
*Braakkk….!!!
"Cepat keluar dari kereta!"
Di salah satu jalur perdagangan utama Gurun Darah Gersang, sekelompok Bandit sedang melancarkan aksinya. Mereka menghentikan sebuah kereta dagang yang tengah lewat.
"Tolong ampuni kami! Tolong jangan bunuh kami! Ambil saja semua dagangan dan hartaku, tapi tolong lepaskan keluargaku!" Kata seorang pria. Tubuhnya bergetar hebat sangat ketakutan, melangkah keluar dari dalam kereta sambil memeluk erat istri dan putrinya.
Disekitar kereta dagang sendiri, saat ini terdapat beberapa tubuh tak bernyawa yang berserakan. Tubuh-tubuh tanpa kepala ini, tak lain adalah prajurit bayaran yang sebelumnya di sewa sang pedagang untuk melindungi konvoi kereta dagangnya. Orang-orang ini harus menerima nasib tragis mati dengan cara mengenaskan karena kereta dagang yang mereka lindungi, harus di hadang oleh sekelompok Bandit bengis yang sangat kuat.
"Hmmmm… Pak tua, kau benar-benar beruntung, di usiamu yang sudah renta, bagaimana bisa dirimu di karuniai istri yang begitu cantik!" Kata salah satu Bandit. Matanya dengan liar menatap istri si pedagang.
Merasa dirinya mendapat tatapan liar dari Bandit di depannya, tubuh istri si pedagang kini semakin bergetar ketakutan, ia memeluk erat putrinya, dan mulai membenamkan wajah berlinang air matanya pada dada sang suami.
"Ohhh… Boss! Selain istri yang cantik, si tua ini juga diberkati dengan putri yang sangat menawan! Lihatlah gadis kecil itu! Biarkan dia tumbuh beberapa tahun lagi, maka dia akan menjadi wanita yang sangat cantik!" Kata salah satu Bandit lain. Yang segera di sambut anggukan setuju oleh kawan-kawannya.
Kini mereka semua mulai menatap liar kearah Putri si pedagang yang saat ini sudah menangis sesenggukan dalam pelukan ibunya. Ia menjadi sangat ketakutan begitu mendengar obrolan para Bandit.
"Tuan Bandit! Kumohon belas kasihan dari kalian! Cukup ambil semua hartaku! Dan biarkan kami pergi dari sini!" Kata sang pedagang. Dalam keputusasaannya. Ia mencoba kembali meminta belas kasihan.
*Slaaaassshhh…!!!
*Gedebuk….!
Namun, begitu sang pedagang selesai mengucapkan kalimat permohonannya. Bukan belas kasihan yang ia dapat. Melainkan sebuah tebasan pedang yang dengan ringan memotong kepalanya.
Dengan terpenggalnya kepala sang pedagang, darah segar segera semburat keluar dari leher buntung tanpa kepalanya. Menyiprat kesegala arah membasahi Istri dan putrinya yang dari awal berada dalam pelukannya.
"Aaaaaahhhhhhh……!!!!"
Kejadian ini segera membuat sang istri berteriak histeris. Sangat shock dan benar-benar tak menduga bahwa suaminya akan mati dengan cara sangat mengenaskan ketika ia sedang dengan erat memeluk tubuhnya.
Sementara sang putri yang tampaknya masih berusia sekitar 12 tahun, kini hanya bisa memandang kosong dengan wajah berlinang air mata. Menatap lekat kepala ayahnya yang saat ini menggelinding pada tanah kering tak jauh di hadapannya.
"Hmmmm… Kau pikir dengan terus meminta ampun dan belas kasihan, maka itu akan cukup untuk membuat kami melepaskan kalian? Sungguh konyol!"
Saat istri sang pedagang masih berteriak histeris, suara dari pemimpin Bandit tiba-tiba terdengar. Pria ini menatap dengan tatapan penuh hinaan kearah tubuh tanpa kepala si pedagang yang baru saja ia bunuh.
"Hanya seorang pedagang yang sudah mulai renta, tidak akan berguna juga membawa sampah seperti ini dalam rombongan! Di jual sebagai budak pun pasti tak akan ada yang mau membeli!" Kata sang pemimpin Bandit.
Mendengar kata-kata sang Bandit, istri si pedagang yang pada awalnya masih menangis sesenggukan, segera berubah ekspresi wajahnya. Tampak sangat marah.
"Kalian orang-orang keji! Setan! Iblis! Hewan liar! Kalian bukan manusia!" Teriak sang istri, sebelum mulai mengeluarkan pisau kecil dari balik bajunya. Menerjang kedepan berniat menyerang pemimpin Bandit.
*Slaaaassshhh....!!!
Namun, baru setengah jalan wanita ini menerjang kearah pemimpin Bandit, sang pemimpin bergerak cepat mendahului, dan segera memberi tebasan ringan pada leher sang wanita. Memenggal kepalanya.
"Pada awalnya aku berniat mengampuni nyawamu, membiarkan kau hidup beberapa hari lagi untuk menemani malam-malamku, sebelum menjualmu sebagai budak!"
"Tapi sungguh bodoh mencoba menyerangku! Itu adalah tindakan tak termaafkan menyerang pemimpin Bandit!" Dengus sang pemimpin Bandit, sambil mulai mengibaskan pedangnya. Membersihkan sisa-sisa darah dari wanita yang baru saja ia bunuh.
Melihat ibunya kini juga mati secara mengenaskan. Gadis kecil anak dari pasangan pedagang yang baru dibunuh dengan cara keji oleh kelompok Bandit, hanya bisa tertegun di tempat. Pandangannya menatap kosong kearah kepala ibunya.
"Baiklah! Kalian semua! Segera kosongkan semua harta yang ada dalam kereta! Jangan lupa juga untuk membawa gadis kecil yang ada disana! Kita rawat gadis ini selama beberapa tahun, sebelum menjualnya! Dengan paras secantik itu, ia pasti akan bisa di jual dengan harga sangat mahal ketika sudah tumbuh sedikit lebih dewasa!" Kata sang pemimpin Bandit.
"Hehehe… Halo gadis kecil! Kuharap tak perlu banyak melawan, dengan patuh ikut bersama paman!" Kata salah satu anggota Bandit yang di tugaskan membawa sang gadis kecil.
Gadis ini yang masih sangat shock dengan kematian tragis kedua orang tuanya, hanya bisa tetap menatap kosong kedepan. Tak memberi jawaban apapun.
Melihat itu, anggota Bandit hanya tersenyum, tampak tak peduli dengan kondisi memprihatinkan gadis kecil. Ia sudah akan meraih pergelangan tangan sang gadis, sampai tiba-tiba dari arah kereta dagang, sesosok melompat keluar. Bergerak cepat dan tanpa mengatakan apapun memberi tendangan pada punggung Bandit tersebut.
*Buuugg….!!!
Tendangan tersebut tak terlalu keras, namun mampu mendorong tubuh besar sang Bandit, untuk bergeser beberapa langkah.
"Sialan! Siapa itu!" Bentak sang Bandit, merasa sangat marah karena telah di serang dari belakang secara tiba-tiba.
"Hmmmm….!"
Bentakan sang Bandit, tak mendapat jawaban apapun selain hanya dengusan ringan. Yang baru saja menyerangnya ternyata adalah seorang bocah kecil seumuran putri si pedagang. Bocah kecil ini tampak masih berusaha melepas salah satu rantai yang terpasang di tangannya dengan sebuah kunci. Sambil menatap tajam kearah sang Bandit yang baru saja memaki, ia berdiri memunggungi sang gadis kecil, tampak berniat melindunginya.
"Bocah! Siapa kau! Berani sekali menyerangku! Kau benar-benar sedang mencari kematian!" Bentak sang Bandit.
Bentakan terakhir dari sang Bandit, segera menarik perhatian kawan-kawannya yang lain. Mereka semua kini menoleh kearah sumber keributan.
"Siapa bocah itu? Aku melihatnya melompat keluar dari kereta dagang dalam kondisi tangan di rantai, apa dia salah satu budak dagangan pria tadi? Tapi kenapa malah melindungi putrinya?" Gumam sang pemimpin Bandit. Tampak sedikit heran.
Penampilan sang bocah sendiri, memang tampak seperti seorang budak. Ia memakai baju bekas yang tampak sangat lusuh. Ditambah dengan rambut acak-acakan dan wajah pucat seperti kurang makan, bocah ini memenuhi semua kriteria dari ciri seorang budak yang hendak di jual.
"Kau… Kenapa?"
Saat semua orang masih memandang bocah ini dengan tatapan heran, gadis kecil yang sedang ia lindungi, tiba-tiba bertanya kepadanya.
Mendengar pertanyaan itu, sang bocah hanya menoleh sekilas, sebelum mulai membuka genggaman tangannya yang ternyata berisi remah-remah roti kering.
Melihat remah-remah roti kering dalam genggaman tangan sang bocah, gadis kecil hanya menatapnya dengan tatapan tak percaya untuk beberapa saat. Sebelum mulai menangis sekali lagi. Tampak sangat terharu.
"Itu hanya roti kering! Kau bisa saja pergi dari sini, tapi justru membahayakan dirimu sendiri dengan melindungiku?" Gumam sang gadis kecil. Ekspresi wajahnya antara terharu dan merasa bersalah.
"Hmmmm….!"
Mendengar kata-kata sang gadis kecil, bocah di hadapannya hanya mendengus singkat tanpa ekspresi. Sebelum mulai kembali menatap dengan tatapan sengit kearah para Bandit di hadapannya.
"Kalian semua kenapa hanya diam saja? Dia hanya seorang bocah! Cepat bereskan sekarang juga!" Teriak pemimpin Bandit.
-------
Masih teknik yang sama.
Teknik Segel Mistis :
"Wahai kalian ribuan pembaca ghoib, dengan teknik segel ini aku memanggil kalian!"
"Keluarlah! Biarkan aku meminjam jempol kalian untuk sejenak menekan tombol like!"