih tinggi!" Ucap proyeksi raksasa leluhur suku Osiris.
"Dalam catatan kuno peninggalan leluhur suku Osiris yang paling tua memang sempat disinggung tentang keberadaan Realm yang lebih tinggi, namun itu semua jelas hanya mitos!"
"Mitos yang di percaya oleh para Knight yang telah berada di puncak kultivasinya! Mitos yang menjadi harapan bagi sekumpulan monster tua berkelas Emperor tahap Surga puncak yang telah terjebak dalam kultivasinya!"
"Mitos?" Gumam Theo.
"Bagaimana itu hanya mitos saat aku sendiri pernah bertemu dengan beberapa orang dari Realm yang lebih tinggi tersebut?"
"Bagaimana itu hanya mitos saat aku sendiri pernah melihat betapa dahsyatnya kekuatan yang lebih tinggi dari seorang Emperor!" Ucap Theo. Kini memberi tatapan remeh yang sama kearah Leluhur suku Osiris.
"Kau… Kau bertemu langsung?"
Melihat tatapan balik Theo, serta merasakan tak ada riak getaran sama sekali dari setiap kalimat yang ia ucapkan, Leluhur suku Osiris entah kenapa mempunyai dorongan untuk percaya, merasa apa yang dikatakan oleh pemuda di hadapannya ini adalah benar.
"Anak muda! Entah apa yang kau katakan itu benar atau tidak! Tapi, kurasa aku berhutang maaf padamu! Bukan hanya padamu! Tapi juga pada keturunanku ini!" Ucap Leluhur suku Osiris, sambil mengalihkan pandangannya kearah Razak.
"Nampaknya, sekuat apapun generasi lama, kita tetap akan tertinggal oleh generasi yang lebih muda! Jika semua yang kau katakan barusan mengenai realm yang lebih tinggi memang benar adanya, maka aku harus merasa menyesal karena tak sempat memiliki kesempatan untuk melihatnya!" Tutup Leluhur suku Osiris.
"Baiklah! Kurasa cukup sampai disini saja! Meskipun memang belum cukup matang, kurasa keturunan terakhir sukuku telah ada di tangan yang tepat!"
"Formasi utama penyambut ini memang bertujuan untuk memastikan hal tersebut! Memastikan kelayakan bagi keturunan terakhir untuk mewarisi semua peninggalan yang ada di dalam!"
"Kuharap, kau bisa terus membimbingnya!" Tutup proyeksi raksasa leluhur suku Osiris. Kini tampak mulai menarik hawa keberadaannya.
Mendengar kata-kata tersebut, dan juga melihat proyeksi raksasa leluhur suku Osiris mulai menghilang, Theo entah kenapa secara tiba-tiba dengan cepat justru kembali mengaktifkan teknik rage buatan miliknya.
"Enak sekali menyerahkan semua tanggung jawab kepadaku! Pak tua tak bertanggung jawab! Kau pikir bisa seenaknya melempar semua tanggung jawab hanya kepadaku!" Gumam Theo.
Seraya kemudian mulai membentuk segel tangan rumit. Bersamaan dengan segel tangan rumit yang ia bentuk, aliran Mana Cahaya kini dengan intens bergerak liar disekitar tubuhnya. Mulai membentuk rantai-rantai cahaya kemilau.
"Kau tadi sempat bilang bahwa merasa menyesal karena tak berkesempatan melihat realm yang lebih tinggi bukan?" Gumam Theo. Saat Rantai Cahaya telah sepenuhnya terbentuk.
"Jika memang benar begitu, aku akan memberimu kesempatan untuk terus bertahan di dunia fana! Dan kedepan, bila cukup beruntung, mungkin kau bisa merasakan bagaimana rasanya berada di realm yang lebih tinggi!" Tambah Theo.
"Biar kupinjam jiwa sisamu!" Tutup Theo. Dengan seringai lebar kini menghiasi wajahnya. Seraya kemudian mulai mengarahkan Rantai-rantai cahaya, tepat menuju salah satu pusat formasi raksasa.
*Bammmm…!!!!
Rantai cahaya mendarat keras dan menghancurkan formasi, kemudian tertarik keluar sekali lagi dengan membawa satu cahaya keperakan yang terikat sepenuhnya dalam belenggu rantai.
"Anak muda! Apa yang kau rencanakan!" Ucap proyeksi leluhur suku Osiris, dengan raut wajah cemas begitu melihat Theo kini menangkap jiwa sisa miliknya yang tertanam pada pusat formasi.
"Bukankah sudah kubilang aku ingin meminjam jiwa sisamu!" Jawab Theo. Kemudian mulai mengayunkan tangan, mengeluarkan salah satu simpanan Serigala metalik dari dalam gelang ruang-waktu.
Dan tepat ketika Serigala metalik telah keluar, Theo dengan cepat mengayunkan tangan sekali lagi. Melempar rantai cahaya bersama jiwa sisa berwarna keperakan menuju kearah Serigala metalik. Menghujamkan jiwa sisa dari Leluhur suku Osiris pada ranah jiwa buatan yang ada di dalam tubuh Serigala metalik.
"Roooaarrr….!!!"
Serigala metalik menyalak dengan liar untuk sementara waktu saat jiwa baru mulai merasuk di dalam tubuhnya. Dan begitu proses telah benar-benar selesai, dengan roh baru yang menghuni ranah jiwanya, cahaya kemilau berwarna perak terang mulai memancar pada kedua matanya.
Cahaya kemilau ini bertahan untuk beberapa saat, sampai kemudian mulai mereda. Bersamaan dengan meredanya cahaya keperakan, Serigala metalik yang kini berubah warna kulit tubuhnya menjadi sepenuhnya perak, juga terus mengeluarkan aura Mana Besi, terlihat melihat kekanan dan kekiri dengan tatapan bingung.
"Apa yang terjadi!" Ucap Serigala Perak. Suara yang keluar dari dalam mulutnya, sama persis dengan suara Leluhur suku Osiris.