
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
1.Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
"Tujuanku datang kesini hanya ingin menyampaikan beberapa pesan!"
Ditengah kebingungan semua orang, suara Theo tiba-tiba terdengar entah dari mana, setiap orang yang mendengarnya seolah merasa suara ini berasal dari dimensi yang berbeda, mendengung cukup jauh, tapi juga terasa dekat.
Sebenarnya, bila orang-orang ini tetap melancarkan serangan, mereka akan bisa dengan mudah menemukan Theo, karena dia berada di tempat yang sama, tak berpindah selangkahpun dari posisi awalnya berdiri, teknik Ice Projection Theo hanya menyamarkan keberadaanya, bukan menghilangkan keberadaanya.
Namun, karena setiap orang diruangan tak memahami bagaimana mekanisme dari teknik Theo bekerja, mereka berakhir terbengong, tak memahami apa yang sedang terjadi.
"Hal pertama yang ingin kusampaikan adalah untuk kelompok luar, yakni House Estrabat dan House Helsinsberg! Kusarankan dalam 7 hari segera tinggalkan wilayah Hutan Pinus Beku, dan tak lagi mencampuri urusan Houseku! Dengan begitu, aku akan melupakan semua keterlibatan kalian!"
"Hal kedua, untuk House Ironhead, lebih baik pindahkan wanita dan juga anak-anak dari House kalian, ketempat lain! Sejauh mungkin dari wilayah Hutan Pinus Beku, dan jangan pernah kembali!"
"Dengan begitu, mereka mungkin akan selamat dari pemusnahan masal! Namun, bila dalam 7 hari tak mengindahkan peringatanku ini, itu berarti kalian sudah memerima konsekuensi bila terjadi pemusnahan total dari House kalian!"
"Dan terakhir untuk pamanku tercinta! Ivanovic Alknight! Kusarankan menyerah dengan kehendak sendiri! Dengan begitu kau mungkin akan bisa mati dengan keadaan utuh dan di kuburkan di pemakanan utama House dengan layak!"
"Bila masih melakukan percobaan kudeta, kupastikan kau akan mati dalam keadaan mengenaskan, tanpa kehormatan sama sekali!" Kata Theo, menutup semua kalimatnya dengan nada dingin, sedingin air es dipuncak musim dingin.
Begitu mendengar semua kata yang terlontar dari mulut Theo, yang keberadaanya entah dimana, semua orang di dalam ruangan aula utama segera menggertakkan giginya masing-masing, merasa tak terima seorang Junior, berlagak dengan sombong mengancam mereka yang bisa di bilang merupakan kumpulan Knight elite.
"Bocah…!"
Victor Helsinsberg hendak berbicara untuk menghardik Theo, saat tiba-tiba ia melihat seberkas cahaya merah yang diiringi suara berderak kembali muncul dari posisi awal Theo berdiri.
*Bzzzzzttt….!!!
Belajar dari dua kejadian sebelumnya, begitu Victor melihat seberkas cahaya merah ini, ia segera memfokuskan aliran Mana miliknya pada mata. berusaha menebak arah kehadiran selanjutnya dari listrik merah ini.
*Bzzzzzttt…!!!
Dia sedikit terkejut saat ternyata listrik merah ini berderak dan muncul lagi dengan cepat tepat disebelahnya. Dibarengi dengan sebuah sabetan pedang mengarah keleher adiknya, Alexis.
*Traaaanggg…..!
Namun, karena sudah bersiap sebelumnya, Victor yang bisa sedikit membaca pergerakan listrik merah, berhasil menangkis sabetan pedang tepat pada waktunya. Membuat sosok Theo kini terpapar, ia melompat mundur beberapa langkah kebelakang.
"Hmmm… cepat tanggap!" Kata Theo, dengan ekspresi wajah santai, meskipun sosoknya sudah kembali terpapar.
"Habisi bocah ini!" Victor segera berteriak lantang. Begitu sosok Theo bisa dilihat semua orang.
"Ice Projection!"
Namun, belum sempat semua orang bereaksi, Theo kembali mengaktifkan teknik Ice Projectionnya, membuat sosoknya kembali menghilang.
"Sialan!"
"Semua orang! Fokuskan aliran Mana kalian pada mata! Kemudian pindai area sekitar! Itu akan bisa membuat kalian menebak posisinya di saat terakhir!" Teriak Victor lagi, memberi arahan pada semua orang. Merasa telah menemukan celah pada teknik aneh milik Theo.
*Bzzzzzttt…!!!
Selesai Victor berteriak, cahaya listrik merah yang dibarengi dengan suara derakan kembali terdengar.
Melihat hal itu, setiap orang yang ada dilokasi langsung memfokuskan aliran Mana milik mereka masing-masing kearah mata. Kemudian mulai memindai lingkungan sekitar, menunggu kemunculan selanjutnya dari pendaratan listrik merah.
Kondisi menunggu ini seketika membuat suasana aula utama menjadi hening.
2 menit.
3 menit.
4 menit.
5 menit.
Semua orang masih menunggu, sampai akhirnya salah satu anggota House Ironhead merasa lelah dan menarik auranya, perasaan cepat lelah ini adalah hal yang normal terjadi, karena bagaimanapun juga, memfokuskan Mana pada satu titik, terlebih itu pada mata, adalah suatu hal yang memerlukan konsentrasi tingkat tinggi. Menguras energi mental begitu besar.
"Apa yang kau lakukan? Terus pindai area sekitar! Jangan lengah!" Melihat ada orang yang menarik auranya, Victor langsung membentak marah.
Mendengar itu, orang yang baru saja menarik auranya, tanpa menunda, segera kembali memfokuskan aliran Mananya pada kedua matanya. Tak berani membantah.
"Hmmm… aku ingin lihat, dengan begitu banyak orang yang bersiaga, apakah kau masih bisa melakukan serangan menyelinap lagi!" Dengus Victor, kemudian semakin memfokuskan aliran Mananya kearah mata, terus memindai area sekitar dengan teliti, menunggu kemunculan Theo selanjutnya.
***
(Halaman diluar aula utama)
*Bzzztttt….!!!
Seberkas listrik merah menyala dan berderak dalam beberapa detik sebelum kembali menghilang, bersama menghilangnya listrik merah, sosok Theo muncul di tengah halaman yang seperti sebuah taman tak terawat.
"Kumpulan orang konyol? Memangnya siapa yang bilang aku akan menyerang lagi? Hahhaha…!" Kata Theo, diiringi dengan tawa licik yang sangat tengil.
Dari awal, Theo memang sudah berniat untuk kabur setelah menyampaikan kata-kata terakhirnya. Serangan terakhir yang ia lakukan kearah Alexis hanyalah pengalih perhatian, agar semua orang di dalam aula berfikir bahwa ia akan terus menyerang.
Ia sendiri sudah dapat menduga bahwa serangan tersebut akan dapat di tepis oleh Victor, Theo tak cukup bodoh untuk berharap akan berhasil melancarkan serangan dengan cara yang sama tiga kali berurutan.
Dan reaksi Victor yang merasa menemukan celah dari gerakan Theo, justru adalah reaksi yang sudah di tunggunya, menggunakan Victor sebagai pendukung, Theo memakai satu kesempatan terakhir mengaktifkan sepatu Illahinya untuk bergerak keluar dari aula utama House True Alknight.
"Hmmm… karena semua urusan telah selesai, sebaiknya segera pergi dan kembali ke House!"
"Eye of Agamoto aktif!" Gumam Theo, kemudian mulai bergerak dengan gerakan gesit.
Menggabungkan antara kemampuan melihat segala celah dari Eye of Agamoto, dan kemampuan bergerak ringan dari memanfaatkan Mana Gravitasi, Theo dengan lihat melewati para penjaga, keluar dari wilayah House of True Alknight tanpa kesulitan berarti. Meninggalkan sekelompok Knight elite pihak lawan yang sampai saat ini masih diam temenung, menunggu kemunculannya kembali di dalam aula utama seperti orang bodoh.
***
(Tak jauh di wilayah perbatasan markas House True Alknight)
"Tuan muda! Akhirnya kau kembali!" Teriak Jasia, dengan ekspresi wajah cemas yang tak bisa ia sembunyikan. Berlari kearah Theo begitu melihatnya bergerak mendekat.
"Anak bodoh! Lain kali aku tak akan pernah menyetujui ide gila seperti ini lagi! Kau membuat semua orang cemas!" Bentak Bosweric yang saat ini juga berada di lokasi.
"Hahhaha… sudah kubilang, kalian tak perlu ikut! Aku cukup yakin bisa keluar dengan selamat!" Jawab Theo dengan ekspresi santai.
*Bleeetaaakkkk….!!!
Bosweric segera memberi Theo pukulan keras di kepala saat melihat ekspresi wajah nya yang sangat santai.
"Berhenti memasang wajah santai sialanmu itu! Kau tak tahu seberapa cemasnya kami yang menunggumu disini!" Dengus Bosweric.
"Beberapa menit saja kau tak keluar, gadis ini pasti sudah akan menerjang masuk kedalam sana!" Lanjut Bosweric, sambil melirik kearah Jasia.
Mendengar itu, Jasia langsung menundukkan kepalanya dengan sangat dalam, mukanya merah padam karena malu.
"Hahaha.. iya, iya maaf!" Jawab Theo singkat.
"Yang jelas, rencanaku berjalan lancar! Sekarang kita punya waktu 3 hari untuk menyembuhkan kak Gregor dan Arthur yang sedang terluka!"
"Setelah keduanya pulih, kita lanjutkan pestanya!" Kata Theo, dengan sorot mata tajam.