Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
367 - Akan Kuadukan!


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


"Ahh… Item apa yang kalian dapat?" Tanya Razak dengan wajah penasaran kepada Gerel dan Hella begitu keluar dari dalam Istana Emas.


"Beberapa tanaman obat kelas tinggi!" Jawab Gerel singkat.


"Aku mendapat satu gulungan manual teknik rahasia yang berhubungan dengan True Knight!" Ucap Hella. Tampak benar-benar bersemangat dengan item yang ia dapatkan.


"Kau sendiri?" Tanya Hella ganti kepada Razak.


"Ohhh… Aku mendapat Pill penguat struktur tulang yang sudah kumakan di dalam! Entah kenapa aku merasa makhluk penjaga Istana Emas begitu baik padaku! Ia memberi intruksi latihan langsung!" Jawab Razak.


Mendengar Razak menyebut tentang makhluk penjaga Istana Emas, ekspresi wajah Hella dan Gerel segera berubah kesal.


"Hmmmmm…. Aku ingin sekali mencincang makhluk kerdil menjijikkan itu!" Gumam Gerel. Sorot mata dibalik topengnya tampak sangat menyeramkan.


"Teruslah bermimpi! Makhluk itu milikku! Aku tak akan bisa hidup dengan tenang sebelum bisa menusuk-nusuk tubuhnya itu dengan tombakku!" Sahut Hella.


Gerel yang mendengar kata-kata Hella, segera menatap gadis tersebut. Hawa membunuh intens kini menyeruak keluar dari dalam tubuhnya.


"Apa?" Bentak Hella, melihat tatapan Gerel, ia tanpa rasa takut sama sekali memberi tatapan mematikan balik.


"Kalian berdua yakin ingin bertarung dengan makhluk tersebut?"


Saat Hella dan Gerel masih saling menatap dengan tatapan tajam penuh niat membunuh, Razak tiba-tiba bertanya.


"Kurasa selain Boss Besar, tak akan ada yang bisa mengalahkannya! Dia amat sangat kuat!" Tambah Razak. Dengan ekspresi wajah polos.


Mendengar kata-kata sang Bocah, Gerel dan Hella segera menghentikan sikap saling tatapnya. Bersamaan mengalihkan pandangan kearah Razak. Namun, belum sempat mereka menanyakan maksud kalimat yang di sampaikan Razak lebih lanjut, suara Syakira terdengar dari arah belakang.


"Keluar juga kau akhirnya! Dasar tak bisa diatur!" Bentak Syakira keras, sambil memukul keras kepala Razak.


"Auuhhh…!!! Syakira! Hentikan itu!" Dengus Razak dengan wajah memerah. Tampak sangat malu di pukul Syakira di hadapan semua orang.


"Diam kau! Bukankah sudah kubilang! Jangan terus-terusan masuk kedalam tempat berbahaya itu! Lukamu bahkan belum sepenuhnya sembuh!" Bentak Syakira lagi. Kini ditambahi dengan menginjak kaki Razak beberapa kali.


"Ahhh… Kenapa juga kau mengaturku! Dasar cerewet!" Dengus Razak.


"Memang kenapa kalau aku mengaturmu? Kenapa juga kau mengaturku untuk tak boleh mengaturmu!" Jawab Syakira cepat. Ia tampak sangat pintar memainkan kalimat. Membuat Razak yang mendengarnya, kini terlihat bingung harus menjawab seperti apa.


"Bahkan Boss Besar juga melarang kau untuk masuk terus-terusan bukan? Lihat saja! Akan kulaporkan tindakanmu ini kepadanya begitu ia kembali! Yang kau lakukan itu sama dengan melawan kehendak dan perintah langsung dari Boss Besar!" Tambah Syakira. Dengan nada kalimat yang sangat cepat dan cerewet.


"Syakira! Apa yang kau katakan! Melanggar perintah apa? Aku hanya sekedar berlatih!" Jawab Razak. Ekspresi wajahnya kini menjadi panik saat mendengar Syakira menuduhnya melawan kehendak Theo.


"Hmmm… Masih mau berkilah! Padahal sudah jelas melakukakan kesalahan!" Ucap Syakira. Sebelum ganti menoleh kearah atas dimana Istana Emas berada.


"Dan kau makhluk penjaga Istana Emas kurang ajar! Dengarkan aku!" Bentak Syakira keras, sambil menunjuk kearah Istana Emas.


"Boss Besar juga sudah bilang bahwa temanku ini tak boleh masuk secara sembarang lagi ketempatmu! Tapi kau masih saja mengijinkannya masuk kapanpun ia mau!"


"Lihat saja! Aku juga akan mengadukanmu kepada Boss Besar!" Teriak Syakira. Dengan ekspresi wajah kesal.


*Wunggggg…!!!


"Gadis kecil! Jangan marah-marah begitu!" Ucap Sasi, begitu ia berada di hadapan Syakira.


Disisi lain, Gerel dan Hella yang melihat Sasi akhirnya menampakkan diri, kini mulai memasang ekspresi wajah menyeramkan. Keduanya menggenggam erat senjata masing-masing. Tampak siap kapan saja menerjang maju kedepan.


Sasi yang merasakan hawa membunuh pekat dari arah dua gadis tersebut, hanya melirik sekilas. Sebelum kembali mengabaikan. Ia mengeluarkan sesuatu yang tampak seperti manik-manik hiasan rambut dengan beberapa mutiara indah menjuntai, dimana terlihat sangat cantik, kemudian tanpa mengatakan apapun, menaruh manik-manik tersebut pada rambut Syakira.


Syakira sendiri, yang tak bisa menangkap gerakan tangan Sasi dengan matanya, terlihat tak menyadari sang Goblin telah menaruh hiasan rambut tersebut.


Bertepatan dengan selesainya Sasi menaruh hiasan rambut, Gerel dan Hella dalam gerakan sangat cepat, maju menerjang. Berniat membunuh sang Goblin saat itu juga.


"Benar-benar merepotkan!" Dengus Sasi. Tiba-tiba menghilang dari posisinya semula. Muncul kembali tepat dihadapan Gerel dan Hella. Menggunakan kepalan tangannya yang mungil, Sasi memberi masing-masing dua gadis tersebut pukulan ringan.


*Booommmm…!!!


*Booommmm….!!!


Namun, pukulan ringan dari Sasi, nyatanya mampu membuat Hella dan Gerel terpental balik dengan sangat keras. Menabrak dinding aura pelindung Joy Kecil yang saat ini terpasang di sekitar perkemahan.


"Gadis kecil! Sebagai permintaan maaf karena memberi ijin temanmu masuk kedalam Istana Emas, aku memberimu hiasan rambut tersebut!" Ucap Sasi. Sebelum sosoknya kembali menghilang.


Syakira yang mendengar kata-kata Sasi, segera memeriksa rambutnya. Meraih dan melihat hiasan rambut yang dimaksud Sasi.


"Hiasan rambut tersebut bukanlah item biasa! Ditempatku berasal, itu dinamakan sebagai totem pelindung! Cukup hancurkan salah satu manik mutiara ketika kau sedang dalam bahaya, maka formasi pelindung di dalamnya akan aktif!"


"Kuharap dengan hadiah tersebut, kau bisa meletakkan masalah!" Ucap Sasi untuk terakhir kalinya. Sebelum suaranya tak lagi terdengar.


Seperti Razak, sang Goblin tampaknya juga takut ketika mendengar ancaman dari Syakira yang akan mengadukannya kepada Theo. Sampai rela menyogok gadis kecil tersebut dengan item spesial miliknya.


"Sungguh cantik!" Gumam Syakira, mengamati dengan mata berbinar hiasan rambut pemberian Sasi di tangannya.


"Tuan penjaga! Kau aman dari aduanku!" Ucap Syakira kemudian.


"Hmmmm… Jadi semua sudah beres?" Tanya Razak, dengan ekspresi wajah lega.


"Ohhh… Kau beda lagi! Yang memberiku hadiah adalah tuan penjaga! Bukannya kau!" Jawab Syakira cepat. Sambil menaikkan salah satu alis.


"Kau…"


Razak yang mendengar Syakira ternyata tak mau melepaskannya, segera memasang ekspresi wajah kesal.


"Apa aku harus memberimu hadiah juga? Dasar pengadu!" Dengus Razak.


"Hmmm… Apa katamu?" Gumam Syakira.


"Awalnya aku berniat melepaskan masalah ini dengan hanya memintamu berjanji untuk menurut dan mendengar apa yang kukatakan! Tapi sepertinya kau terlalu menyebalkan!"


"Jadi, jangan harap aku akan melepaskan masalah! Tak peduli hadiah atau apapun itu yang kau lakukan! Aku akan tetap mengadukanmu pada Boss!" Dengus Syakira. Kemudian dengan langkah bergegas kesal meninggalkan tempat.


"Ahhh… Syakira ayolah! Jangan begitu!"


Melihat Syakira meninggalkan tempat, Razak segera mengejarnya dengan wajah panik.


"Masa kanak-kanak memang yang terbaik! Benar-benar membuat iri saja!" Ucap Thomas, yang dari tadi memperhatikan dari atas sebuah bukit.


"Benar begitu Joy kecil?" Tambah Thomas, sambil menyuapi Joy kecil satu buah aneh yang terus mengeluarkan riak Mana Besi pekat dari dalamnya.


Buah tersebut tak lain adalah salah satu sumberdaya yang di dapat Theo dari Jurang Misterius. Ia meninggalkankan beberapa kepada Thomas untuk memberi makan Joy kecil agar persediaan Mananya terus bertahan sehingga bisa mempertahankan aura pelindung selama kepergian Theo.


"Tuuu….!!!" Jawab Joy kecil, sebelum mulai mengunyah dengan lahap buah pemberian Thomas.