Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
Gerbang Kota


"Kau yakin tidak membutuhkan pengawalan?"


Setelah menginap semalam di basecamp, pagi ini Theo dan kelompoknya berniat melanjutkan perjalanan.


"Tidak perlu paman, aku bisa menjaga diri, dan Jasia bisa menjadi penunjuk jalan." Theo menolak tawaran Bosweric yang ingin memberi pengawalan lebih kepadanya.


Malam sebelumnya, Theo sudah secara ringkas menjelaskan kepada Bosweric tentang situasi kedua bersaudara ini. Pamannya terlihat prihatin kepada nasib keduanya, tapi tak bisa membantu banyak karena memang tak bisa meninggalkan Basecamp. Bosweric hanya bisa memberi arahan agar Theo membahas masalah ini dengan ayahnya.


Theo sendiri memang dari awal berniat membahas masalah ini lebih dalam dengan sang ayah, dia ingin mengangkat topik tentang beberapa tradisi lama yang memang sepertinya harus di ubah, karena rawan menimbulkan konflik dalam keluarga.


Setelah mengucapkan salam dan memeluk pamannya sebentar, Theo dan kelompoknya melanjutkan perjalanan. Jasia berjalan di depan sebagai petunjuk arah, sementara Kalina terus menggandeng Theo manja.


Bosweric sendiri, hanya memperhatikan kelompok ini berjalan perlahan meninggalkan basecamp. Pandangan matanya tertuju pada punggung Theo, memandangnya dengan tatapan kontenplatif. Sebelum akhirnya menghela nafas panjang.


"Hahhh…. Hanya dalam beberapa tahun, dia benar-benar telah berubah. Pengalaman macam apa sebenarnya yang ia alami di dalam jurang itu."


Bosweric masih belum terbiasa, setelah mengobrol dengan keponakannya ini beberapa kali pada malam sebelumnya, untuk membahas konflik keluarga. Dia bisa melihat cara bicara, sudut pandang pendapat, dan juga ketajaman sorot mata Theo, sungguh bukan hal yang seharusnya di miliki anak seusianya. Bosweric merasa seperti sedang berbicara dengan orang yang seumuran dengannya.


Hal ini membuat Bosweric merasa gelisah, apa harus bangga, atau khawatir dengan kondisi mental keponakannya ini.


"Hahhh… setidaknya dia pulang dengan selamat dan baik-baik saja." Kata bosweric. Menenangkan dirinya sendiri. Setelah berkata demikian, dia berbalik dan kembali memasuki Basecamp.


***


"Akhirnya kita sampai."


Setelah menempuh perjalanan sehari penuh, kelompok Theo akhirnya sampai di wilayah house Alknight. Tak ada hadangan berarti sepanjang perjalanan, mereka hanya beberapa kali secara tak sengaja bertemu dengan spirit beast kelas rendah. Theo memilih tak ambil pusing dengan merilis aura untuk sekedar mengusir beberapa spirit beast ini. Tak mau menunda perjalanan terlalu lama.


Di hadapan mereka saat ini, mereka bisa melihat gerbang kota dari Alknight City. Alknight City adalah kota kecil yang di bangun oleh house Alknight untuk menampung semua house cabang mereka. Tembok batu terbentang melingkar mengelilingi seluruh kota. Kota kecil ini merupakan pusat berjalannya perekonomian dari house Alknight. Bagaimanapun juga, house Alknight dulunya adalah house paling besar di wilayah Glaire Empire, Alknight City adalah salah satu bekas penanda kejayaan house mereka di masa lampau.


Sebelum memasuki kota, setiap orang harus melewati pemeriksaan yang ada di gerbang kota. Gerbang ini dibangun dengan megah. Papan nama dari besi bertuliskan 'Alknight' dengan lambang serigala putih yang memiliki tiga tanda cakaran terpasang dengan gagah diatas gerbang.


"Tuan muda, aku akan menyelesaikan urusan pemeriksaan sebentar." Kata Jasia ketika sampai di depan gerbang.


"Baik." Jawab Theo singkat.


Setelah berkata demikian, Jasia berjalan mendekati beberapa Knight penjaga yang terlihat sedang berdiri di post pemeriksaan. Sementara Theo menghabiskan waktu untuk bercanda dan menggoda Kalina yang dari tadi memeluk tangannya dengan manja. Sangat menggemaskan.


Namun, setelah beberapa waktu...


"Kenapa begitu lama?"


Theo merasa pemeriksaan biasanya tak berlangsung selama ini, terlebih Jasia bukannlah orang luar. Dia adalah anggota house cabang yang tinggal di Alknight City. Seharusnya pemeriksaan tak berjalan lebih dari lima menit. Karena penasaran, ia melihat pos pemeriksaan yang tak jauh di depan mereka.


Theo mengernyitkan dahinya ketika melihat Jasia seperti sedang berdebat dengan penjaga di pos pemeriksaan, merasa ada yang tidak beres, dia memutuskan membawa Kalina untuk mendekat.


"Apa maksudmu kami tak bisa memasuki gerbang?"


Ketika sudah berada dekat dengan pos pemeriksaan, Theo bisa mendengar Jasia tengah membentak penjaga yang ada di depannya.


"Nona muda, tenangkan dirimu! Bila kau seperti ini terus, kami tak punya pilihan selain menangkapmu dan menjebloskanmu kedalam ruang tahanan pos!" Knight penjaga balik membentak Jasia.


"Sudah ku bilang kota sedang di tutup, tak ada seorangpun yang boleh keluar dan masuk!" Katanya melanjutkan.


"Jasia, tenangkan dirimu sebentar." Theo yang kini telah berada di sisi Jasia, mencoba menenangkannya.


"Tuan muda, mereka…"


"Sudah, biar aku saja yang mengurus dari sini." Kata Theo memotong kata-kata Jasia. Theo sedikit memijit keningnya. Gadis di depannya ini sungguh terlalu eksposif.


"Tuan penjaga, tolong bisa jelaskan apa yang sedang terjadi?" Tanya Theo kepada kedua penjaga yang ada di hadapannya dengan sopan.


Melihat sikap sopan Theo, penjaga yang terlihat lebih tua berniat untuk menjelaskan. Namun, sebelum dia bisa menjelaskan, rekannya yang lebih muda maju mendahuluinya.


"Anak muda, kenapa kami harus repot-repot menjelaskannya kepadamu? Kami bahkan tak tau identitasmu, bisa jadi kau adalah salah satu pengkhianat keluarga dari faksi pemberontak!" Bentak penjaga tersebut.


Knight yang lebih tua hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap rekannya ini, meskipun sedikit banyak dia paham kekhawatiran rekannya, dia hanya menyayangkan sikap tak sopannya. Bagaimanapun penjaga yang lebih tua memiliki lebih banyak pengalaman hidup. Dari pengalamannya, tidak lah bijak bertindak gegabah sebelum bisa memastikan dengan pasti identitas orang yang mereka hadapi.


Sementara Jasia yang melihat Theo di bentak oleh penjaga kelas rendahan, segera menjadi emosi lagi.


"Kauu beraniii?? Jaga mulutmu!!" Bentak Jasia.


"Jasia, tenang dulu..!!" Theo kembali menenangkan Jasia.


Theo sendiri tak merasa tersinggung dengan sikap penjaga muda di hadapannya, kondisi mentalnya jauh lebih baik dari Jasia. Dia bisa mengerti pemuda ini hanya menjalankan tugasnya. Justru sikap Jasia yang membuat kepalanya dari tadi pening.


"Maafkan aku karena tak memperkenalkan diri sebelumnya. Sehingga menimbulkan kesalah pahaman ini. Namaku adalah Theodoric Alknight." Theo segera memperkenalkan diri.


"LANCANGGGG…..!!!!!"


"Kau berani memakai nama tuan muda ketiga yang telah lama meninggal!"


Mendengar penjaga ini kembali membentak Theo, bahkan lebih keras, Jasia tak bisa lagi menahan emosinya. Dia langsung maju kedepan menyerangnya.


Boooooommmmmmm…..!!!!!


Tendangan Jasia, membuat penjaga tersebut terlempar menabrak gerbang. Knight tersebut sama sekali tak menduga Jasia akan berani menyerangnya. Oleh karena itu dia tak siap dan terlempar dengan mudah.


"KAU YANG LANCANG, BERANINYA KAU MEMBENTAK TUAN MUDA..!!!" Jasia membentak tak kalah keras sesaat setelah menyerang.


"Beraninya kau menyerangku!! Teman-teman tangkap gerombolan ini!"


Semua penjaga yang dari tadi hanya memperhatikan, masih merasa kaget dengan pergantian peristiwa yang tiba-tiba, mereka baru tersadar dari lamunannya ketika temannya berteriak. Kelompok penjaga ini bergegas maju dan mengepung Theo dan yang lainnya. Termasuk penjaga yang lebih tua sebelumnya, dia segera bergabung dnegan rekan-rekannya yang lain untuk mengepung kelompok Theo. Menyerang penjaga gerbang adalah pelanggaran serius, itu bisa dianggap sebagai tindakan melecehkan house, yang melakukannya akan di jadikan musuh bersama.


"Tangkap mereka..!!!" Teriak penjaga tua.


Namun, begitu mereka maju menerjang beberapa meter kearah kelompok Theo, mereka bisa merasakan tubuh mereka tiba-tiba menjadi berat. setiap Knight penjaga segera jatuh berlutut, hanya menyisahkan Knight tua yag masih bisa bertahan dengan susah payah menahan tubuhnya agar tak jatuh dalam kondisi berlutut.


"Apa yang terjadi?" Knight tua terkejut.


Mereka kini melihat kearah Theo dengan tatapan ngeri. Theo saat ini sedang melihat kearah setiap Knight yang ada di sekitarnya dengan tatapan penuh ketajaman. Sangat mengintimidasi. Sambil memeluk Kalina dalam dekapannya.


"Tenangkan diri kalian! Tindakan kalian membuat gadis kecil ini takut!"