
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
(Ruang perawatan Basecamp House Alknight, Tiga hari paska kunjungan 'menyelinap' Theo ke markas House True Alknight)
"Kakak… aku tahu tubuhmu sangat kuat! Tapi coba pikirkan ulang! Armor ini akan membuatmu lebih tahan lama lagi sebagai seorang Meridian Knight!" Kata Theo. Kepada Gregoric yang saat ini tengah meregangkan tubuhnya meskipun masih terbalut banyak perban.
"Adik! Sudah kubilang aku tak memerlukan Armor dan senjata itu! Keduanya hanya akan menghambat perkembangan latihan fisikku! Aku tak mau tergantung pada perlengkapan-perlengkapan seperti itu!"
"Lagipula, aku cukup percaya pada ketahanan fisik serta tinjuku!" Gumam Gregoric, sambil melakukan Push up.
"Tapi…!!"
Theo hendak menyanggah kata-kata Gregoric sampai kakaknya ini memotong.
"Adik! Kalau memang Armor ini benar-benar berguna, kenapa kau tak memakainya saja dari pada memberikannya padaku?" Dengus Gregoric.
"Aku tau meskipun kau tak terlihat mengambil jalan sebagai Meridian Knight, tapi dari seberapa kuat ketahanan tubuh fisikmu ketika kita saling pukul tempo hari, kau pastinya juga sedang menempa kekuatan fisikmu layaknya Meridian Knight!"
"Jadi, harusnya kau mengerti kenapa aku menolak memakai armor itu! Kau sendiri juga tak mau memakainya bukan? Agar penempaan tubuh fisikmu tak terganggu?"
Mendengar itu, Theo yang kembali hendak menyanggah, tak bisa menemukan kata yang tepat untuk dilontarkan pada kakaknya. Bagaimanapun juga, semua yang di ucapkan Gregoric barusan adalah benar.
Setelah terlihat berfikir beberapa saat, Theo akhirnya berhasil menemukan satu celah.
"Hmmm… kak! aku memerlukan seminggu penuh serta banyak bahan berharga hanya untuk membuatkanmu perlengkapan ini!" Kata Theo, sekarang mulai memasang ekspresi wajah memelas, yang dulu sering ia gunakan saat Gregoric menolak bermain dengannya.
"Kau…! Berhenti memasang ekspresi seperti itu! Aku bukan kak issabela yang akan luluh dengan mudah!" Dengus Gregoric. Masih teguh dengan pendiriannya.
"Hmmm… aku memahami kau menolak memakai armor ini! Tapi kenapa kau menolak senjatanya juga? Itu benar-benar menyebalkan! Sudah umum seorang Meridian Knight memakai senjata jarak dekat dengan daya hancur besar seperti ini! Senjata ini sangat cocok untukmu!" Dengus Theo balik.
"Bukan begitu! Kan sudah kubilang, kalau aku sudah terbiasa mengandalkan tinjuku!"
"Kak…! Kau tak akan berkembang bila terus berfikir kolot seperti itu! Lihatlah keadaanmu sekarang? Apa tinjumu bisa terus kau andalkan dalam situasi genting? Beberapa hari yang lalu dewa kematian sudah hampir menciummu!" Dengus Theo. Dia mulai sangat kesal dengan sikap keras kepala kakaknya ini. Andai saja dalam pertempuran terakhir ia tak datang tepat waktu, kakaknya ini pasti sudah mati konyol di tangan sampah bernama Lagor Estrabat.
"Kau… hahhh… kenapa kau semakin cerewet saja! Lama-lama kau terlihat seperti ibu dan kak Issabela! Sungguh menyebalkan! Apa kau sekarang masuk ke kelompok omelan keluarga?" Dengus Gregoric dengan wajah kesal, kemudian tanpa menoleh kearah Theo, mengambil Armor dan juga Gada yang dari tadi tergeletak diatas meja.
"Hehhe… begitu dari tadi kan enak!" Kata Theo, dengan ekspresi riang yang dibuat-buat. Terlihat sangat tengil.
*Boooommmm….!!!!
Begitu Theo memasang wajah tengil tersebut, sebuah pukulan keras segera mendarat di wajahnya. Membuatnya terpental keluar dari ruang perawatan.
"Uhukkk...! Baj1ngan! Begitu caramu berterima kasih hah? Dan kau menyebut dirimu sebagai seorang kakak?" Bentak Theo.
"Tutup mulutmu! Wajah tengilmu itu sungguh menyebalkan!" Bentak Gregoric balik.
"Aku memang menerima perlengkapan tak berguna ini! Tapi aku tak berjanji akan memakainya!" Lanjut Gregor.
"Dia akan memakainya!"
Theo masih berjalan dengan kesal saat suara Tiankong tiba-tiba terdengar di sampingnya.
"Ohh… kenapa kau bisa mengakatan itu Master?" Tanya Theo.
"Hmmm… anggaplah insting seorang kakak!" Jawab Tiankong singkat.
"Hmmm… kau punya adik?"
"Yah… bisa di bilang begitu!" Jawab Tiankong dengan ekspresi menerawang jauh.
"Hmmm… aku tak membayangkan punya seorang kakak sepertimu! Adikmu ini pastilah tersiksa seumur hidup!"
"Bayangkan harus jadi bahan Bullyan dari sejak pertama lahir sampai…."
*Bletaakkkk…..!!!!
Sebelum Theo sempat menyelesaikan kalimatnya, sebuah Mana berbentuk tongkat besi dengan keras memukul kepalanya.
"Master, berhenti memukulku seperti itu! Pukulanmu itu benar-benar menyakitkan!" Dengus Theo, sambil mengusap-usap kepalanya.
Dari semua orang yang biasa memukul kepala Theo, baik itu Sang ayah, Bosweric, ataupun kakaknya Issabela, pukulan dari Tiankong adalah yang paling sakit. Terasa dari ujung kepala sampai ujung jari-jari kakinya.
Hal ini membuat ada kalanya Theo jatuh dalam renungan yang mendalam, hanya untuk memikirkan teknik memukul seperti apa yang di pakai oleh Masternya ini.
"Hmmm… sebagai seorang Master, aku akan memukulmu kalau memang menginginkannya! Dan sebagai murid, kau tak punya hak untuk menolak!" Jawab Tiankong.
Mendengar Tiankong mengucapkan aturan tak masuk akal, Theo hanya mendengus ringan sebelum mulai mengabaikannya. Ia tahu bahwa Masternya ini memang sengaja mengatakan aturan aneh itu agar dirinya memberi sanggahan, yang kemudian akan berakhir dengan pukulan lain mendarat di kepalanya.
'Aku tak akan jatuh pada perangkapmu lagi!' Gumam Theo dalam hati.
"Hahhahhaah…..!!!!"
Mendengar gumaman Theo, Tiankong mulai tertawa gila lagi tanpa alasan seperti biasa.
Sebaliknya, mendengar tawa gila itu, Theo segera melirik Tiankong, sudah lama ia merasa heran dengan selera humor dari Masternya ini.
"Apanya yang lucu sih!" Gumam Theo. Sambil mengerutkan kening sesaat, kemudian kembali mengabaikan Tiankong.
"Hahhahhaha….!" Tiankong kembali tertawa seperti orang gila.
***
Theo melanjutkan pergi untuk menjenguk Arthur di ruang perawatan lain yang tak jauh dari tempat Gregoric di rawat. Dan hampir sama dengan Gregoric, kondisi Arthur saat ini sudah membaik.
Berkat perawatan pertama yang di berikan oleh Aurelas, ketua Klan Agila yang menggunakan Formasi segel rahasia dari Klannya, yakni Segel Kubah kehidupan. Ditambah dengan berbagai obat racikan Theo sendiri yang menggunakan Buah bercahaya sebagai bahan dasarnya, luka-luka parah yang di terima Gregoric dan Arthur bisa disembuhkan dengan cepat hanya dalam waktu beberapa hari.
Hal yang sama juga berlaku pada seluruh pasukan House Alknight yang sebelumnya terluka parah, terutama para Meridian Knight yang berjuang di garis depan bersama Gregoric.
Semua perkembangan ini membuat Theo sangat puas, karena dengan pulihnya mereka. Ia tak perlu menunda rencana yang telah ia susun. Semua akan tetap sesuai jadwal yang telah direncanakannya.
Didalam ruang perawatan, Theo menyempatkan mengobrol untuk beberapa waktu dengan Arthur yang saat itu juga ditemani Lord Bernard dan Master Dario. Kunjungan Theo kemudian diakhiri dengan ia menyerahkan seperangkat Armor terbuat dari sisa tubuh Hydra kepada Arthur. Yang segera diterima dengan riang gembira oleh bocah ini.
Beberapa jam setelah kunjungan tersebut, Theo memutuskan untuk meminta ayahnya mengumpulkan semua tokoh penting yang berada di dalam kubu House Alknight. Membahas rencana selanjutnya dari pertempuran yang akan mereka hadapi.